Asiyah Akhir Zaman

Asiyah Akhir Zaman
Uang Itu adalah Sogokan


__ADS_3

Mungkin Pak Bardun sedikit menyadari penolakan halus Asiyah yang tidak merespon apapun yang Ia ungkapkan malam itu. Ahh tidak, bukan mungkin menyadari, tetapi Pak Bardun memang menyadari sepenuhnya tentang respon penolakan seorang perempuan yang sedang dilakukan oleh Asiyah seperti ini.


Keesokan harinya Pak Bardun datang ke kantor Pak Tomi lagi. Kali ini apa? Apa lagi yang akan dilakukannya?


Ternyata siang ini, selepas makan siang, Pak Bardun membagi-bagikan uang kepada seluruh staf, Asiyah dan Maya juga dapat. Wooww.. Maa syaa Allah. Layaknya orang tajir yang berlimpahan harta dan bergelimangan uang saja. Dengan loyalnya Dia menebar kertas demi kertas yang dikeluarkannya dari dalam kantong kresek hitam itu. Begitu wangi kertas berseri itu.


 


Target belum terlihat. Tujuannya siapa lagi kalau bukan Asiyah. Dicarinya Asiyah kemana-mana, di ruangannya tidak ada. Ditanyanya pada staf laki-laki yang berpapasan dengannya.


“Ada yang melihat bidadari nggak?”


 


“Maksudnya siapa Pak? Bidadari?”


 


“Asiyah maksud Saya.”


 


“Ohh tidak Pak, mungkin di ruangannya."


Staf laki-laki itu paham betul maksud Pak Bardun. Siapa bidadari yang dimaksud olehnya.


Di kantor ini Asiyah memang terkenal cantik, sholeha dan berasal dari keluarga baik-baik. Satu kantor juga sudah tahu tentang kehidupan Asiyah dan keluarganya yang kini sedang jatuh dan terpuruk setelah sebelumnya hidup dalam kemewahan dan gelimangan harta. Bahkan satu kantor mengagumi Asiyah diam-diam.


Tentang dirinya, Asiyah sendirilah yang menceritakan tentang kisah hidupnya pada teman kantornya. Karena memang di dalam kantor ini semua bersikap terbuka tentang latar belakang keluarga mereka. Tidak ada yang ditutup-tutupi sebatas hal-hal yang wajar diceritakan.


Untuk jaga-jaga saja tradisi seperti dilakukan, jangan sampai nanti ada staf yang mempunyai niat tidak baik menyusup ke dalam kantor dengan berkedok sebagai karyawan hanya untuk menghancurkan perusahaan. Pesaing proyek Pak Tomi misalnya. Kalaupun ada, akan lebih mudah memprosesnya secara hukum karena sudah mengetahui latar belakangnya dan gerak langkahnya dari belakang.


 


Masih bersemangat dengan langkah kaki dan kantong kresek berisi uang di tangannya, Pak Bardun kembali lagi mencari Asiyah keruangannya. Mana tau Asiyah sudah kembali.

__ADS_1


Benarlah, Asiyah sudah berada di ruangan itu. Ada rasa lega pada aliran darah Pak Bardun. Senyuman itu seketika merekah setelah sekian menit merasa lelah yang tadinya belum tersadar dialami.


Ternyata, Asiyah dan Maya habis sholat dzuhur di Mushola.


Pak Bardun langsung saja masuk ke ruangan Asiyah. Menghampiri mereka. Berdiri di depan meja kerja mereka bergantian. Memberikan Asiyah dan Maya uang. Menghitungnya lalu meletakkannya di hadapan mereka. Masing-masing mendapatkan uang lima ratus ribu rupiah. Lumayanlah untuk ongkos naik ojek bagi Asiyah.


Bulan depan In syaa Allah Asiyah sudah bisa membeli motor sendiri untuk kendaraannya pulang pergi ke mana-mana. Tabungannya sudah cukup untuk membeli motor bekas.


Kalau untuk membelikan rumah baru untuk Umi, Asiyah belum mampu. Paling nanti setelah membeli motor Asiyah akan mengumpulkan uang sebagai uang muka membeli perumahan kecil yang berakad syari’ah. Kreditlah. Kalau beli cash Asiyah mau dapat uang dari mana? Tidak mungkin rasanya dengan gajinya yang sekecil ini, belum lagi biaya yang lainnya.


Sementara kontrakan papan ini sudah sangat menyiksa keluarganya, terlebih Ali dan Aisyah. Kasihan Aisyah digigitin nyamuk terus, walau sudah dipasang obat nyamuk elektrik di dalam kamar tetap tidak mempan. Nyamuknya ada lagi ada lagi. Soalnya kontrakannya yang sekarang dinding papannya sudah bolong-bolong.


