Asiyah Akhir Zaman

Asiyah Akhir Zaman
Ali Menghilang


__ADS_3

Pagi ini seperti biasanya Ali dan Aisyah berangkat ke sekolah dijemput oleh mobil jemputan sekolah mereka.


Umi berangkat ke pabrik kerupuk miliknya. Memantau keadaan di sana. Pabrik kerupuknya tidak jauh dari lokasi komplek rumah mereka.


Sementara Asiyah di rumah saja siang ini. Jadwal shooting sinetronnya hanya ada di malam hari saja hari ini.


Pukul 10.15 Pagi.


Mobil bus antar jemput anak sekolah telah terparkir di depan rumah.


Aisyah turun dari mobil bus itu. Sementara di dalam mobil bus masih ada beberapa anak lagi yang tinggal, menunggu giliran pengantaran hingga sampai ke rumah masing-masing.


Aisyah pulang ke rumah sendirian. Tak terlihat adanya Ali bersamanya.


Dengan raut wajah takutnya. Berjalan pelan masuk ke dalam rumah menuju kamarnya. Kedua tangannya memegang tali tas dukungnya di sisi kiri dan kanan pundak depan tubuhnya. Perempuan kecil berhijab nan berparas cantik itu melihat ke sekelilingnya. Sepertinya Ia sedang memeriksa situasi.


Asiyah keluar dari kamarnya. Masih memakai pakaian santai rumahannya. Tak sengaja melihat tingkah adik perempuannya itu dari lantai atas, depan kamarnya. Agak aneh sih kelihatannya.


Loh ada apa dengan Aisyah? Asiyah heran. Diperhatikannya Aisyah yang tak menyadari adanya dirinya sedang memperhatikan, walaupun Aisyah sudah clingak-clinguk memutarkan kepalanya. Aisyah lupa, masih ada kamar Kak Asiyah di lantai atas rumah mereka.


Seketika Asiyah sadar bahwa tak terlihat adik lelakinya ikut masuk ke rumah bersama Aisyah. Apakah Aisyah pulang sendirian? Di mana Ali?


Asiyah membiarkan Aisyah masuk ke dalam kamarnya dengan cara mengendap-endap. Diam-diam Asiyah berjalan ke depan rumah, memeriksa keadaan di luar rumah. Benar. Ali tidak ada. Ali tidak Pulang.


Asiyah kembali masuk ke dalam rumah. Mengetuk pintu kamar Aisyah. Tookkk.. tookkk.. tookkk..


"Assalamu'alaykum Dek, Aisyah, Kamu di dalam?" ucap Asiyah.


Belum ada jawaban dari Aisyah. Tak ada suara sahutan sedikit pun dari dalam kamar Aisyah.


Lumayan lama menunggu di depan pintu kamar itu. Asiyah mencoba menelepon Umi.


Tiba-tiba, cekrrekkk.. Suara pintu kamar terbuka. Aisyah keluar dari kamarnya.


Asiyah menutup ponselnya. Tidak jadi menelepon Umi. Lebih baik bicara dulu baik-baik dengan Aisyah tentang keberadaan Ali. Dan apa yang sebenarnya terjadi pada mereka.


Hiikkkk.. hiikksss.. Aisyah keluar dari kamarnya dengan berurai air mata. Matanya merah. Sembab.

__ADS_1


"Aisyah, ada apa sayang?" tanya Asiyah pada adiknya itu. Lembut. Membungkukkan badannya, menyamaratakan dengan tubuh Aisyah. Menatap wajah Aisyah.


"Ayo-ayo sini Dek, kita duduk di sofa sana saja, cerita sama Kakak, ada apa dengan Aisyah," ucap Asiyah lagi.


Aisyah masih menundukkan kepalanya. Tak berani melihat Kak Asiyah. Seraya mengikuti Kak Asiyah menuju sofa tengah depan TV.


Mereka duduk. Berdua. Asiyah menatap Aisyah. Diam. "Aisyah, jangan takut, Kakak dan Umi tidak akan marah, kalau Aisyah mau cerita, kita jadi tahu permasalahannya, biar nanti kita cari solusinya sama-sama, Aisyah tenang yaa," ucap Asiyah. Lembut.


"Ali.." Aisyah mulai mau berbicara setelah tadi sempat diam. Merasa yakin kalau Ia tidak akan disalahkan dengan apa yang terjadi pada Ali.


"Kenapa Ali Dek? Kenapa Ali tidak bersama Aisyah saat pulang sekolah tadi?" tanya Asiyah. Menatap Aisyah penuh harap.


"Tadi Kami bertengkar di sekolah Kak, Ali marah sama Aisyah," Aisyah mulai mengadahkan kepalanya. Mulai berani menatap wajah Kak Asiyah.


"Teruuss," tanya Asiyah lembut.


"Tadi pas pulang sekolah, Ali minta belikan ice cream sama Aisyah pakai sisa uang jajan Aisyah, tapi Aisyah tidak mau, soalnya sisa uang jajan Aisyah kan untuk di tabung Kak, terus Ali marah, sepanjang jalan cemberut saja kerjaannya," jelas Aisyah. Terbata-bata suaranya.


"Lalu bagaimana bisa Aisyah pulang sekolah sendirian?" tanya Asiyah, heran.


