Asiyah Akhir Zaman

Asiyah Akhir Zaman
Telah Hilang


__ADS_3

"Dokteeeerrr.. Susteerrrr.. suami saya Susterr.." Asiyah berteriak sekencang-kencangnya. Histeris melihat tanda denyut jantung suaminya telah menghilang. Ttttttiiiiiitttttttt... suaranya menggetarkan hati Asiyah seketika.


Hari yang sangat dramatis.


Hanya ada Asiyah di sana. Asiyah segera menelepon Umi dan Mama agar segera ke rumah sakit. Menjelaskan secara singkat tentang keadaan Pak Sendi saat ini.


Dokter dan Suster segera datang dan menangani Pak Sendi. Sementara Asiyah masih menunggu Mama dan Umi datang di antara mereka.


Beberapa menit berlalu. Pengecekan telah selesai. Wajah para tenaga medis bermuram durja. Kekecewaan akan kondisi Pak Sendi yang saat ini sulit untuk dijelaskan kepada Asiyah.


Dokter yang memeriksa, sesekali menggeleng-gelengkan kepalanya. Sampai pada titik di mana mereka sudah tampak menyerah.


Dokter melihat jam kecil yang menempel di tangannya. Dokter itu lalu berucap pada seorang suster, "Pukul 08.35 pagi."


Suster itu menganggukkan kepalanya, sigap seketika mencatat waktunya.


"Maafkan kami Bu, kami sudah berusaha, suami ibu telah sampai pada waktunya, Allah lebih sayang suami ibu," ucap Dokter itu perlahan dan dengan penuh kehati-hatian pada Asiyah.


Ternyata waktu yang dicatat oleh Suster barusan adalah jam kematian Pak Sendi.


"Inna lillahi wa inna ilaihi roji'un.." ucap Asiyah lirih. Lututnya mendadak lemah. Asiyah seketika jatuh berlutut di lantai. Tangisannya tak dapat dibendung.


Jeritan kecil itu kemudian mendarat dalam pelukannya tepat pada dada Pak Sendi. Dilihatnya wajah seorang lelaki yang menjadi suaminya itu. Begitu kaku, pucat, tak bergerak lagi.


Semua alat bantu kesehatan yang terpasang pada tubuh Pak Sendi sudah dilepaskan.


Mama dan Umi tiba dengan sangat cepat. Tapi sayang. Apa yang mereka dapatkan? Seorang Asiyah yang sedang menangis sesenggukan sambil memeluk suaminya.


Ada rasa penyesalan dalam diri Asiyah. Mengapa semuanya terjadi begitu cepat. Rasanya baru saja kemarin Ia menikah dengan lelaki ini. Rasanya baru saja kemarin penderitaan dan rasa sakit pernikahan itu Ia rasakan.


Ternyata ucapan Asiyah waktu itu pada Umi telah menjadi kenyataan, do'anya kian terkabul. Ujian pernikahan itu benar-benar hanya sementara. Sangat sebentar waktunya.


Tak disangka. Asiyah mengira Allah akan mengizinkannya untuk memperbaiki rumah tangga ini. Ternyata justru Allah berkehendak lain. Allah benar-benar ingin semuanya usai tanpa harus ada drama lagi di antara Asiyah dan suaminya.

__ADS_1


Begitulah, waktu berlalu begitu cepat.


Hari ini, jenazah Pak Sendi di kuburkan secara dramatis. Dengan diiringi tangisan Mama dan adik-adik Pak Sendi.


Asiyah hanya bisa diam. Meneteskan air matanya yang seakan tak pernah kering.


Hingga semuanya usai. Asiyah kembali ke rumahnya. Beraktifitas seperti biasanya dalam kesendirian. Tentu tidak ada lagi sosok lelaki yang akan membentaknya. Tidak ada lagi sosok suami yang penuh amarah padanya.


Dalam keadaan hamil muda, saat ini Asiyah merasakan layaknya perempuan pada umumnya, mual, muntah, pusing, bahkan sampai nafsu makannya pun hampir hilang.


Sejak saat kematian Pak Sendi, setiap hari Umi datang untuk menemani Asiyah di rumahnya. Datang sebentar kemudian kembali pulang. Umi tidak bisa menginap di rumah Asiyah, soalnya ada Aisyah dan Ali yang menunggu Umi di rumah mereka.


Pagi ini seperti biasa, Umi datang ke rumah Asiyah mengantarkan makanan yang Asiyah mau. Hanya saja, Umi tak tega melihat anaknya itu dalam kondisi hamil muda seperti ini, tidur sendirian di rumahnya.


