Asiyah Akhir Zaman

Asiyah Akhir Zaman
Pak Kani


__ADS_3

Keluar dari ruangan Pak Tomi. Berpapasan dengan Asiyah di lorong kantor. Pak Kani menatap Asiyah hingga Asiyah berlalu melewatinya.


Pak Kani adalah rekan bisnis Pak Tomi sekaligus Omnya, Om mudanya Pak Tomi.


Asiyah tampak sibuk dengan berkas yang dibawanya. Tidak memperdulikan Pak Kani sama sekali. Lewat saja tanpa tegur sapa. Asiyah terlalu fokus dengan pekerjaannya. Asiyah masuk ke dalam ruang kerjanya. Memang sibuk sekali siang ini.


 


“Asiyah.. perkenalkan, ini namanya Pak Kani, Dia ini masih kerabat dekat Saya. Ada beberapa proyek kita yang bekerja sama dengan Pak Kani,” Pak Tomi masuk ke dalam ruangan Asiyah. Memperkenalkan Pak Kani pada Asiyah dan Maya.


Sebenarnya aneh saja. Biasanya tidak pernah Pak Tomi memperkenalkan rekan bisnisnya kepada staf seperti ini.


Biasanya semua berjalan begitu saja, sampai pada akhirnya staf di kantornya tahu sendiri siapa saja yang menjadi rekan bisnisnya, siapa namanya dan hal lainnya yang berkaitan dengan rekan bisnisnya itu.


Yaa mungkin Pak Kani memang orang yang spesial bagi Pak Tomi? Atau mungkin memang Pak Kani memegang andil yang cukup besar dalam berjalannya proyek yang mereka kerjakan bersama.


Huuhh.. Asiyah menduga-duga.


 


Keesokan harinya, Pak Kani datang lagi ke kantor.


Masuk ke ruangan Asiyah. “Asiyah, sudah makan siang?” tanya Pak Kani.


 


Ya Allah perhatian macam apa lagi ini? Asiyah mencium bau-bau pendekatan, perihal pribadi ini. Ahh tidak tidak.. mungkin hanya perasaanku saja. Mungkin Pak Kani orangnya memang penuh perhatian atau memang orangnya mudah dekat dengan siapa pun.


Lagi-lagi Asiyah menerka-nerka dengan prasangkanya.


Mencoba untuk husnudzon saja. Tidak mau menambah pikirannya tentang hal yang aneh-aneh. Tentang banyaknya lelaki genit yang mencoba mendekatinya. Yaa Cuma Pak Tomi kok yang punya maksud terselubung padanya.


Asiyah mencoba menenangkan dirinya. Lagi..


 


“Ayo kalau mau makan siang, bareng saja, sama Maya juga,” sambung Pak Kani.


 


“Tidak usah Pak, duluan saja, Kami sudah memesan makanan untuk makan siang nanti,” Asiyah menolak. Sedikit tersenyum. Tidak enak.


 


“Oh ya sudah, Saya duluan yaa,” kata Pak Kani.


Kemudian pergi meninggalkan ruangan kerja Asiyah.


 


Asiyah dan Maya tersenyum pada Pak Kani.


Ada-ada saja. Sepertinya Asiyah dan Maya satu pemikiran tentang sikap Pak Kani barusan. Asiyah dan Maya sama-sama mencium gelagat pendekatan pribadi.


Mereka saling menatap setelah Pak Kani beranjak dari hadapan mereka.


 


“Cieeee.. sepertinya ada yang sedang diincar om-om niihh..” goda Maya pada Asiyah. Mencolek dagu Asiyah. Maya tertawa. Terbahak-bahak di hadapannya.


 


“Na’udzubillahimindzalik, astaghfirullah, jangan sampai deh May,” ucap Asiyah seketika.


Asiyah reflek mengelus-elus dadanya. Menggeleng-gelengkan kepalanya.


 

__ADS_1


Lima belas menit berlalu.


Ponsel Asiyah berbunyi.


Ada pesan WhatsApp masuk. Nomor tidak dikenal. Tapi.. photo kontaknya seperti kenal. Pak Kani. Ini photo Pak Kani. Tidak salah lagi. Dari mana Dia dapat nomor WhatsAppku?


 


“Asiyah, Saya sekarang sudah berada di restoran, Kamu mau nitip apa? Nanti saya belikan untuk Kamu, tidak usah sungkan nanti Saya bawakan,” isi WA dari Pak Kani.


Tidak mungkin tidak dibalas WA ini, pikir Asiyah. Pak Kani adalah rekan bisnis Pak Tomi sekaligus kerabatnya Pak Tomi, Omnya.


“Nggak ada Pak, Saya sudah kenyang, baru saja sudah makan.” Asiyah beralasan. Berbohong saja. Biar cepat.


Padahal Asiyah belum makan sama sekali. Lagian Pak Kani makin kesini semakin berani saja menunjukkan sikap perhatiannya. Berlebihan sekali kali ini.


Ahh sudahlah mungkin ini hanya perasaanku saja yang terlalu percaya diri.


 


“Ohh ya sudah kalau begitu, tidak apa-apa,” balas Pak Kani.


 


Raut wajah Asiyah berubah. Masam. Seperti ada sesuatu yang mengganjal di dalam hatinya.


Maya memahaminya. Maya tahu betul kondisi Asiyah saat ini.


