
Tak terasa satu pekan telah berlalu, subuh demi subuh yang selalu ditunggu telah terlewati. Tanpa disadari oleh Asiyah, hatinya selalu menunggu sekelebat bayangan Pak Dimas dari sudut matanya. Pak Dimas yang selalu membuat hatinya bergetar ketika mengumandangkan adzan di langgar itu.
Pukul 12.30 siang. Asiyah pergi makan siang bersama Caca dan Cita, di villa sudah disiapkan makan tiga kali sehari beserta snacknya. Jadi mereka tidak perlu pergi keluar villa lagi untuk mencari makan. Sementara Pak Nomo sudah biasa makan sendirian.
"Enak juga yaa Cit, setiap hari kita disuguhkan makanan ala-ala pedesaan di villa ini," ucap Caca sembari mengambil lauk pauk yang telah disediakan.
"Iya, chef di sini juga sepertinya oke banget Ca, masakannya jadi enak banget, walaupun sebenarnya cuma masakan sederhana gini," jawab Cita yang juga telaten memilih makanan mana yang akan Dia santap siang ini.
"Malahan awalnya ya Cit, Aku mengira kalau restoran di villa ini cuma sesekali saja menyuguhkan makanan yang bercita rasa desa begini, ternyata memang ciri khas dari villa ini menyuguhkan selera pedesaan, tapi Aku suka banget sih rasanya," jelas Caca.
"Yaa enak memang Ca, tapi kalau setiap hari dan setiap saat makanannya begini melulu bisa bosan juga kali yaa."
Cita dan Caca berjalan ke meja makan, seraya membawa sepiring makan siangnya.
"Tapi tetap bersyukur dong yaa," sambung Asiyah tersenyum, yang juga membawa sepiring makan siangnya menuju meja makan.
Kini mereka telah berkumpul di meja makan. Berbincang sambil mengayunkan sendok dan garpunya masing-masing.
Caca dan Cita tersenyum mendengar pernyataan Asiyah tersebut.
"Oo yaa, nanti habis makan siang ini Saya mau tiduran saja di kamar, kepala Saya sedikit nggak enak rasanya, nanti kalau ada apa-apa langsung ke kamar Saya saja yaa," jelas Asiyah pada dua asistennya.
"Iya Mbak," Caca dan Cita mengiyakan.
Selesai sholat dzuhur sehabis makan siang ini, rencananya Asiyah mau tiduran saja. Pusing kepalanya. Dari kemarin hanya memantau perkembangan situasi di luar sana, tentang pekerjaan yang ditinggalkannya. Mana tahu Pak Sendi membuat pernyataan kepada para awak media mengenai dirinya. Walau hingga saat ini ternyata Asiyah belum mendapatkan kabar apa-apa tentang filmnya yang belum usai digarap itu.
Pukul 16.00 sore. Asiyah terbangun dari tidurnya. Kepalanya sedikit terasa ringan. Walaupun masih sedikit pusing. "Astaghfirullah.. masih saja pusing kepala ini," ucap Asiyah.
Caca menghampiri Asiyah ke kamarnya, "Gimana Mbak, sudah hilang pusingnya?" tanya Caca, melihat pintu kamar Asiyah terbuka.
"Belum Ca, tapi nggak apa-apa, nanti juga hilang sendiri."
__ADS_1
"Apa kita ke dokter saja Mbak?" tanya Caca lagi.
"Nggak usah Ca, nggak apa-apa."
"Oohh ya sudah Mbak, Caca ke kamar lagi yaa," ucap Caca. Kembali ke kamarnya, yang berada tepat di sebelah kamar Asiyah.
Asiyah tersadar bahwa Ia belum sholat ashar. Segera Asiyah ke toilet, sepertinya mau buang air kecil dulu. Perutnya terasa sedikit nyeri. Dduhh.. ternyata Asiyah menstruasi. Sholatnya diliburkan dulu lima hari ke depan.
Satu hari penuh sampai keesokan harinya Asiyah hanya berdiam diri di villa. Meredakan nyeri menstruasinya dulu selama satu sampai dua hari.
Tiga hari berlalu, sejak hari pertama menstruasi sore itu.
Sore ini rencananya Asiyah mau keliling Desa lagi. Kata Mas Wedo tadi pagi, sewaktu lewat di depan villa tempat Asiyah menginap, senja di ujung Desa dekat sungai sangatlah indah, tepatnya di dekat jalan setapak yang menuju pondok Pak Dimas waktu itu. Selama ini kan Asiyah hanya keliling Desa di waktu pagi saja, Asiyah harus mencoba indahnya senja di sini, kata Mas Wedo.
