
Mentari telah menampakkan diri. Membagikan cahaya terangnya. Langit biru pun turut hadir. Membiaskan warnanya. Awan putih berjalan beriringan, dengan keanggunannya.
Sementara mata itu tak dapat terpejam. Hingga pagi. Walau jadwal hari ini sangatlah padat. Astaghfirullah, bisa-bisa Asiyah tidak fokus saat bekerja nanti karena mengantuk dan kelelahan.
Asiyah keluar dari kamarnya.
Mengulang adegan di larut malam tadi.
Berdiri di tengah balkon kamar. Dibentangkannya kedua tangannya. Perlahan mata indah itu dipejamkan. Hhhmmm.. hhhhh.. hela nafasnya. Bibir mungilnya tersenyum manis. Tubuhnya berputar mengitari tiap sudut ujung jari kaki kirinya.
Selendang halus yang membalut kepala Asiyah terbang melambai di atas bahunya. Maa syaa Allah sungguh sejuk udara pagi ini.
Langit-langit balkon kamar itu memandangi Asiyah dari tegapnya bentangan tubuh betonnya yang berwarna putih. Tampak jelas Asiyah yang sedang berputar di bawahnya.
Sepuluh detik berlalu.
Sepuluh, sembilan, delapan, tujuh, enam, lima, empat, tiga, dua, satu. Asiyah menghitungnya dari dalam hati. Perlahan. Suara hatinya bak bergema lembut terdengar di udara.
Hhhmmm.. hhhhhh.. hela nafasnya lagi seraya membuka mata. Alhamdulillah untuk kehidupan hari ini. Asiyah tersenyum.
Asiyah merasa lega telah melakukan adegan itu.
Asiyah berhenti dari perputaran tubuhnya. Matanya berbinar. Menghadap ke depan rumah. Masih dalam senyum manisnya.
"Peluk yang erat Maakk.." dipegangnya erat tangan seorang perempuan tua yang melingkar di perut kurusnya. Dalam boncengan motor bututnya. Duduk menghadap ke depan. Dengan tubuh tua dan wajah keriputnya yang bersandar di bahu lelaki muda yang terlihat tampan dengan kesederhanaannya. Mungkin terlalu sederhana, hingga nampak lubang-lubang kecil pada kain yang melekat di tubuhnya. Warnanya kusam. Celana itu pun turut menguraikan benang-benang halus di atas betisnya. Kain celana itu tampak lapuk dan agak basah.
Kreteeekk.. kreteekkk.. kreeteekk.. suara knalpot motor hitam yang tampak kerangka besi badannya. Dengan karatan besi yang menjadi warna body motor itu. Entah dari mana mereka berdua berboncengan hingga sampai lah mereka melewati kawasan elite rumah Asiyah. Ban motor itu begitu kotor penuh dengan tanah.
Suara seorang lelaki yang lewat di depan rumah Asiyah. Tepat di hadapannya. Dari kejauhan Asiyah memandangnya. Lelaki itu tampak sangat menyayangi ibunya, senyumannya menggambarkan ketulusan dari dalam hatinya. Sementara perempuan tua itu tampak sangat renta dengan tubuhnya yang tak lurus lagi duduk di atas motor itu.
__ADS_1
Maa syaa Allah pemandangan yang sangat indah menurut Asiyah. Senyumnya semakin merekah di pagi ini.
Apa yang sedang Ku lihat saat ini? 'Birrul Walidain' kah? Sungguh jarang di zaman sekarang seorang lelaki mencintai ibunya dengan cara seromantis ini. Jika ibunya saja diperlakukan sebaik itu, bukan tidak mungkin istri lelaki itu juga akan diperlakukan dengan sangat baik olehnya. Sungguh Istri lelaki itu adalah perempuan yang sangat beruntung mendapatkan lelaki itu sebagai suaminya. Pikir Asiyah dalam hati.
Asiyah tampak bahagia. Seperti sekelebat menonton drama film religi saja rasanya. Yang kira-kira judulnya 'Surga di Telapak Kaki Ibu'. Hehee..
Lelaki itu berlalu dari hadapannya. Sepersekian detik yang sangat berharga pagi ini. Sebuah pelajaran lagi yang didapatkannya.
Benar juga. Atas apa yang disaksikannya pagi ini. Asiyah sadar. Ada banyak hal yang harus Ia lakukan selain hanya memikirkan tentang Ashar. Astaghfirullah. Aku masih memiliki Umi dan kedua Adik kembarku. Mereka adalah sumber utama kebahagiaanku. Keluarga. Yaaaa.. keluarga.
Lagi pula jodohku telah ditetapkan oleh Allah. Telah tertulis di Lauhul Mahfudz dengan sangat rapi dan sempurna, lima puluh ribu tahun sebelum langit dan bumi diciptakan oleh Allah. Asiyah berkeyakinan kuat akan hal ini. Walau memang terkadang, perasaannya telah mengkhilafkan akalnya dalam sesaat untuk berpikir keras akan hal-hal yang masih menjadi rahasia Allah.