"Nak, tinggallah bersama Umi di rumah kita, Umi tak tega melihat Asiyah sendirian dalam keadaan seperti ini," ucap Umi di kursi ruang tengah itu.


Asiyah dan Umi duduk saling berhadapan.


"Tapi Umi, ini adalah rumah pemberian Pak Sendi untuk Asiyah dan anak yang ada dalam kandungan Asiyah, Asiyah harus menjaganya Umi," jawab Asiyah. Sendu.


Tiba-tiba, di tengah pembicaraann itu.


Pushhh.. suara hempasan map sebuah berkas yang mendarat di atas meja kaca di hadapan Asiyah.


Ternyata Mama yang melemparkan itu.


"Mulai sekarang, Kamu sudah tidak perlu bingung lagi Asiyah, karena rumah serta seluruh aset atas nama Sendi, sudah Mama pindah tangankan menjadi milik Mama.." ucap Mama.


"Yaa, itu berarti, mulai sekarang Kamu bisa angkat kaki dari rumah ini, karena rumah ini juga sudah menjadi milik Mama.." sambungnya.


"Kamu bisa ikut Umi Kamu untuk tinggal di rumah kalian."


Mama menjelaskan hal ini dengan penuh kesombongan, juga dengan senyuman keangkuhan.

__ADS_1


Entah setan apa yang merasuki Mama. Apa mungkin sebenarnya Mama sebetulnya tidak benar-benar menyesal atas perbuatannya, seperti yang ditunjukkan oleh air matanya pada waktu itu?


Asiyah hanya diam. Bahkan tak menyentuh berkas itu sama sekali.


Umi mengambil berkas yang ada di hadapannya itu. Membaca judulnya, lalu meneliti isinya.


Astaghfirullah.. Umi berucap dalam hatinya. Sebenarnya apa yang terjadi pada keluarga ini? Hingga tak mampu Umi berkata-kata lagi, selain memasrahkan keadaan anaknya pada Sang Maha Kuasa.


Jelas tertulis di sana, tak tersisa sedikitpun aset yang diperuntukkan untuk Asiyah dan calon bayinya.


Umi menutup berkas itu. Menatap wajah Asiyah.


Asiyah menatap balik Umi. "Umi, sudahlah, in syaa Allah Asiyah bisa memulai semuanya dari awal, tidak apa-apa Umi," Asiyah berucap, tersenyum kecil pada Umi. Menguatkan diri sendiri dan juga Umi. Menggenggam punggung telapak tangan Umi, erat.


Sementara Mama masih berdiri di hadapan mereka. Dengan gaya angkuh acuh tak acuhnya.


"Saya rasa sudah jelas yaa.." ucap Mama.


"Oo iyaa.. Saya kasih waktu satu minggu deh untuk berkemas sebersih-bersihnya dari rumah ini."


"Okee yaa Saya permisi dulu.." sambung wanita paruh baya yang kentara sekali rasa tamaknya itu. Seraya beranjak dari rumah itu.


Asiyah hanya diam. Sedikit berpikir, tidakkah Mama menginginkan anak kembar yang dikandungnya sebagai pelipur lara atas kepergian anak lelaki super heronya, Pak Sendi?


Sebegitu hambarnya kah hati Mama hingga tak ada sedikitpun rasa cinta kasihnya terhadap anak yang tengah berada di dalam kandunganku? Asiyah terus bertanya-tanya heran di dalam hatinya, tak habis pikir.


Mama telah pergi. Langkah kaki yang membunyikan suara pletak pletuk itu telah berlalu. Kini Asiyah dan Umi hanya tinggal berdua di rumah ini.


"Hhuuufffftt.. ayo Nak, kita mulai membereskan semuanya, biar kita bisa secepatnya keluar dari rumah ini, dan tinggal bersama Nenek dan juga Om Ali dan Tente Aisyah," ucap Asiyah dengan kata-kata semangatnya yang terkesan dipaksakan. Dengan mata yang berkaca-kaca. Mengeluskan telapak tangan kanannya pada perutnya yang semakin membesar.


"Ayo Umi, bantu Asiyah.." ajak Asiyah pada Umi untuk pergi ke kamarnya. Asiyah seakan ceria.


Umi menatap Asiyah penuh dengan kesedihan. Sikap macam apa yang ditunjukkan oleh Asiyah padanya saat ini?

__ADS_1


Ya Allah, hikmah apa lagi yang tengah Engkau persiapkan untuk anak hamba, Asiyah? Sungguh tak tega hamba melihat keadaannya. Asiyah begitu tegar dengan semua ujian yang Engkau berikan ya Allah.


__ADS_2