
Ketika kisah tentang Pak Bardun dan segala
godaannya telah berlalu. Kini datang lagi seorang laki-laki yang tampaknya taat dalam beragama.
Kali ini tidak. Tidak ada niatan untuk menggoda Asiyah. Sepertinya begitu. Mudah-mudahan saja. Aamiin ya robbal’alamin.
Sholat dhuhanya tidak pernah terlewatkan, begitu cerita Acen pada staf kantor yang lain.
Biasalah saat rapat gosip kantor semua diceritakan.
Pernah satu kali Asiyah masuk ke ruangan Pak Tomi, saat itu Pak Tomi belum datang, Asiyah ingin meletakkan berkas di ruangannya. Terkejut sekali Asiyah mendapati Pak Ogi yang sedang menunaikan sholat dhuha. Asiyah benar-benar menyaksikan pria itu melakukan sholat sunahnya.
Pemandangan yang indah di pagi hari. Maa syaa Allah. Pak Ogi begitu taat, pikirnya saat itu. Bolak balik saja setiap pagi keluar masuk dari dalam ruangan Pak Tomi mengenakan baju gamisnya. Benar sekali.
Pak Ogi adalah sepupunya Pak Tomi. Pak Ogi menginap di kantor Pak Tomi. Tepatnya di ruangan Pak Tomi.
Ruangan Pak Tomi memang besar, didesain seperti sebuah kamar hotel berbintang, lengkap dengan sofa tidur dan televisi di dalamnya, ada kamar mandinya juga yang berukuran cukup besar.
Pak Ogi dengan mobil mewahnya menginap selama hampir dua bulan di gedung kantor.
Mengapa tidak di hotel saja yaa? Pikir Asiyah. Bukannya Pak Ogi seorang pengusaha kaya? Uangnya pasti banyak. Asiyah merasa ada yang aneh.
Kenapa harus menginap di kantor ini. Ahh tidak tidak, husnudzon sajalah, mungkin memang Pak Ogi orangnya hemat. Atau memang lebih suka tinggal di kantor ini dibandingkan di hotel.
Yaa.. ya sudahlah. Lupakan saja.
Usut punya usut ternyata Pak Ogi mendapat kabar dari Pak Tomi bahwa di kantornya ada seorang staf perempuan bernama Asiyah yang cantik dan sholeha.
Ternyata Asiyah adalah pancingan untuk Pak Ogi agar mau bekerjasama dengan Pak Tomi dalam proyek barunya, karena saat ini Pak Tomi membutuhkan suntikan dana yang lumayan besar.
Semua kabar ini menyeruak begitu saja. Menjadi rahasia umum.
Maklumlah kantor ini adalah sarangnya penggosip ulung. Tidak ada yang bisa dirahasiakan di dalam gedung putih ini. Semua pasti akan terbongkar dengan cepat.
Duhh sebenarnya jahat sekali Pak Tomi memanfaatkan Asiyah demi kelancaran bisnisnya.
Pak Ogi memang mempunyai niat untuk menikah lagi, mencari madu untuk istrinya, Pak Tomi tahu benar tentang hal itu, walaupun sebenarnya istri pertamanya tidak mau dimadu, Pak Ogi berniat untuk menikah lagi secara sembunyi-sembunyi.
Tampaknya Pak Tomi sudah cerita banyak pada Pak Ogi sebelumnya tentang Asiyah yang sulit sekali dirayu dengan berbagai macam cara.
Pak Ogi begitu percaya diri. Ia bersikap seakan Dia adalah orang yang paling tepat untuk Asiyah dengan berbagai ketaatannya dalam beribadah yang Ia tampakkan di hadapan Asiyah.
Yang tentunya Asiyah pasti berpikir bahwa Dia bisa memberikan Asiyah kesenangan di akhirat nanti, bukan hanya kesenangan di dunia saja. Itu yang Asiyah cari, pikirnya.
Jadi selama dua bulan ini, Pak Ogi sedang merayu Asiyah dengan caranya. Ya ya yaa..
Hingga pada akhirnya, Pak Ogi mulai mengakrabkan diri dengan Asiyah.
Awal-awalnya Pak Ogi hanya tegur sapa saja pada Asiyah dan Maya seraya melemparkan senyuman manisnya. Bersikap sesholeh mungkin di hadapan Asiyah.
Padahal semua orang di kantor ini juga sudah tahu, kalau Pak Ogi ada niatan untuk mendekati Asiyah. Memperistrinya. Termasuk Asiyah, yang sudah mengetahui niatan itu sejak awal.
Ia masuk ke ruangan Asiyah.
Kebetulan Asiyah dan Maya sedang tidak ada kesibukan.
