
Satu pekan berlalu.
Malam Ahad ini Asiyah berada di kontrakan papannya bersama Abi, Umi dan adik kembarnya.
Abi berbaring di kamar, menunggu lelahnya mata untuk mengistirahatkan tubuhnya yang capek setelah seharian hanya berdiam diri saja.
Umi menonton televisi. Film religi yang biasa ditayangkan. Drama keluarga yang dikemas dengan cerita sederhana namun memberikan banyak pelajaran dan pengajaran pada penontonnya.
Sementara Asiyah menemani Aisyah dan Ali mengerjakan PR di kamar.
"Ali gimana tadi? Sudah selesai mengerjakan soal matematikanya?" tanya Asiyah pada Ali. Dilihatnya Ali terdiam dan seakan ingin merebahkan badannya di kasur.
"Sedikit lagi Kak," jawab Ali yang tampaknya mulai bosan dengan tugas-tugasnya.
Tiba-tiba, “Bluumm.. blumm..” ada pesan WA yang masuk di ponsel Asiyah di tengah keheningan malam ini.
“Dek.. ini Abang, Bang Bardun, Adek lagi ngapain?” isi pesan WA itu dibaca Asiyah.
Apaaa?! Bardun? Abang? Maksudnya ‘Abang’?! Asiyah berucap dalam hati.
Astaghfirullah ya Allah ujian apa lagi di malam hari seperti ini? Jengkel sekali rasa hati Asiyah pada bapak-bapak tua yang menyebut dirinya sendiri sebagai ‘Abang’ pada dirinya, suami orang lagi, sudah dua istrinya, berlagak seperti anak muda saja menggodanya dengan cara seperti ini. Dibalas takut salah, tidak dibalas nantinya lebih salah lagi, secarakan Pak Bardun adalah rekan bisnisnya Pak Tomi.
“Oh Pak Bardun, lagi di rumah, ngumpul-ngumpul sama keluarga saja Pak, lagi ada kerjaan sedikit di rumah,” balas Asiyah.
“Kerjaan apa Dek?”
Huhhh.. tidak tahu malu Bardun ini, kata Asiyah dalam hati.
Tidak dibalasnya lagi pesan WA itu. Rasanya obrolan yang sangat tidak jelas seperti ini hanya membuang-buang waktunya saja. Bahkan hanya akan banyak menimbulkan fitnah di dalamnya.
Biarlah nanti kalau ditanya, bohongi saja dengan berbagai alasan yang terlintas di pikiran, apa sajalah. Asiyah tidak perduli. Ada-ada saja kelakuan laki-laki ini, dasar lelaki hidung belang, baru kenal langsung main pepet saja.
Benar dugaan Maya sebelumnya, pikir Asiyah. Pak Bardun ingin menggodanya di WA, pura-pura meminta nomor WAnya untuk urusan kantor. Huuhh.. lagi, Asiyah dipepet om-om lagi. Walau terkadang ingin mencoba untuk berprasangka baik saja pada awalnya, tapi pada akhirnya jelas juga jalannya.
Setelah malam chattingan yang menyebalkan bagi Asiyah itu terlewati, ternyata Pak Bardun tidak berputus asa. Pak Bardun benar-benar merencanakan sesuatu untuk menggoda Asiyah lagi.
Lusa adalah tanggal merah, hari libur. Kantor Pak Tomi tutup. Staf diliburkan.
__ADS_1
Malam harinya Pak Bardun WA Asiyah lagi, kebetulan malam ini ada konser penyanyi-penyanyi terkenal dari luar kota. Ramai sekali katanya yang hadir, soalnya tiket nonton sudah habis terjual semua. Berbekal moment ini, Pak Bardun sepertinya mempunyai niat yang buruk pada Asiyah, jika dilihat dari perkataannya.
“Dek, Kamu nggak nonton konser malam ini?” tanya Pak Bardun. Tiba-tiba saja pesan itu masuk ke ponsel Asiyah tanpa salam, tanpa basa basi.
“Nggak Pak, Saya nggak pernah nonton konser, nggak suka.” Asiyah seketika menolak ajakan itu. Secepat mungkin membalas WA dari Pak Bardun.
“Ohh rencananya Abang mau gaja Kamu kesana
kalau Kamu mau, biar Abang yang jemput, naik mobil Abang, kita pergi berdua saja.”
Hahh?! 'Gaja??' Maksudnya mau nulis ‘ngajak’
mungkin yaa? Duhh Pak Bardun, sudah tua gaya-gayaan chat-chat WA segala, typo kan jadinya. Ngajakin ke konser berdua saja, satu mobil?! Astaghfirullah.. Asiyah bergumam dalam hati.
“Di sana hujan nggak Dek? Di tempat Abang hujan nih."
