
Badai seakan silih berganti. Air langit menghempas bumi. Angin neraka menghembus panas. Dinginnya udara membekukan darah.
Sementara Asiyah masih terombang ambing dalam gemuruhnya hujan yang tak hentinya membasahi hatinya. Mendung yang kian siang seakan hanya memberikan malam. Terhunus pedang pada ulu lubuk rasa sakitnya.
Kebingungan yang terus berputar di rongga pikirannya. Seakan tak tau titik poros hentinya, terus saja berputar mengelilingi hingga pening di kepala tak dapat dikendalikan.
Pertanyaan timbul bertubi-tubi dari alam bawah sadarnya.
Kapan Pak Sendi akan memutuskan perkaranya?
Kapan dilema kisah cinta abu-abunya akan segera berakhir?
Kisah cinta yang hanya menghadirkan kata 'Bingung'. Bingung, kapan dimulai? Bingung, dari mana asalnya? Bingung, kapan berakhir? Bingung, apakah ini benar adanya? Atau mungkin hanya kira-kira rasa dan permainan pikiran saja yang telah menipu dirinya.
Sore ini, rencananya Asiyah mau mengajak Caca dan Cita kembali mengelilingi sawah. Pukul empat sore, ba'da ashar. Setelah kemarin rencana mereka terealisasikan namun tak sempurna jalannya. Semua hanya berlalu seperti angin kosong, sekedarnya saja, akibat rasa sesak di dalam dada Asiyah mendadak muncul tanpa permisi seketika melihat Dimas dan Mawar jalan bersama.
"Nanti sore kita ke sawah lagi yaa," ajak Asiyah pada Caca dan Cita pada makan siang hari ini.
"Ke sawah lagi Mbak? Mau foto-foto lagi?" tanya Cita.
"Iya, soalnya Saya kurang puas dengan hasil foto kemarin."
"Apa masih di lokasi sawah yang sama seperti kemarin Mbak?" tanya Caca.
"Nanti Kita cari aja angle yang lain, soalnya yang kemarin agak kurang pas kalo Saya perhatikan," Asiyah berkilah, padahal hasil pemotretannya kurang bagus karena tidak ada rasa di dalam gambarnya, kosong, tak bernyawa. Tatapan mata Asiyah tidak fokus saat pemotretan.
"Ohh iya Mbak," ucap Caca.
"Apa kita perlu membagikan makanan lagi pada para petani di sawah Mbak?" tanya Cita.
"Ya, beli saja nanti, berbagi tidak membuat kita jatuh miskin kan?" jawab Asiyah.
"Siap Mbak," Cita membalas dengan senyum.
"Jangan lupa nanti perlengkapan yang kemarin kita bawa, dibawa lagi semuanya yaa Ca," ucap Asiyah saat makan siang.
"Siapp Mbak," jawab Caca.
"Jangan lupa sholat ashar dlu nanti sebelum berangkat," Asiyah mengingatkan.
"Iya Mbak," jawab Caca dan Cita bergantian.
Makan siang ini selesai sampai di sini.
__ADS_1
Mereka kembali ke kamar masing-masing
Mudah-mudahan sore ini tidak ada hambatan lagi seperti kemarin, pemandangannya benar-benar mengacaukan suasana hatiku tanpa sebab, gumam Asiyah dalam hati.
Ba'da ashar. Mereka segera berangkat ke sawah.
Diperjalanan menuju ke sawah, Asiyah berusaha memfokuskan pikirannya. Mencoba melupakan segala macam problema di dalam dadanya.
Cekrekk.. cekrekkk.. kamera itu kembali dimainkan oleh Asiyah.
Kali ini Caca juga membawa kameranya sendiri, Caca tampak mulai tertarik dengan objek di sekitar sawah, makanya hari ini, ketika Asiyah mengajaknya untuk ke sawah lagi, dengan sigap Caca menyusun rencananya sendiri.
Pemandangan kali ini sedikit berbeda, karena mereka juga mengambil jalan yang berbeda menuju sawah. Seperti yang mereka rencanakan tadi, mereka akan melakukan sesi foto dari angle yang berbeda.
Diperjalanan, di atas ojek motor, tiba-tiba Asiyah teringat akan Pak Sendi, kemudian menanyakannya pada Caca, "O ya Ca apa ada kabar dari Pak Sendi?"
"Belum ada Mbak," Caca terhenti dari asyiknya memainkan kameranya. Tangkap hapus, tangkap hapus, seperti tak ada puasnya dengan hasil potretannya.
"Padahal sudah hampir satu bulan Saya di sini, tanpa mengabarinya, apa mungkin yaa, Pak Sendi mendapatkan aktris lain untuk menggantikan Saya?" tanya Asiyah. Sejenak Ia terdiam dalam lamunannya. Memberhentikan seketika nafasnya. Menariknya dalam, kemudian menghembuskannya kencang.
Caca dan Cita hanya diam, menatap Asiyah.
