Asiyah Akhir Zaman

Asiyah Akhir Zaman
Sudah Jalan-Nya Begini


__ADS_3

Satu bulan adalah waktu yang cukup bagi Asiyah untuk mengenal Pak Sendi. Di bantu oleh Caca dan Cita juga Pak Nomo, untuk mencari tahu beberapa hal tentang Pak Sendi, yang mungkin saja ada hal yang seharusnya Asiyah ketahui, namun di tutupi oleh Pak Sendi.


Keluarganya. Pak Sendi ternyata adalah seorang anak yang terlahir dari keluarga yang tidak mampu. Pak Sendi berjuang di tengah keluarganya sebagai penanggung jawab atas Ibu dan juga keempat adiknya. Pak Sendi adalah sulung dari lima bersaudara.


Setelah ayahnya wafat, Pak Sendi mulai merasakan kerasnya hidup. Di usia delapan tahun ini lah Pak Sendi dipaksakan mendewasa lebih awal oleh keadaan.


Dimulai dengan menjual koran di perempatan lampu merah pada pagi hari. Juga menjual kue di siang harinya, kadang juga sore hari di pom bensin, di tempat-tempat keramaian seperti terminal bus, dan yang lainnya.


Bekerja sebagai kuli bangunan sudah biasa dilakoninya. Kuli panggul di pasar juga hal yang tidak aneh lagi baginya. Kadang juga menjadi kenek angkutan umum. Yaaa semua dilakukannya demi membantu Ibunya. Adiknya masih kecil-kecil dengan jarak usia yang begitu dekat.


Lalu bagaimana dengan sekolahnya? Ternyata Pak Sendi adalah anak yang cerdas. Di balik kerja kerasnya mencari nafkah untuk keluarganya, Pak Sendi juga mempunyai sebuah cita-cita yaitu menjadi seorang polisi. Yaa.. katanya biar bisa jagain Ibu dan keempat adiknya terus.


Dengan begitu, sekolah pun tak pernah Ia tinggalkan. Walaupun dengan berpakaian lusuh. Sepatu yang sobek. Tas yang sudah keluar garis benangnya. Juga kadang dengan alat tulis sekolah yang seadanya. Pak Sendi tak pernah malu akan hal itu.


Badan kurusnya terus berjalan menapaki terjalnya takdir hidup.


Jalan baik yang dilaluinya, tak serta merta membawanya pada keberhasilan meraih cita-citanya. Segala usaha dan cara telah Ia tempuh, namun tetap gagal lagi dan lagi.


Sampai pada akhirnya, Pak Sendi menemukan takdirnya. Bermodalkan pergaulan yang luas. Sikap ramah dan mudah bergaul. Juga tabungan yang cukup. Dengan cerdasnya Pak Sendi pelan-pelan mulai membangun sebuah rumah produksi. Manajemen keartisan, yang kini telah menjadi besar namanya. Juga yang telah membesarkan nama Asiyah.


Yaa begitu lah. Apa yang sampai pada telinga Asiyah, adalah tentang banyaknya kebaikan Pak Sendi. Seorang pria yang bertanggung jawab kepada keluarganya. Juga seorang pria pekerja keras yang memiliki sebuah ambisi besar dalam hidupnya. Hingga sukses menjadi seorang yang bergelimangan harta.


Seketika pikiran Asiyah tentang Pak Sendi berubah. Yang tadinya lebih condong mengarah pada hal-hal yang negatif, kini semua pikiran buruk itu sirna begitu saja.


Mungkinkah ini jawaban dari do'aku pada Allah? Apakah Pak Sendi adalah jodoh yang Allah pilihkan untukku? Asiyah masih meragu di dalam tanya hatinya.


Satu bulan berlalu sejak Pak Sendi datang untuk meminta Asiyah pada Umi.

__ADS_1


Siang itu, di keramaian sibuknya crew film di lokasi shooting.


"Asiyah, sudah satu bulan sejak saat itu Kamu meminta Saya untuk memberi waktu. Apakah Kamu lupa dengan janjimu pada Saya?" Pak Sendi tiba-tiba duduk di sebelah Asiyah di ruang tunggu, saat Asiyah sedang break dari perannya bermain film. Tatapannya fokus ke depan, tak menatap Asiyah.


Asiyah melihatnya. Seorang lelaki yang sudah bukan lagi seorang big bos bagi dirinya. Melainkan calon jodoh ke dua nya.