Berbekal kamera di tangannya, ponsel di dalam tas kecil selempangnya, Asiyah berangkat menuju sungai. Mengenakan celana longgar yang banyak kantongnya ala-ala tentara berwarna cream, baju kaos panjang berwarna hijau tua dan kerudung besar yang menutupi dadanya.
Dua puluh menit perjalanan. Asiyah berjalan kaki saja. Asiyah tiba di lokasi.
"Alhamdulillah sudah sampai, sepertinya ini tempat yang diceritakan Mas Wedo tadi, maa syaa Allah.. indah sekali ya Allah," Asiyah dibuat kagum dengan keindahan di sini.
Dilihatnya jam di tangannya, pukul 17.05 sore. Langit tampak memerah, orange, biru, putih, semua tergurat indah dengan pesona keindahannya. Melukiskan seni langit yang tak dapat ditahan kemunculannya.
Cekrekkk.. cekrekkk.. cekrekkk.. Asiyah memotret tiap bayangan indah yang memantul pada pandangan bola matanya. Berbinar sungguh kedua bola mata Asiyah menantang awan.
Sejenak Asiyah menghirup udara di sini, memejamkan matanya sejenak, "hhhhmmmm haaahhhhhh, sejuukkknyaaa udara senja ini ya Allah," seakan ketenangan menghampiri hati dan pikirannya petang ini.
"Fabiayyi ala irobbikuma tukadziban, maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan," Asiyah seketika mengucapkan potongan ayat dari surah Ar-Rahman yang ada di dalam Al-Qur'an.
Meletakkan semua perlengkapan yang dibawanya tadi, ponsel, kamera, jam tangan, di tepi sungai. Asiyah melangkah dan duduk dibebatuan tengah sungai itu. Menghadap ke langit wajahnya. Senja yang begitu indah. Allah tampakkan pesona langit di tempat terpencil seperti ini. Maa syaa Allah.. Alhamdulillah..
Sudah mau maghrib nampaknya. Langit tampak mulai gelap. Asiyah harus segera pulang. Sedikit terburu-buru turun dari bebatuan tengah sungai itu. Satu langkah, dua langkah, Asiyah terpeleset. "Astaghfirullah.. aaakkk.. tolonggg.. toloonngg.." Asiyah berteriak.
__ADS_1
Sekejap dari balik pepohonan seorang lelaki berlarian datang. Diulurkannya sebatang kayu pada Asiyah yang hampir tenggelam. Ditariknya Asiyah sampai ke tepi sungai.
Tersengal sengal nafas Asiyah. Alhamdulillah, Asiyah tidak apa-apa, membuka matanya, Asiyah hanya kelelahan saat mencoba naik saat terjatuh ke sungai tadi, padahal Asiyah jatuhnya di tempat yang dangkal.
Dilihatnya. "Pak Dimas.." ucap Asiyah pelan, nafasnya masih tersengal. Bajunya basah semua.
"Iya, ini Saya," Pak Dimas tersenyum.
Lima menit berlalu. Asiyah mencoba berdiri dan melanjutkan perjalanannya
"Terimakasih banyak yaa Pak, maaf.. gara-gara Saya, baju Bapak jadi ikutan basah semua."
"Tidak apa-apa, sudah menjadi kewajiban Saya menolong Mbak Asiyah," jawab Pak Dimas, tersenyum.
Mereka berjalan beriringan.
"Panggil saja Saya Dimas."
"Hmmm.. panggil juga Saya Asiyah saja, tidak usah pakai Mbak," sahut Asiyah.
Mereka saling melempar senyum.
"Apa kita searah Pak? Saya mau kembali ke villa soalnya," tanya Asiyah.
"Eehh, Dimas maksud Saya," Asiyah meralat ucapannya barusan.
"Iya, Saya juga mau ke arah sana Asiyah," jawab Dimas tersenyum mendengar Asiyah menyebut namanya tanpa kata 'Pak' dan Ia menyebut nama Asiyah tanpa kata 'Mbak'.
Senja hari ini berlalu.
Berakhir dengan pakaian Asiyah dan Dimas yang basah kuyup.
__ADS_1
Tapi.. juga dengan perkenalan mereka yang semakin dekat.