Asiyah Akhir Zaman

Asiyah Akhir Zaman
Di Penghujung Malam


__ADS_3

Ya Allah, ujian apa ini? Ucap Asiyah di dalam hatinya. Masih termenung di pinggir jalan di penghujung malam ini.


Sudah berapa lama mereka menunggu. Sudah berapa banyak nomor telepon yang mereka hubungi. Tetapi belum juga membuahkan hasil.


Penantian di gelapnya malam ini, terasa sangat lama.Tak seperti malam-malam biasanya saat mereka dalam kesibukan bahkan di saat lelapnya beristirahat. Detik demi detik seakan tak mau beranjak dari pijakannya dalam tungguan.


Ya Allah. Asiyah bukannya memikirkan bagaimana seharusnya sikap yang akan mereka ambil saat ini agar segera sampai di rumah, tetapi Asiyah malah membiarkan pikirannya hanyut dalam lintasan klise kisah masa lalunya bersama Abi. Di saat seperti ini justru menit demi menit seakan berlalu begitu saja saat tak diperdulikan.


Air mata itu mengalir tanpa Ia sadari. Dalam lamunannya, kenangan bersama Abi begitu jelas teringat. Yaa walaupun gambaran tentang diri Abi sudah memudar dalam ingatannya.


Perlahan tangan yang memegang ponsel itu mulai memainkan jarinya. Tangan itu patuh pada perintah hati Asiyah. Jari jemari itu begitu lihai menemukan sudut pencarian yang tengah dicari oleh hatinya. Foto-foto Abi. Yaa foto-foto Abi telah ditemukan.


Begitu jelas gambar wajah Abi yang ditatapnya pada galeri ponsel itu. Saat Abi tertawa, saat Abi bercanda bersama dengannya, video dan foto-foto kebersamaan mereka, semuanya masih ada. Berbagai macam gaya dan kenangan bersama Abi yang diabadikannya masih tersimpan rapi di sana. Ya Allah, Asiyah rindu Abi. Benar-benar rindu rasanya.


Caca yang berdiri di dekat Asiyah, segera menghampirinya. Namun langkah kaki itu seketika terhenti saat melihat basahnya pipi Asiyah. Yang di saat bersamaan tak lepas dalam memandangi foto-foto abinya pada ponsel mahal keluaran terbaru itu.


Tak tega rasanya melihat Mbak Asiyah dalam keadaan seperti ini. Ternyata bukan hanya Aku yang merasakan perihnya menahan rindu akan sosok seorang ayah, tetapi Mbak Asiyah juga merasakan hal yang sama. Yaa walaupun ternyata cerita kami berbeda. Gumam Caca di dalam hatinya.


Gluuuduukkk.. gggkkkkrrr.. bunyi gemuruh menyapa telinga mereka bertiga. Berbisik kasar. Mengejutkan lamunan mereka.


Sepertinya hari mau hujan. Kali ini tak seperti drama pada film Korea. Ini lebih seperti adegan di film horor. Astaghfirullah.. mereka berucap.


"Ayo-ayo, Caca, Cita, kita masuk ke dalam mobil dulu," teriak Asiyah pada dua asistennya. Sambil berlari. Sesegera mungkin tanpa membuang waktu.


Caca dan Cita juga seketika segera berlarian masuk ke dalam mobil.

__ADS_1


"Hhhhhh.. ya Allah, cepat sekali ya hujannya turun, padahal baru beberapa detik yang lalu gluduknya terdengar," ucap Cita. Usai berlarian dari bawah pohon besar di pinggir jalan tadi. Masih tersengal nafasnya terdengar.


Sementara Caca yang berada di belakang Asiyah tadi. Secepat mungkin memalingkan wajahnya, lalu mengiyakan ajakan Asiyah, untuk segera berlarian masuk ke dalam mobil. Caca merasa tidak enak pada Asiyah. Memandanginya dengan mata berkaca-kaca.


"Kita tunggu hujannya reda, nanti kita coba dorong saja mobil ini, tidak terlalu jauh lah untuk sampai di persimpangan keramaian, di sini terlalu sepi, memang agak sulit untuk kita mendapatkan pertolongan," ajak Asiyah pada Caca dan Cita. Tegas.


"Baik Mbak," ucap Caca dan Cita, kompak.


