Asiyah Akhir Zaman

Asiyah Akhir Zaman
Petir di Terik Matahari


__ADS_3

Kadang memang tentang sebuah rasa, kita sendiri tak dapat memahaminya dengan utuh. Walau rasa itu telah bersemayam di dalam hati kita selama pergantian purnama silih berganti. Atau bahkan meragu pada sebuah rasa seringkali terjadi, apa benar rasa ini? Rasa apa? Apa yang terjadi?


Begitu pula yang terjadi pada Asiyah.


Pagi menjelang siang. Seperti biasa, Asiyah berkeliling desa untuk mencari udara segar. Menghilangkan kejenuhan di villa, sekaligus mengumpulkan koleksi gambar pada kameranya.


Menggunakan ojek motor, tubuh Asiyah lagi-lagi dibuat berguncang di atasnya dengan tiupan semilir angin. Sejenak berkeliling, pada akhirnya hasrat diri membawa Asiyah sampai ke kebun sayuran lagi hari ini.


"Makasih yaa Mang," Asiyah membayar ongkos ojek tadi dengan senyuman ramahnya, seraya turun dari ojek.


"Biasa yaa Mang, nanti jemput lagi di sini," sambung Asiyah.


"Sama-sama Mbak, siaapp, in syaa Allah," jawab mamang ojek dengan ramahnya.


Asiyah melangkahkan kakinya.


"Mbaakk, ini uangnya lebih," mamang ojek itu berteriak memanggil Asiyah ketika menyadari uang yang diberikan Asiyah terlalu besar nilainya.


Asiyah menengok ke belakang, ke arah mamang ojek, "Nggak apa-apa Mang, ambil saja kembaliannya, Saya nggak ada uang kecil," teriak Asiyah, seraya tersenyum. Kemudian melanjutkan perjalanannya.


"Waahh, alhamdulillah, terima kasih banyak ya Mbak," teriak mamang itu, tersenyum senang, sambil memasukkan uang dari Asiyah tadi ke saku jaketnya.


"Iya sama-sama Mang," teriak Asiyah lagi dari kejauhan seraya melambaikan tangannya dengan senyuman manis itu lagi.


Dari kejauhan Asiyah melihat sekelompok ibu-ibu petani sedang berkumpul di pondok.


Asiyah harus berjalan kaki ke sana dengan sedikit perjuangan, berhati-hati takut terpeleset, karena memang tanahnya sebagian masih lembut. Kan baru beberapa hari yang lalu kebun ini memanen sebagian tanamannya, tanaman kentang, nah jadi tanah bekas tanaman kentang di sini, kembali diolah untuk menanam tanaman yang baru.


Sesekali mengadahkan wajahnya ke depan. Dari kejauhan, Asiyah melihat sepertinya ada gosip siang ini. Dengan keringat yang mengucur deras, Asiyah mendekati kerumunan ibu-ibu yang sedang istirahat bertani. Bergabung dengan mereka di pondok kayu diujung kebun cabai sana.

__ADS_1


"Assalamu'alaykum, cerita apa sih Bu, seru banget kayaknya," Asiyah tersenyum. Menghampiri. Menaiki anak tangga pondok.


"Wa'alaykumussalam Mbak Asiyah, ayok sini kita makan sama-sama," jawab salah satu Ibu itu, mengulurkan rantangan makanan yang berisi lauk-pauk di dalamnya.


Di dalam rantang yang lain tampaknya juga ada pisang goreng.


"Mau deh Bu, pisang gorengnya, enak tuh kayaknya," ucap Asiyah.


"Iya silahkan-silahkan Mbak," salah satu dari mereka mengulurkan rantangan pisang goreng pada Asiyah.


"Ini pisang goreng hasil kebun di sini juga ya Bu?" tanya Asiyah.


"Iya Mbak, bonus dari pemilik kebun di sini, dikasih gratisan saja."


Pisang yang masih segar dari kebun, baru dipanen kemarin. Asiyah juga melihatnya ketika pisang-pisang itu diboyong beramai-ramai oleh para bapak-bapak petani ketika melewati villanya disore hari kemarin.


Rasa penasaran Asiyah akan pemandangan alami nan unik itu pun muncul seketika melihat mereka lewat di depan pandangan matanya. Sontak saja Asiyah langsung menyapa dan menjejal dengan beberapa pertanyaan kecil ketika menghampiri mereka.


