Asiyah Akhir Zaman

Asiyah Akhir Zaman
Sandiwara


__ADS_3

Hari-hari yang dilalui oleh Asiyah sungguh terasa sangat menyakitkan. Penampilannya tak sama lagi seperti yang dulu. Seadanya. Dan begitu sangat sederhana.


Kebetulan hari ini adalah hari libur sekolah. Umi beserta Aisyah dan Ali akan menengok Aisyah di rumahnya. Dengan membawa masakan Umi, yaitu kesukaan Asiyah.


Tanpa mengabarkan kepada Asiyah sebelumnya. Karena entah mengapa, tiba-tiba saja Umi merasakan rindu yang sangat pada anak sulungnya itu.


Umi telah berada di depan pintu rumah Asiyah. Dengan rantang makanan di tangan kanannya. Juga Aisyah dan Ali yang berdiri tegak menunggu Kak Asiyah di sisi Umi.


Asisten rumah tangga mereka menyambut kedatangan itu. Mempersilahkan Umi dan kedua adik Asiyah untuk masuk ke dalam rumah. Lalu memanggil Asiyah yang masih berada di dalam kamarnya.


"Bu.. ada Umi menunggu di bawah," ucap ART itu pada Asiyah.


"Umi? Ohh.. iya Saya akan segera turun," jawab Asiyah.


ART itu pun pergi meninggalkan Asiyah.


Segera Asiyah memandangi dirinya di depan cermin. Ya Allah.. Asiyah melihat ada banyak flek hitam yang muncul di wajahnya. Pakaiannya tampak sedikit lusuh. Kemudian Asiyah menyisir rambutnya, biar sedikit rapi dilihat Umi nanti.


Bismillah.. semoga Umi tidak berprasangka apa-apa denganku.


"Assalamu'alaykum Umi.." seketika Asiyah memeluk Umi yang telah menunggunya di kursi bawah ruang tengah rumahnya.


"Wa'alayjumussalam Nak," Umi tersenyum dalam peluknya.


Umi lalu melepaskan dekapan tangannya pada tubuh Asiyah. Menatap wajah Asiyah, lamat-lamat. Dilihatnya seorang perempuan di hadapannya. Muda, cantik. Tapi, ada yang aneh dengan wajah yang tak terawat itu. Ada yang berbeda dengan pakaian yang tampak lusuh itu.


"Nak.. Asiyah baik-baik saja?" tanya Umi pada Asiyah.


"I.. iya Umi Asiyah baik-baik saja," jawab Asiyah terbata-bata.


Asiyah langsung memeluk Aisyah dan Ali secara bergantian. Berpaling seketika dari pandangan mata Umi terhadap wajahnya.


"Eehhh.. Umi pasti bawa rantangan makanan kesukaan Asiyah yaa? Sini Umi, Asiyah bawakan ke dapur," Asiyah lagi-lagi mencoba mengalihkan pertanyaan Umi tadi. Mencoba menutupi keadaannya yang sungguh sangat berbeda, memprihatinkan.

__ADS_1


"Iya biar Umi saja Nak yang membawanya, ayokk biar kita bisa makan bersama sekalian," ajak Umi pada ketiga anaknya.


Sambil menyiapkan makanan yang dibawanya. Entah kenapa Umi merasakan keanehan pada diri Asiyah.


"Bagaimana program hamil Asiyah? Masih berjalan kan?" tanya Umi.


"Alhamdulillah masih Umi, do'a kan yaa Umi, mudah-mudahan segera diijabah oleh Allah ikhtiar Asiyah dan Abang," jawab Asiyah.


"Iyaa Nakk.. aamiin, Umi selalu mendo'akan anak-anak Umi, biar diberikan yang terbaik oleh Allah," sambung Umi.


"Oo yaa Nak, Umi lihat sepertinya Asiyah kurang merawat diri sejak berhenti shooting, seperti lusuh sekali Kamu Nak."


"Hhhmmm.." Asiyah yang berada di sebelah Umi, tepatnya di meja makan, tersenyum mendengar pernyataan itu.


"Iya Kak, memangnya Kak Asiyah nggak ada temannya yaa untuk ke salon, mau Aisyah yang menemani Kakak?" ucap Aisyah dengan polosnya.


"Iya, Ali juga mau ikut Kak Asiyah ke salon," sambung Ali.


"Sendi masih sering pulang malam yaa?" tanya Umi lagi.


"Iya, biasa lah Mi, namanya juga kerjaan di dunia hiburan yaa begitu, jam kerjanya nggak menentu," jelas Asiyah.


Tiba-tiba.


"Assalamu'alaykum.."


Pak Sendi masuk ke dalam rumah.


