Asiyah Akhir Zaman

Asiyah Akhir Zaman
Mencari Wasilah Ta'aruf


__ADS_3

Tenang.


Asiyah tentu saja bersikap tenang. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Innallaha ma'ana, ada Allah bersamaku, ada Allah, ada Allah. Bismillah. Ucap Asiyah dalam hati.


Keyakinan yang tak pernah hilang dari hati dan pikiran Asiyah hingga saat ini.


Tidak semudah yang dibayangkan oleh Asiyah sebelumnya. Yaa rintangan itu memang pasti akan selalu ada, apalagi jika tujuannya adalah perihal ibadah seperti ini. Ujiannya tentu saja akan sedikit menyulitkan dirinya. Walaupun jalan keluar dari setiap kesulitannya, juga telah dipersiapkan oleh Allah.


Mencari orang-orang yang dapat Ia percayai untuk mencarikan jodoh untuknya ternyata perkara pertama yang harus bisa dipecahkan olehnya. Sebelum menuju tahap yang selanjutnya.


Diakhir zaman ini, kemunafikan sangat mudah ditemukan. Sebaliknya, kejujuran sangat sulit untuk dinilai. Terlalu banyak kebohongan yang menyelimuti diri setiap manusia demi hanya mendapatkan citra diri yang baik di hadapan orang lain. Walau apa yang terjadi di belakangnya senyatanya sangat lah berbeda.


Bagaikan menghitung butiran embun di pagi hari. Orang-orang yang dapat membantu Asiyah untuk menjadi wasilahnya dalam mencari jodoh, sangatlah sulit ditemukan.


Mereka beralasan tidak bisa membantu Asiyah dikarenakan rata-rata memang kriteria calon jodoh yang diajukan oleh Asiyah, sudah berstatus sebagai seorang suami. Cepat laku katanya.


Ada juga yang beralasan, terlalu takut mencarikan calon jodoh untuk Asiyah, karena Asiyah terlalu sempurna sebagai seorang perempuan muslimah, katanya.


Tidak apa-apa, walau sulit, toh masih ada yang bisa membantu Asiyah.


Asiyah, beserta Caca dan Cita, juga Pak Nomo, hari ini bertemu orang pertama yang akan menjadi wasilah bagi Asiyah dalam pencarian jodoh ini. Pertama dan juga satu-satunya.


Ustadz Hamdal. Beliau sudah berumur 50 tahunan. Pengurus sebuah pondok pesantren yang cukup terkenal di daerah Pulau Jawa.


Cita lah yang menemukan keberadaan Ustadz Hamdal ini. Cita mendapatkan sosok Ustadz ini dari orang tuanya di kampung. Karena memang Cita beserta Caca, juga Pak Nomo, ikut membantu Asiyah dalam mencari wasilah ta'aruf yang tepat.


Kata Emak, Ustadz Hamdal adalah teman sekolah Bapak dulu. Hanya saja Ustadz Hamdal bernasib baik hingga bisa sesukses sekarang, tidak seperti Bapak. Bapak juga cerita, Ustadz Hamdal memang dari bibit oroknya sudah sholeh. Cocok lah untuk dijadikan sebagai pilihan bagi Asiyah dalam mencarikan jodoh untuknya, apalagi Ustadz Hamdal adalah seorang pengurus pondok pesantren yang terkenal, in syaa Allah akan mudah baginya untuk mendapatkan sosok seorang lelaki sholeh yang sepadan dengan Asiyah.


Begitu cerita Cita. Singkat padat dan jelas. Yang seketika membuat tiga rekannya menaruh percaya pada Ustadz Hamdal. Sebagai sosok yang amanah dalam ikhtiar mereka kali ini.

__ADS_1


Hanya satu minggu waktu cuti yang diberikan oleh pihak perfilman kepada Asiyah. Asiyah harus mempergunakan waktu ini dengan sebaik-baiknya.


Sesegera mungkin Asiyah mengambil langkah cepat. Dengan diiringi oleh restu Umi.


"Umi, do'akan Asiyah yaa," Asiyah telah menceritakan maksud hatinya pada Umi sebelumnya. Menggenggam telapak tangan Umi dengan erat. Menciumnya. Juga memeluk pemilik surganya ini. Asiyah pamit pada Umi dengan penuh harap akan do'a tulus dari Umi.


"Iya Nak, hati-hati yaa, Umi akan selalu mendo'akan Asiyah," Umi tak kuasa menahan rasa harunya. Matanya berbinar menatap Asiyah seraya melepaskan pelukannya. Berkaca-kaca bola matanya. Hingga akhirnya jatuh juga air mata tanda kemurnian hati seorang ibu pada anaknya itu ke bumi.


Asiyah melangkahkan kakinya beserta ketiga rekannya keluar dari rumah.


Bismillah. In syaa Allah dengan ridho Umi, Allah pun meridhoi ikhtiar ini. Aamiin ya mujibassailin.