__ADS_1
Pak Ogi langsung saja pada aksinya.
“Eh.. kalian berdua suka nggak makan es krim? Saya lagi kepingin banget nih makan es krim,” tanya Pak Ogi yang berdiri di hadapan Asiyah dan Maya. Tidak jauh dari pintu.
“Suka lah Pak, beli saja Pak kalau memang pingin,” ucap Maya bersemangat.
“Kalian mau ikut nggak? Saya tahu di dekat sini ada tempat makan es krim yang enak banget, mahal emang, kalau kalian mau nanti biar Saya yang traktir.”
“Asiyah mau ikut? Kita makan es krim bertiga,” sambung Pak Ogi. Bertanya pada Asiyah. Sepertinya ini adalah taktik rayuannya.
“Yokk yookk Asiyah, kita perginya bertiga juga kan, lagian Pak Ogi orangnya baik kok, taat ibadahnya,” bisik Maya pada Asiyah, merayu.
“Iya Pak kami mau,” Asiyah mengiyakan.
Banyak tidak enaknya kalau menolak. Belum lagi Maya kelihatannya juga ingin sekali makan es krim yang katanya mahal itu. Kasihan melihat Maya. Tumben sekali Maya bersikap seperti ini. Mungkin Maya memang ingin sekali mencicipi es krim itu. Tidak enak juga menolak ajakan sepupunya Pak Tomi.
“Ya sudah nanti kita pergi saat jam makan siang, sekalian saja nanti kita makan siangnya di sana, di sana juga enak makanannya, mahal juga tentunya hehee,” Pak Ogi tertawa kecil. Lega sekali nampaknya karena Asiyah mau diajak jalan olehnya.
Sudah waktunya makan siang.
Asiyah, Maya dan Pak Ogi berangkat menuju cafe yang sudah mereka bicarakan sebelumnya. Menggunakan mobil mewah milik Pak Ogi. Asiyah duduk di sebelah Pak Ogi, sementara Maya duduk tenang di kursi belakang.
Didalam mobil, di sepanjang perjalanan, Pak Ogi memutar radio ceramah kesukaan Asiyah.
Sampai sudah mereka di cafe.
Bagus tempatnya. Warna warni gambar es krim pada dekorasi dindingnya.
Sepertinya tempat ini memang baru dibuka. Soalnya Asiyah dan Maya baru kali ini melihatnya. Kalah dengan Pak Ogi yang sudah lebih dulu mencoba makanan di sini.
Mereka mengambil posisi duduk di tengah cafe.
Pak Ogi langsung saja memesan makanan.
Beberapa menit berselang makan siang sudah dihidangkan di hadapan mereka. Es krim? Terakhir sajalah dipesan, setelah makan siang selesai. Yang penting lapar ini dulu yang harus segera dihilangkan. Kalau dipesan sekarang, takutnya nanti es krimnya meleleh.
Di sela-sela makan. Pak Ogi mulai bercerita.
“Enak kan makanannya? Di sini semua makanannya memang mahal, tapi sesuailah dengan rasanya,” Pak Ogi mulai meramaikan makan siang mereka dengan ocehannya.
“Iya Pak, sesuailah ya,” jawab Maya. Sekedarnya saja. Dari pada tidak direspon sama sekali. Soalnya Maya sedang asik-asiknya menikmati makanan.
Asiyah hanya diam sepanjang mereka makan, Asiyah tidak tertarik dengan cerita Pak Ogi. Apalagi untuk menanggapinya.
__ADS_1
“Istri Saya juga sering Saya ajak makan di tempat-tempat yang mahal, apalagi ke tempat SPA, tempat pijat gitu, istri Saya paling suka.”
“Waahh.. enak yaa jadi istri Bapak, Bapak punya usaha apa sih Pak? Uangnya bisa banyak begitu?”
Maya tampaknya mulai kagum. Yaa mungkinlah. Mungkin juga Maya hanya berbasa-basi lagi. Kasian juga kan kalau tidak ada yang menanggapi ocehannya. Kan sudah ditraktir makan. Setidaknya pura-pura sajalah untuk bersikap responsif, untuk sekedar berterima kasih. Menghargainya.
Sementara Asiyah dari tadi masih saja diam.
“Saya punya beberapa pabrik, yaa cukuplah untuk membahagiakan istri dan anak-anak Saya saat ini, rencananya Saya juga mau buka usaha di sini, nanti kalau Asiyah dan Maya mau, bisa kalian saja yang pegang usaha Saya satu-satu di sini, kalian yang kelola.”
“Waahh yang benar Pak? Saya mau-mau saja sih Pak,” ucap Maya.