Tiga puluh menit berlalu. Hujan sudah mulai reda.


Kini hujan kasar telah berubah menjadi gerimis halus.


"Sepertinya hujan sudah mulai reda, ayo kita keluar, mudah-mudahan mobil ini sudah bisa kita dorong, soalnya agak becek tanah berumput di bawah pohon yang kita tabrak ini," ucap Asiyah pada Caca dan Cita.


Mereka telah keluar dari mobil.


Sssrrrrhhhh.. angin meniup tubuh-tubuh mereka seketika mereka keluar dari mobil. Asiyah keluar dari pintu mobil depan. Caca dari pintu mobil di sebelah Asiyah. Sementara Cita dari pintu mobil tengah.


Berdiri tepat di depan pintu-pintu mobil itu. Angin di jam-jam segini memang begitu menusuk tubuh sampai ke tulang rangka. Ditambah lagi ini adalah angin yang bertiup selepas hujan lebat. Subhanallah.. tak dapat diungkapkan dengan kata-kata apa yang mereka rasakan.


"Astaghfirullah, dingin sekali yaa," ucap Asiyah spontan, kala ditampar oleh angin di penghujung malam ini.


Rrrgggghhhh.. rrrgghhh.. Caca gemetar, dengan gumam gigilnya yang tak tertahankan.


Cita merapatkan sweaternya segera.

__ADS_1


"Kita tidak bisa bermanja menunggu bantuan di tempat ini, abaikan saja dulu rasa dingin ini yaa, kita tidak bisa membuang waktu, Saya rasa tenaga kita bertiga cukup untuk mendorong mobil ini secara bergantian sampai di persimpangan keramaian di depan sana," perintah Asiyah, dengan jelasnya. Sambil menunjuk arah depan jalan dengan jari tangan yang diacungkannya.


"Iya Mbak, siap, kita bismillah saja," jawab Cita.


"Bismillah, semoga berhasil," sambung Caca.


Dimulai dengan Asiyah yang menyetir pertama kali. Sementara Caca dan Cita sudah siap dengan posisi mereka untuk mendorong mobil dari bagian belakang.


Nyyeettt.. nnyyeettt.. suara mesin mobil itu. Alhamdulillahi 'ala kulli hal. Mobil ini benar-benar mogok. Tak dapat dinyalakan lagi mesinnya. Asiyah turun dari mobil. Diikuti Caca dan Cita.


"Kita dorong saja dari depan mobil ini, mesinnya benar-benar mati, harus dibawa ke bengkel, Saya tidak mengerti sama sekali soal mesin," jelas Asiyah pada Caca dan Cita.


Caca dan Cita menuruti perintah Asiyah. Kini mereka bertiga tengah mendorong mobil itu dari bagian depan mobil.


"Bismillahirrahmanirrahim, satuuu, duaa, tigaa," kata-kata itu diucapkan oleh Asiyah berulang kali. Hingga mobil itu dapat kembali pada posisi yang seharusnya, lintasan kendaraan.


Ternyata tak semudah yang dibayangkan sebelumnya. Lima belas menit berlalu.


"Ayo kita istirahat dulu, sepertinya ban depan mobil ini sedikit terbenam ke dalam tanah, tidak akan bergerak mobil ini kalau hanya kita dorong saja. Ban mobil ini harus di ganjal, tanahnya terlalu licin," jelas Asiyah.


"Saya lihat di dekat pohon itu ada kayu dan juga batu besar, mudah-mudahan cukup untuk dijadikan ganjalan pada ban mobil ini supaya bisa naik saat kita dorong nanti," jelas Asiyah pada Caca dan Cita, seraya menunjukkan arah di mana kayu itu berada. Juga memperlihatkan benaman ban di dalam tanah yang terlanjut becek dan lembut akibat hujan lebat barusan.


Caca dan Cita yang memperhatikan intruksi itu. Mengambil langkah masing-masing. Caca mengambil kayu. Cita membawakan batu. Tentu saja setelah mereka bertiga beristirahat selama lima menit.


Rasa dingin tadi seakan pergi tanpa permisi. Es batu telah mencair, berubah menjadi bulir-bulir peluh yang menetes dari dahi-dahi mereka. Rasa hangat kini telah menghampiri di tengah angin dingin yang belum berlalu pergi.

__ADS_1


__ADS_2