
Pagi itu Asiyah datang ke kantor seperti biasanya. Betapa terkejutnya Ia. Ada setumpuk berkas di atas meja kerjanya.
Huuuhh.. Apa ini? Baru juga datang, sudah ada saja pekerjaan, banyak pula. Astaghfirullah.. benar-benar ujian dari Allah ini.
Pak Tomi langsung saja masuk ke ruangan Asiyah. Tumben sekali Pak Tomi datang sepagi ini. Maya saja belum datang.
“Asiyah, berkas ini nanti Kamu bawa ke fotokopian di depan simpang sana yaa. Ditunggu saja, soalnya berkas ini mau langsung saya bawa siang ini untuk meeting. Mesin fotokopi di kantor kita sedang bermasalah soalnya. Tapi tadi Saya sudah panggil tukang servicenya untuk memperbaikinya."
"Baik Pak.." jawab Asiyah sigap.
Pak Tomi kembali keluar dari ruangan Asiyah. Hanya ingin memberitahukan tentang itu saja.
Pukul 08.00 pagi. Maya sudah datang. Tempat fotokopi di simpang sana juga mungkin sudah buka.
Di sebelah lorong kantor ada tempat fotokopi. Asiyah bergegas. Membawa setumpuk berkas. Dimasukkannya
ke dalam kantong hitam besar, itu pun sudah dipas-paskannya di dalam kantong itu. Benar-benar banyak berkas ini.
Hhhhh.. aneh saja, mau diapakan berkas sebanyak ini dibawa oleh Pak Tomi siang nanti. Mau meeting atau mau ngelapak kertas?
Sesampainya di tempat fotokopi. Asiyah disambut oleh seorang pria, petugas fotokopi. Ia juga pemilik tempat itu.
Cukup besar tempatnya. Biasanya ramai sekali orang yang mau memfotokopi berkas di sini. Tapi kali ini sepi, mungkin karena masih pagi kali yaa, pikir Asiyah.
Ramah. Pria itu mulai bercerita sambil membuka staples yang nyangkut di berkas itu satu persatu. Mulai menggandakan berkas-berkas itu satu per satu.
Sambil melakukan pekerjaannya, pria itu mulai bercerita.
Kata pria itu, "Jadi istri ke dua itu nggak berdosa, malah enak, soalnya ngurusin suami nggak sendirian, berdua sama istri pertama, apalagi kalau suaminya ganteng, ini malah jadi bonusnya. Teman Saya ada yang jadi istri ke dua, hidupnya bahagia, karena semua yang Dia mau diberikan oleh suaminya. Kalau Kamu mau jadi istri ke dua,
nanti hidup Kamu bahagia".
Pria itu pun menyanggupi untuk mencarikan suami untuk Asiyah, jika Asiyah mau dimadu.
“Bagaimana? Kalau Kamu mau dimadu, Saya bisa mencarikan suami untuk Kamu, kebetulan memang ada teman Saya yang sedang mencari istri ke dua, masih muda, tampan, sholeh dan juga in syaa Allah mampu dari segi harta untuk menafkahi dua istri dan anak-anaknya kelak,” tanya pria itu pada Asiyah.
Asiyah hanya diam dan tersenyum di kursi tunggunya. Hanya mendengarkan saja setiap perkataannya.
__ADS_1
Apa-apaan sihh nih orang, membahas hal seperti ini pagi-pagi buta. Apa maksud pria ini? Jauh sekali pembicaraannya. Dari mana pula Dia tahu kalau Asiyah belum menikah?
Ahh terserah Dia sajalah mau bicara apa. Apa lagi mereka tidak saling mengenal. Ada-ada saja.
Intinya selama lebih dari satu jam Asiyah berada di sana, menunggu semua berkas itu selesai, Ia hanya mendengarkan cerita pria itu. Temanya yaa tentang istri ke dua dan kebahagiaan menjadi istri ke dua.
Yang paling hebat sihh, ujung-ujungnya Ia bilang, katanya ada temannya masih muda, ganteng, seorang pengusaha sukses, sedang mencari istri ke dua.
Katanya Asiyah cantik dan sholeha, cocok sekali dengan temannya itu.
Hahh? Sholeha? Hebat sekali pria itu menilai keimanan dirinya. Hanya dalam kali pertama pertemuan mereka. Seolah Dia sudah mengenal jauh tentang Asiyah.
Terus, kenapa harus menawarkan suami orang sih? Apa bujangan sudah tidak ada lagi, kan Asiyah masih gadis.
Ada-ada saja pria ini. Asiyah benar-benar tidak habis pikir. Ini adalah pagi yang menyebalkan baginya. Bertemu seorang pria yang ramah namun lancang dalam mengurusi kehidupan pribadinya.
Berkas-berkas sudah selesai semua di fotokopi.
Asiyah merapikan berkas-berkasnya. Membawanya lagi menggunakan kantong hitam tadi. Kali ini menjadi tiga kali lipat beratnya.
