Asiyah Akhir Zaman

Asiyah Akhir Zaman
Cita Sang Asisten


__ADS_3

Kabar mengenai Cita yang mendapatkan beasiswa penuh di sebuah perguruan tinggi oleh pihak Sekolah Menengah Atas tempat Ia bersekolah, akhirnya sampai juga pada Bapak dan Emak.


Nafasnya tersengal-sengal. Hhhhhh.. hhhhhh.. hhhhhh.. Langkah kaki kurus nan panjang itu terburu-buru menapakkan jejaknya. Berlari. Kulit sawo matang yang terbiasa terbakar matahari, membebaskan sebebas-bebasnya dalam menyerap cahaya panas itu. Cita tak sabar lagi.


Sejak dari ruang kepala sekolah tadi, saat kabar bahagia itu diterimanya langsung di depan matanya, Cita tak kuasa menahan khidmatnya bayangan bagaimana reaksi kedua orang tua tercintanya, ketika mendapatkan kabar bahagia ini.


"Emaaakkk.. Bapaaakk.." teriak Cita. Suara khasnya terdengar seluas kebun teh. Menggema gelombang warnanya yang menghijau menyamai lingkungan sekitarnya. Dari kejauhan Cita mencari arah di mana kedua surganya itu berada. Memutar-mutarkan kepalanya.


Para pemetik daun teh masih sangat ramai kala itu. Karena hari masih terbilang pagi, Jam 10.10. Matahari belum sampai pada puncak amarahnya.


Cita pulang dengan wajah yang gembira. Bukan. Bukan gembira. Melainkan sangat sangat gembira. Aura keceriaan serta kebahagiaan yang dibawanya pulang seketika menular pada siapa saja yang melihatnya.


Pagi ini tingkatan sedekah senyum oleh Cita yang ditebarkannya, seketika meningkat. Berbagi senyuman manis kepada semua orang sejak dari sekolah tadi. Mengumpulkan pahala melalui rekahan kebahagiaan yang terpancar dari wajah hitam manisnya.


Seketika Emak menolehkan pandangannya. Suara khas anak gadis sulungnya yang tak meragukan terkaannya. Yaa itu pasti suara Cita, pikir Emak tiap kali mendengarnya.


"Iyaa Naakk.. Citaaa jangan lari-larian, aduuhh Naakk, jalannya licin itu," teriak Emak dari rimbunnya dedaunan teh yang mengerubuninya.


Sementara Bapak, berlari-lari kecil menuju Cita, seketika mendengar teriakan anak gadis sulungnya itu.


"Bapaaakk.." teriak Cita lagi seketika melihat kemunculan Bapak dari balik kotak-kotak tumbuhan hijau itu.


Cita menghampiri Bapak yang sudah menunggunya ditengah luasnya perkebunan.


"Paakkk, alhamdulillah Pak, Cita dapat beasiswa untuk kuliah, kata bapak kepala sekolah, semua biaya perkuliahan Cita ditanggung oleh bapak kepala sekolah Pak, Cita tinggal belajar saja yang rajin, terus semua beres deh Pak," tanpa jeda kata Cita berbicara. Menarik nafas pun tak sempat lagi. Yang tersisa hanyalah semangat yang membara.


"Alhamdulillah Nak, jadi tadi itu Cita dipanggil di sekolah untuk menerima kabar beasiswa ini Nak?" tanya Bapak dengan antusiasnya. Tampak sangat senang.


"Iya Pak, alhamdulillah yaa Pak, Cita senang sekali deh Pak, akhirnya Cita melanjutkan kuliah," ucap Cita.


"Beasiswa apa itu Naakk? Emak dengar ada yang dapat beasiswa," tanya Emak yang bertanya dari kejauhan, sedikit berteriak lalu berjalan mendekat ke arah Cita dan Bapak.


"Ini loh Bu, anak kita ini adalah calon mahasiswi, calon orang sukses," jawab Bapak.


"Waahh.. waahh.. siapa yang dapat beasiswa itu?" tanya salah satu pemetik daun teh yang mendengar percakapan heboh keluarga cita pagi ini.


"Selamat yaa Cita, besok kalau sudah jadi orang sukses jangan lupakan kami di sini yaa?" sambung pemetik daun teh yang lainnya lagi.


"Alhamdulillah ibu-ibu, bapak-bapak, in syaa Allah Cita gak akan melupakan dari mana asal usul Cita, do'akan saja Cita yaa.. soalnya tempat kuliah Cita nanti lumayan jauh, Cita akan berpisah dengan desa ini untuk sementara waktu," ucap Cita dengan rasa sedih yang mulai nampak dari raut wajah manisnya.


