Asiyah Akhir Zaman

Asiyah Akhir Zaman
Selendang Asiyah


__ADS_3

Riuh suasana di kantor. Mempersiapkan acara gathering untuk pekan depan. Makanannya, pakaian dengan warna senada, tema dekorasi dan lain sebagainya.


Tak terkecuali dengan Asiyah dan Rima. Untuk para staf perempuan harus mengenakan selendang yang senada juga dari segi model maupun warnanya. Yaa semua sepakat pakaian dengan warna putih, dan selendang bagi perempuan berwarna hijau lembut dengan bahan yang jatuh.


Untuk persiapan acara besok, Ahad ini Asiyah akan pergi ke pasar membeli selendang seperti yang telah ditentukan kemarin.


Setelah sarapan pisang goreng pagi ini usai. Asiyah memberitahukan Umi akan rencananya siang ini.


 “Umi nanti habis beli kerupuk, Asiyah mau langsung pergi beli selendang yaa Mi, di toko Muslimah,” ucap Asiyah seraya menyapu rumah pagi ini.


"Untuk apa selendang Nak? Selendang Umi banyak di lemari, pakai saja yang itu?” jawab Umi sambil memasak di dapur untuk makan siang ini. Mengulek sambal.


“Untuk kerja Mi, soalnya mau ada acara di kantor, mau foto-foto gitu, katanya harus pakai selendang dengan warna yang senada sama teman-teman kantor, bahan selendangnya juga harus sama biar nanti pas difotoin hasilnya bagus Mi, Asiyah belum punya yang seperti itu,” ucap Asiyah.


“Oh gitu, ya sudah, pergilah, tapi jangan lama-lama yaa Nak, bantuin Umi bungkusin kerupuk dan keripik nanti,” ucap Umi seraya menggoyang-goyangkan tangannya menggoreng ikan di kuali.


“Iya Umi, nggak lama kok, nanti in syaa Allah Asiyah langsung pulang.”


Pukul 01.00 siang.


Beres-beres rumah sudah selesai. Makan juga sudah. Mandi pun sudah. Sholat dzuhur juga sudah terlaksana. Asiyah bersiap untuk berangkat ke pasar menggunakan motornya.


Matahari siang ini cukup terik. Mengeringkan pakaian yang dikenakan Asiyah, membakar kain-kainnya. Asiyah tak lupa mengenakkan jaket, sarung tangan, dan masker untuk melindungi dirinya dari jahatnya sinar matahari siang ini, serta masker untuk melindungi pernafasannya dari debu yang mengganggu.


Lima belas menit. Tampak dari kejauhan pasar tradisional modern. Asiyah membelokkan stang motornya, memarkirkannya. Asiyah sampai.


Walau ramai dengan penjual sayur dan ikan tapi pasar ini tetap terbilang bersih. Tidak becek dan bau. Karena memang kebersihannya dirawat oleh penjaga pasar dan juga para pedagang dan di sini juga dilarang membuang sampah sembarangan bagi para pembeli.


Panas sekali cuaca di pasar siang ini.


Peluh mengucur deras dari dahi Asiyah. Diusapnya peluh itu. Subhanallah.. Panas sekali ya Allah.


Menuju tempat pedagang kerupuk dan keripik yang sudah menjadi langganannya tiga tahun ini. Asiyah menelusuri salah satu lorong pasar, tegas langkahnya. Asiyah sudah tak canggung lagi menginjakkan kakinya di pasar seperti ini, setelah sebelumnya waktu masa kejayaan Abi dulu, tak tersentuh sedikitpun oleh Asiyah untuk berbelanja ketempat tradisional seperti ini, yaa kecuali berbelanja di Mall.

__ADS_1


“Assalamu’alaykum..” ucap Asiyah pada pedagang itu. Pak Sudi.


“Wa’alaykumussalam.. Asiyah,” jawab Pak Sudi.


“Biasa Pak..” pesan Asiyah. Melempar senyuman.


Pak Sudi langsung saja menyiapkan pesanan Asiyah. Menimbang berat kerupuk dan keripik itu. Seperti biasanya. Tidak perlu dikatakan lagi detailnya. Pak Sudi sudah paham. Karena memang Asiyah dan Umi adalah pelanggan setia di toko kerupuk mentah milik Pak Sudi.


Menyerahkan dagangannya pada Asiyah. Pak Sudi telah mengemasnya dengan sangat rapi serta aman. Dengan kantong plastik yang tebal.


Asiyah mengambil pesanannya. Membayarkan sejumlah uang pada Pak Sudi.


Menunggu sejenak, Pak Sudi mengembalikan kelebihan uang yang diberikan oleh Asiyah.


“Terima kasih yaa Pak, assalamu’alaykum,” ucap Asiyah pada Pak Sudi.


