
Malam ini adalah malam yang tenang. Tanpa adanya gangguan. Mudah-mudahan. In syaa Allah, aamiin ya robbal'alamin.
Caca sudah selesai membuat ulahnya. Kemungkinan takkan terulang lagi untuk hari ini. Sudah dua kali kan? Keterlaluan sekali jika Caca membuat ulah untuk yang ketiga kalinya hari ini.
Esok hari liburan mereka di Korea akan berakhir. Memang nggak bisa lama. Karena ada banyak pekerjaan yang menanti Asiyah. Hanya empat hari saja waktu yang disediakan untuk pergi sejenak melenturkan otot-otot yang sempat membatu kaku. Liburan kilat namanya.
Aisyah dan Ali juga tidak bisa berlama-lama liburan, karena mereka hendak bersekolah. Sebentar lagi juga akan ada ujian kenaikan kelas. Memang liburan dadakan bagi keluarga ini. Yaa mau bagaimana lagi, semuanya mengikuti jadwal pekerjaan Asiyah. Jadi memang mumpung ada waktu. Asiyah bergerak cepat mengajak keluarganya pergi liburan.
"Bagaimana? Apa liburan kita kali ini menyenangkan?" tanya Asiyah pada Caca, Cita, Yuna, Umi, Aisyah dan Ali.
Mereka makan malam di hotel ini saja, tempat mereka menginap. Di sini juga ada menu makanan yang disediakan untuk kaum muslim, makanan halal lebih tepatnya. Jadi waktu makan malamnya biar dihabiskan di sini saja. Soalnya besokkan sudah mau pulang lagi ke rumah. Supaya tidak terlalu capai menghabiskan waktu di luar sana.
Ditingkat tertinggi hotel. Angin berhembus sepay-sepoy. Dengan langit sebagai atapnya. Hhhhmmm.. wangi bunga-bunga musim semi terhirup sedap memasuki setiap indera penciuman mereka. Maa syaa Allah.
Di tempat makan yang disusun lesehan, mereka saling berhadapan. Menunggu hidangan siap di meja makan. Setelah tadi lumayan lama memilih menu makanan mana saja yang akan mereka santap.
Pesan Umi tadi, pilih saja sesuka hati makanannya, asalkan nantinya makanan itu memang dimakan dan dihabiskan, jangan sampai ada makanan yang mubazir, terbuang. Jangan sampai hanya lapar di mata saja, karena di luaran sana masih banyak orang yang kelaparan, tak mampu membeli makanan walau hanya sedikit.
"Alhamdulillah Mbak, bagi Cita dan Yuna liburan kali ini sangat menyenangkan kok, nggak ada hal memalukan bikin repot, hihihi," ucap Cita tertawa kecil, menyindir Caca yang seringkali membuat ulah.
"Yaa benar, pppfftt," sambung Yuna mendelik Caca dengan menahan tawanya.
"Hhmmm.. kalau Caca gimana? Seru nggak? tanya Asiyah pada Caca, menggodanya.
"Iya Mbak, seru sekali, alhamdulillah, apalagi sama kejadian tadi siang, hmmm," ucap Caca, benar-benar merasa tersindir dengan ucapan Cita dan Yuna tadi.
"Hehee, nggak apa-apa Caca, bukan Kamu namanya kalau nggak seceroboh itu, iya kan?" Asiyah tertawa kecil.
"Ehh tapi tadi gimana, bajunya sudah kering? Soalnya besok kita sudah pulang lagi loh ke Jakarta," jelas Asiyah.
"Iya nggak apa-apa, tapi Caca juga harus belajar berhati-hati mulai sekarang, kan nggak mungkin mau dipelihara terus sikap ceroboh itu kan? Yang rugi Caca sendiri loh untuk ke depannya Nak," sambung Umi, dengan nasehatnya.
"Iya Umi, Caca akan belajar berhati-hati, hhmmm," Caca merasa tak enak hati.
"Alhamdulillah sudah kering kok Mbak, tadi Caca jemur di balkon depan hotel, dekat kamar yang paling depan itu," jelas Caca.
__ADS_1
"Syukur alhamdulillah kalau begitu," ucap Asiyah.
Beberapa menit berlalu. Pelayan restoran datang membawakan berbagai macam hidangan yang mereka pesan tadi. Menghidangkan dengan sangat rapi setiap menu makanan yang telah dipesan oleh masing-masing dari mereka agar tidak tertukar letaknya.