 


“Ada apa lagi Asiyah? Yang tadi WA dari Pak Kani yaa?” Sudahlah biarkan saja. Kamu balas sekedarnya sajalah. Nanti juga Dia capek sendiri menggoda Kamu."


 


Asiyah hanya mengangguk merespon ucapan Maya.


 


Umi dan adik-adiknya juga ikut.


 


Di tengah-tengah antrean pemeriksaan Abi, “Assalamu’alaykum Asiyah, lagi apa?”


Hhhhh.. Pak Kani mengirim pesan WA. Asiyah hanya membacanya.


Selang lima menit, ada panggilan masuk di ponselnya. Pak Kani lagi. Sampai tiga kali panggilan. Ditolaknya saja panggilan itu.


Asiyah merasa terganggu. Tidak enak dilihat Umi dan Abi.


 


“Siapa Asiyah?” tanya Umi yang duduk di sebelahnya, di bangku antrean.


“Teman kantor Asiyah Umi, nggak tahu ini kenapa, mungkin ada yang mau dibicarakan, tapi nggak apa-apa kok Umi, Senin kan bisa ngobrol langsung di kantor,” jawab Asiyah pada Umi.


Semoga Umi tidak curiga. Asiyah menghela nafasnya. Berusaha bersikap seperti biasa lagi.


Tapi kenapa perasaannya jadi merasa bersalah begini yaa pada Umi? Padahal kan Asiyah tidak melakukan apa-apa.


Apa karena yang menghubunginya barusan adalah Pak Kani? Om-om kalau kata Maya.


Hhhhh.. Entahlah. Mengganggu sekali.


 


Asiyah membalas pesan dari Pak Kani. Dari pada berisik terus bunyi ponselnya. Tidak enak dengan orang di sekelilingnya. Mengganggu kenyamanan mereka yang hendak berobat.

__ADS_1


 


“Wa’alaykumussalam Pak Kani, maaf Pak, Asiyah lagi repot ini, Asiyah ada urusan di luar, lagi menemani Abi pengobatan, sekali lagi Asiyah minta maaf.”


Malas sekali sebenarnya membalas pesan WA dari Pak Kani.


 


“Sakit apa Abinya Asiyah?”


Pak Kani membalas lagi. Bertanya lagi. Seperti tidak jelas saja apa yang disampaikan oleh Asiyah barusan.


 


Asiyah hanya membiarkan saja pesan WA dari Pak Kani itu. Tadi kan sudah dijelaskan. Asiyah sudah bilang kalau Ia sedang repot. Masih saja mengganggu. Sudahlah biarkan saja. Niatnya hanya mau menghormati Pak Kani, eehh malah Pak Kaninya yang menjadi-jadi.


 


Hari Seninnya, Asiyah ngantor seperti biasanya.


Ada Pak Kani lagi. Pak Kani rajin sekali ke kantor sejak pertemuan pertama dengan Asiyah waktu itu.


Jam makan siang pun tiba. Tidak terasa waktu berjalan begitu cepat.


Pekerjaan yang menumpuk membuat Asiyah fokus pada pekerjaannya dan melupakan makan siangnya.


Pak Kani menghampiri Asiyah ke ruangannya. Memperhatikan Asiyah. Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.


Asiyah seketika terkejut saat mengadahkan kepalanya. Ada Pak Kani di hadapannya. “Astaghfirullah,” Asiyah kaget.


 


“Sudah makan belum?” tanya Pak Kani.


"Jangan capek-capek banget kerjanya.”


Pak Kani lagi-lagi bersikap menggoda. Ia tersenyum manis. Lembut sekali bicaranya. Terus saja seperti itu.


 


“Iya Pak, ini sedikit lagi, mau beres-beres sedikit,” Asiyah gugup.


Aneh sekali rasanya diberikan perhatian yang berlebihan seperti ini oleh bapak-bapak selain Abi.


 


“Ya sudah, Saya makan siang dulu ya, Asiyah mau menitip sesuatu?”


Pak Kani menunggu jawaban dari Asiyah. Masih berdiri di depan meja Asiyah.


Asiyah hanya diam. Tetap saja sibuk dengan pekerjaannya.


“Nanti chat WA Saya saja ya, kalau butuh apa-apa atau kalau Asiyah butuh uang berapapun bilang saja sama Saya ya.”


Pak Kani lagi-lagi menawarkan berjuta perhatian pada Asiyah. Pak Kani masih saja menatap Asiyah. Terus berusaha meyakinkan Asiyah.


Kali ini Pak Kani tak kunjung mendapatkan jawaban apa-apa dari Asiyah.


Asiyah benar-benar mengabaikannya.


Pak Kani kemudian beranjak pergi dari ruangan itu.


 


Asiyah benar-benar jengkel dengan Pak Kani. Seperti dihantui saja olehnya. Nggak di WA, nggak di kantor, adaaaa saja. Muncul terus.


 

__ADS_1


Maya yang melihat perlakuan Pak Kani pada temannya itu, hanya diam. Kode-kodean pada Asiyah setelah Pak Kani pergi meninggalkan ruangan itu. Mereka berdua saling menatap.


Oke mereka berdua benar-benar tidak salah dalam memahami maksud Pak Kani. Modus lelaki pada seorang perempuan. Modus pendekatan untuk menjalin sebuah hubungan yang lebih jauh.


__ADS_2