“Yoopp.. sama-sama Asiyah,” jawab Pak Sudi.


Alhamdulillah, kerupuk sudah beres, tinggal beli selendang saja. Harus cepat, Umi menunggu di rumah, Asiyah harus membantu Umi mengemas kerupuk lagi di rumah.


Asiyah segera menuju toko Muslimah. Tidak jauh dari kios kerupuk itu. Selendang di toko Muslimah terbilang murah. Bisa ditawar pula harganya. Modelnya juga bagus-bagus. Biasanya Asiyah dan Umi juga membeli kerudungnya di sana.


Sesampainya ditoko Muslimah, Asiyah langsung saja memilih-milih selendang yang terpajang.


Lima menit sudah. Selendang yang Ia cari tidak ada. Ditanyanya pada penjaga toko. Ternyata memang tidak ada selendang yang Asiyah cari.


Asiyah bergegas mencari selendang itu ke seluruh toko. Satu persatu toko hijab yang berjejer di sepanjang pasar itu dimasukinya. Satu jam sudah Asiyah mencarinya tetapi tidak ketemu juga. Langkah kakinya mulai lemah. Peluh di keningnya kian basah. Tersengal nafasnya.


Asiyah beristirahat sejenak. Numpang duduk di kursi depan toko hijab yang baru saja dimasukinya. Mengipas-ngipaskan wajahnya dengan tangannya. Asiyah terus saja melihat-lihat, mencari-cari di mana keberadaan selendang itu.


Tiba-tiba lirikan matanya terhenti. Dari kejauhan. Sepertinya.. selendang itu.. yaaa itu selendang yang Aku cari. Asiyah kembali bersemangat. Asiyah segera ke toko itu. Jelas sekali selendang itu terpajang di depan toko.


Alhamdulillah. Asiyah mendapatkannya setelah satu jam lebih mencarinya. Perjuangan sekali rupanya dan harganya lumayan mahal.

__ADS_1


Umi pasti khawatir di rumah. Ponsel Asiyah sudah berdering, ada telepon dari Umi.


"Assalamu'alaykum Umi, maaf Umi Asiyah lama."


"Nak, di mana? Kenapa lama sekali?" tanya Umi.


"Iya ini baru mau pulang, tadi Asiyah keliling pasar dulu mencari selendang itu," Asiyah mengangkat teleponnya sambil berjalan cepat.


"Ya sudah Nak, hati-hati yaa, jangan ngebut bawa motornya."


"Iya Umi, assalamu'alaykum."


Asiyah segera pulang.


Asiyah tampak sangat terburu-buru. Dengan tas yang dipegangnya di tangan kanan. Kerupuk dan keripik yang digandengnya kiri dan kanan. Belum lagi belanjaan selendangnya tadi. Repot sekali Asiyah tampaknya.


Tiba-tiba langkah kaki Asiyah terhenti. Dilihatnya ke belakang. Seperti ada orang yang mengikutinya. Tidak ada. Asiyah kembali berjalan. Terburu-buru. Melewati kerumunan orang-orang yang belanja di pasar. Berdesak-desakkan. Masih. Perasaan diawasi itu masih ada. Masih ada yang membuntutinya. Asiyah kembali membalikkan badannya. Dilihatnya ke belakang. Tidak ada siapa-siapa.


Asiyah kembali membalikkan badannya ke depan. “Astaghfirullah..” Asiyah terkejut.


Seorang lelaki tampan berdiri tepat di hadapannya. Memegang selendang di tangannya. Diulurkannya pada Asiyah. Lelaki itu tersenyum padanya.


“Maaf.. selendangnya tadi jatuh, Saya berusaha mengejar tadi, Kamu jalannya cepat sekali,” ucap lelaki itu tersengal-sengal. Melihat wajah Asiyah yang tampaknya juga kelelahan. Maa syaa Allah cantik sekali, sederhana, pikirnya. Astaghfirullah, sontak ucap pria itu dalam hati, pria itu mengusap wajahnya.


“Astaghfirullah, Saya pikir ada orang jahat yang membuntuti Saya, terima kasih terima kasih,” Asiyah menatap wajah lelaki itu sekejap. Maa syaa Allah tampan sekali. Menyejukkan. Lelaki ini terlihat baik. Pembawaannya sopan. Ahh sudahlah pikiran apa ini? Asiyah harus segera pulang.


“Kalau begitu Saya permisi dulu yaa, buru-buru, Umi sudah menunggu di rumah,” sambung Asiyah cepat. Menjelaskan hal yang mungkin tak dimengerti oleh pria itu. Asiyah segera pergi.


Pria itu berdiri terpaku di tempatnya, melihat Asiyah hingga menghilang. Tampaknya Ia benar-benar mengagumi Asiyah.


Mungkinkah?


 

__ADS_1


__ADS_2