Asiyah Akhir Zaman

Asiyah Akhir Zaman
Sisi Lain Suamiku


__ADS_3

Pilihan telah tetap. In syaa Allah semuanya akan baik-baik saja. Seperti layaknya kita berbelanja di pasar, jika kita menginginkan sesuatu, tentu kita juga harus siap untuk membayarnya dengan sesuatu yang lain.


Karena sungguh, Allah ialah puncak pemegang keadilan tertinggi di dunia dan di akhirat, Maha Adil. Diambilnya sesuatu dari seorang hamba, lalu digantinya pula dengan sesuatu yang jauh lebih baik. Asiyah berhusnudzon akan takdirnya.


Begitu lah Asiyah dan Pak Sendi. Mereka berdua begitu menginginkan hadirnya putra dan putri di tengah-tengah keluarga mereka. Tentu tidak ada satu hal pun yang gratis di dunia ini. Mereka harus mengorbankan salah satu hal yang mereka punya untuk mendapatkan sesuatu yang baru.


Karir yang sedang melejit. Ini adalah hal yang harus dipertaruhkan oleh Asiyah. Dengan segala macam resiko. Dengan perhitungan yang matang. Bismillah. Asiyah rehat dari dunia hiburan sampai waktu yang tidak ditentukan. Fokus menjadi ibu rumah tangga di istana mereka berdua.


Segala macam hal di dalam rumahnya disiapkan oleh asisten rumah tangga. Asiyah harus istirahat betul di dalam kamarnya, tidak boleh capek-capek dulu. Begitu pesan Bu Dokter.


Keluar sejenak dari cerita istana baru milik Asiyah dan Pak Sendi. Umi beserta adik kembarnya masih tinggal di rumah lama yang dibangun oleh Asiyah dulu.


Persetujuan dari Umi juga lah yang membuat Asiyah mantap untuk melepaskan karirnya sementara waktu. Alhamdulillah Umi sudah mandiri dari sisi financial dengan banyaknya usaha yang Dia punya. Selama ini, walaupun Umi telah mandiri dengan berbagai usahanya, Asiyah tetap mengirimkan uang bulanan untuk Umi.


Tapi kini akan sangat berbeda. Asiyah mulai asing dengan kehidupannya sendiri. Ia tidak dapat memberikan uang bulanan lagi untuk Umi, dan juga hal lainnya yang berkaitan dengan pengeluaran keuangannya. Ada rasa bersalah yang muncul pada dirinya dengan semua keadaan ini.


Program hamil ini masih terus berjalan.


Sudah banyak bulan berlalu. Namun tanda-tanda kehamilan ini belum juga muncul.


Di tepian jendela mobil pribadinya itu Asiyah menatap ke arah luar jendela. Hiruk pikuk jalanan pada malam hari. Gelap, penuh kelap-kelip lampu yang berhias di sepanjang perjalanan mereka menuju pulang ke rumah malam ini.


Kini adalah waktunya beristirahat bagi Asiyah.


"Yangg," panggilan sayang dari Asiyah kepada Pak Sendi, suaminya.


Di atas kasur tempat mereka biasa memadu mesra. Asiyah berbicara menatap harap pada suaminya yang sibuk dengan banyaknya macam kertas di tangannya.


Krasakk.. kresekkk.. krasakkk.. kresekkk.. suara kertas yang saling bergesekan di tangan Pak Sendi. Wajahnya fokus menatap dan membaca cepat satu persatu berkas-berkas itu.

__ADS_1


"Hhhmmm.." jawab suaminya pelan. Masih sibuk dengan berkas-berkasnya.


"Kamu sibuk yaa?" tanya Asiyah pada suaminya.


Pak Sendi hanya diam. Menoleh pun tidak dari meja kerjanya yang berada dalam satu ruangan dengan tempat tidur mereka. Kamar ini memang di desain sangat besar dan cukup mewah.


"Yanggg?" panggil Asiyah lagi, lembut.


"Apa!!?? Aku ini lagi sibuk!!??" dengan nada yang tinggi serta dengan bentakan nada yang juga sangat menekan kepada Asiyah.


Asiyah seketika terkejut. Jantungnya mendadak berdegup kencang. Matanya melotot tak berkedip. Air matanya tak terasa mengalir dari sudut matanya.


Apa yang terjadi dengan suamiku? Tak pernah selama pernikahan ini berjalan, Aku di bentak olehnya. Apa sudah tidak ada lagi rasa sayangnya untukku?


Asiyah berpikir keras. Dengan rasa sakit yang teramat saat ini yang tiba-tiba saja tersemat di dalam relung hatinya. Asiyah mencoba mendekati suaminya.


