Asiyah Akhir Zaman

Asiyah Akhir Zaman
Musim Semi


__ADS_3

Tapak langit biru membentang luas. Gumpalan awan putih bergerombol seperti asap kayangan yang suci dari kotoran, bersih tanpa setitik noda yang merusak keanggunannya.


Lama. Dua menit. Tujuh menit. Semakin lama, matanya semakin menyipit. Sinar matahari yang meninggi sudah mulai menyilaukan matanya. Asiyah larut dalam lamunan kebahagiaan dan kelegaan yang sempat menghilang berubah menjadi dilema keraguan.


Senyum simpul yang manis itu terbentuk perlahan dari bibir indahnya. Menghela nafasnya dengan penuh kelembutan. Menghirup udara yang sedikit membuat tubuhnya gerah namun penuh kenyamanan karena pemandangan indah yang disuguhkan.


Ingin ikut terbang melayang rasanya berada ditengah warna kesukaannya yang menari di awang-awang. Merah muda yang sangat lembut. Persis seperti kelembutan hati dan sikap yang Ia miliki. Asiyah berada di antara raksasa bunga. Pohon bunga sakura.


Duduk di kursi pinggir taman yang bercat putih itu. Setelah lelahnya mengitari kecantikan alam ciptaan Allah ini dari pagi. Warna pink menghiasi angkasa sorotan matanya. Kini Asiyah benar-benar menikmati alam yang memanjakan jiwanya secara spontan. Melepaskan rasa capai sejenak dalam larutan khayalan yang Ia pendam.


Sssshhhhh.. hembusan angin yang sedari tadi seperti berlomba mengitari Asiyah. Memamerkan kepandaiannya dalam menari pada tamu barunya ini. Memberikan sambutan terbaik pada perempuan sholeha nan rupawan yang tengah duduk di antara mereka.


Ini adalah musim semi pertama yang dinikmatinya. Untuk pertama kalinya Asiyah liburan bersama Umi dan adik kembarnya di negara sakura. Beserta Caca dan Cita, juga seorang wanita penerjemah bahasa. Kali ini Pak Nomo tidak ikut karena lebih memilih liburan bersama istrinya ke rumah orang tuanya di kampung halaman.


Pak Nomo hanya berpesan, minta dibawakan oleh-oleh saja, katanya minta dibungkusin bunga sakura saja tujuh karung. Katanya harus tujuh karung sih biar lebih sakral dengan angka tujuhnya. Dan kenapa harus pakai karung biar Caca dan Cita kesusahan membawanya. Jahatnya Pak Nomo, hehehee. Candanya begitu saat Asiyah dan yang lainnya mengajaknya untuk ikut serta meramaikan liburan kali in tiga hari yang lalu.


"Hallooo Pak Nomo, assalamu'alaykum, hayyy hayyyy.." sapa Caca dan Cita melalui ponselnya. Mereka melakukan video call pada Pak Nomo. Lepas sekali tawa mereka saat memamerkan kebahagiaan liburan ke luar negeri kali ini tanpa Pak Nomo.


"Wa'alaykumussalam.. wah wahh lagi di mana tuuhh?" tanya Pak Nomo. Turut berbahagia.


"Niihh lihat niihh Pak,, tuhh bagus kaannn," ucap Caca, sembari memutarkan kamera ponselnya ke sekeliling dirinya, untuk memperlihatkan pemandangan indah bunga sakura yang sedang bersemi.


"Maa syaa Allah indah sekali yaaa, jadi gimana gimana sudah terkumpul belum pesanan Saya yang tujuh karung itu?" tanya Pak Nomo, seakan serius dengan ucapannya.


"Hahaaa sini dong Pak, ambil sendiri bunganya, bawa sendiri karungnya, kemarin sih diajak gak mau, nyesel gak tuh," ucap Cita.


"Nggak apa-apa ya Pak, yang penting kita bisa kumpul keluarga di sini," sambung istri Pak Nomo, berseloroh dalam video call itu.


"Eehh ada ibu negara kita semua, iya deh iya, kalau sudah bawa-bawa keluarga mau semahal apa juga, yang namanya harta dunia nggak ada artinya ya Bu hehehe," canda Caca.

__ADS_1


"Ampun deh kalau begitu," sambung Cita.


"Nah loh, bener kan?" Pak Nomo merasa menang kali ini.


"Mbak Asiyah dan yang lainnya ke mana? Tidak kelihatan dari tadi, suaranya pun tidak terdengar," sambung Pak Nomo lagi dengan tanyanya.


"Oohh mereka di sebelah sana Pak," jawab Cita, seraya mengarahkan kamera ponselnya dan menunjukkan ujung jarinya ke suatu tempat.


"Ada apa di sana? Kalian kenapa cuma berdua saja di sini, nanti kena rampok lagi, tempatnya sepi begini," ucap Pak Nomo, menakut-nakuti.


