
Mobil menepi tepat di depan pos jaga perumahan.
Melapor pada petugas jaga terlebih dahulu.
Mereka diizinkan masuk oleh petugas.
Cita kembali masuk ke dalam mobil setelah mendapatkan izin dari sekuriti itu.
"Rumah Ustadz Hamdal nomor tiga sebelah kanan ya Pak, kata sekuriti tadi, Ustadz Hamdal baru saja keluar pondok mengendarai motornya, buru-buru sepertinya," jelas Cita.
Mobil kembali melaju pelan. Memasuki kawasan perumahan.
Bukan perumahan besar. Tetapi memang perumahan ini bisa dibilang cukup lah untuk keluarga kecil. Sederhana, jauh dari kata mewah. Terlihat bersih.
Berjejer rumah-rumah para pengurus pesantren di sana. Mulai dari para pengurus pesantren yang masih single hingga yang sudah berstatus menikah dan mempunyai anak.
Bernuansa hijau cat rumah mereka. Rumah permanen yang sama ukurannya dengan perumahan komersil type 36, sederhana sekali memang jika disandingkan dengan kawasan pesantren yang terlihat menakjubkan ini.
Mobil berhenti tepat di depan rumah nomor tiga, di sebelah kanan mereka, "Sepertinya ini rumah Ustadz Hamdal, ayoo kita turun," ajak Asiyah.
Mereka berempat turun dari mobil itu.
"Assalamu'alaykum, permisi," Cita mencoba memanggil sesorang di dalam rumah. Mana tahu ada istrinya Ustadz, atau anaknya.
Beberapa kali Cita mengucapkan salam, di bantu oleh Caca yang mengetukkan pintu rumahnya. Sementara Asiyah dan Pak Nomo menunggu saja.
Ngeekkk.. pintu rumah terbuka. "Wa'alaykumussalam, maaf yaa tadi Ibu habis beres-beres sedikit di dapur," jelas seorang perempuan paruh baya yang keluar dari dalam rumah Ustadz Hamdal. Perempuan itu mengenakan hijab syar'i. Pembawaannya lembut dan santun. Wajahnya masih terlihat cantik, juga teduh pandangannya.
"Ayo silahkan masuk dulu, kita bicara di dalam rumah saja," ajak perempuan itu.
"Silahkan duduk yaa, Ibu mau ke belakang sebentar," sambungnya lagi. Bergegas menuju dapur.
__ADS_1
Asiyah Caca dan Cita, juga Pak Nomo segera masuk ke dalam rumah yang memang sangat sederhana namun cantik itu. Mereka mengambil posisi duduk masing-masing, sopan.
Terlihat oleh pandangan Asiyah, berjejer susunan kitab-kitab dan juga buku-buku keilmuwan di dalam lemari kaca yang berada di sebelah tempat duduknya, tepatnya di sudut ruang tamu itu.
Perempuan paruh baya itu kembali menghampiri mereka, segera menyuguhkan camilan makanan, kue bolu beserta air teh hangatnya yang baru saja Ia ambil dari dapur.
"Terima kasih Bu, repot-repot sekali, kami juga ada sedikit ini," ucap Asiyah pada perempuan itu, seraya menyerahkan bingkisan kue yang Ia beli di perjalanan menuju pesantren tadi.
Asiyah memberikan senyuman ramahnya. Ibu itu menyambut kuenya dengan senangnya.
"Wahh.. apa ini, maa syaa Allah, terima kasih yaa Nak," perempuan paruh baya itu tersenyum.
"Ayo silahkan dicicipi kuenya, teh nya juga diminum," ucap perempuan itu. Membuka telapak tangan kanannya ke arah makanan dan minuman yang Ia suguhkan tadi. Mempersilahkan mereka untuk menikmati hidangannya.
Caca, Cita dan Asiyah, juga Pak Nomo segera menyeruput teh hangatnya. Juga sedikit mencicipi kue yang telah dihidangkan.
"Ibu istrinya Ustadz Hamdal, di sini Ibu biasanya dipanggil Ustadzah Hani, Ustadz Hamdal sudah menceritakan semuanya tentang kalian, qadarullah Ustadz Hamdal dapat telepon penting pagi ini, salah satu muridnya terkena musibah, jadi Ia buru-buru ke sana melihat keadaan muridnya itu," jelas Ustadzah Hani. Santai, duduk sopan menghadap mereka.
"Aamiin, hhhmm.. mungkin Ustadz Hamdal agak lama di sana, kalian boleh melihat-lihat area pondok pesantren dulu, berkeliling supaya tidak bosan menunggu," jelas Ustadzah Hani.
"Nanti Ibu minta tolong sama salah satu pengurus pesantren di sini, untuk menemani kalian, nanti beliau yang akan menjelaskan apa yang kira-kira ingin kalian tanyakan tentang pesantren ini," sambungnya.
