Asiyah Akhir Zaman

Asiyah Akhir Zaman
Di Balik Peristiwa


__ADS_3

Siang ini Pak Sendi pulang lebih awal. Sebelum tengah hari. Sedikit tidak enak badannya.


Setelah kejadian Asiyah menangis di hadapan Mama pada siang itu, hingga kini suasana di rumah, antara Pak Sendi dan Asiyah masih saja dingin.


Tanpa mengucapkan salam masuk ke dalam rumah, hingga melangkahkan kakinya menuju ke kamar pun, tetap tanpa suara.


Tetapi, walaupun begitu keadaan mereka, masih berjarak dan sangat kaku, tetap saja yang dicari oleh Pak sendi saat pulang ke rumah adalah istrinya. Namun, sejak tadi tak dilihatnya sosok Asiyah.


Tiba-tiba, saat berada di depan pintu kamarnya, Pak Sendi mendelik. Pintu kamar itu tak tertutup rapat. Ada celah agar Pak Sendi dapat mengintip sedikit. Dilihatnya Asiyah sedang membereskan sebuah berkas yang kemudian disimpannya ke dalam lemarinya. Di sela-sela pakaiannya.


Pak Sendi heran. Bertanya-tanya di dalam hatinya. Berkas apa itu? Apakah berkas-berkas simpanan harta milik Asiyah? Hhhhh.. ini tidak bisa dibiarkan, katanya dia sudah tidak mempunyai harta apa-apa lagi selain mobil. Aku harus mengeceknya nanti diam-diam. Tertangkap basah kamu Asiyah, menyembunyikan sebuah rahasia dariku. Begitu pikir Pak Sendi, seketika melihat tingkah Asiyah.


Asiyah telah selesai dengan hal itu. Ia berjalan keluar kamar, menuju arah Pak Sendi. Dibukanya pintu kamar itu.


Nggiikkkkk........ suara pintu kamar itu terdengar di telinga. Memecahkan keheningan kesendirian Asiyah.


"Astaghfirullah.. Abang, kapan Abang pulang? Mengapa cepat sekali Abang pulang? Sejak kapan Abang berdiri disini?" Asiyah terlihat sangat terkejut. Seakan panik. Seperti seseorang yang sedang tertangkap basah akan rahasianya.


"Sejak kau berusaha menyembunyikan berkas-berkas harta simpananmu itu di sela-sela pakaianmu di dalam lemari itu Asiyah," Pak Sendi berbicara cepat. Melantangkan suaranya. Menatap Asiyah dengan sorotan mata penuh amarah. Memerah.


Asiyah terlihat semakin panik karena tatapan itu.


"Bukan Abang, itu hanyalah berkas sampah yang tak berguna, tidak ada harta yang Asiyah sembunyikan dari Abang, jelas Abang tahu, harta Asiyah satu-satunya hanyalah mobil yang telah dibagi dua dengan Mama," jelas Asiyah dengan cepat. Berusaha meyakinkan suaminya, yang mencolok sekali terlihat amarahnya.


"Pembohong kamu Asiyah!!" ucap Pak Sendi yang sama sekali tidak mempercayai ucapan Asiyah. Marah.


"Minggirrr!! Akan Aku buktikan semuanya padamu, semua yang baru saja Aku lihat ini adalah benar," sambung Pak Sendi. Tergesa-gesa. Menggeserkan tubuh Asiyah yang berada di hadapannya. Mendorong bahunya.


Tubuh Asiyah berpindah. Tersungkur ke lantai.


Pak Sendi dengan brutalnya berjalan cepat menuju lemari pakaian itu. Membukanya. Mengobrak abrik.


"Di mana kau simpan Asiyah??!!" Pak Sendi kembali melontarkan kata-kata itu pada Asiyah. Bentakannya sungguh menakutkan.


Pakaian itu sudah kusut berantakan dan berserakan di lantai.


