
Asiyah memegang bucket bunga itu. Bunga mawar merah. Dilihatnya ada secarik kertas di dalamnya. Kertas itu terikat pita yang berisikan tulisan tangan. Rapi sekali tulisan itu, terukir indah.
"Ada sebuah surat," ucap Asiyah kepada kedua asistennya.
Asiyah membacanya pelan. Yang hanya dapat didengar oleh Caca dan Cita.
Caca dan Cita memperhatikan dengan khidmat.
"Assalamu'alaykum Asiyah, mawar merah ini Aku persembahkan untukmu, sebagai tanda kekagumanku padamu. Asiyah, maafkan Aku yang belum berani muncul di hadapanmu. Aku begitu takut untuk mengungkapkan siapa diriku padamu. Aku takut jika nantinya kita malah tidak bisa lagi berkomunikasi, walaupun hanya dengan cara seperti ini." Asiyah diam sejenak menghela nafas.
"Yaa, pada akhirnya Aku merasa sangat lega karena bisa mengungkapkan isi hatiku padamu walaupun dengan cara seperti ini. Asiyah.. mungkin Aku telah membuatmu takut dengan caraku. Tapiiiiii.. sebagai bukti kesungguhan hatiku padamu, telah ku kirimkan serta darahku bersama bunga ini. Jika Kamu berkenan, minumlah darahku ini sebagai tanda menyatunya diri kita, darahku telah mengalir bersama darahmu, dan sebagai tanda bahwa Aku akan selalu bersamamu selamanya," ucap Asiyah dengan penuh dramatis.
Raut wajah heran itu terpancar jelas pada mereka bertiga. Saling menatap sejenak satu sama lain.
Kemudian Asiyah langsung memeriksa bucket bunga itu. Ditemukannya satu buah botol kaca bening berukuran kecil yang berisikan cairan merah kental di dalam bucket itu. Asiyah membuka tutupnya. Lalu mencium isinya. Hhhhmmm.. baunya sungguh amis.
Bergiliran dengan Caca dan Cita yang juga mencoba mencium aroma cairan merah itu. Mereka berdua tak kalah penasaran seperti Asiyah.
Seketika mereka termenung setelah mencium aroma cairan itu. Diam sejenak. Wajah mereka mulai panik. Seperti menyadari sesuatu. "Aaaaaaakkkkkkkkkkk.. aaaaakkkkkkk.. astaghfirullah.. astaghfirullah.." seketika mereka berteriak.
Bucket bunga itu terlempar dari tangan Asiyah.
Sebotol darah segar itu pun terhempas ke lantai hingga pecah oleh Caca.
Mereka begitu ketakutan. Dan berlarian seketika meninggalkan ruangan itu. Berhamburan. Pergi ke luar rumah.
"Ayo Asiyah, kita akan mengambil gambar Kamu sebentar lagi," perintah sutradara yang seketika melihat Asiyah berlarian di dekatnya.
Asiyah, Caca dan Cita mencoba bersikap tenang di hadapan crew sinetron yang lain. Menstabilkan kembali nafasnya yang sempat kacau. Seolah tidak terjadi apa-apa dengan mereka. Merapikan pakaian mereka yang sempat kusut akibat berlarian terpingkal-pingkal tadi.
__ADS_1
"Iya Pak, siaapp," ucap Asiyah kepada sutradara.
Dua jam berlalu. Adegan demi adegan yang diperankan oleh Asiyah telah selesai diambil.
Asiyah, Caca dan Cita kembali berkumpul. Mereka duduk melingkar di bawah pohon besar yang berada di halaman rumah. Tepatnya berada di belakang tenda sutradara saat mengambil gambar.
Mereka diam. Saling menatap. Menghela nafasnya dalam.
"Ini tidak bisa di biarkan, kita harus segera mendapatkan identitas pengirim bucket bunga berdarah itu," jelas Asiyah dengan intonasi penekanan, menatap Caca dan Cita secara bergantian.
"Iya Mbak, Caca juga merasa seperti diteror jadinya dengan ulah pengirim bucket bunga itu," jawab Caca dengan antusias. Pelan. Jangan sampai ada orang lain yang tahu pembicaraan mereka.
"Iya benar Kamu Ca, karena darah itu menurut Aku, sudah kayak sebuah ancaman saja, apalagi di suratnya tertulis tentang penyatuan darah antara Dia dan Mbak Asiyah, mengerikan sekali menurut Aku, lebih ke sakit jiwa sih menurut Aku, bukan cinta atau kekaguman atau fans fanatik lagi kalau sudah seseram ini," Cita turut memberikan pandangannya akan situasi ini.
Ssshhhhhh.. tiba-tiba angin meniupkan kerudung mereka. Tersibak selendang tipis mereka ke wajah-wajah mereka. Selama beberapa menit angin dingin berhembus. Tenda-tenda crew pun juga ikut bergoyang.
