
Malam ini benar-benar terasa sangat melelahkan. Malam yang dipenuhi dengan teka-teki. Bagaimana tidak? Mereka tiba-tiba saja terdampar di tengah malam nan sunyi. Menepi dalam selimut kegelapan hutan lindung. Meraba-raba jalan agar segera beranjak dari cerita takdir yang membawa mereka bertiga hingga sampai dalam lelahnya kebingungan menunggu pertolongan.
Terus berusaha, berikhtiar dalam juang penantian, juga tenggelam dalam pengharapan kepada Sang Maha Pengasih agar segera mengeluarkan mereka dari dalam labirin malam nan gelap tak berpenghujung ini.
Jalanan masih sangat sepi. Bukan. Bukan sepi lagi. Tetapi memang hanya mereka lah yang menjadi penghuni. Kiri, kanan, depan, belakang, seluruh arah menyoroti mereka dalam peluh yang menyirami.
Mobil Alphard milik Asiyah nan mewah itu masih berjalan dalam matinya. Terus saja. Tak hidup-hidup mesinnya.
Sementara Rubicon milik Dhirgham juga terus bergerak dalam lajunya.
Beriringan.
Mereka menelusuri malam dengan detakan jantung yang masih belum stabil. Harap-harap cemas. Walau begitu, Asiyah tetap berhusnudzon pada Allah atas takdir apalagi yang akan Ia temui nanti.
Lima menit perjalanan.
Ddduuuaarrrr..
Suara ledakan terdengar hebat. Yaa hanya suara ledakan itu yang begitu menggema terdengar oleh telinga-telinga mereka.
Sssshhhyyyyttttttt.. mobil Dhirgham tiba-tiba bergeser dari lintasan lurusnya, sejalan dengan suara ledakan tadi. Menggesekkan bannya pada jalanan aspal itu. Sementara mobil milik Asiyah sedikit terbawa oleh arus laju mobil di depannya.
Benar lah, ban mobil milik Dhirgham tiba-tiba pecah.
"Astaghfirullah.. apa itu? Ada apa?" tanya Asiyah yang syok dengan suara ledakan itu.
"Astaghfirullah," Caca dan Cita juga berucap secara bergantian.
"Ban mobil Dhirgham sepertinya pecah Mbak," sambung Caca lagi.
"Iya, ayo kita turun," ajak Asiyah.
Mereka bertiga sigap mengambil langkah turun dari mobil. Membuka pintu mobil, kemudian segera menghampiri Dhirgham yang juga telah berada di samping pintu mobilnya.
Dhirgham tampak sibuk mengecek ban mobilnya. Mengitari mobil itu. Ke depan, ke belakang, menundukkan tubuhnya, memperhatikan pasat satu per satu ban mobilnya. Ternyata benar, ban belakang mobilnya yang sebelah kiri pecah. Qadarullah, insiden ini malah terjadi di saat seperti ini.
Bak keluar dari mulut singa, malah masuk ke lubang buaya. Musibah yang menimpa Asiyah hanya bertukar saja bentuknya. Hanya saja kali ini menjadi lebih mudah dibandingkan dengan yang sebelumnya. Karena saat ini ada Dhirgham yang menemani kegetiran mereka bertiga.
Tak lepas dari husnudzonnya kepada Allah, tawakal itu masih sangat lekat di dalam hatinya. Walau tak dapat dipungkiri memang, rasa takut sebagai seorang manusia yang lemah masih saja ada.
Ban serep mobil Dhirgham ternyata tidak ada. Dhirgham pun tidak menyangka, kejadian ini dapat terjadi. Padahal baru saja satu pekan yang lalu mobil ini diservice. Belum tahu apa penyebab pecah ban ini.
"Jadi bagaimana selanjutnya?" tanya Asiyah pada Dhirgham. Sambil memasang mimik wajah bingungnya di hadapan Dhirgham.
__ADS_1
"Hhhmmm, ban mobilnya pecah dan Saya tidak membawa ban serepnya, Saya coba minta pertolongan saja, mudah-mudahan tidak terjadi apa-apa pada kita malam ini, dan di tempat ini," jelas Dhirgham, tampak serius dengan penekanan intonasi suaranya.
"Aamiin," caca berucap lembut. Mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
Cita memperhatikan saja pembicaraan itu, seraya berkata, "In syaa Allah, aamiin," juga mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
Asiyah juga melakukan hal yang sama.
"Hhmmm, bisa tolong bantu Saya menepikan mobil ini?" tanya Dhirgham seraya menatap wajah Asiyah, Caca dan Cita bergantian.
"Tentu saja Dhirgham, ayoo Caca, Cita," ucap Asiyah dengan perintahnya.
"Silahkan Asiyah saja yang memegang kemudinya biar Saya bersama Caca dan Cita yang mendorong dari belakang," ucap Dhirgham.
Mereka mulai bergerak lagi. Mobil itu sudah berada di tempat yang aman sekarang, setelah tadi sedikit keluar dari jalur lintasan yang seharusnya.