"Sama saja sih di sana sama di sini Pak, kami sengaja menyendiri di sini, biar bisa pamer dengan bebas sama Bapak, hehehe," canda Caca.


"Eehh tapi bener deh Cit, sepi banget di sini, kayak ada yang merhatiin kita nggak sih dari jauh?" ucap Caca dengan suara kecilnya, termakan omongan Pak Nomo barusan.


Pak Nomo menahan tawanya, pppffttt..


"Iya Ca, baru sadar Aku, sepi banget di sini, yookk kita nyamperin Mbak Asiyah saja," ajak Cita yang ikut panik.


"Hhmmm.. Pak, sudah dulu yaa, kami mau lanjut menikmati pemandangan indah di sini, salam sama ibu negara yaa, assalamu'alaykum," Caca segera mematikan ponselnya.


"Ayok ayok Ca, serem juga lama-lama sendirian di sini," ucap Cita.


Cita pun menarik tangan Caca untuk segera menghampiri Asiyah, Umi dan yang lainnya.


Sementara Asiyah masih bersantai di kursi taman, Umi, Aisyah dan Ali juga sibuk berfoto-foto di bawah hujanan kelopak-kelopak merah muda nan lembut itu.


Cekrekkk.. cekreekkk..


"Aliiii, ayo Nakk.. sekali lagi fotonya, nantilah mainnya itu," ucap Umi memanggil Ali yang dari tadi sibuk saja menjahili Aisyah dengan tingkahnya.

__ADS_1


Ali melemparkan seekor hewan kecil ke arah Aisyah, yang membuat Aisyah terkejut dan merasa geli melihatnya.


Ali berlarian bersama Aisyah. Aisyah tampak mengejar Ali, Ia hendak membalas perbuatan Ali yang telah membuatnya merasa jijik dengan hewan kecil itu.


Umi tampak beristirahat dari lelahnya melangkah. Apalagi lelah mengatur tingkah Ali. Umi duduk di kursi taman tidak jauh dari tempat duduk Asiyah.


Asiyah. Ia masih tersenyum dalam penyendiriannya. Asiyah berulang kali menonton tayangan film di ponselnya, film yang telah selesai digarapnya beberapa waktu yang lalu . Film yang hampir saja menciptakan skandal bagi dirinya, yang akan menjadikan citra buruk pada dirinya segera melekat.


Yaaa.. Pak Sendi telah mengatur semua urusannya kala itu. Skenario telah dirubah. Seluruh pihak yang terlibat dalam penggarapan film tersebut telah bekerja sama dengan sangat baik untuk melindungi Asiyah dari kejamnya dunia perfilman.


Pak Sendi pun juga telah melangsungkan pernikahannya satu bulan setelah pertemuan mereka yang bak konferensi meja bundar itu.


"Alhamdulillah ya Allah ketika Ku telah ikhlas melepas semuanya dan meminta jalan terbaik pada-Mu justru Engkau berikan semuanya kembali padaku dengan jalan yang sangat mudah dan indah," ucap Asiyah dalam hati.


Matanya melihat ke sekelilingnya. Kembali mengadahkan wajahnya setelah sekian lama menunduk melihat dan mengenang adegan demi adegan dalam filmnya yang telah dirubah dalam versi terbaiknya.


Matahari semakin meninggi saja. Udara terasa semakin panas. Kedua bola mata Asiyah semakin merasa tersakiti. Mungkin sudah saatnya mereka kembali ke tempat penginapan. Perut pun semakin lapar dan memanggil dengan alarm alaminya. Yaa, waktu makan siang telah tiba.


Kkrriiuukk.. kkrriiuukk.. suara dari dalam rongga perut Asiyah menembus dari ketebalan kulit tubuhnya yang halus dan mulus bak kapas putih.


"Umiiiii, Ali lapar niihh," suara Ali terdengar mengeluhkan rasa lapar yang juga telah memberontakkan tubuhnya.


"Iya iya Nak, tunggu Umi tanya Kak Asiyah dulu yaa," jawab Umi yang menyambut keluhan Ali seketika Ali menghampiri dirinya.


Umi berjalan mendekati Asiyah.


"Gimana Nak, sudah waktunya kita makan siang dulu, yang lain juga sudah pada kelaparan sepertinya," ucap Umi pada Asiyah.


"Iya Umi, ini Asiyah juga sudah selesai kok, ayookk kita cari tempat makan, Asiyah juga sudah lapar banget nih," jawab Asiyah sambil membereskan semua barang-barangnya masuk ke dalam tas kecil yang di sandang di bahunya.

__ADS_1


Rasa lapar dan teriknya matahari seakan telah mengusir mereka. Mereka beranjak dari taman raksasa bunga itu.


__ADS_2