Asiyah gemetar. Tampak wajahnya semakin takut.


"Stoopp Abang!! Tidak ada harta yang Asiyah simpan di belakang Abang!!" Asiyah bermuram muka. Merah wajahnya menahan cemas. Seraya bangkit dari lantai.


Kemudian tangan lelaki kasar itu terhenti dari cepatnya pergerakan. Dirasanya Ia tengah menyentuh sebuah map. Diambilnya dengan cepat. Lalu dilihatnya. Dibacanya.


"Rumah Sakit Harapan Bunda??" Pak Sendi membacanya. Seketika suara itu semakin pelan. Ternyata prasangkanya salah. Ini bukan berkas simpanan hartanya Asiyah.

__ADS_1


"Abang, berikan berkas itu pada Asiyah, Abang tidak perlu membacanya," Asiyah memohon pada Pak Sendi. Meminta. Mengulurkan tangannya.


Pak Sendi tiba-tiba menekan perutnya lagi. Seperti menahan sakit. Wajahnya terlihat pucat.


Tak memperdulikan Asiyah. Pak Sendi pelan-pelan membuka map itu. Dengan teliti. Sangat berhati-hati. Dibacanya dengan cermat.


Beberapa menit berlalu. Pak Sendi masih berdiri terpaku di depan lemari pakaian itu. Masih memeriksa berkas itu.


Sampai pada kesimpulan data pengecekan kesehatan di akhir tulisan kertas itu.


Tangan Pak Sendi gemetar. Bergetar berkas yang berada di tangannya. Wajahnya semakin pucat.


Sementara Asiyah berdiri di sisi belakang pintu memperhatikan sikap suaminya.


"Asiyah.. kamu membohongiku!! Jadi selama ini.." ucapan itu terputus, Pak Sendi menatap wajah Asiyah dengan pandangan yang sayu. Masih memegang erat berkas itu di tangannya. Amarah yang meledak tadi berubah menjadi kecewa yang dalam. Terdiam.


"Aahh sakit sekali Asiyah," Pak Sendi terjatuh ke lantai. Menekan perutnya. Mengerang. Lalu pingsan. Dengan map tadi yang masih berada di dalam genggaman tangannya.


Wwuuiiwww.. wwuuiiwww.. wwuuiiwww.. sirine ambulance berbunyi kencang.


Perjalanan terasa begitu cepat.


Pak Sendi dilarikan ke rumah sakit terdekat. Masih belum sadarkan diri.


Grruunjunggg.. grunjungg.. ggrruunjunggg.. suara ranjang rumah sakit itu sangat dramatis terdengar. Berlarian para tenaga medis menggotong tubuh gagah Pak Sendi di atasnya seketika mereka sampai di Rumah Sakit. Langkah kaki mereka seperti kaki kaki serangga yang serentak bergerak.


Dinding putih rumah sakit itu pun berjejer menatap getirnya tubuh Asiyah.


"Abang.. bangun Abang.." sesekali asiyah mencoba membangunkan Pak Sendi. Perlahan menggoyangkan tubuh suaminya yang lemah tak bergerak.


Betapa sedihnya Asiyah. Melihat seorang lelaki yang menjadi suaminya ini terkulai di atas ranjang kaku rumah sakit.


Trauma itu seakan datang kembali pada lintasan ingatannya. Beberapa tahun yang lalu Asiyah melihat Abi juga dalam keadaan begini. Mendadak. Semua terjadi begitu saja pada Abi. Dan kini, malah terjadi pada suaminya sendiri.


Rasa di dalam dada Asiyah bercampur aduk. Kegelisahan semakin tak terbendung hadirnya.


"Yaa Allah, telah jatuh takdir Abi beberapa tahun yang lalu, akankah Engkau jatuhkan kembali takdir hamba untuk kehilangan suami hamba? Hamba masih ingin memperbaiki pernikahan ini ya Allah?" ucap Asiyah tanpa disadarinya.