Masih dalam senyumannya dalam kesendirian di atas balkon itu. Asiyah berjalan maju. Kini kedua tangannya memegang pinggiran pagar besi yang melingkari balkon kamarnya.
"Assalamu'alaykum dunia.." bisik Asiyah. Menyapa pagi. Wajahnya mendongak. Matanya memandang jauh ke atas langit pagi yang cerah.
Dunia pun seakan membalas salamnya. Sssshhhh.. ssshhhh.. hembusan angin pagi mengibaskan selendangnya. Sepasang kelopak mata itu sejenak terpejam lembut. Bulu matanya yang lentik seakan mengikuti arah tiupan angin lembut itu. Kesejukannya membelai pipi Asiyah.
Asiyah spontan memutar kepalanya. Membalikkan badannya. Suara ketukan pintu kamar itu sepertinya dari pintu kamarnya sendiri. Siapa? Asiyah segera membuka pintu kamarnya.
"Assalamu'alaykum Nak.." Umi senyum pada Asiyah dengan gaya keibuannya .
"Umi, wa'alaykumussalam Umi, masuk Umi.." ucap Asiyah dengan kelembutannya, juga dengan senyumannya.
Umi langsung masuk ke kamar Asiyah. Memastikan keadaan anak sulungnya itu pagi ini. Setelah tadi malam Umi menangkap sebuah kekecewaan sekaligus pengharapan pada diri Asiyah terhadap Ashar.
Tapi pagi ini, semburat kelegaan pada wajah Umi untuk Asiyah telah terpancar. Umi melihat wajah Asiyah yang sudah kembali cerah seperti hari-hari sebelum Ia bertemu Ashar kemarin.
Duduk di atas sofa kamar anaknya itu. Umi melihat Asiyah yang seakan sibuk dengan sikapnya. Yaa lebih tepatnya pura-pura sibuk di hadapan Umi demi menutupi perasaannya. Agar Umi tak fokus lagi pada cerita tentang Ashar terhadap dirinya.
__ADS_1
"Taman belakang sudah jadi Nak, tadi pagi tukang kebunnya datang ke rumah kita," ucap Umi.
"Asiyah mau lihat?" ajak Umi. Masih berusaha menghibur anaknya itu.
"Oh yaa Umi, alhamdulillah kalau begitu, iya iya Umi, Asiyah mau lihat," balas Asiyah cepat.
"Asiyah baik-baik saja?" tanya Umi lagi, menatap wajah anaknya itu. Dari jarak yang tak dekat. Asiyah masih pura-pura sibuk dengan alat-alat perintilan di meja riasnya.
"Iya Umi," Asiyah menengok wajah Umi, menjawab dengan sertaan isyarat senyumnya.
Umi pun membalas senyuman Asiyah.
Mereka berjalan menuju taman belakang rumah. Menuruni tangga.
Aisyah dan Ali telah lebih dulu bermain di taman belakang rumah itu. Mereka tampak ceria berayun-ayun secara bergantian di ayunan taman itu. Tertawa berdua. Tanpa memperdulikan asisten rumah tangga mereka yang juga duduk di kursi taman itu, menikmati suasana dari bagian sudut rumah yang baru.
"Maa syaa Allah, indah yaa Umi tamannya, tertata rapi dan penuh dengan sentuhan seni," ucap Asiyah seraya mengelilingi tamannya.
"Ternyata tukang kebun kita punya bakat tersembunyi yaa Umi, yang selama ini belum kita lihat, hehehee.." sambung Asiyah lagi. Tangannya memegang bunga-bunga taman. Membungkukkan badannya. Mencium aroma beberapa tanaman di taman. Segar sekali. Maa syaa Allah.
"Bukan Nak, taman ini dikerjakan oleh tukang kebun yang baru, masih muda orangnya, tampan loh Nak, Dia juga kelihatannya sholeh dan cerdas," jelas Umi.
"Maa syaa Allah, benarkah Umi?"
"Iya Nak, Umi sengaja memilih Dia, karena memang banyak teman-teman Umi yang merekomendasikan Dia pada Umi, katanya memang kerjaannya rapi, bagus gitu," jelas Umi yang duduk santai di kursi taman yang berukiran seperti serat kayu itu.
"Ohh iya, tadi pagi juga Dia membawa ibunya loh Nak ke rumah kita, ibunya sudah renta sekali Umi lihat, Umi sampai kagum padanya, Umi lihat Dia begitu memuliakan ibunya dengan sikapnya," sambung Umi lagi.
Asiyah diam. Berpikir sejenak. Seperti seorang lelaki yang Ia lihat dari balkon kamar tadi pagi. Lelaki muda, tampan yang membawa seorang ibu tua renta.
__ADS_1
Apa mungkin Dia adalah lelaki yang sama?