“Iya Pak, tapi sudah reda,” Asiyah berusaha menutupi amarahnya. Balas sekedarnya sajalah. Sabaarrrr Asiyah, sabaarrr..
Okeee sudah cukup. Arah pembicaraannya sudah ke mana-mana. Astaghfirullah.. astaghfirullah..
sudah bukan urusan kantor lagi. Na’udzubillahimindzalik. Asiyah melemparkan ponselnya ke kasur. Fokus pada Aisyah dan Ali saja yang masih mengerjakan PRnya.
Dua hari kemudian Asiyah bekerja seperti biasanya di kantor Pak Tomi.
Di tengah kesibukan Asiyah siang ini, tiba-tiba Pak Bardun menghampiri Asiyah siang itu. Tidak ada angin, tidak ada gledek, Pak Bardun bercerita. Lagi-lagi tanpa salam, tanpa basa-basi sebelumnya.
“Saya sudah dua bulan tidak pulang ke rumah, istri Saya nggak nyariin Saya, hubungan kami sudah lama tidak harmonis, mungkin sebentar lagi kami akan bercerai,” diam sejenak.
“Saya sedang mencari pengganti istri Saya, sepertinya istri Saya sudah tidak mencintai Saya lagi, ulang tahun Saya saja, Dia nggak ngucapin, Saya butuh istri yang sholeha yang bisa membimbing Saya lebih dekat dengan agama."
Sungguh memelas sekali wajah Pak Bardun pada Asiyah siang ini. Entahlah, mungkin ini adalah bagian dari rayuannya lagi. Lancang menceritakan kehidupan rumah tangganya yang merupakan hal pribadi dalam hidupnya kepada Asiyah.
Kebetulan memang Asiyah sedang duduk di kantin depan kantor bersama Maya. Biasalah makan siang. Asiyah tampak sibuk dengan makanannya, fokus mengunyah makanannya. Tidak memperdulikan sekitar.
__ADS_1
Tanpa rasa malu Pak Bardun duduk di hadapan Asiyah. Mencurahkan isi hatinya yang berbau modus dan kode keras untuk Asiyah. Lagi-lagi Maya dan Asiyah menangkap akan hal itu pada diri Pak Bardun.
Hhhhhh.. Asiyah gerah dengan tingkahnya. Maya pun juga tampak risih, mengganggu saja.
Asiyah dan Maya hanya diam saja. Hanya mendengarkan saja semua ocehannya. Benar-benar tidak ada harga dirinya sama sekali Pak Bardun di hadapan mereka kali ini.
Tidak menegurnya sama sekali sampai mereka selesai makan dan beranjak dari kantin. Tidak perduli dengan Pak Bardun yang berada di hadapannya.
Pak Bardun melihat Asiyah yang pergi meninggalkannya dengan keheranan.
Sombong sekali Asiyah hari ini, pikirnya. Apa Dia tidak mendengarkan apa yang Aku katakan tadi? Apa Asiyah sedang ada masalah? Panjang lebar Aku bercerita padanya tapi tidak ada tanggapan sama sekali. Hhhhh.. Pak Bardun tampak kecewa.
Dua hari kemudian.
“Blumm.. bluumm..” ponsel Asiyah berbunyi lagi. Ada pesan WA masuk. Huufftt.. dari Pak Bardun lagi.
“Dek.. lagi ngapain?”
“Maaf Pak, Saya lagi sibuk, kalau ada hal yang mau disampaikan, katakan saja langsung Pak.”
“Dek, kenapa yaa Saya itu orangnya suka kasihan sama orang lain, kayak keluarga Saya yang tidak mampu, semuanya Saya berangkatin umroh, sudah delapan orang yang Saya berangkatkan umroh.”
Asiyah hanya membaca pesan itu. Tidak membalasnya. Apalah maksud Pak Bardun ini, terus-terusan curhat padanya? Tentang hal-hal yang sama sekali tidak penting baginya.
“Kalau Dek Asiyah mau menjadi istri Saya, Saya akan berangkatkan Asiyah dan keluarga pergi umroh, sama Saya juga berangkatnya,” sambung Pak Bardun.
Langsung saja ditembaknya maksud dan tujuannya pada Asiyah beberapa saat setelah mengirimkan pesan WA tadi pada Asiyah.
Asiyah tetap tidak membalasnya. Lagi-lagi hanya dibacanya saja.
__ADS_1
Asiyah sudah menduga dari awal. Ahh akhirnya malam ini Pak Bardun mengungkapkan semuanya. Tawarannya tinggi sekali, cukup oke lah. Ibadah umroh satu keluarga. Asiyah tidak habis pikir. Sebegitu tertariknyakah Dia pada Asiyah? Atau hanya bualan saja?