Termenung sejenak.


"Astaghfirullah.. do'a macam apa ini?" Asiyah tersentak. Tersadar atas ucapan apa yang baru saja disebutnya.


Asiyah menunggu di depan ruangan rawat inap. Pak Sendi segera ditangani dengan cepat oleh para tenaga medis rumah sakit di dalam ruangan itu.

__ADS_1


Segera ponsel itu dinyalakannya. Menelepon Umi dan juga Mama. Mengabarkan hal yang tengah menimpa suaminya saat ini.


Tiga puluh menit kurang lebih, Umi datang sendirian.


Satu jam berlalu. Mama belum juga tampak.


Tiga jam berlalu. Mama datang bersama adik perempuan bungsu Pak Sendi.


"Kamuu.. perempuan mandul, aarrrgghh.." hanya kata-kata kasar itu yang keluar dari mulut mertuanya. Lalu melewati Asiyah dan Umi, segera melihat Pak Sendi di dalam kamar rawat.


Selang oksigen terpasang di hidungnya. Tangan itu tertusuk jarum infus. Matanya terpejam. Terbaring lemah tubuhnya. Anak lelakinya kini tak sadarkan diri di ruangan itu.


Mama yang menyaksikan keadaan anak lelakinya itu, sontak menitikkan air mata. Memeluknya erat.


Seorang perawat wanita datang menghampiri Mama.


"Sakit apa anak Saya Sus?" tanya Mama dengan tatapan penuh harap.


"Pembuluh darah pasien bermasalah, juga penyakit asam lambungnya kambuh," jelas suster itu singkat.


"Apa penyebabnya Suster?" tanya Laura, adiknya Pak Sendi.


"Hasil pemeriksaan Dokter tadi, karena adanya gangguang kecemasan, atau biasa kita sebut dengan terlalu banyak pikiran, stres yang tidak dapat dikontrol oleh pasien," jelas Suster.


"Baik Bu, Saya permisi," Suster itu keluar dari ruangan.


Mama kembali menatap Pak Sendi dengan pilu.


Beberapa detik berlalu. Tatapan mata Mama baru tersadar, ternyata ada sebuah map berada dalam genggaman tangan anaknya.


Mama mencoba melepaskan genggaman tangan itu. Susah sekali. Berusaha mengambil berkas itu.


Sepertinya anakku tidak mengizinkan siapapun untuk mengambil berkas ini. Mama mencoba berbicara pada Pak Sendi, "Nak, ini Mama, biarkan Mama melihat berkas ini yaa, izinkan Mama untuk membaca isinya," bisik Mama di telinga anak lelaki kesayangannya itu.


Kemudian tangan itu mulai melemah. Genggaman tangan Pak Sendi lepas. Berkas itu dapat dengan mudah diambil oleh Mama.


"Terima kasih Nak," bisik Mama, seraya mencium kening Pak Sendi.


Mama segera memeriksa berkas-berkas itu sampai selesai.


Betapa terkejutnya Mama. Menetes lagi air matanya. Kesedihannya semakin bertambah. Ia menatap anak lelaki yang menjadi tulang punggung keluarganya sedari kecil.


Ternyata yang bermasalah pada alat reproduksinya adalah anak lelakinya sendiri. Itu berarti, bukannya Asiyah sang menantu yang tidak bisa hamil.

__ADS_1


Tertulis jelas di dalam berkas hasil pemeriksaan kesehatan dari Rumah Sakit Harapan Bunda itu, bahwa setelah di cek kesehatannya secara keseluruhan, Pak Sendi akan sulit memperoleh keturunan karena ada beberapa riwayat penyakit yang Ia derita.


Mama menangis histeris. Laura juga tak kalah sedih mengetahui hal tersebut. Mereka terkejut mengetahui keadaan yang sebenarnya.


__ADS_2