Asiyah, Umi dan yang lainnya terkejut. Tumben Pak Sendi cepat pulangnya.


Sambil memegang ponselnya. "......nanti Mas transferin lagi uangnya yaa Dek, Adek Mas tuh harus cantik, biar dapat jodohnya nanti senang, merasa beruntung memiliki Kamu, nggak kayak istri Mas ini loh, Kakak ipar Kamu, malas sekali merawat diri sejak nggak shooting lagi, nggak enak sekali buat dipandangi.........."


Sendi belum sadar ternyata bahwa ada mertuanya di dalam rumah itu. Bahkan mendengar pembicaraannya di telepon barusan.

__ADS_1


Umi tampak sangat terkejut dengan ucapan menantunya. Wajahnya berubah kecewa. Ingin marah rasanya, meluapkan rasa hatinya.


Asiyah pun tampak tak kalah kecewa. Sakit hati rasanya ketika mendengar Ia di jelek-jelekkan oleh suaminya sendiri pada adik iparnya. Terlebih ada Umi di sini mendengar dan menyaksikan semua secara langsung.


Ingin menangis rasanya Asiyah.


Pak Sendi telah selesai berbicara dengan adik bungsunya itu. Menutup teleponnya. Membalikkan badannya seketika. Daann.. apa yang didapatinya? Umi serta Aisyah dan Ali, sedang memandangi ke arahnya. Mereka diam dengan tatapan amarah dan kecewa pada Pak Sendi. Mereka sungguh tak menyangka. Ternyata begini cara Pak Sendi memperlakukan Asiyah.


Asiyah tetap bertahan menahan tangisnya. Tak bisa membela dengan tegasnya.


"Eehh, Sayang, tumben cepat pulang, Kamu bisa saja dehh Mas, katanya kalau Aku nggak perawatan ke salon, Aku tetap cantik di mata Kamu, heheeee, Aku tahu, tadi itu Kamu cuma lagi nyemangati Cecil kan? Biar cepat dapat jodohnya, biar rajin ke salon, yaaa kaann Maasss?" ucap Asiyah sigap. Menghampiri Pak Sendi. Tanpa jeda. Nyerocos saja pada suaminya. Demi menetralkan kembali keadaan yang sempat menegang. Dan mencoba menutupi rasa kecewanya.


"Yookk sini Mas, kita makan dulu, Umi datang bawain kita makanan kesukaan Aku, rendang buatan Umi," Asiyah menarik lengan Pak Sendi untuk ikut duduk makan bersama Umi dan kedua adiknya.


Asiyah menyiapkan makanan untuk suaminya. Mereka berempat kini tengah melingkar di meja makan. Menyantap rendang buatan Umi.


Umi mencoba berhusnudzon pada menantunya itu. "Iya nih Sen, Umi lihat Asiyah kusut sekali penampilannya, wajahnya kusam sekali, apa sudah tidak pernah merawat diri lagi? Kamu harus nasehatin yaa Sen, biar istri Kamu itu tetap enak dipandang suami, minimal dipakailah skin care rumahan itu, biar bersih wajahnya," jelas Umi. Mencoba mencair. Tidak mau membuat suasana menjadi beku.


"Iya nih Mi, padahal uang bulanannya Asiyah terus naik tiap bulan," ucap Pak Sendi. Dengan sedikit seringai tertawanya. Seolah bercanda.


Asiyah yang mendengar ucapan yang keluar dari mulut Pak Sendi barusan, sangat terkejut. Sontak pandangan yang tadinya menatap ke piring makan itu, seketika menatap sigap mengangkat wajahnya ke arah suaminya. Diam menatap, tajam. Apa ini? Kebohongan? Untuk apa?


Umi menangkap pandangan Asiyah yang tak biasa pada menantunya itu. Tak salah lagi nilainya. Umi adalah ibu dari seorang Asiyah yang tak bisa dibohongi oleh hanya sekedar ekspresi kecil seperti itu.


"Oo yaa ngomong-ngomong, ini rumah kalian sepi sekali, ARTnya pada ke mana?" tanya Umi lagi.


"Ada di kamarnya masing-masing Mi, istirahat, kalau siang begini mereka suka tidur siang," jawab Asiyah.


"Ohh iya iya," Umi melanjutkan makannya.


Ali terus menyantap makanan itu dengan tiga potong lauk daging rendang sapi di dalam piringnya. Dengan ekspresi menikmati makanan itu dengan penuh kelezatan.


Sementara Aisyah menatap Kak Aisyah dengan tatapan yang aneh. Seperti merasakan sebuah keganjalan pada sikap dan ucapan kakaknya itu sejak tadi.

__ADS_1


__ADS_2