
Ada yang berbeda dengan Asiyah.
Begitulah pandangan Maya saat pertama kali melihat Asiyah.
Asiyah terlihat sangat cantik. Asiyah begitu sederhana. Apalagi setelah Maya mengetahui latar belakang keluarga Asiyah, ada rasa kagum yang muncul. Kok bisa anak orang kaya atau lebih tepatnya mantan anak orang kaya berpenampilan sederhana layaknya orang biasa?
Asiyah tampaknya juga menikmati kehidupannya yang sekarang. Seperti tidak terjadi apa-apa dalam hidupnya. Padahal semua orang tahu, orang yang biasa hidup dimanja dengan kemewahan akan sulit menerima dengan ikhlas keadaannya yang sudah jatuh 180º. Frustasi. Stres. Mengurung diri. Malu.
Tetapi tidak dengan Asiyah. Asiyah tampak biasa saja dengan semua situasi ini. Apalagi Asiyah adalah perempuan yang cantik, bisa saja Ia memanfaatkan kecantikannya untuk meraup harta dunia dengan mengambil jalan pintas. Menjual dirinya pada setiap lelaki yang tertarik padanya.
Sejak awal Asiyah diterima bekerja di kantor ini, Maya sudah menduga sebelumnya bahwa ada hal lain dari diterimanya Asiyah bekerja dengan sangat mudah di kantor ini.
Dulu waktu Maya melamar pekerjaan di gedung putih ini, Maya dijejal dengan banyaknya pertanyaan saat wawancara kerja. Dites juga dengan tes psikotes tertulis.
Tetapi waktu itu Asiyah cerita, Asiyah tidak sama sekali diwawancara apalagi diberikan tes tertulis. Aneh sekali.
Memang Maya tahu dari banyaknya pembicaraan staf kantor saat ngumpul-ngumpul di kantor, bahwa Pak Tomi sedang mencari ‘Humaira’. Sebutan untuk calon istri ke duanya Pak Tomi.
Ahh makin kesini, Maya semakin yakin. Bahwa Pak Tomi benar-benar menyukai Asiyah. Pak Tomi benar-benar menginginkan Asiyah untuk dijadikan ‘Humaira’nya. Apalagi Asiyah juga pernah cerita pada Maya tentang Pak Tomi yang berkali-kali memanggilnya dengan sebutan ‘Humaira’.
Asiyah memang selalu terbuka pada Maya dengan berbagai kondisi yang dialaminya selama bekerja di kantor ini. Mulai dari keadaan keluarganya di rumah, sampai tentang siapa saja lelaki yang berusaha menggodanya di kantor ini.
Yaa Asiyah sengaja menceritakan semuanya pada Maya. Asiyah sengaja menciptakan satu orang saksi, dalam hal ini Asiyah ingin agar kelak jika ada yang memfitnah dirinya dalam urusan rumah tangga orang lain, Asiyah memiliki satu orang teman yang bisa membelanya.
Maya selalu siap menemani Asiyah kapan saja jika ada rekan bisnis Pak Tomi yang mulai menunjukkan gelagat genit padanya. Maya mengerti betul tentang hal ini. Maya memahami keadaan Asiyah saat ini.
Asiyah membutuhkan pekerjaan untuk membantu kebutuhan keluarganya di rumah sementara di sisi lain berbagai godaan seperti memintanya untuk berhenti saja dari pekerjaannya.
Memang awal prosesnya begitu sangat baik untuk Asiyah, Asiyah dengan sangat mudah mendapatkan pekerjaan ini, tetapi ujung-ujungnya memang segala proses yang diawali dengan kemudahan yang sangat jelas, tidak akan berakhir dengan mudah. Inilah konsekuensinya.
Tidak ada yang sempurna di dunia ini. Sesuatu yang benar-benar indah memang hanya akan didapat dengan kerja keras dan banyaknya kesulitan.
__ADS_1
Seringkali Maya melihat Asiyah termenung di kursi kerjanya sesaat setelah rekan bisnis Pak Tomi genit padanya. Saat ditanya, Asiyah hanya diam.
“Kenapa lagi Asiyah?” tanya Maya pada Asiyah. Mendekati meja kerjanya. Maya duduk di kursi di hadapan Asiyah.
“Nggak ada apa-apa kok May, cuma ngantuk,” jawab Asiyah melihat Maya sejenak.
“Biarkan saja para lelaki hidung belang itu menggoda Kamu, biarkan saja mereka sampai capai sendiri, yang pentingkan Kamunya tidak merespon, di sini juga kan ada Aku, mereka tidak mungkin berani macam-macam sama Kamu, kecuali kalau Kamunya mau diajak jalan berduaan sama mereka, itu yang berbahaya.”
“Iya Mayaa.. makasih yaa, Aku senang banget ada Kamu di sini, memang yaa, Allah ngirim Kamu di sini untuk jagain Aku banget deh kayaknya,” Asiyah tersenyum.