"Tadi Ali diajak pergi sama seorang lelaki, dan dalam keadaan marah sama Aisyah tadi, Ali malah pergi bersamanya, sepertinya lelaki itu telah menawarkan sesuatu kepada Ali hingga Ali mau ikut dengannya Kak," jelas Aisyah lagi. Mulai bersemangat.


"Aisyah sepertinya pernah melihatnya Kak, tapi entah lah Kak, Aisyah lupa," jawab Aisyah. Bingung dengan ingatannya.


"Tunggu sebentar Kakak telepon Umi dulu yaa Dek," ucap Asiyah, lembut. Seraya mengambil ponsel di saku bajunya.


Aisyah diam. Menurut saja.


Ttuuttt.. ttuuuttt.. tuuuttt.. telepon itu tersambung. "Assalamu'alaykum Umi, Umi di mana?"


"Wa'alaykumussalam, iya Nak, ini Umi masih di pabrik kerupuk," jawab Umi seketika mengangkat teleponnya. Terdengar riuh suasana di sekitar Umi.


"Umi bisa segera pulang? Ada hal penting yang harus Asiyah bicarakan?" tanya Asiyah dengan nada sedikit mendesak.


"Hal penting apa Nak?" Umi heran.


"Nanti saja Umi, di rumah saja Asiyah jelaskan semuanya bersama Aisyah juga, yaa sudah yaa Umi, kami tunggu di rumah yaa, assalamu'alaykum," ucap Asiyah. Merasa agak terganggu dengan suara berisik di sekitar Umi. Tidak fokus pendengarannya saat berbicara dengan Umi.

__ADS_1


"Bersama Aisyah? Iya Nak, Umi pulang sekarang, wa'alaykumussalam," Umi pun bertanya-tanya di dalam hatinya, ada apa dengan Aisyah? Mengapa Ali tidak dilibatkan? Yaa sudah lah. Umi segera pulang.


Lima menit. Umi sampai di rumah. Umi mendapati pemandangan yang tak biasa ketika masuk ke dalam rumahnya. Asiyah dan Aisyah berkumpul berdua saja tanpa adanya Ali yang biasanya tak berpisah dengan Aisyah. Mereka berdua tengah menunggu Umi di sofa depan Televisi.


Aisyah berlari menuju Umi saat melihat Umi mendekatinya. Memeluk Umi seketika.


Umi berhenti dari langkah kakinya.


"Umiiii, maafkan Aisyah karena tidak bisa menjaga Ali, Ali hilang Umiiiii, Aisyah menyesal," Aisyah seketika menangis. Merasa bersalah dan menyesal tidak mau membelikan ice cream untuk Ali tadi.


"Ada apa Nak? Ayo kita duduk dulu bersama Kak Asiyah," ucap Umi.


Kini mereka telah duduk bertiga di sofa lembut itu. Asiyah menceritakan semuanya pada Umi.


"Apa mungkin Ali di culik?" tanya Umi.


Aisyah meneteskan air matanya lagi mendengar kata-kata Umi itu.


"Aisyah tidak mau Ali di culik Umi, Aisyah sayang sama Ali," Aisyah tak hentinya mengeluarkan air matanya.


"Asiyah coba telepon pihak sekolah dulu yaa Umi, sebentar," Asiyah mulai memainkan ponselnya kembali.


Lima belas menit berlalu.


Ternyata pihak sekolah tidak mengetahui sama sekali perihal hilangnya Ali. Bahkan pihak sekolah telah mengecek CCTV tetapi tidak juga menemukan titik terang siapa lelaki yang membawa Ali pergi.


Hanya saja terlihat, bahwa lelaki yang membawa Ali pergi adalah lelaki yang berperawakan tinggi, putih, juga berpenampilan rapi. Sayang, wajahnya tidak terlihat. Sepertinya lelaki ini sudah mengatur semuanya dengan sangat rapi. Hingga CCTV pun tak mendapati gambar wajahnya.


"Kita tunggu saja sampai nanti sore Umi, kalau tidak ada juga kabar dari Ali, kita lapor saja ke kantor polisi dengan membawa bukti CCTV dari sekolah," jelas Asiyah.


Umi diam. Aisyah diam, terlihat sangat lesu karena terlalu banyak menangis. Sementara Asiyah masih mencoba berpikir mencari solusi.


Bbppp.. bbbppp.. bbbbppp.. suara pijakan kaki sepatu. Seperti pijakan sepatu langkah kaki Ali. Menghentak-hentakkan ke lantai, dengan hentakkan yang riang gembira.


"Assalamu'alaykum, Umi, Kak Asiyah, Kak Aisyah, Ali pulang," ucap sesosok anak lelaki gempal yang tiba-tiba masuk ke dalam rumah.


Betapa terkejutnya Umi dan yang lainnya. Ternyata Ali lah yang berada di hadapan mereka. Dengan riang gembiranya. Dengan bajunya yang dipenuhi tumpahan ice cream berwarna cokelat. Sepertinya tidak terjadi apa-apa dengan Ali.

__ADS_1


Walau semua terlihat kesal dengan semua ini. Tapi tak dapat di pungkiri, bahwa mereka sangat merindukan Ali. Umi seketika memeluk Ali. Aisyah pun juga turut memeluk Ali. Tak ketinggalan Aisyah, yang sedari tadi telah banyak menguras air matanya untuk Ali.


__ADS_2