Umi juga mau nambahin untuk uang mukanya, biar cicilan perbulannya nanti bisa kecil. Uang seratus juta yang dipinjamkan oleh Pak Subroto waktu itu masih ada sedikit, in syaa Allah cukuplah untuk pindahan nanti.


 


“Hari ini Saya kasih Kamu segini dulu yaa, besok kalau Kamu sudah jadi istri Saya, Saya akan kasih Kamu jauh lebih banyak dari ini," ucap Pak Bardun pada Asiyah.


Pak Bardun tiba-tiba berjalan ke sisi sebelah Asiyah, Ia ingin mencoba memegang tangan Asiyah. Merasa telah menguasai diri Asiyah hanya dengan uang lima ratus ribu yang telah diberikannya.


Kurang ajar sekali Bardun ini, pikir Asiyah. Mulai berani untuk mencoba melakukan kontak fisik dengannya, dihadapan Maya pula. Jadi ini maksud pemberian uang ini? Semurah inikah harga dirinya dalam pikiran lelaki tua ini? Ini tidak hanya melecehkan dirinya namanya, tapi juga mempermalukan dirinya di hadapan orang lain.


 


“Maaf yaa Pak sebelumnya, Saya tidak suka diperlakukan seperti ini! Walaupun Saya miskin, Saya masih punya harga diri! Silahkan Bapak ambil kembali uang Bapak..!” ucap Asiyah tegas. Namun tetap dengan kata-kata yang sopan dan sikap yang terkendali.


Kali ini Asiyah benar-benar menunjukkan amarahnya. Uang lima ratus ribu itu dilemparkannya di hadapan Pak Bardun. Uang yang tadinya diletakkan oleh Pak Bardun di meja kerjanya, kini dihempaskannya lagi di meja itu. Ingin sekali rasa hati Asiyah melemparkan uang itu ke wajah lelaki yang berdiri di sebelahnya saat ini.


Asiyah sebenarnya bukan hanya kesal dengan hal yang terjadi barusan, tetapi juga dengan sikap Pak Bardun yang lalu-lalu padanya.


Menetes air mata Asiyah. Sudah tidak perduli lagi. Sudah tidak dapat tertahan lagi emosi di dalam jiwanya.


Mumpung ada Maya sebagai saksi matanya. Asiyah ingin segera mengakhirkan perlakuan tidak sopan Pak Bardun padanya.


 

__ADS_1


Asiyah pergi meninggalkan Pak Bardun. Diikuti Maya.


 


Bardun terdiam.


 


Ia sudah sangat keliru menilai Asiyah.


Asiyah tidak semudah itu dipancing menggunakan harta kekayaannya.


Asiyah bukanlah perempuan yang gila harta. Bukan juga perempuan yang menjadikan harta sebagai Tuhannya. Bukan harta, bukan.


Asiyah bekerja hanya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Cuma itu. Sebagai ikhtiar untuk pembuka jalan rezekinya, yang pasti rezeki yang diridhoi Allah tentunya.


 


Tidak jadi mendapatkan uang lima ratus ribu itu tidak apa-apa bagi Asiyah. Rezekinya ada ditangan Allah, bukan ditangan Badrun si om-om tidak sopan itu.


 


Maya hanya diam. Maya tidak mau ambil pusing. Yang penting Ia juga dapat uang itu, lumayan untuk mengisi bensin motornya. Lagian ini adalah permasalahan Pak Bardun dengan Asiyah bukan dengannya.


 


Sejak kejadian siang itu, Pak Bardun tidak pernah lagi menghubungi Asiyah melalui telepon.


Pak Bardun tidak berani lagi mendekati Asiyah di kantor hanya untuk basa-basi dengan rayuannya. Takut kalau-kalau Asiyah marah lagi. Nantikan jadinya malah malu sendiri.


Tiap kali berpapasan di kantor, Asiyah dan Pak Bardun tidak tegur sapa. Seperti orang yang belum pernah saling kenal. Hanya sesekali saja mereka berbicara singkat untuk urusan pekerjaan kantor.


Asiyah bersyukur dengan semua ini. Lega rasanya lepas dari satu ujian godaan harta dari pria-pria genit pengincar wanita.


Jika semudah ini berlepas diri dari laki-laki kurang ajar itu, kenapa tidak dari dulu saja Asiyah menunjukkan amarahnya pada Pak Bardun.

__ADS_1


Tapi ya sudahlah, ini sudah jalannya dari Allah. Mungkin memang Asiyah harus belajar melatih kesabarannya lagi dengan adanya kejadian ini.


__ADS_2