Asiyah Akhir Zaman

Asiyah Akhir Zaman
Konferensi Meja Bundar


__ADS_3

Sabtu malam.


Ba'da isya.


Bak sebuah konferensi meja bundar pada zaman penjajahan Belanda. Asiyah adalah pihak negara Indonesia yang sedang terzalimi, sementara pihak Pak Sendi adalah negara penjajah yaitu Belanda.


Meja kafe itu pun disusun sedemikian rupa membentuk bundaran. Pak Sendi yang mengatur semuanya, agar malam ini mereka bisa berbicara dengan saling bertatap muka secara langsung satu sama lain.


Makanan dan minuman mewah yang telah dihidangkan pun menjadi pendingin pikiran mereka, agar semua yang hadir bisa berbicara dengan tenang dan bersahabat dengan santainya dan melupakan panasnya hati mereka di waktu yang lalu.


Seolah ingin mencairkan suasana yang sempat membeku akibat ulahnya, Pak Sendi pun menyuguhkan senyuman terbaiknya dalam menyambut kedatangan Asiyah dan para asistennya.


Yaaa.. Pak Sendi telah datang lebih dulu. Ia bersama dua orang asistennya juga.


Asiyah yang datang belakangan, mendapati Pak Sendi dengan senyuman hangatnya. Sepertinya ini adalah senyuman perdamaian. Senyuman yang tampaknya melambangkan jalan keluar yang Asiyah inginkan.


"Hallooo Asiyah, assalamu'alaykum warahmatullahi wabarakatuh," ucap Pak Sendi dengan lantangnya. Segera berdiri dari tempat duduknya. Menyatukan kedua telapak tangannya. Memberikan isyarat salam kehormatan pada Asiyah.


"Ayoo ayoo Asiyah, Caca, Cita, kedatangan kalian sudah lama kami nanti-nanti," senyuman merekah itu datang dari bibir dinginnya Pak Sendi. Mempersilahkan mereka bertiga untuk segera menikmati hidangan malam ini.


"Wa'alaykumussalam," jawab Asiyah, Caca dan Cita.


"Terima kasih Pak Sendi, tidak usah repot-repot," ucap Asiyah. Membalas dengan senyumannya.


Namun Asiyah tak begitu saja terperdaya dengan apa yang dilihatnya. Tak ingin ditipu dua kali, kali ini Asiyah akan menghadapi Pak Sendi dengan sangat hati-hati. Tak ada lagi istilahnya memberikan kepercayaan sepenuhnya padanya. Kepercayaan adalah apa yang telah disepakati pada hitam di atas putih, itu prinsipnya. Semuanya akan berjalan seprofesional mungkin. Yaa ini adalah lingkaran pekerjaan, memang sudah seharusnya Asiyah bersikap profesional sedari awal.


Asiyah, Caca dan Cita mengambil posisinya masing-masing, di kursi yang tersusun bundar itu, mengikuti bentuk susunan mejanya. Yaa benar-benar meja bundar namanya ini, persislah.


Tatapan Pak Sendi tertuju pada wajah Asiyah. Tersenyum kecil.


"Ayokkk.. kita langsung makan saja yaa, pembicaraannya kita bahas sambil makan saja yaa, biar lebih santai," Pak Sendi berucap dengan usulannya yang menekan.


"Marii.." ucap Cita.


Yang lain menyusul berbasa basi yang kemudian mengambil porsi makanan dan minumannya masing-masing.

__ADS_1


Tangg.. tingg.. tannggg.. tiinnggg.. Bunyi sendok dan garpu saling bertabrakan dengan piring keramik nan mewah itu.


Lama tak terdengar suara, tiba-tiba, "Hhmm.. maaf sebelumnya Pak, sambil makan kita bahas yaa.." ucap Asiyah menyelipkan kata-katanya.


Peserta meja bundar itu mendadak melambatkan gerak makannya. Pak Sendi dan yang lainnya seketika menatap wajah Asiyah. Sepertinya mereka paham betul atas apa yang akan disampaikan oleh Asiyah.


"Jadi bagaimana dengan film kita itu Pak?" sambung Asiyah dengan tanyanya pada Pak Sendi. Tanpa berbasa-basi. Dengan sedikit tekanan amarahnya, namun Asiyah berusaha menutupi sikap emosionalnya itu.


Hmmm.. Pak Sendi hanya memberikan senyuman.


"Yaa.. Kamu tenang saja Asiyah, semuanya sudah Saya atur, pokoknya yang terbaik untuk Kamu dan untuk kita semua," sambil melanjutkan makannya, Pak Sendi bersikap ramah dengan senyumannya lagi.


Asiyah masih berusaha bersikap santai. Mencoba menerka-nerka apa yang akan dilakukan oleh Pak Sendi pada dirinya.


Seperti memiliki pikiran yang sama dengan Asiyah, Caca dan Cita saling menatap sejenak, kemudian melanjutkan makannya lagi.


"Maksudnya Pak? Apa tidak ada yang harus kita kompromikan dulu malam ini?" tanya Asiyah, ingin segera menuntaskan rasa penasarannya secepat mungkin.


