
"Asiyah.. hari ini mobil Kamu dan Mama akan datang, setelah mobil Kamu sampai di rumah kita, kita akan antarkan langsung mobil untuk Mama ke rumahnya," jelas Pak Sendi.
"Iya Sayang," jawab Asiyah. Wajahnya tampak biasa. Tak menyiratkan rasa senang sama sekali.
"Siang ini yaa, jangan lupa bersiap-siap, oo yaa Sayang, tolong yaa penampilan Kamu yang baik yaa, pakaiannya yang bagus sedikit, jangan kayak orang susah," jelas Pak Sendi dengan sinisnya.
"Iya Abang," jawab Asiyah. Tampak lesu wajahnya.
Hhhhhhhh.. dengus nafas Asiyah. Capek dengan tingkah suaminya, terlebih perkataannya.
Sarapan pagi ini sungguh menjadi sarapan yang menyebalkan bagi Asiyah karena perkataan suaminya tadi.
Beberapa jam berlalu.
Pukul 13.00 telah tiba.
Ttiiiiinnn.. ttiiiinnnnn.. bunyi klakson mobil dari luar pagar rumah Asiyah.
Asiyah yang telah lama menunggu sejak pagi, seketika berlari ke pekarangan rumah. Tak sabar melihat mobil apa yang dipilihkan oleh suaminya untuk dirinya dan Mama.
Maa syaa Allah. Setibanya di pekarangan rumah, Asiyah tampak tersenyum. Alhamdulillah Asiyah masih bisa memiliki sebuah mobil dari hasil jerih payahnya dulu. Walau tidak dapat dipungkiri, rasa sedih itu pasti ada.
Tapi tidak apa-apa. Asiyah hanya kecewa. Mengapa hartanya yang tinggal satu-satunya itu yang mesti dikorbankan. Mengapa tidak mobil Pak Sendi saja, yang harganya jauh lebih mahal berkali-kali lipat dibandingkan dengan mobil miliknya. Toh Pak Sendi masih bisa membeli mobil baru lagi.
Aahh sudah lah, semuanya telah terjadi. Asiyah mencoba berbesar hati untuk yang ke sekian kalinya.
Sebuah mobil yang cukup mewah telah masuk ke dalam pagar rumah mereka.
Asiyah dan Pak Sendi berdiri menyaksikan bagaimana mobil itu masuk ke dalam garasi rumah mereka.
"Gimana Sayang? Kamu suka?" tanya Pak Sendi pada Asiyah.
"Iy....." kata itu terputus.
Baru saja Asiyah ingin menjawab pertanyaan itu. Pak Sendi langsung membuang pandangannya. Sepertinya hanya basa basi saja bertanya padanya. Yang sebenarnya tak perduli sama sekali dengan perasaan Asiyah.
__ADS_1
Hhhhhh.. Asiyah mendenguskan nafas melihat tingkah suaminya seperti itu kepadanya.
"Ayo Sayang, kita langsung ke rumah Mama, kita hantarkan langsung mobilnya ke sana, kita lihat reaksi Mama, Mama pasti senang," ucap Pak Sendi dengan riangnya.
Asiyah mengikuti Pak Sendi masuk ke dalam mobilnya. Pasrah. Hanya diam.
Tidak jauh. Hanya beberapa menit mereka sudah sampai di rumah Mama.
Karyawan dealer mobil itu turun setelah memarkirkan mobil baru untuk Mama di depan rumah Mama.
Asiyah dan Pak Sendi turun dari mobil Pak Sendi.
Mobil baru untuk Mama itu sama halnya dengan Mobil untuk Asiyah tadi. Terlihat cantik dengan pita yang menjuntai dari atas atapnya. Ala-ala sebuah kado besar.
Ternyata pun Mama telah menunggu di luar rumah. Menanti sebuah mobil yang diantarkan oleh anak lelakinya itu untuk dirinya.
"Surpriseeeeee... kejutaaaaannn..." ucap Pak Sendi pada Mama.
Asiyah hanya diam mengikuti Pak Sendi dari belakang. Sambil tersenyum tipis. Berusaha terlihat baik-baik saja. Namun lesu di wajahnya tak dapat membohongi perasaan yang sebenarnya.
Kunci mobil itu diserahkan kepada Pak Sendi. Karyawan dealer mobil tadi segera pergi meninggalkan mereka.
"Maaa.. ada apa? Apa Mama senang?" tanya Pak Sendi pada Mama. Pak Sendi baru saja menyadari sesuatu. Sepertinya Mama merasa tidak puas akan mobil barunya ini.
"Hhmmm.. nggak, ini loh, ini bukan mobil milik Asiyah yaa? Kan Mama maunya mobil milik Asiyah.. kenapa jadinya mobil ini?" tanya mama. Pelan. Jutek tatapan matanya, sesekali melirik ke arah mobil itu, lalu melirik Asiyah sinis.