"Kata bapak kepala sekolah, rezekinya Cita yaa di situ, tapi yaa nggak apa-apa kok, Cita tetap semangattt demi kebahagiaan Emak, Bapak dan adik-adik Cita, yaaa kan Mak?" sambung Cita lagi dengan penjelasannya, menatap wajah Emak.


"Iya Nak, nggak apa-apa, kami semua di sini pasti mendo'akan Cita, Cita nggak usah mikirin hal yang lain, pokoknya Cita harus fokus dengan pendidikan Cita, terus Cita harus jadi orang sukses, biar bisa banggain Emak dan Bapak yaa Nak," keharuan muncul dari ucapan Emak seketika.


Bertahun-tahun lamanya Cita terpisah dari desa ini. Alhamdulillahnya sinyal di desa ini termasuk sangat bagus. Jadi komunikasi tidak pernah putus antara Cita dan keluarganya.


Biaya pulang ke desa yang cukup besar kala itu membuat Cita sulit untuk kembali ke desa menemui keluarganya. Walau memang di kota tempat Cita mengenyam bangku kuliah, pekerjaan sampingan tak luput dari ulahnya. Mana mungkin seorang Cita menyia-nyiakan waktu luang, walau hanya sekedipan mata.


Dari hasil pekerjaan sampingannya, sedikit demi sedikit Cita mampu membantu Emak untuk membiayai sekolah adik-adiknya serta untuk kebutuhan mereka sehari-hari di desa.


Perlahan tapi pasti. Hanya dalam waktu tiga tahun saja, Cita dapat menyelesaikan jumlah target materi perkuliahannya. Alhamdulillah.


Cita tak membuang waktu selepas pendidikannya selesai. Lagi-lagi, alhamdulillah sekali, rezeki Cita sejalan dengan baktinya terhadap keluarganya. Cita diterima bekerja di sebuah perusahaan asing yang cukup besar.


Dengan gaji yang terbilang besar, Cita dapat memperbaiki rumah reyot Mak Bapak di desa. Alhamdulillah.


Kebahagiaan Mak Bapak terasa sangat lengkap. Perjuangan mereka melahirkan dan membesarkan Cita dengan penuh kasih sayang terbayarkan lunas. Cita mampu menaikkan derajat keluarga mereka ke arah yang jauh lebih baik.


Namun, roda kehidupan tak pernah berhenti melakukan tugasnya. Perputarannya seakan menjadikan setiap orang selalu berada dalam dilema ketakutan. Terkadang akan ada masanya setiap orang berada pada titik terendahnya. Lalu seketika berada pada titik tertingginya. Tak terkecuali dengan Cita.


Seakan Allah berkata bahwa kenikmatan limpahan rezekinya di perusahaan asing ini telah cukup sampai di sini, Cita terkena imbas pengurangan pegawai.

__ADS_1


Kehancuran di dalam hati Cita melanda seperti badai dahsyat yang datang tiba-tiba tanpa adanya hujan sebelumnya.


Bagaimana dengan keluarganya di kampung? Mak Bapak pasti sangat kecewa pada Cita.


Cita terus berusaha di kota. Mencari pekerjaan ke sana dan ke mari. Namun hasilnya sia-sia saja. Ternyata pengurangan karyawan bukanlah musibah bagi para pekerja di kantornya yang lama saja. Tetapi juga pada sebagian besar perusahaan di kota ini.


Uang tabungan sudah hampir habis. Drama yang diatur oleh Cita, seakan semua masih berjalan dengan mulus, ternyata pada akhirnya harus terbongkar juga. Cita tak dapat mengirimi uang lagi pada Mak Bapak di desa.


Mak Bapak mulai bertanya-tanya di dalam hatinya. Apa yang sedang terjadi pada Cita di sana? Apa Cita sedang dalam kesulitannya?


"Telah terjadi pengurangan karyawan secara besar-besaran.. (bla.. bla.. bla..)," begitulah berita di televisi yang ditonton oleh Mak dan Bapak malam ini, kemudian memunculkan dugaan pada anak gadis sulungnya itu. Apa mungkin Cita juga terkena PHK dari perusahaannya?


Emak segera mengambil ponselnya.


Kata Bapak juga, mereka harus segera menghubungi anaknya itu, supaya secepatnya dapat mengetahui keadaan Cita yang sebenarnya. Lagi pula tidak mungkin anaknya itu tiba-tiba berubah kalau tidak terjadi apa-apa pada dirinya.


Tuuutt.. tuuttt.. tuuutt.. Telepon belum juga terhubung.


"Coba lagi Bu," ucap Bapak.


Mencoba terus menghubungi. Emak tak putus asa.


Tuuutt.. tuuutt.. ttuutt.. Bunyi ponsel masih dengan nada tunggunya.