Tangan Ali tak sabaran hendak memegang makanan yang dibawakan oleh para waiter itu. Melewati wajahnya. Masih berasap. Asapnya saja masih menusuk hidung.
"Ali, masih panas loh, lihat tuh asapnya!" Aisyah yang duduk di sebelah Ali, marah pada Ali, sungguh tak sabaran Ali. Aisyah menepuk punggung telapak tangan Ali.
Ali menarik kembali tangannya, menyembunyikan tangannya di bawah meja. Seperti kebiasaannya.
"Ayookk semua, langsung saja dimakan," ucap Asiyah.
"Hati-hati makannya yaa, masih panas sekali ini," sambung Umi.
Pelan tapi pasti, mereka menyantap makanan itu dengan santai. Sembari menikmati suasana malam yang nantinya akan menjadi kenangan indah bagi mereka di sini.
"Kak Asiyah, Ali belum membeli oleh-oleh deh, untuk teman-teman Ali di sekolah," ucap Ali, di tengah-tengah makan malamnya.
"Ooh iya ya, Kakak juga belum beli oleh-oleh untuk asisten rumah tangga kita, untuk Pak Nomo juga belum, bisa lupa begini kita ya?" ucap Asiyah, tersadar dari kelalaiannya.
"Aisyah juga mau beliin teman sekolah Aisyah Kak," sambung Aisyah.
"Iya sayang, beli saja nanti untuk teman sekolah Aisyah juga yaa," ucap Asiyah pada adik kembarnya itu. Penuh kelembutan.
"Cita, nanti pakai uang operasional yang Saya titipin sama Kamu itu saja yaa, sekalian untuk kalian bertiga itu, kalau mau beli oleh-oleh nanti yaa," ucap Asiyah.
"Iya Mbak," jawab Cita.
Yuna dan Caca mengiyakan, masih sambil menyantap makan malam mereka.
Terbilang enak masakan di sini. Suasana tempatnya pun nyaman.
Tak ada di antara mereka yang menyisakan makanannya. Sesuai pesan Umi tadi, tidak ada yang boleh menyisakan makanan yang sudah mereka pesan. Mubazir.
Alhamdulillah.
__ADS_1
Perut mereka semua telah termanjakan. Pikiran telah tenang seiring dengan cacing di dalam perut yang diam dari protes laparnya.
Lampu-lampu redup. Lilin yang dinyalakan, tertata rapi di sekeliling mereka. Sentuhan modern pada setiap sudut restoran terlihat sangat elegan seperti perempuan-perempuan Korea yang tampak menawan dengan pakaian tradisionalnya, hanbok.
"Sudah kenyang semua?" tanya Asiyah.
"Gimana? Apa kita langsung saja berburu souvenirnya? Biar nggak kemalaman," tanya Asiyah lagi.
"Iya Kak, Cita juga sudah lumayan capai ini, biar bisa cepat tidur malam ini," jawab Cita.
"Iya, iya, Cita, bayar," perintah Asiyah pada Cita dengan isyaratnya.
Semua sudah beres. Urusan perut sudah selesai. Kini saatnya berburu oleh-oleh.
Jam 08.00 malam, waktu Korea.
Mereka sudah siap memegang keranjang belanja mereka masing-masing di toko souvenir dekat hotel. Dana pun sudah siap di tangan Cita.
Menyebar di tempat ini.
Yuna, Caca dan Cita kompak bertiga mencari souvenir untuk orang-orang terdekat mereka.
Aisyah dan Ali ditemani Umi mencari oleh-oleh untuk teman-teman sekolah mereka.
Sementara Asiyah. Berburu oleh-oleh untuk asisten rumah tangga mereka, untuk Pak Nomo, dan juga untuk beberapa orang terdekat lainnya, serta oleh-oleh kecil lainnya untuk dibagikan kepada orang-orang di sekitar mereka.
Tanpa terasa. Dua jam sudah waktu berlalu.
Hhhhhhhh.. nafas mereka tersengal dengan belanjaan di tangan mereka masing-masing. Berdiri di depan toko souvenir itu. Ternyata banyak juga yang dibeli. Tidak terasa memang.
Uang pun tak sedikit digelontorkan oleh Asiyah karena membelanjakan mereka semua. Tapi memang begitulah Asiyah, seorang perempuan yang tidak pernah memperhitungkan hartanya ketika memberikannya kepada orang lain. Hitung-hitung sedekah, katanya begitu.
Lelah pun tak dapat dibendung. Saatnya kembali ke hotel.
Bersiap untuk pulang esok hari.
__ADS_1