“Na’udzubillahimindzalik deh May, jangan sampai deh Aku jalan berduaan sama mereka, ngeri banget deh..” sambung Asiyah sejenak setelah melamun. Tidak mungkin Asiyah mau jalan berduaan dengan pria-pria genit itu, suami orang pula. Bisa berantakan semuanya.
“Iyaaa iyaa.. hehee..” Asiyah terkejut seketika. Tertawa kecil.
Saat Pak Ogi mengajak makan es krim di luar waktu itu, memang Maya lah yang tampak sangat menginginkannya. Tetapi bukan karena Maya sungguh sangat menginginkan es krim itu, melainkan karena Maya penasaran, apa yang akan dilakukan Pak Ogi pada Asiyah. Karena memang saat itu sudah menjadi rahasia umum kalau Pak Ogi sedang mengincar Asiyah untuk dijadikan istri ke duanya.
Asiyah memang paling bersinar di kantor ini. Dari segi fisik, ketaatan, hingga latar belakang keluarga, yang sebenarnya memang Asiyah bukan berasal dari kalangan sembarangan, hanya saja takdir sedang memainkan perannya, hingga Asiyah dan keluarganya berada di posisinya saat ini.
Asiyah memang beruntung sekali diberikan rekan kerja sebaik Maya. Maya begitu memahami Asiyah. Maya juga adalah perempuan yang murah hati. Asiyah memang cocok sekali berteman dengan Maya. Maya juga berasal dari keluarga baik-baik.
Tidak salah jika pertemuan mereka dikatakan menjadi takdir terbaik dari Allah di gedung putih ini.
__ADS_1
Seringkali Maya lah yang mengingatkan Asiyah tentang berbagai hal. Bahkan tentang agama sekalipun. Memang terlihat sepintas penampilan Maya tidak berhijab syar’i seperti Asiyah, tetapi kalau soal ilmu pengetahuan tentang agama Maya tidak kalah berilmu dari Asiyah.
Persoalan ibadah dan ketaatan seseorang pada Allah memang adalah pilihannya sendiri, tetapi setiap muslim dan muslimah memang harus mempelajari tentang ilmu agamanya yang wajib Ia ketahui.
Untuk saat ini mungkin Maya belum memilih hijab syar’i dalam kesehariannya, mungkin suatu saat, sampai Maya benar-benar mantap dengan apa yang akan dijalaninya.
Berulang kali Maya menasihati Asiyah untuk segera menikah.
“Sebaiknya Kamu segera menikah Asiyah, biar semua godaan dari pria-pria genit bisa terputus, biar ada yang jagain Kamu.”
“Iya, siapa yang tidak mau menikah May, tapi urusan keluargaku belum selesai, Aku harus mencarikan rumah baru untuk mereka, kuliahku juga belum selesai,” jawab Asiyah lesu.
“Iya Aku mengerti, tetapi tidak ada salahnya jika Kamu mencari suami dari sekarang, carilah yang mapan dan baik hati, yang bisa mengerti semua keadaan Kamu dan keluargamu saat ini, nanti siapa tahu suamimu lah yang akan mengeluarkan kamu dari semua masalah ini".
“Nantilah May, Aku tidak bisa hidup dengan hanya mengharapkan bantuan dari orang lain, apalagi jika harus menggantungkan semua permasalahan hidupku dan keluargaku pada suamiku nanti, nggak enak lah May, kasihan suamiku,” Asiyah lagi-lagi beralasan setiap kali didesak oleh Maya untuk segera mencari suami.
“Tapi yaa, Aku salut juga sama Kamu Asiyah, di situasi seperti ini Kamu sama sekali tidak tergoda dengan bermacam-macam godaan harta dari pria-pria genit yang sudah lumayan banyak datang dikirim Allah untuk menguji keimanan Kamu, maa syaa Allah. Aku saja pusing melihat teman-teman Pak Tomi yang berusaha mendekati Kamu, kalau perempuan lain, waahh.. Aku yakin sudah disikat semua harta mereka, minimal mobil pasti yang diincar, biasanyakan seperti itu, ‘AKHIR ZAMAN’,” ungkap Maya. Menggelengkan kepalanya. Duduk dihadapan Asiyah.
“Aku percaya, rezekiku tidak akan pernah tertukar dan takdirku akan tetap bersamaku. Aku tidak perlu mengambil jalan yang tidak semestinya Aku ambil hanya demi harta dan kesenangan duniawi May, Aku yakin akan hal ini.”
“Yaapp Aku setuju! Dan saat ini, Allah sedang mengujimu akan keyakinanmu itu,” sambung Maya seketika. Setuju sekali dengan semua ucapan Asiyah.
“Tepat sekali! Dan in syaa Allah bersama Allah Aku pasti bisa melewati ujian ini dengan baik,” tekan Asiyah penuh keyakinan pada Maya. Berusaha menyemangati diri sendiri lah. Sekalian, biar bisa menjadi pelajaran juga untuk Maya.
__ADS_1