Kreessekk.. kkrresseekk.. Telepon tersambung.


"Assalamu'alaykum Nakk," ucap Ibu. Lirih.


"Wa'alaykumussalam Makk," jawab Cita, kemudian diam.


"Lagi apa Nak?"


"Cita lagi istirahat saja Mak di kamar kos."


"Sudah Mak, baru saja."


"Syukurlah kalau begitu Nak, hmmm.. Nak bagaimana dengan pekerjaan Cita di kantor? Semua baik-baik saja Nak?" tanya Emak, penuh kehati-hatian.


Cita diam mendengar pertanyaan itu. Bingung bagaimana caranya menjelaskan kenyataan yang sedang terjadi kepada Emak. Emak pasti sedih dan kecewa.


Tapi jika Cita berbohong, seolah semua baik-baik saja, justru malah membuat Emak berburuk sangka padanya. Takutnya malah Emak dan Bapak mengira, kalau Cita sudah tak peduli lagi pada mereka, mulai melupakan mereka.


Memang sejak terhentinya Cita mengirimi uang pada Emak dan Bapak, sejak saat itu pula Cita jarang menghubungi mereka lagi. Ada pun Cita ketika menghubungi mereka, tidak seperti biasa lagi suasananya. Hanya beberapa detik saja, Cita banyak diamnya, tak seceria dulu lagi.


Hingga pada akhirnya Cita memutuskan untuk jujur dengan keadaannya saat ini.


"Maakk, maafin Cita Mak," seketika Cita menangis tersedu. Suaranya terdengar jelas di telinga Emak. Bapak pun turut mendengar melalui loudspeaker ponsel itu.


"Kenapa Nak, ada apa? Cerita sama Emak, apa pun yang terjadi sama Cita, Cita tetaplah anaknya Emak dan Bapak," jelas Emak, mencoba menenangkan Cita.


Seperti mengetahui ada hal yang terjadi pada diri anaknya itu. Menerka-nerka di dalam hatinya. Mungkin kah Cita juga terkena imbas pengurangan karyawan di perusahaannya?


"Sebenarnya sudah tiga bulan ini, Cita sudah tidak bekerja lagi Mak, maafin Cita Mak, Cita sudah berusaha mencari pekerjaan yang baru, tapi perusahaan secara serentak sedang melakukan pengurangan karyawan dan untuk sementara waktu memang tidak menerima karyawan baru, maafin Cita karena belum bisa mengirimi Emak uang, tapi Cita janji Mak, Cita akan segera mendapatkan pekerjaan yang baru," jelas Cita. Panjang lebar. Tanpa jeda. Dengan sedunya tangisan. Terisak-isak. Tak tahan lagi menahan rasa sedihnya. Rasa bersalahnya. Rasa tak berguna atas diri sendiri terhadap keluarganya di desa.


"Nakkk.. Nakk.. dengar Emak, Cita tidak usah khawatir yaa Nak, Emak dan Bapak disini tidak apa-apa Cita tidak mengirimkan uang, Emak mengerti keadaan Mu, sudah-sudah nggak apa-apa," jelas Emak menenangkan


Cita masih terisak dalam tangisnya.


"Maakk.." ucap Cita.


"Cita masih ada pegangan uang di sana Nakk?" tanya Emak lembut, sangat khawatir dengan keadaan anaknya.

__ADS_1


Cita hanya diam. Uang simpanannya sudah semakin menipis. Tangisnya masih terdengar kecil.


"Yaa sudah Cita pulang saja dulu ke desa Nak, kita bisa jalani hidup sama-sama di sini, Emak nggak mau anak Emak di sana nggak makan, nggak tidur," jelas Emak. Emak mengerti betul keadaan Cita.


"Tapi Mak, in syaa Allah mudah-mudahan Cita segera mendapatkan pekerjaan baru di sini Mak, memang bukan di perusahaan, tapi in syaa Allah jika Cita diterima kerja di sini, penghasilan Cita juga lumayan besar perbulannya, do'akan Cita yaa Mak," jelas Cita.


"Aamiin yarobbal'alamin, Emak selalu mendo'akan Cita Nak, di mana pun Cita berada, sudah sholat Isya Nak?"


"Sudah Mak," jawab Cita. Kemudian diam.


"Maakk, Cita sayang sama Emak sama Bapak," sambung Cita.


"Alhamdulillah, iyaa Nak, Emak sama Bapak juga sangat menyayangi Cita, jaga diri di sana yaa Nak, kabari Emak kalau ada apa-apa yaa," ucap Emak.


"Iya Mak, ya sudah yaa Mak, Cita mau istirahat dulu, assalamu'alaykum," ucap Cita. Mengakhiri teleponnya.