"Astaghfirullah, dingin sekali angin barusan," ucap Caca seraya memeluk dirinya sendiri. Erat. Hhhhhh.. Ia menghembuskan nafas dinginnya sedikit kuat.
"Baik Mbak," ucap Caca dan Cita bergantian, dengan anggukan kepalanya, tegas.
Diskusi itu pun berakhir. Mereka bertiga kembali berbaur dengan crew yang lainnya.
Siang ini tampak teduh. Udara terasa sejuk. Anak-anak pedagang asongan mulai berkumpul untuk berjualan di sekitaran lokasi shooting.
Asiyah memandangi mereka satu per satu. Ia mencari sesosok anak perempuan yang berdagang asongan di sana. Siapa tahu ada di antara mereka anak kecil perempuan yang menjadi pengantar bucket bunga berdarah itu.
Asiyah memanggil Caca. Yang tak jauh dari tempat Ia duduk di bawah tenda crew.
Caca menghampiri. Merespon cepat panggilan itu.
__ADS_1
"Ca, coba Kamu cek, tanya sama crew yang ngantarin bucket bunga tadi pagi, adakah di antara anak-anak pedagang asongan di sana yang menjadi pengantar bunga tadi pagi?" jelas Asiyah. Dengan perintahnya. Berbisik. Berbicara langsung di telinga Caca.
"Baik Mbak," jawab Caca. Tegas dengan anggukannya.
Lima belas menit berlalu.
Caca belum kembali dari penyelidikannya terhadap anak perempuan kecil itu.
Asiyah fokus pada ponselnya. Mengecek-ngecek berita terkini yang terjadi di dunia hiburan saat ini. Seperti biasa, sebagai bahan pembelajaran bagi Asiyah agar bisa tetap eksis di layar kaca.
Yaa zaman sekarang banyak orang yang mencari jalan pintas untuk tetap eksis di dunia hiburan ini. Tidak perduli, apakah dengan cara yang bermartabat yaitu dengan menaikkan prestasi mereka, atau kah dengan cara yang sangat tidak pantas untuk ditiru, membuat sensasi negatif, menciptakan banyaknya skandal yang bahkan mereka sendiri pun rela dihujat hanya demi sebuah popularitas.
Asiyah mengadahkan kepalanya setelah sekian lama menunduk menatap layar ponselnya. Mencoba mencari arah di mana keberadaan Caca yang belum juga kembali sejak tadi.
Berputar kepala Asiyah. Memeriksa keadaan. Asiyah menggeserkan posisi duduknya. Sedikit pegal rasa pinggangnya. Diraba-rabanya kursi kosong yang berada di sebelahnya. Terpegang oleh Asiyah sesuatu, rasanya lembut berbulu halus seperti sebuah boneka. Lalu Ia menengok ke sebelahnya.
"Astaghfirullah, hhhhhhh.." Betapa terkejutnya Asiyah. Secara tiba-tiba boneka kecil yang ditemukan Aisyah di taman depan rumahnya itu, kini berada tepat di sebelahnya.
"Siapa yang menaruh boneka kecil ini di sini? Bukannya sejak tadi pagi, boneka ini Aku letakkan di atas kursi tunggu di dalam rumah," Asiyah berucap pelan. Heran dengan semua ini.
Asiyah kembali melihat sekelilingnya. Kira-kira siapa yang menaruh boneka ini di sini?
"Heeyy, Assalamu'alaykum Asiyah.. kenapa? Kamu seperti orang bingung saja, mencari siapa?" tanya Pak Sendi yang kebetulan sedang main ke lokasi shooting. Sapaan akrab itu menghampiri Asiyah. Dengan senyumannya yang ramah. Pak Sendi datang dari belakang Asiyah.
"Ehhh iya Pak Sendi, wa'alaykumussalam Pak, nggak, nggak ada apa-apa kok Pak," Asiyah berusaha tenang. Walaupun Ia masih heran dengan hadirnya boneka ini secara tiba-tiba.
"Ini boneka milik Kamu ya? Maaf yaa tadi pas di dalam rumah, Saya masuk ke ruangan Kamu, terus.. kata Cita, boneka ini punya Kamu, Saya kasian melihat boneka ini duduk sendirian di sana, jadi Saya bawa saja duduk bersama Kamu di sini, heheheee, biar Kamu juga ada temannya, kasihan jomblo nggak ada yang menemani," jelas Pak Sendi singkat. Dengan candaannya meledek Asiyah yang hingga saat ini masih belum menemukan jodohnya.
"Maa syaa Allah, Saya kira siapa yang menaruh boneka ini di sini, nggak mungkin terbang sendiri kan, hhhhhh.. bikin kaget saja nih Bapak kerjaannya, yaa lumayan lah untuk menemani Saya yang jomblo ini yaa Pak, hhhh.. ngeledek aja nih.." ucap Asiyah juga dengan candaannya menjawab ledekan Pak Sendi barusan.
__ADS_1
Asiyah menghembuskan nafasnya sedikit kuat, setelah mengetahui ternyata ini adalah ulah Pak Sendi.