Pak Ogi melirik Asiyah dalam ucapannya.
Asiyah masih saja diam. Terus saja melanjutkan makannya. Tidak perduli.
“Istri Saya juga tidak pernah marah sama Saya kalau Saya pergi ke luar kota lama-lama sampai berbulan-bulan, Dia percaya sama Saya, yang penting kan Saya selalu mengirimi Dia uang, semua kebutuhan Dia dan anak-anak tetap Saya penuhi, Saya juga type orangnya cukup adillah, apalagi kalau Saya punya dua istri, in syaa Allah Saya bisa bersikap adil, memang belum ada rencana mau menikah lagi, tapi kan kita tidak tahu takdir Allah kedepannya, kalau dipertemukan dengan jodoh yang sholeha, Saya tidak bisa menolak,” ucap Pak Ogi panjang lebar, lembut dalam tutur katanya.
Asiyah tiba-tiba tersedak mendengar penjelasan Pak Ogi. Perasaannya mulai tidak enak. Tidak berselera lagi untuk makan es krim yang katanya mahal ini.
Maya pun juga mulai mencium gelagat yang aneh pada Pak Ogi. Sepanjang pembicaraan, dari tadi Maya melihat Pak Ogi melihat ke arah Asiyah saja. Terlebih saat bilang masalah poligami, tajam sekali tatapannya pada Asiyah.
Walau Asiyah tampak menunduk saja dari tadi, pura-pura tidak peduli, namun akhirnya tersedak juga, tandanya Asiyah sebenarnya ikut menyimak apa yang disampaikan Pak Ogi sedari tadi, sepanjang makan.
“Oo yaa.. kebetulan pekan depan Saya mau ke luar kota, ada proyek di sana sekalian Saya mau jalan-jalan, kalau Asiyah mau ikut, boleehh.. nanti kita pergi berdua, kalau Maya tidak mungkinlah Saya ajak nanti calon suaminya marah lagi sama Saya.” Pak Ogi senyum, bercanda. Menggoda Maya. Sekaligus kode untuk Asiyah.
Maya memang hendak menikah sebentar lagi. Maya baru saja melaksanakan acara pertunangannya pekan lalu.
Asiyah semakin merasa tidak nyaman dengan situasi ini. Asiyah melihat ke arah Pak Ogi sejenak, kemudian menundukkan kepalanya lagi, pura-pura memakan es krimnya. Mencolek pinggang Maya yang duduk di sebelahnya. Asiyah dan Maya benar-benar paham dengan semua perkataan Pak Ogi. M O D U S.. “MODUS”.
Tragedi ‘es krim’ siang ini mengajarkan Asiyah kembali untuk mulai menjauh dari Pak Ogi.
Tawaran Pak Ogi untuk pergi ke luar kota dan mengajak Asiyah jalan-jalan ternyata telah benar-benar membuka mata Asiyah tentang siapa Pak Ogi. Pak Ogi ternyata sama saja dengan om-om sebelumnya. Mana mungkinlah seorang pria sholeh mengajak seorang perempuan yang
bukan mahramnya pergi berdua saja. Jalan-jalan. Mana mungkin. Apa tidak takut akan terjadinya perzinahan nantinya? Atau memang inilah diri Pak Ogi yang sebenarnya? Pria liar yang tidak tahu batas pergaulan pada seorang perempuan yang bukan mahramnya.
Ahh sudah lah.
Tiap kali berpapasan dengan Pak Ogi, Asiyah selalu berusaha menghindari kontak mata dengannya. Tatapan mata Pak Ogi sungguh menggodanya sekali. Mata itu selalu saja berusaha mengisi relung hati Asiyah. Memaksa. Mendobrak. Asiyah pura-pura sibuk saja tiap kali hal itu terjadi. Memalingkan wajahnya kemana saja, asalkan tidak bertatap muka dengan Pak Ogi.
Tiap kali Pak Ogi masuk ke ruangan Asiyah dan mencoba berbincang dengannya, Asiyah sesegera mungkin mengambil langkah untuk keluar dari ruangan itu.
Pokoknya tidak ada lagi makan bersama Pak Ogi. Cukup kemarin yang pertama kali dan yang terakhir. Tidak ada lagi yang ke dua, ke tiga dan seterusnya. Tidak ada lagi. Cukup sudah.
Asiyah sudah cukup mengetahui maksud dan tujuan Pak Ogi padanya.
Jelas.
__ADS_1
Beruntung, kali ini Pak Ogi bukanlah type lelaki yang pemaksa, Ia hanya mencoba melakukan aksi rayuan gombal saja pada Asiyah.