Zzuuuiiiinnnggggg.. Sekelebat suara dari langit terdengar dari tapak bumi.


Raksasa langit itu terbang melintasi cakrawala.


Dari Jakarta. Asiyah, Caca dan Cita, beserta Pak Nomo. Mereka terbang menggunakan pesawat. Pak Nomo tetap ikut lah. Yaa biar ada laki-lakinya, biar bisa jadi pengawal gitu di antara tiga perempuan ini.


Berzikir di sepanjang perjalanan. Jari jemarinya berhitung dengan tiap ruas jarinya. Yang kiri, juga yang kanan. Bibirnya bergerak kecil, berbisik lembut menyebut nama Allah, memuji asma Allah. Asiyah mencoba menenangkan dirinya.


Jendela pesawat itu masih berada tepat di sampingnya. Menatap ke arah langit-langit dunia yang dipenuhi awan putih yang terang.


Ribuan detik telah berlalu.


Jam dinding hotel nan mewah itu masih terus bekerja. Mengabarkan pada setiap tamu yang datang, waktu dunia kini tengah berada pada perputarannya yang mana. Apakah matahari di luar sana yang sedang meninggi? Ataukah bulan yang sedang menemani?


Empat rekan kerja yang kini telah jauh menjalin hubungan lebih dari sekedar teman itu, telah sampai pada peristirahatan mereka. Mereka bak saudara dekat.


Hotel mewah itu menjadi saksi betapa lelahnya mereka. Juga betapa gugupnya Asiyah.

__ADS_1


Asiyah tidur sekamar bersama Caca dan Cita. Sementara Pak Nomo di kamar yang berbeda.


"Hhhhhhh, capek juga ya rasanya Mbak," ucap Cita .


Mereka bertiga berbaring di kasurnya masing-masing. Sebuah kamar dengan tiga kasur di dalamnya. Pas sekali untuk mereka bertiga. Dengan posisi Caca dan Cita tidur di kasur yang berada di dekat dinding, pinggir kamar. Sementara Asiyah berada di antara mereka.


"Alhamdulillah, yang terpenting kita sudah sampai dengan selamat yaa," jawab Asiyah.


"Iya Mbak," ucap Caca dan Cita bergantian.


Mereka bertiga berbicara pelan.


"Tadi Cita sudah menghubungi Ustadz Hamdal, Cita mengabari pada mereka kalau kita akan mampir ke rumahnya besok ba'da ashar," jelas Cita dari atas kasurnya.


Mereka berbincang sambil berbaring, sembari beristirahat.


"Terus apa kata ustadznya?" tanya Asiyah.


"Yaa, Ustadz bilang, sangat senang dengan pertemuan ini, apalagi perihal mencarikan jodoh untuk seseorang seperti kita ini, Ustadz sangat gembira Mbak," jelas Cita lagi dengan raut wajah santainya.


"Kita bawakan buah tangan apa ke sana ya Mbak? Buah kah? Atau kue?" tanya Caca, yang kelihatannya juga ikut antusias. Sambil tersenyum-senyum sumringah sendiri, sejak tadi sih, seperti sedang membayangkan sesuatu yang menyenangkan hatinya. Sambil terus menatap langit-langit kamar hotel itu.


"Semangat sekali Kamu Ca, Aku jadi curiga sama Kamu, dari tadi Aku lihat Kamu juga senyum-senyum sendiri di pojokan sana, jangan-jangan nanti diam-diam Kamu mau nikung Mbak Asiyah lagi. Kamu mau minta carikan jodoh juga sama Ustadz Hamdal itu kan? Iya kan? Jujurrrrr ayooo.." tekan Cita, mencoba menebak gelagat aneh Caca.


"Yaa nggak, kan maksudnya biar kita tuh di situ lebih enak, kan ada yang dibawain gitu, oleh-oleh untuk mereka yang di sana, heheeheee.." jawab Caca.


"Tapii yaa kalau bisa juga sekalian Ustadz Hamdal nyariin jodoh yang sholeh dan ganteng untuk Aku, kenapa nggak yaa kan? Hehehee.. Aku nggak akan nolak kok, janji," sambung Caca lagi, cepat, kali ini tampak sangat serius dengan ucapannya. Segera duduk, bangkit dari pembaringannya.


"Tuuhh kan, sudah Ku duga. Aku juga mau sih kalau ada yang sholeh dan ganteng mau sama Aku dari Ustadz Hamdal," ucap Cita dalam bisiknya. Ternyata Cita memiliki khayalan yang sama dengan Caca. Heheeee.

__ADS_1


"Nanti kita bawakan kue saja. Hhhmmm, Saya lelah sekali, Saya tidur duluan yaa, Caca, Cita," ucap Asiyah. Sambil memiringkan tubuhnya menghadap ke sisi sebelah kanan. Tak lupa membaca do'a dalam bisik kecilnya. Lalu Ia pun tidur dengan lelapnya.


__ADS_2