Asiyah Akhir Zaman

Asiyah Akhir Zaman
Bucket Bunga


__ADS_3

Pagi ini Asiyah keluar rumah lebih dulu dari Umi.


Yaa biasanya kalau hari libur begini Umi akan berangkat ke pasar tekstil pagi-pagi sekali untuk mengecek bahan-bahan pakaian terbaru yang masuk ke toko miliknya.


Karena memang sekarang butik milik Umi, pakaiannya hasil produksi sendiri. Makanya Umi mesti stok bahan kain juga di toko tekstil miliknya, sekalian jualan bahan kain juga di pasar.


"Umi, hari ini Asiyah ada shooting mendadak," Asiyah menghampiri Umi yang sedang sibuk mengurusi sarapan bersama asisten rumah tangga mereka di dapur.


"Ohh, astaghfirullah, jadi ini kalian sudah mau berangkat ke lokasi shooting?" Umi terkejut dengan kehadiran Asiyah yang tahu-tahu sudah berada di belakang tubuhnya.


"Iya Umi, Kami sarapan di luar saja yaa, takutnya telat nanti sampai di sana," ucap Asiyah.


"Ini, ini, sudah selesai kok, Umi siapin bekal nasi goreng yaa untuk kalian makan di jalan, sebentar yaa Nak, tidak sampai lima menit," Umi buru-buru mengambil tempat makan bertingkat di rak piring, kemudian berjalan cepat lagi menuju wajan yang berisi nasi goreng kecap yang telah selesai di buat.


"Yaa, tinggal mentimunnya yaa, sebentar Umi potongkan sebentar, telur juga sudah, yaa, ini Nak, jangan lupa di makan loh, ingat kesehatan kalian, jangan sampai kelaparan anak-anaknya Umi pas kerja nanti," Umi menyerahkan kotak makan itu pada Caca.


Dengan semangatnya Umi membekali mereka. Biasa lah, seperti ibu-ibu pada umumnya yang selalu mengkhawatirkan anak-anaknya. Apalagi pekerjaan seperti yang dilakoni mereka memang tak pernah mengenal waktu.


"Iya Umi, kami berangkat dulu yaa, assalamu'alaykum," ucap Asiyah tersenyum pada Umi, seraya bersalaman pada Umi, tidak lupa mencium punggung tangannya lalu memeluknya. Juga dengan kecupan kecil yang mendarat di pipi kanan dan pipi kiri Umi. Hal ini selalu dilakukan oleh Asiyah kepada Umi. Asiyah begitu menyayangi Umi.


Caca dan Cita juga melakukan hal sama seperti apa yang dilakukan Asiyah sebelumnya pada Umi.


Tiga puluh menit. Lokasi shooting lumayan jauh dari rumah mereka.


Jadwal shooting hari ini jam 07.00 pagi. Langit tak secerah biasanya, mendung. Awan hitam seakan mengikuti ke mana pun mereka pergi.


Asiyah membuka sedikit jendela mobil yang berada di sebelahnya. Ssshhhhh.. secepat mungkin angin dingin meniup wajahnya. Serentak dengan tertiupnya dedaunan pohon hingga berterbangan di udara.


Melalui spion mobil, mata Pak Nomo melirik sekejap ke arah Asiyah, nampak Asiyah sedang membuka kaca jendela mobilnya.

__ADS_1


"Astaghfirullah, dingin sekali udara pagi ini, langitnya gelap, sepertinya mau hujan," ucap Asiyah, terkejut saat angin mendadak menium kedua bola mata bulatnya yang indah. Matanya berair. Sedikit memerah.


"Iya Mbak, sepertinya mau hujan di luar, langitnya mendung sekali," jawab Pak Nomo.


"Ca, tolong dong tissue, perih sekali mata Saya," ucap Asiyah pada Caca, sambil mengucek kecil matanya yang perih itu.


"Iya Mbak, kenapa? Kena debu yaa?" tanya Caca sembari mengulurkan tissue pada Asiyah dari kursi depan mobil, sebelah Pak Nomo.


"Iya nih Ca, kayaknya tadi kemasukan debu pas buka kaca jendela, debunya banyak sekali yang berterbangan di jalan," jawab Asiyah lagi.


"Pakai ini saja Mbak," ucap Cita yang duduk di sebelah Asiyah, seraya mengulurkan obat tetes mata pada Asiyah.


"Ohh iya Cit, terima kasih yaa," Asiyah mengambilnya dari tangan Cita.


"Pak, tolong berhenti sebentar yaa di pinggir jalan, Saya mau netesin obat mata ini, takutnya pas mobilnya jalan, terus tangan Saya goyang, malah jatuh ke mana-mana nanti obat tetes matanya," ucap Asiyah pada Pak Nomo.


Pak Nomo segera menepikan mobilnya. Asiyah segera meneteskan kedua bola matanya. Kemudian mobil mereka kembali melaju menuju lokasi shooting.