Tidak butuh waktu lama, semuanya beres. Mobil milik Asiyah pun juga sudah dirapikan posisinya, agar tidak mengganggu pengguna jalan yang lain. Yaa kalau pun mungkin ada yang melintasi nantinya, soalnya ini adalah tempat yang sangat sepi, sudah berapa lama, sudah berapa jam, bisa dibilang hanya ada satu dua kendaraan yang lewat.
Lagi-lagi mereka berhenti di tempat yang gelap. Jalanan sunyi tak berpenghuni.
Caca, Cita dan Asiyah mengambil sikap sibuknya masing-masing. Mondar-mandir.
Dhirgham sepertinya sedang menelepon seseorang, mencoba meminta bantuan.
Sampai detik ini pun, Asiyah juga belum mengabarkan Umi tentang apa yang terjadi pada dirinya. Akan hal apa yang tengah menimpa mereka.
Dinginnya malam masih saja enggan beranjak pergi. Kegelapan yang penuh misteri pun juga sepakat untuk tetap mengikuti mereka.
Dhirgham duduk menunggu di pinggir jalan aspal itu sendirian. Trotoar jalanan.
Asiyah berjalan menuju Dhirgham, dengan jarak yang tak terlalu dekat, duduk di sebelah Dhirgham.
"Maaf yaa, gara-gara Aku, Kamu ikut berada dalam situasi ini," ucap Asiyah pada Dhirgham. Memandang lurus ke depan pandangannya. Tak menatap Dhirgham. Bicara dingin.
"Tidak apa-apa Asiyah, ini semua sudah skenario Allah, bagaimana mungkin kita bisa bertemu di tempat seperti ini dan dalam keadaan begini, kalau bukan karena ini semua sudah ditetapkan oleh Allah, iya kan?" jelas Dhirgham. Seraya tersenyum dengan tatapannya yang juga lurus menghadap ke depan pandangannya. Jalanan itu.
Mereka tak saling menatap.
"Iya, Kamu benar," ucap Asiyah pelan, seraya tersenyum.
Dhirgham. Mengingatkan Asiyah akan pertemuan mereka kala penukaran koper siang itu. Mungkin yang teramat jelas di pikiran Asiyah bukanlah kopernya yang hilang itu, tetapi adalah Ashar.
"O yaa Dhirgham, Kamu sibuk apa sekarang?" tanya Asiyah.
__ADS_1
"Hhhmm.. alhamdulillah, ada sedikit kesibukan, ngurusin bisnis kecil-kecilan," jawab Dhirgham seraya tersenyum.
"Alhamdulillah kalau begitu," Asiyah tersenyum simpul. Tanpa berlanjut dengan rasa penasarannya.
"Dan Kamuuuu, sepertinya masih sangat betah dengan pekerjaanmu sebagai public figure yaa?" tanya Dhirgham.
"Hhmmmm," Asiyah tersenyum.
"Banyak yang menyukaimu Asiyah, mereka menyukai karaktermu dalam beracting," kata Dhirgham.
"Termasuk Kamu kah Dhirgham?" Asiyah membalikkan badannya ke arah Dhirgham. Dengan tatapan candaannya.
Dhirgham tersenyum.
"Iya hallo, assalamu'alaykum, alhamdulillah, iya iya kami menunggu di pinggir jalan, tepat di sebelah mobil, ada dua unit mobil yang terparkir di pinggiran jalan sini, iya, hati-hati," ucap Dhirgham seketika berbicara melalui ponselnya.
Sepertinya yang barusan menelepon adalah orang yang akan datang menolong mereka malam ini.
Asiyah hanya diam, memperhatikan.
Puluhan menit telah berlalu. Ribuan diam pun sudah mereka lalui.
Tiba-tiba. "Oh itu mereka datang, mereka yang akan mengurus semuanya, ayo Asiyah, Caca, Cita, kita berangkat menggunakan salah satu mobil mereka," ucap Dhirgham, juga tegas dengan instruksinya.
Dhirgham berdiri.
Diikuti Asiyah.
Mobil-mobil itu telah berhenti tepat dihadapan mereka berdua.
Kaki seorang pria melangkah keluar dari dalam mobil. Berjalan sigap ke arah Dhirgham.
Asiyah melihat sosok pria yang keluar dari dalam mobil itu. Tiba-tiba jantungnya berdegup kencang. Angin dingin seakan bertiup hingga ke relung hati terdalamnya. Telapak tangannya semakin dingin. Raut wajahnya seakan membeku. Asiyah terpaku pada pijakannya.
"Ashar.." ucap Asiyah, lirih.
Sementara Ashar, menatap Asiyah juga dengan tatapan yang tak biasa.
Dhirgham menatap ke arah Asiyah dan Ashar secara bergantian.
Mereka bertiga berdiri membentuk sebuah segitiga. Segitiga berpijak. Yaa pijakan kaki kaki mereka benar-benar membentuk sebuah segitiga.
Malam ini adalah malam keajaiban bagi Asiyah. Benar-benar qadarullah wa maa syaa a fa'ala.
__ADS_1