"Hhhmmm.. Saya.. Datang lah ke rumah Saya malam ini Pak, akan Saya berikan jawabannya di hadapan Umi," Asiyah segera pergi dari sisi Pak Sendi. Menyudahi pembicaraan itu, cepat.


Pak Sendi diam. Masih terpaku di tempatnya.


Detik demi detik berlalu. Pukul 20.00. Asiyah pulang ke rumah bersama Caca dan Cita, Pak Nomo menyetir mobil di kursinya.


"Assalamu'alaykum.. Umi, Umi," Asiyah hendak masuk ke dalam rumahnya. Pintu ruang tamu itu tampak terbuka.


Asiyah berjalan masuk.


Mungkinkah Pak Sendi mendengarkan permintaanku siang tadi? Dia benar-benar datang dan menungguku. Asiyah juga menatap Umi dan Pak Sendi dramatis, menunggu sebuah kata dari mereka untuk menghentikan keheningan diam ini.


Meja itu kembali melingkarkan Umi, Asiyah dan Pak Sendi di atas sofanya.


Yaaa kali ini hanya ada mereka bertiga. Lebih privasi saja pembicaraannya.


Caca, Cita dan Pak Nomo mengawasi dari jarak yang cukup jauh. Sementara Aisyah dan Ali berada di dalam kamar mereka masing-masing. Tadi, kata Umi pada Aisyah dan Ali, 'nanti jangan keluar yaa, ini adalah pembicaraan orang tua, anak kecil tidak boleh ikut campur'.


Diam. Suasana menjadi kaku.


Asiyah mencoba menghentikan diam ini.

__ADS_1


"Umi, setelah satu bulan ini Asiyah mencoba memikirkan tawaran dari Pak Sendi, juga Asiyah sudah berdo'a kepada Allah untuk memantapkan hati, Asiyah putuskan.." ucapan lirih nan pelan itu pun terhenti. Asiyah tak dapat menutupi gugupnya saat ini. Suaranya semakin lembut nyaris tak terdengar.


"Iya Nak?" tanya Umi pada Asiyah. Mencoba menguatkan. Asiyah tampak lemah dengan ucapannya.


Pak Sendi menunggu kata demi kata itu keluar dari mulut Asiyah, menunggu kabar baik darinya. Matanya tak lepas dari memandang wajah Asiyah.


Asiyah menunduk malu.


"Asiyah putuskan untuk menerima lamaran Pak Sendi," Suara itu terdengar lembut dari mulut Asiyah.


Pak Sendi seketika tersenyum senang. Matanya berbinar. "Alhamdulillah, terima kasih Asiyah, terima kasih Umi," ucapnya lantang.


"Alhamdulillah, semoga ini adalah pilihan terbaik untukmu Nak, jodohmu sudah dekat, Asiyah harus kuat dalam menjalani ujian rumah tangga nantinya yaa," ucap Umi pada anak shalihahnya itu. Memeluk Asiyah yang berada di sebelahnya. Menetes air mata Umi. Begitu pun Asiyah.


Hari pun berlalu sejak saat itu.


Pertemuan keluarga telah dilaksanakan. Tanggal akad nikah telah ditentukan. Hanya tinggal menghitung hari lagi, prosesi sakral itu akan segera terwujud. Impian Asiyah untuk menikah bukanlah sekedar mimpi lagi. In syaa Allah takdir Allah telah sampai kepadanya.


"Saya terima nikah dan kawinnya Asiyah............... dibayar tunai!" ucap Pak Sendi. Tegas dan lantangnya. Diiringi senyuman kebahagiaannya di hari ini.


Asiyah keluar dari ruangannya. Duduk bersanding di sebelah Pak Sendi setelah akad itu selesai diikrarkan.


Kini Pak Sendi dan Asiyah telah resmi menikah. Kini mereka bukan hanya sekedar rekan kerja saja. Tetapi juga telah menjadi pasangan suami istri yang sah di mata agama dan negara.


Asiyah masih tak menyangka akan apa yang telah terjadi di dalam hidupnya. Semuanya terjadi begitu cepat.


Tetapi, memang ada satu hal yang tak dapat dipungkiri. Asiyah pun menyadari akan hal ini. Dari sekian banyak tragedi yang telah dilewati, Allah lah yang menghendaki segalanya terjadi. Dan memang sudah jalan-Nya begini. Sudah seharusnya terjadi.

__ADS_1


__ADS_2