Tiba di lokasi shooting. Gedung tua. Rumah salah satu penduduk yang bernuansa modern. Mewah.


Ternyata Asiyah membawa boneka kecil misterius itu ke lokasi shooting.


Dari kemarin, sejak boneka itu ditemukan oleh Aisyah, Asiyah belum sempat membahasnya pada kedua asisten pribadinya, Caca dan Cita. Apalagi soal nomor telepon yang tidak dikenal kemarin juga belum tahu siapa dalangnya.


Sebenarnya Asiyah sudah melupakan tentang nomor telepon tak dikenal itu. Tetapi, dengan adanya kemunculan boneka berayun ini, pikiran Asiyah malah mencoba menerka-nerka sendiri. Tanpa bisa Ia kendalikan. Jangan-jangan apa yang telah terjadi ada sangkut pautnya satu sama lain? Apa ini semacam teror? Atau hanya ulah fans fanatik? Asiyah begitu penasaran dengan semua ini.


Asiyah segera bersiap untuk memulai pekerjaannya pagi ini. Boneka itu diletakkannya di atas kursi tunggu, boneka itu duduk sendirian. Di ruangan khusus miliknya, tidak jauh dari posisi duduk Asiyah saat ini. Boneka itu diletakkan persis seperti saat Ia pertama kali di temukan di ayunan oleh Aisyah.


Dari kejauhan saat memoles wajahnya dengan make up, Asiyah melirik ke arah boneka itu. Boneka itu begitu manis dengan hijabnya. Seakan tersenyum manis memandangi Asiyah. Asiyah pun ikut tersenyum melihatnya tanpa Ia sadari.

__ADS_1


"Mbak, itu boneka siapa yaa?" tanya Caca pada Asiyah. Caca yang sedari tadi melihat Asiyah memegang boneka itu, lalu hanya memandanginya saja dari kejauhan.


"Ohh iya Ca, Saya sebetulnya memang mau menceritakan soal boneka ini sama Kamu," jelas Asiyah pada Caca sambil menatap cermin besar di hadapannya.


"Iya," jawab Caca.


"Jadi, boneka ini kemarin ditemukan oleh Aisyah di ayunan taman depan rumah kita, sedang berayun sendirian, dan di dalam liontin kalungnya ada foto Saya yang bertuliskan 'My First Love'," jelas Asiyah.


"Terus Mbak..?" tanya Caca lagi.


"Terusss, coba Kamu cek, kira-kira siapa yang menaruh boneka itu kemarin di taman?" jelas Asiyah dengan tatapan penuh harapnya pada Caca. Masih sambil bersibuk-sibuk dengan persiapan shootingnya nanti.


"Apa mungkin ini ada hubungannya dengan telepon misterius itu Mbak? Sambung Cita, sambil merapi-rapikan pakaian Asiyah. Dengan posisi mereka berdua yang sedang berdiri. Setelah sebelumnya Cita selesai membantu Asiyah memoleskan wajahnya dengan make up yang natural.


"Sudah rapi Mbak," ucap Cita. Mereka berdua kembali duduk.


Di tengah pembicaraan mereka itu. Tiba-tiba.


"Permisiiiii, Mbak Asiyah, ini ada titipan dari anak kecil," seorang crew laki-laki mengantarkan bucket bunga mawar kepada Asiyah.


"Iya, bunga? Dari siapa? Anak kecil? Siapa yaa?" Asiyah seketika mengadahkan kepalanya ke arah crew itu.


"Kurang tahu juga Saya Mbak, dia hanya menitipkan bunga ini, katanya tolong berikan kepada Mbak, setelah itu anak kecil itu langsung pergi," jelas crew lelaki itu.


"Anak kecilnya laki-laki atau perempuan? Perawakannya seperti apa? Apa sebelumnya Kamu sudah pernah melihatnya di sekitar sini? Cerca Cita dengan banyaknya pertanyaan pada crew itu. Diam-diam ternyata Cita juga memendam rasa penasaran.


"Oh kalau itu, yang Saya lihat, anak kecil itu terlihat biasa saja sih Mbak, anak perempuan, sepertinya hanya di suruh saja sama pengirim asli bucket mawar ini dan memang kalau tidak salah anak kecil itu adalah anak-anak yang sering jualan asongan bersama teman-temannya di lokasi shooting kita pas sore hari," jelasnya.


Asiyah dan Caca menyimak.

__ADS_1


"Ohh yaa sudah, terima kasih infonya yaa Bang," ucap Cita yang telah selesai mempersiapkan segala keperluan Asiyah untuk segera shooting.


Crew pengantar bucket bunga itu telah pergi. Tinggal lah mereka bertiga di tempat itu. Juga dengan boneka kecil misterius itu yang tak jauh dari mereka. Yang seakan masih menatap Asiyah.


__ADS_2