"Sesibuk itu kah? dan sepenting itu kah berkas-berkas itu? sehingga kau bisa dengan mudah membentakku seperti itu?" tanya Asiyah yang berdiri di hadapan suaminya.


"Yangg, bisss..?"


"Sudahlah Asiyah!! Aku sedang sibuk dengan semua pekerjaanku, Aku lelah!! Kau tahu kan Aku harus bekerja keras sendirian untuk kehidupan kita!!"


Asiyah yang telah lama menunggu suara dari bibir suaminya, akhirnya menyerah dengan perasannya. Pak Sendi tak kunjung memberikan penjelasannya. Hanya bentakan saja yang dapat ditelannya.


Asiyah kembali ke tempat tidur mereka. Berbaring membelakangi suaminya. Asiyah menangis dengan tersedunya, dalam balutan selimut yang menghangatkannya.


Pikirannya mulai menerka-nerka.


Apakah semua ini terjadi karena ucapan dokter tadi? Bahwa program kehamilan ini mungkin akan terasa sangat panjang dalam perjalanannya menuju keberhasilan. Juga akan memakan banyak biaya.

__ADS_1


Asiyah mulai pesimis akan rasa kasih sayang suaminya terhadap dirinya. Bentakannya benar-benar menyakiti hatinya.


Ia yang terbiasa mandiri secara financial, kini tengah menyandarkan secara keseluruhan hidupnya secara materi terhadap suaminya, walaupun memang ini adalah kesepakatan antara mereka berdua.


Asiyah merasa Pak Sendi telah membencinya karena kehidupan ekonomi mereka yang tak bisa Ia bantu. Asiyah telah melepas pekerjaannya, yang entah sampai kapan waktunya untuk bisa kembali lagi.


Pak Sendi yang juga kerap kali menemani Asiyah dalam program kehamilannya, juga sering kali membatalkan jadwal meeting kerjanya.


Bagaimana semua ini dapat terjadi? Anak yang didamba-damba belum juga hadir. Jatah usia di dunia ini semakin berkurang. Dunia Asiyah seakan kembali terbalik. Kebangkrutan dalam perekonomian tak bisa dielakkan demi mendapatkan sang buah hati.


Roda-roda kehidupan memang tak hentinya berputar. Kadang kita terbang ke atas, kadang juga terbaring di bawah. Hikmahnya adalah agar kita selalu bersikap rendah hati ketika senang, juga senantiasa bersyukur ketika terpuruk.


Karena Allah menghadirkan kita dalam keadaan apapun dengan kebijaksanaannya. Adilnya Allah agar kita tetap berada dalam fase kesadaran akan datangnya keajaiban dari Allah Sang Maha Pengasih dalam setiap keadaan.


Malam ini terasa sangat panjang bagi Asiyah. Matanya terpejam, namun tidurnya hanyalah sebuah kebohongan. Asiyah terjaga dalam diamnya.


Tiba-tiba pelukan hangat itu dirasakannya dari belakang punggungnya. Yaa, ini adalah pelukan suaminya.


Asiyah membuka matanya. Air matanya kembali mengalir.


"Maafkan Aku Sayang, Aku hanya merasa tak kuat dengan banyaknya ujian dalam kehidupan ini," ucap Pak Sendi pelan. Lembut. Berbisik di belakang telinga Asiyah.


Pelukan itu semakin erat. Lalu perlahan Pak Sendi memejamkan matanya.


Asiyah tetap diam. Hanya mendengar keluh kesah suaminya yang terdengar lemah dari belakang tubuhnya.


Apa sebenarnya yang terjadi dengan suamiku? Apakah Ia adalah seorang yang lemah hati dalam menghadapi persoalan? Atau memang inilah karakter aslinya yang baru saja terbuka di hadapanku, yang baru saja Aku ketahui? Asiyah bertanya-tanya keras di dalam pikirannya.


Sejenak tertidur. Asiyah bersyukur hatinya sedikit tenang karena pelukan hangat suaminya tadi malam.

__ADS_1


Dilihatnya waktu menunjukkan pukul 03.00 pagi. Jam dinding besar di hadapannya tak hentinya mendetakkan langkahnya. Asiyah segera bangkit dari kasurnya. Menuju kamar mandi untuk segera berwudhu dan berdiri menunaikan hasrat hatinya. Shalat tahajud. Ibadah malam yang biasa Ia lakukan untuk melepaskan segala macam beban yang terikat pada hatinya kepada Allah, dalam keheningan.


__ADS_2