"Oh iya, boleh juga Ustadzah, kami sangat senang sekali jika diizinkan melihat-lihat kawasan pesantren ini," jawab Asiyah, terlihat sumringah.
"Sebentar yaa Ibu panggilkan, tidak jauh, beliau tinggal di sebelah rumah ini, masih bujangan," Ustadzah Hani mencoba menggoda Asiyah dengan kata 'bujangan' yang membisik. Tersenyum kecil pada Asiyah. Seraya meninggalkan ruangan ini.
Asiyah membalas senyumannya. Tersipu malu. Caca dan Cita juga tak sabar menunggu pengurus pesantren yang katanya 'bujangan' itu. Masih berharap mendapatkan jodoh di sini.
Lima menit berlalu. Jarum jam di ruang tamu itu, detik demi detiknya terus berdetak. Mereka masih menunggu.
Ustadzah Hani datang bersama pengurus pesantren muda itu. Berdiri di sisi dalam pintu rumahnya. "Assalamu'alaykum", ucap Ustadzah Hani.
__ADS_1
Asiyah dan ketiga rekannya juga segera berdiri menyambut kedatangan Ustadzah Hani dan seorang pria muda yang berwajah teduh itu.
"Wa'alaykumussalam," jawab Asiyah dan ketiga rekannya.
"Nah Asiyah, ini Ustadz Zulfikar namanya, beliau yang akan menemani kalian berkeliling pesantren, ganteng yaa Asiyah, maa syaa Allah," Ustadzah Hani kembali menggoda Asiyah.
Asiyah tersenyum simpul, diikuti Caca, Cita, juga Pak Nomo.
Ustadz Zulfikar juga tak kuasa menahan senyum malunya.
Lima belas menit perjalanan mengelilingi pondok pesantren ini bersama Ustadz Zulfikar. Asiyah dan ketiga rekannya tak hentinya di buat kagum akan keindahan pesantren ini. Maa syaa Allah. Pesantren yang begitu rindang dengan pepohonan hijaunya yang tertata rapi di setiap pinggiran jalannya.
Nuansa gedung pesantren yang berwarna hijau tua. Asiyah penasaran kenapa gedung di sini didominasi warna hijau?
"Mengapa warna pondok pesantren ini didominasi dengan warna hijau? Salah satu alasannya adalah karena warna hijau sangat identik dengan umat Islam, di dalam Al-Qur'an juga dijelaskan bahwa surga digambarkan sebagai tempat para penghuni yang mengenakan pakaian berwarna hijau, yang terbuat dari sutra halus. Warna hijau juga banyak muncul dalam sejarah Islam," begitu penjelasan dari Ustadz Zulfikar ketika ditanya oleh Asiyah tentang rasa penasarannya.
"Maa syaa Allah," ucap Asiyah dan ketiga rekannya seketika mendengar penjelasan itu.
"Oo iya Ustadz, teruss kenapa pesantren ini di beri nama 'Abu Bakar Ash-Siddiq', apa nama itu adalah nama dari seorang pendirinya atau nama sesepuh di daerah sini?" sambung Cita dengan tanyanya.
Masih terus berjalan mengelilingi pondok pesantren yang berpagarkan tembok tinggi besar yang mengelilinginya. Seperti berada di dalam sebuah mangkok raksasa.
Tulisan asma'ul husna masih mereka lewati di sepanjang pinggiran jalan aspal di area pondok pesantren.
"Jadii, nama Abu Bakar Ash-Siddiq itu diambil dari nama sahabat Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wasallam yang pertama kali dijamin masuk surga oleh Allah. Dan juga menjadi salah satu assabiqunal awwalun atau orang-orang pertama yang masuk Islam. Beliau selalu mendampingi Rasulullah dalam menyampaikan dakwah agama Islam," jelas Ustadz Zulfikar.
"Maa syaa Allah, semoga kita juga termasuk golongan orang-orang beriman yang akan berkumpul kelak di dalam surganya Allah yaa, aamiin," ucap Asiyah. Seraya mengusap kedua telapak tangannya ke wajahnya.
Diikuti Caca dan Cita juga Pak Nomo, serta Ustadz Zulfikar, mengaminkan do'a yang baru saja di ucapkan oleh Asiyah.
"Kebetulan memang saat ini adalah masa libur sekolah, jadi murid-murid pondok banyak yang pulang ke rumahnya masing-masing, tetapi juga ada sebagian yang tinggal," jelas Ustadz Zulfikar seraya memusatkan pandangannya ke arah seorang santri yang berada di teras kamarnya , terlihat dari kejauhan murid itu sedang melakukan murojaah hafalan Al-Qur'an nya. Ustadz Zulfikar tersenyum kagum melihatnya. Maa syaa Allah.
__ADS_1
Asiyah dan ketiga rekannya juga tersenyum menyaksikan pemandangan baik ini. Terdengar lembut dan indah bacaan ayat Al-Qur'an yang dilantunkannya. Maa syaa Allah.