Kata bapak-bapak petani itu ketika melewati villanya kemarin, pisang-pisang itu dikasih saja oleh pemilik kebun, bonus capek katanya sih. Biar nanti bisa digoreng oleh istri-istri mereka yang juga para petani di sini, yaitu ibu-ibu ini, dan ternyata sekarang Asiyah berkesempatan mencicipi pisang hasil panen yang dilihatnya kemarin, alhamdulillah, rezeki memang tak ke mana.


Asiyah tak sungkan mencicipi pisang goreng yang disuguhkan. Sambil duduk bersandar di tiang pondok. Memandangi langit yang sangat terang. Biru, putih, warna atap bumi itu.


Sementara tanpa disadarinya, Asiyah justru terjebak dalam pembicaraan para ibu petani ini. Menjadi salah satu bagian anggota gosip siang ini.


"Memangnya Dimas mau Bu?"


"Belum tahu sih Bu, cuma waktu ditanyain si Dimasnya senyum-senyum aja."


"Yaa anaknya Pak kades cantik juga sih yaa, lulusan luar negeri lagi sekolahnya."

__ADS_1


"Tapi masih cakepan Mbak Asiyah ya kan ibu-ibu?" sambung salah satu ibu itu, menggoda Asiyah. Tersenyum.


Asiyah yang tanpa sengaja mendengar percakapan mereka, sontak tersenyum malu, "Aahh.. bisa saja Ibu, Saya cm gadis biasa Ibu," merangkul ibu-ibu yang menggodanya di sebelah tempat duduknya.


"Tapi kayaknya Dimas mau deh Bu, soalnya Saya pernah lihat, waktu lewat di depan rumah pak kades, Dimas dan Mawar sedang asik ngobrol ditemani Pak kades, sepertinya mereka sudah sangat dekat."


"Yaa syukurlah kalau Dimasnya mau ya Bu, soalnya susah sekali si Dimas itu, di kasih perempuan secantik apa nggak mau, sebaik apa juga nggak mau, heran Saya."


"Iya yaa.. sampai berpikir Saya, seperti apa bidadari impiannya Dimas."


"Yaa biasalah Bu, namanya juga Dimas itu anaknya nyaris sempurna, agamanya bagus, akhlaknya baik, sopan, ganteng, harta peninggalan orang tuanya juga banyak, wajar saja kalau Dia juga memilih siapa yang akan dijadikannya pendamping hidup."


"Iya iya benar juga."


Asiyah sungguh tak sengaja mendengar semua hal ini. Walau hanya sepenggal, namun telah menggambarkan secara keseluruhan keadaan kehidupan pribadi Dimas.


Entahlah mendengarkan hal-hal baik mengenai Dimas hatinya merasa sangat senang. Tapi di sisi lain bak tiba-tiba disambar petir di siang hari, hati Asiyah seakan hancur mendengar berita tentang Dimas dan anak pak kades yang sedang menjalin hubungan serius ke arah pernikahan.


Rasanya siang itu Asiyah hendak pulang kevilla saja, dengan sangat cepat dan sesegera mungkin menyendiri di dalam kamarnya.


Rasa tak betah di Desa ini mendadak muncul seketika mendengar kabar tentang kedekatan Dimas dan Mawar. Berjuta keindahan Desa Hijau mendadak sirna dalam sekejap. Ada apa dengan hatinya? Mendadak sakit seperti tertancap panah berbisa. Perlahan membuatnya seakan lemah tak berdaya.


"Bu, lanjutin makan-makannya yaa, Saya mau balik ke villa lagi," ucap Asiyah.


"Kenapa cepat sekali Mbak Asiyah, masih panas sekali cuaca ini, nanti terbakar kulitnya," jawab salah satu ibu itu.


"Nggak apa-apa Bu, Saya lelah sekali rasanya habis berkeliling tadi, gerah, mau mandi lagi siang ini," jawab Asiyah.


"Ya sudah, hati-hati yaa Mbak, jangan kapok loh ikut kumpul-kumpul di pondok ini," canda salah satu dari mereka.

__ADS_1


"In syaa Allah Bu, in syaa Allah pasti mampir lagi, assalamu'alaykum.." Asiyah menjatuhkan kedua kakinya di atas anak tangga pondok itu. Satu tingkat, dua tingkat, tiga tingkat, pondoknya tidak terlalu tinggi, kaki Asiyah sudah menapaki tanah dalam sekejap.


Terik matahari di tengah hari ini tak terasa panasnya lagi di kulit Asiyah. Kini hatinya lah yang rasanya seperti terbakar api.


__ADS_2