Kriinggg.. kkrriingg.. ponsel Cita berbunyi, "Hallo Ma, assalamu'alaykum, iyaa Ma, Cita lagi di jalan nih sama Mbak Asiyah, mau pemotretan di sawah, alhamdulillah Cita sehat Ma, Mama gimana kabarnya?, alhamdulillah kalo gitu Ma, ya udah ya Ma Cita sebentar lagi sampai di sawah ini, assalamu'alaykum," Cita menutup teleponnya. Melanjutkan pandangan matanya yang sedari tadi memandangi sekelilingnya.
Kriinggg.. kriiinnggg.. kini giliran ponsel Caca yang berbunyi, Caca masih saja sibuk memotret.
"Ca, ponsel Mu itu berbunyi, ada yang menelepon, mungkin mama kamu yang menelepon," ucap Asiyah.
"Nanggung nih Mbak, sebentar lagi, biarin aja kalau Mama sudah biasa Caca cuekin gitu, nanti juga nelpon lagi, heheee.." Caca menyeringai.
"Eehh Ca, itu bukan mama kamu deh kayaknya, Pak Sendi nggak sih tu? Namanya 'Bapak Manajemen' di ponselmu," seketika Cita mengatakan hal ini pada Caca. Saat sekelebat melihat ponsel Caca yang berbunyi di hadapannya. Di atas tas tepat berada di depan Cita.
"Eehh.. mana? Yang benar Kamu?" Caca dengan cepat mengangkat teleponnya tanpa melihat kontak yang meneleponnya itu lagi, ternyata itu adalah telepon dari mamanya.
"Wa'alaykumussalam, Hallo, iya Pak, Sayaa..."
"Cacaa.. ini Mama, kebiasaan Kamu tuh ya, kalau Mama nelpon lamaaa sekali ngangkatnya, ke mana aja Kamu Nak?! Sudah 1 pekan loh nggak ada ngabarin Mama," habis sudah caca kena semprot mamanya.
Ppffffttttt.. Cita tertawa terbahak-bahak karena telah berhasil menipu Caca. Apalagi setelah mendengar omelan mamanya barusan, begitu tembus teriakannya melalui speaker handphone itu.
Asiyah pun tersenyum melihat kelakuan dua asistennya.
Caca segera meletakkan kembali ponselnya di tempat semula setelah selesai menelan omelan mamanya sore ini. Melanjutkan kembali gerakan jemarinya dengan lincah, menangkap gambar ke dalam kameranya.
__ADS_1
Kriinggg.. kriiiinngg.. secepat Caca meletakkan ponselnya di atas tas perlengkapan tadi, secepat itu pula ponselnya kembali berdering.
Kali ini siapa?
"Ca, beneran deh itu yang nelpon ponselmu 'Bapak Manajemen', Ca.. beneran Ca.." Cita mendesak Caca yang tampak asik dengan kameranya.
"Assalamu'alaykum Pak Sendi, ini Cita," Cita mengangkat ponsel Caca. Diloudspeakernya pembicaraan tersebut.
Seketika Caca merampas telepon itu dari tangan Cita.
"Hallo Pak, assalamu'alaykum, ini Caca Pak, ada apa Pak?"
"Wa'alaykumussalam Ca, gimana kabarnya?"
"Baik Pak, alhamdulillah Caca baik."
"Asiyah gimana kabarnya?"
"Alhamdulillah, Mbak Asiyah juga baik Pak."
"Syukurlah kalau begitu, apa Asiyah ada bersama Kamu?"
Seketika Caca memberi kode pada Asiyah, gimana?
"Jawab saja sejujurnya," ucap Asiyah, pelan seperti berbisik.
"Alhamdulillah kalau begitu Ca, tolong sampaikan saja pada Asiyah, ada yang mau Saya bicarakan sama Dia, perihal problem kita dalam pembuatan film kemarin."
"Baik Pak, nanti Saya sampaikan, o ya kalau boleh tahu kapan yaa Pak?"
"Pekan depan saja Ca, nanti tempatnya bisa kita sesuaikan saja, biar lebih santai ngobrolnya nanti."
"Baik Pak, baik.. itu saja Pak yang perlu Saya sampaikan?"
"Iya itu saja Ca, ya udah yaa, sampaikan salam Saya juga sama Asiyah dan juga Cita, assalamu'alaykum," Pak Sendi menutup teleponnya.
"Wa'alaykumussalam," balas Caca, menutup teleponnya.
Kemudian Caca menatap Asiyah, "Alhamdulillah Mbak sebentar lagi jalan keluar akan kita temukan, sepertinya Pak Sendi sudah mulai melunakkan hatinya," ucapnya.
"In syaa Allah Ca, kita lihat saja pekan depan, solusi apa yang akan ditawarkannya pada Saya," ucap Asiyah.
"Semoga semuanya seperti yang kita harapkan yaa, aamiin ya robbal'alamin," Cita berharap, mengadahkan kedua tangannya.
__ADS_1
Perjalanan mereka terus berlanjut menuju sawah dengan goyangan ojek motor ini ke kanan dan ke kiri.