Pria itu melihatnya saja saat Asiyah pergi meninggalkan tokonya.
Asiyah juga melihat ke arah pria itu sejenak, aneh.
Asiyah kembali ke kantor. Diserahkannya berkas-berkas itu pada Pak Tomi.
“Terima kasih yaa Humaira,” Pak Tomi tersenyum menatap ke dua bola mata Asiyah.
“Hahh? Humaira? Apa Aku tidak salah dengar tadi yaa? Humaira kan panggilan sayang Nabi Muhammad Shalallahu 'Alaihi Wassalam
untuk Ibunda Aisyah Rhadiyallahu 'Anha, istrinya. Maksud Pak Tomi apa ya?”
Asiyah benar-benar merasa ada yang aneh dengan hari ini. Bukan bukan, bukan hari ini saja, tetapi hari sejak Ia diterima bekerja di kantor ini, semuanya sudah tidak wajar. Asiyah diperlakukan dengan sangat baik yang sudah sangat berlebihan menurutnya.
Beberapa hari berlalu sejak kejadian itu. Asiyah bersama staf yang lainnya duduk-duduk berbincang di kantin depan kantor. Mereka memang sering ke sana untuk makan nasi uduk, gorengan dan minum-minum kopi saat jam istirahat.
Kali ini salah satu staf kantor bernama Acen yang membicarakan soal istri ke dua. Katanya seorang pengusaha kalau punya istri lebih dari satu itu biasa, karena mereka mampu menafkahi, materinya cukup. Apalagi kalau Ia adalah seorang pengusaha yang benar-benar sukses, istri-istri dan keluarganya pasti akan hidup senang.
Tiba-tiba langsung saja Acen bertanya pada Asiyah yang duduk di hadapannya. Tentang istri ke dua yang dibahasnya barusan. “Iya kan Asiyah?”
Asiyah terkejut. Terhenti dari kunyahannya. Hampir saja tersedak.
Haahh?! Apa maksud Acen bertanya seperti itu? Kenapa harus Asiyah? Kenapa nggak Maya saja? Asiyah hanya diam saja. Pertanyaan yang sangat
__ADS_1
membuatnya tidak nyaman.
Tidak usah diresponlah pertanyaan Acen itu. Makan lagi saja. Rasa lapar di perutnya lebih penting untuk diurus daripada ucapan Acen barusan, pikir Asiyah.
Kejadian itu berlalu lagi.
Asiyah berusaha melupakan perkataan Acen saat makan siang tadi. Terlebih beberapa hari yang lalu, pria fotokopi di lorong sana juga membahas tentang istri ke dua padanya.
Hhhhh.. sebenarnya ada apa dengan istri
kedua? Ada apa dengan semua orang ini? Apa memang lagi musimnya membahas persoalan tentang istri ke dua?
Pak Tomi sedang di luar kota saat ini bersama beberapa staf. Ada beberapa proyek di luar kota yang harus diurusnya, ada pertemuan di sana.
Kantor terasa lumayan bebas, karena tidak ada Pak bos yang mengawasi staf yang tinggal.
Sebentar lagi jam pulang kantor akan tiba.
“Krinngg.. krriinngg..” ponsel Asiyah berdering. Pak Tomi menelepon.
“Assalamu’alaykum Humaira,” Pak Tomi memanggilnya dengan sebutan itu lagi.
“Wa’laykumussalam Pak, Iya Pak ada apa?” tanya Asiyah.
Tidak biasanya Pak Tomi meneleponnya. Ke ponsel pula. Kan telepon kantor ada. Biasanya juga kalau mau menelepon ke ponsel, Maya lah yang selalu dihubunginya untuk urusan kantor, tapi kenapa sekarang malah Asiyah yang ditelepon.
“Tidak ada apa-apa Asiyah, Saya sekarang sedang di luar kota, Asiyah mau Saya bawakan oleh-oleh
apa?” tanya Pak Tomi.
Seolah ada hubungan di antara mereka. Hubungan yang lebih dari seorang bos dan karyawannya, apalagi memang kali ini kedengarannya nada bicara Pak Tomi sungguh lembut mendayu. Sangat berbeda dengan sebelumnya, seperti sedang merayu saja.
“Oh di luar kota Pak? Tidak usah Pak, Saya tidak ada yang mau dititipkan,” Asiyah menolak dengan halus.
Terkejut sekali Ia, Pak Tomi sepertinya menaruh hati padanya. Soalnya hanya Dia saja yang ditelepon. Maya tidak. Staf yang lain juga tidak.
Prasangka buruk itu mulai berbekas di pikiran Asiyah.
__ADS_1
“Ohh ya sudah kalau begitu Asiyah, besok saya pulang."
Pak Tomi masih saja bersikap seperti itu. Asiyah merasa tidak enak sekali. Sikap Pak Tomi sangat-sangat tidak biasa. Seperti seorang kekasih saja padanya.