
"Astaghfirullah, kenapa jadi terlambat begini sih?" ucap Asiyah dengan keluhannya.
Rombongan liburan mereka kali ini berlarian di lorong hotel, terburu-buru.
"Gara-gara kecapaian belanja oleh-oleh tadi malam, jadi begini kan kita semua," sambung Asiyah lagi, dengan keluh kekecewaannya.
"Sudah Nak, ini kan belum terlambat, in syaa Allah kita tepat waktu sampai di bandara," sambung Umi, menenangkan.Yang juga ikut berlarian di lorong hotel.
Cita, Caca dan Yuna hanya diam membisu. Fokus pada langkah kaki cepat mereka. Sesekali mendelik ke arah Asiyah. Tak berani berbicara sepatah kata pun. Merasa sangat bersalah pada Asiyah. Mereka pun terlambat bangun tadi pagi karena badan mereka juga terasa pegal-pegal karena kecapaian berbelanja selama dua jam tadi malam, yaa sambil membawa belanjaan oleh-oleh itu berkeliling di toko.
"Taxi sudah dipesankan Cita?" tanya Asiyah, masih dalam langkah cepat mereka. Tersengal nafasnya sambil bicara.
"Sudah Mbak," jawab Cita cepat, tersengal nafasnya.
"Semua barang-barang sudah lengkap semua yaa Ca?" tanya Asiyah lagi, kali ini pada Caca.
"Sudah Mbak, sudah lengkap," jawab Caca yang juga tersengal nafasnya karena berlarian.
Yuna menelepon taxi yang dipesankan oleh Cita tadi, menggunakan bahasa Korea. Karena memang Cita sendiri tak bisa berbahasa Korea. Disinilah fungsinya Yuna, sebagai penyelamat mereka dikala tidak bisa berkomunikasi pada warga lokal karena kendala bahasa yang tidak saling mengerti.
"Mbak, taxinya sudah menunggu di depan hotel," ucap Yuna pada Asiyah.
"Alhamdulillah, ayokk ayook cepat, biar cepat sampai kita di bandara," ucap Asiyah lagi.
Ali dan Aisyah pun tergopoh-gopoh berlarian, sambil menggendong tas punggung kecil mereka masing-masing.
Mereka sampai di depan hotel. Sudah ada tiga buah taxi yang menunggu mereka. Barang-barang bawaan mereka lumayan banyak, menjadi dua kali lipat dari pas saat mereka tiba di Korea. Oleh-oleh yang membuat mereka harus terburu-buru siang ini.
Memasukkan barang-barang mereka satu persatu ke dalam mobil.
Yuna mengawasi barang-barang mereka di salah satu taxi.
Caca dan Cita berada dalam satu taxi, juga mengawasi barang-barang mereka.
__ADS_1
Sementara Asiyah, Umi, Aisyah dan Ali, berada di dalam satu taxi dengan membawa sedikit barang.
Duduk di dalam taxi. "Astaghfirullah Umi, badan Asiyah sakit-sakit semua rasanya," ucap Asiyah sambil memijat-mijatkan lengannya. Duduk di sebelah supir.
"Nanti pas sampai di Jakarta, kita panggil saja tukang pijat langganan kita itu Umi, lusa Asiyah sudah mulai shooting lagi," jelas Asiyah.
"Iya Nak, nanti biar Umi yang hubungi tukang pijat yang biasa itu yaa," jawab Umi menenangkan.
Sepuluh menit, sampai di bandara.
"Alhamdulillah akhirnya sampai," ucap Asiyah.
Cita, Caca dan Yuna, sibuk mengurusi barang-barang mereka.
Menaiki pesawat. Dengan senyuman ramahnya ketika melewati para penumpang di dalam pesawat. Asiyah memasukkan koper kecilnya ke dalam kabin pesawat.
Tiba-tiba seorang lelaki menabraknya dari belakang, ketika Asiyah mengulurkan kopernya ke atas kabin. "Astaghfirullah, hati-hati Mas kalau jalan," ucap Asiyah refleks menggunakan bahasa Indonesia. Lupa kalau Ia sedang berada di Negeri Sakura. Kopernya pun kembali jatuh.
"Maaf Mbak, maaf, Saya tidak sengaja, ada yang menabrak Saya dari belakang tadi," ucap lelaki itu pada Asiyah. Seraya memasukkan koper milik Asiyah kembali ke atas kabin, dengan gerak cepatnya.