Malam ini, pada akhirnya apa yang disembunyikan oleh Cita, harus terbongkar juga.


Kata-kata Emak meluluh lantakkan pendiriannya. Yaa pada akhirnya memang tak kan ada kebohongan pada diri Cita terhadap orang tuanya sendiri.


Dihari-harinya Cita masih terus berusaha mencari pekerjaan. Hingga takdir mengantarkan Cita pada sebuah pengumuman penerimaan pekerjaan sebagai asisten pribadi seorang selebriti ternama. Asiyah.


Seleksi dilakukan dengan Dua tahapan. Pertama tes tertulis dan yang terakhir adalah tes wawancara. Yang mengikuti seleksi ini pun tak main-main jumlahnya. Ada ratusan orang yang ternyata sangat berminat untuk menjadi asisten pribadi Asiyah.


Jelaslah upah yang ditawarkan oleh Asiyah berjumlah fantastis perbulannya.


Lima belas juta rupiah. Bersih.


Seluruh tahapan seleksi telah dilewati oleh Cita hingga tahapan wawancara.


Berita baik pun telah diterima.


Cita diterima kerja sebagai asisten pribadi seorang selebriti ternama.


Tak buang waktu. Cita segera menelepon Emak. Seusai Asiyah selaku calon atasannya nanti menghubunginya secara langsung tanpa perantara.


"Assalamu'alaykum Emak, alhamdulillah Mak, Cita diterima kerja," ucap Cita, seperti biasa, saking antusiasnya, tanpa jeda Asiyah berbicara jika sedang bahagia.


"Wa'alaykumussalam Nak, Alhamdulillah Nak, kerja di perusahaan mana Nak?" tanya Emak penasaran. Bersemangat.


"Cita nggak kerja di perusahaan Mak, tapi Cita bekerja sebagai asisten pribadi seorang aktris, upahnya lumayan Mak, dua kali lipat dari penghasilan Cita bekerja sebelumnya, dan nilai upahnya ini adalah nominal bersih Mak, biaya makan dan yang lainnya ditanggung oleh atasan Cita nantinya Mak," jelas Cita.


"Maakk, jadi Emak gak perlu khawatir lagi dengan keadaan Cita dibsini, Cita akan kirimin Emak duit tiap bulan, dan sisanya akan Cita tabung untuk buka usaha nantinya Mak selepas Cita selesai bekerja di sini," sambung Cita. Antusias.


"Iya Nak, iya, iya, alhamdulillah Naakk, Emak sangat senang mendengarnya," suara Emak terdengar sangat gembira.


"Paakkk, Bapakkkk.. Cita sudah diterima kerja lagi Paakk," teriak Emak yang duduk di ruang tengah depan televisi. Memanggil Bapak yang sedang tiduran di dalam kamarnya.


Dduukk.. dduukk.. dduukk.. Suara langkah kaki Bapak yang terburu-buru. Berlarian. Ujung kain sarung itu pun masih terkepal kusut di kedua tangannya. Bapak tersentak kaget bukan kepalang saat Emak menyebut-nyebut nama Cita. Maa syaa Allah ternyata rezeki anak gadis tersambung lagi, bahkan kali ini diganti oleh Allah dengan pekerjaan yang jauh lebih besar upahnya.


"Naakkk, Bapak bersyukur sekali, Cita sudah mendapat pekerjaan yang baru, bagaimana pekerjaannya Nak? Apa Cita suka?" tanya Bapak, yang seketika merebut telepon genggam yang dipegang Emak. Ponsel bersama milik Emak dan Bapak. Bapak yang masih belum sadar betul dari igauannya selepas tidur.


"Bapakkk, Cita belum tahu lah Pak suka apa nggaknya, kan Cita belum mulai bekerja, Bapak suka begitu," ucap Cita yang mentertawakan sikap Bapak.


"Iya iya Nak, Bapak lupa, Bapak baru bangun tidur ini, hehehee," Bapak menyeringai.


Cengkraman sarung itu terlepas dari tangan Bapak. Seketika itu pula Emak tertawa melihat bawahan Bapak polos tanpa sehelai kain pun.


"Itu Emak kenapa tertawa cekikikan Pak?" tanya Cita.


"Si Bapak Nak, sarungnya copot, tadi buru-buru dari kamar berlarian mau menelepon Cita, sampai tak sempat mengencangkan sarungnya," pecah tawa Emak.

__ADS_1


Serentak dengan Cita dan Bapak yang tertawa lepas. Bahagia menerima kabar dari Cita sekaligus karena ulah Bapak yang terburu-buru saking antusiasnya, persis seperti Cita saat berbicara ketika sedang bahagia, terburu-buru tanpa jeda.


__ADS_2