"Maaa, mobil Asiyah itu mobil bekas Asiyah, sedangkan ini kan mobil baru Ma, spesial untuk Mama," jawab Pak Sendi dengan penuh kelembutan. Mencoba memberikan pengertian pada Mama.
"Nggak.. Mama tahu mobil ini jauh lebih murah harganya dibandingkan dengan mobil milik Asiyah itu.. hhhhhh!!" ucap Mama dengan penuh kekesalan.
Pak Sendi terdiam. Memalingkan wajahnya dari hadapan Mama beberapa menit. Seperti mencoba menenangkan amarahnya karena ucapan Mama barusan.
Melirik wajah Asiyah sejenak. Memastikan raut wajah Asiyah karena sikap Mama.
"Maa, mobil Asiyah itu sudah dijual, dan uangnya dibagi dua untuk membeli mobil ini dan juga mobil untuk Asiyah pergunakan, kalau mobil Asiyah untuk Mama sendiri, lalu Asiyah mau pakai mobil apa Ma?" jelas Pak Sendi dengan tanyanya.
__ADS_1
Asiyah hanya diam, menyaksikan drama siang antara Ibu dan anak ini.
"Hahh.. jadi bagaimana maksudnya??!! Jadi kamu mau menuduh Mama serakah, begitu??!! Lagipula Asiyah itu sudah dihidupkan oleh kamu, makan tidur saja kerjaannya dirumah, nggak kerja!!" jelas Mama ketus.
"Maa, Asiyah ini istri Aku Ma..!!" jawab Pak Sendi. Masih berusaha lembut nada bicaranya.
Asiyah hanya diam mendengar semuanya. Mengepalkan kedua telapak tangannya.
"Haallaahh.. kamu ini, belain terus istri mandul kamu itu!! Nggak berguna dia itu, bisanya cuma menghabiskan uang kamu saja, ingat yaa, Mama ini yang telah melahirkan kamu!!" jelas Mama lagi. Mencoba meracuni otak Pak Sendi lagi dan lagi.
"Cukup Maa!! Asiyah sudah berusaha memenuhi semua maunya Mama, Asiyah sudah menjual harta milik Asiyah satu-satunya demi membelikan mobil untuk Mama, apa lagi yang Mama mau dari Asiyah?? Asiyah sudah berusaha Maa.." Spontan saja, Asiyah menangis dalam ucapan kesalnya.
"Asiyah cukup!! Jangan berbicara seperti itu pada mamaku," Pak Sendi sungguh merasa terganggu dengan sikap Asiyah. Sebenarnya karena sikap Mama yang menyebabkan Asiyah menjadi hilang kesabaran begini. Pak Sendi menyadarinya.
"Dan Asiyah bukanlah perempuan Mandul Maa, Asiyah hanya butuh waktu sampai Allah memberikan seorang anak di waktu yang tepat," sambung Asiyah. Bergetar suaranya. Tetesan air matanya pun tak kuasa ditahan.
"Sudah Asiyah, sudah..!!" Pak Sendi tak henti memarahi Asiyah. Tak menyangka bahwa Asiyah bisa seberani ini berbicara pada Mama, membela dirinya.
"Tahukah Mama betapa sulitnya kehidupan keuangan kami akhir-akhir ini?? Dan dalam semua keterbatasan kami, kami tutupi semuanya dari Mama, dan kami berusaha untuk memenuhi semua keinginan Mama!!" jelas Asiyah dengan nada marahnya. Tetap pelan namun menekan.
"Tidakkah Mama merasa bersyukur??!!" sambung Asiyah lagi.
"Tolong Ma, kami ini anak Mama, Asiyah adalah menantu Mama, tolong hargai pengorbanan kami Maa, kami sudah berusaha untuk membahagiakan Mamaa," tangis Asiyah semakin jelas. Bicaranya semakin merintih. Memohon akan lembutnya hati Mama.
Asiyah bertekuk lutut di hadapan Mama. Tak mampu menahan lemahnya diri. Habis sudah rasa sakit di dalam dadanya terluapkan.
Pak Sendi diam menyaksikan apa yang terjadi pada Mama dan istrinya.
Mama tetap tak perduli dengan apa yang Asiyah katakan. Matanya tak mau menatap Asiyah. Membuang pandangannya jauh dari tubuh Asiyah.
"Hhmmm.. Sendi, mana kunci mobil Mama? Mama mau pergi keluar ketemu teman Mama," Pinta Mama, seolah tak terjadi apa-apa.
Sendi menyerahkan kunci mobil itu ke tangan Mama.
Mama berlenggok melewati Asiyah. Menantu yang tak disukainya. Seakan tak terjadi apa-apa. Seolah perasaan dan air mata Asiyah benar-benar tak perlu digubris.
__ADS_1
Mama menaiki mobil barunya. Berlalu mengendarai mobil itu sendirian, keluar dari pagar.
Sementara Pak Sendi hanya bisa melihat Asiyah yang tertunduk penuh luka di matanya dengan tatapan rasa bersalah yang jelas tersurat dari matanya.