Seorang lelaki muda berkulit putih. Berpostur tubuh tinggi. Tampak rapi. Pakaiannya juga terlihat mahal dengan kemeja halus yang dikenakannya. sepatu keren dengan merk ternama. Rambut yang disisir dengan sangat rapi dengan minyak rambut wanginya. Sementara wajahnya? Maa syaa Allah, tampan sekali, begitu terawat. Juga dengan pembawaan gaya bicaranya yang sungguh terpelajar, sopan sekali.
"Loh, Kamu dari Indonesia yaa?" tanya Asiyah, dengan wajah kagetnya memandang wajah lelaki muda itu.
"Iya Mbak, Asiyah," jawab lelaki itu, tersenyum ramah.
"Kamu mengenali Saya juga yaa?" tanya Asiyah lagi, masih dengan rasa kagetnya.
"Siapa yang tidak mengenal seorang selebriti ternama seperti Mbak," jawab lelaki itu, masih dengan keramahannya, seraya tersenyum.
"Kopernya sudah Saya taruh di tempat semula yaa Mbak, sekali lagi Saya minta maaf, Saya ke sana dulu yaa," ucap lelaki itu, sambil memberikan isyarat, menunjukkan kursi tempat duduknya dengan telapak tangannya, yang berada dibarisan depan sana.
"Oohh iya, nggak apa-apa Mas, silahkan," ucap Asiyah, ramah. Sedikit membungkukkan tubuhnya, mempersilahkan.
__ADS_1
Lelaki itu tampak berlalu dengan membawa koper kecil di tangannya. Tampak sekilas koper yang dibawanya mirip dengan koper kepunyaan Asiyah, persis dengan warnanya. Asiyah diam sejenak. Sedikit panik. Apa mungkin lelaki itu mencuri kopernya? Lalu Asiyah seketika melihat ke atas kabin di atas kepalanya. Oohh ternyata kopernya masih ada. Alhamdulillah. Hatinya kembali tenang. Bisa-bisanya mereka memiliki selera koper yang sama, pikir Asiyah seraya tersenyum.
Asiyah pun mengambil posisi duduk di kursinya.
Perjalanan yang cukup jauh. Asiyah mulai beristirahat setelah tadi cukup lama berlarian mengejar waktu.
Asiyah memandang ke arah jendela pesawat. Memandang betapa putihnya awan yang dilintasinya. Seperti negeri khayangan yang sering Ia tonton di Televisi sewaktu kecil dulu. Dengan langit biru yang indah, seakan pemandangan lautan yang terbentang di negeri awan yang dipenuhi bidadari bak cerita-cerita dongeng.
Maa syaa Allah.
Ingin rasanya Asiyah terbang melintasi gumpalan awan yang mengombak putih. Terbayang di dalam imajinasinya sayap-sayap lembut pada punggungnya menempel indah bak bidadari cantik yang pernah Ia tonton di Televisi sewaktu kecil dulu.
Sejenak Asiyah berpikir. Dunia saja seindah ini terlihat dimatanya. Apalagi, disurga nanti. Tentu akan jauh berkali-kali lipat keindahannya. Maa syaa Allah. Pesonanya tentu akan jauh mengalahkan pesona keindahan dunia yang terindah sekali pun.
Aamiin ya robbal'alamin. Asiyah diam-diam berdo'a di dalam hati. Berharap, semoga Allah memasukkannya ke dalam surga-Nya.
Namun pikiran itu berubah menjadi ketakutan seketika melihat teriknya panas matahari dari ketinggian 32.000 kaki di atas permukaan laut ini.
Teriknya matahari dunia saja sudah sehangat ini, menyilaukan kedua bola matanya. Panas. Apalagi panasnya api neraka. Astaghfirullah. Na'udzubillah min dzalik. Jauhkanlah hamba dari neraka yaa Allah, aamiin ya robbal'alamin. Begitulah do'a Asiyah dalam hati seketika pandangannya beralih pada sumber cahaya panas itu, matahari.
Nngguuuuiiinnnggg.. suara pesawat mendarat di Jakarta.
Setelah belasan jam terbang di angkasa langit. Menciptakan lelah yang memuncakkan tubuh rombongan liburan mereka yang sebelumnya telah remuk karena berburu oleh-oleh itu.
Alhamdulillah..
Mereka telah sampai.
Dengan tiga buah taxi yang telah menunggu mereka di depan bandara. Kali ini Caca yang telah memesankan kendaraan untuk mereka tanpa instruksi dari Asiyah sebelumnya, yaa agar mereka segera sampai di rumah.
Tak sampai setengah jam perjalanan sampai dirumah.
Memasuki rumah. Para asisten rumah tangga sigap menyambut kepulangan mereka. Barang-barang bawaan mereka segera dibereskan di tempatnya masing-masing.
__ADS_1
Mereka beristirahat sejenak. Lelah sekali rasanya.