"Yaa semuanya sudah Saya atur Asiyah, tidak ada yang perlu dikompromikan lagi," jawab Pak Sendi.


Asiyah terdiam lagi.


"Sudaaahh.. tenang yaa semuanya, ayookk ayookk, makan lagi," sambung Pak Sendi dengan santainya.


Asiyah menyudahi makannya. Menutup kedua sendok dan garpu ditangannya. Sepertinya mulai hilang selera makannya.


"Mbak," Caca yang duduk di sebelah Asiyah, memegang tangan Asiyah, memberikan isyarat agar Asiyah tetap bersabar sejenak.


Pak Sendi melihat ke arah Asiyah dan Caca. Tersenyum simpul. Membalikkan badannya, lalu segera mengambil semacam berkas yang berada di kursi kosong di sebelah dirinya. Berkas yang telah disusunnya rapi dalam sebuah map tas.


"Asiyah, silahkan Kamu bawa pulang saja," ucap Pak Sendi seraya mengulurkan berkas itu kepada Asiyah. Dengan senyuman terbaiknya lagi.


Asiyah perlahan mengambil berkas itu. "Berkas apa ini Pak?" tanya Asiyah, heran.


"Sudah, bukan berkas apa-apa, nanti dibaca ulang semuanya yaa sebelum ditanda tangani," jelas Pak Sendi.

__ADS_1


"Baik Pak," Asiyah sejenak membaca judul cover dari berkas-berkas itu satu persatu.


Oohh ternyata ini adalah surat perjanjian antara Pak Sendi dengan dirinya. Berkas skenario yang baru dan berkas-berkas lainnya yang berhubungan dengan film yang sedang mereka garap kemarin. Syukurlah, mudah-mudahan isinya sesuai dengan apa yang Asiyah inginkan dan juga Pak Sendi pastinya, agar tidak terjadi lagi yang namanya perang dingin di antara mereka.


"Caca, simpan," perintah Asiyah pada Caca untuk segera mengamankan berkas-berkas itu.


"Kita hidup di dunia ini hanya sementara, menipu bukanlah jalan yang benar untuk mengais rezeki, bukan begitu Asiyah?" ucap Pak Sendi seraya menyelesaikan makannya. Disusul Caca, Cita dan yang lainnya, juga menyelesaikan makan malamnya.


Asiyah hanya diam. Dengan wajah yang tampaknya masih memendam kekecewaan pada Pak Sendi.


"Saya paham betul Asiyah apa yang Kamu rasakan ketika Kamu dipaksa untuk melakukan hal yang bertentangan dengan hati nurani Kamu tempo hari," ucap Pak Sendi.


"Tidak jarang di dunia entertaint ini, banyak orang melakukan berbagai macam cara untuk meraup keuntungan yang sangat besar, salah satunya adalah dengan menciptakan berbagai macam skandal."


"Bahkan yang lebih parahnya lagi sampai mengorbankan keimanannya demi yang namanya uang," sambung Pak Sendi.


"Tapi tidak semuanya seperti itu, benarkan Pak?" sambung Asiyah.


"Yaaa.. dan salah satu orang itu adalah Kamu, Asiyah," jawab Pak Sendi. Masih menyuguhkan senyuman terbaiknya pada Asiyah. Berhenti sejenak dari aktivitasnya menikmati menu dessert malam ini.


Asiyah hanya diam mendengar ucapan itu.


"Saya harap, kerjasama diantara kita tidak akan putus hanya karena masalah sepele seperti ini, uang," sambung Pak Sendi seraya memberi isyarat 'uang' pada Asiyah, menggesekan pada jari telunjuk dan jempol tangan kirinya.


"Oo iya, malam ini Saya juga sekalian ingin menyampaikan hal yang membahagiakan untuk Saya."


"Bulan depan in syaa Allah, Saya akan menikah, Saya harap kalian semua bisa datang, ini adalah undangan private, Saya tidak mengundang banyak orang, hanya orang-orang terdekat dan spesial saja," sambung Pak Sendi.


"Maa syaa Allah, alhamdulillah, selamat yaa Pak, semoga lancar sampai hari H, in syaa Allah kami akan datang," ucap Asiyah, yang tampak turut berbahagia dengan kabar baik ini.


"Alhamdulillah akhirnya yaa Pak, selamat yaa Pak, kami ikut senang mendengar berita ini," sambung Cita.


"Alhamdulillah," ucap Caca.


Mereka semua telah menyelesaikan makan malamnya, beserta menu dessert yang telah dihidangkan tadi.

__ADS_1


Alhamdulillah.


Titik terang sepertinya akan segera dikantongi. Kabar baik dari Pak Sendi pun membuat suasana semakin mencair. Asiyah tak sabar ingin pulang ke rumah untuk membaca semua berkas yang diberikan Pak Sendi malam ini. Asiyah yakin tak ada yang akan mengecewakannya lagi dari dalam isi berkas itu.


__ADS_2