
Tiga hari sudah Abi pergi meninggalkan dunia ini.
Asiyah kembali masuk kerja seperti biasanya. Ucapan berkabung dari teman-teman kantor tidak hentinya hingga jam kerja usai. Tak terkecuali dengan Pak Tomi.
Pak Tomi menghampiri Asiyah yang sedang bekerja di ruangannya. Pak Tomi berjalan ke arah Asiyah.
Asiyah sedang kerepotan nampaknya menyusun berkas-berkas.
Setibanya di hadapan Asiyah, Pak Tomi berhenti dari langkahnya Menatap Asiyah. Selama beberapa detik Asiyah tidak menyadari kehadiran Pak Tomi.
“Astaghfirullah Pak,” ucap Asiyah kaget melihat Pak Tomi sudah ada saja di depan meja kerjanya.
Pak Tomi senyum pada Asiyah. Entah apa maksud Pak Tomi bersikap seperti itu, padahal ada Maya juga di ruangan ini.
“Asiyah, nanti ke ruangan saya sebentar yaa,” perintah Pak Tomi.
“Iya Pak,” jawab Asiyah. Hhhhhh.. Asiyah menghela nafas. Ada apa lagi ini? Asiyah masuk ke ruangan Pak Tomi.
Membuka pintu perlahan. “Permisi Pak,” ucap Asiyah.
“Iya, silahkan masuk..” jawab Pak Tomi tegas.
Baru selangkah Asiyah masuk ke ruangan Pak Tomi, Pak Tomi langsung melempari berkas ke atas mejanya. Dihempasnya.
Asiyah terkejut. Asiyah diam. Berhenti dari
langkah kakinya.
Padahal baru tadi pagi Pak Tomi senyum padanya dan mengagetkannya. Tapi kenapa sekarang malah seperti singa mengamuk saja?
“Coba kamu lihat! Berkas apa ini? Semuanya salah!” Pak Tomi membentak Asiyah. Pak Tomi marah.
Asiyah bingung. Apa yang salah dengan berkas itu. Perasaan semuanya sudah dicek ulang dan semua sudah sesuai dengan perintah Pak Tomi.
“Saya menderita kerugian gara-gara Kamu Asiyah! Satu Milyar uang Saya melayang karena keteledoran kamu!”
“Maaf Pak, tapi kemarin..” Asiyah mencoba menjelaskan.
“Kemarin apa?! Ceroboh! Kamu harus bertanggung jawab dengan semua ini!” Pak Tomi memotong ucapan Asiyah. Tidak memberikan ruang sedikit pun untuk Asiyah berbicara.
Asiyah hanya diam. Tidak berani memberikan penjelasan apa-apa lagi. Ahh sudahlah, bagaimanapun tetap Asiyah yang salah, bawahan akan tetap disalahkan oleh atasan mau bagaimanapun situasinya.
“Duduk kamu! Ngapain kamu dari tadi berdiri di situ?!” Perintah Pak Tomi pada Asiyah yang dari tadi berdiri di depan pintu. Menunduk.
__ADS_1
“I.. iyaa.. Pak,” Asiyah segera duduk di kursi di hadapan Pak Tomi.
Diam sejenak. Pak Tomi menatap Asiyah. Dilihatnya Asiyah sedang menundukkan kepalanya. Asiyah begitu cantik. Sederhana berbalut hijab. Tanpa polesan di wajahnya.
“Saya tahu ayahmu baru saja meninggal dunia, tetapi hal ini tidak bisa dijadikan keringanan untuk kamu dalam masalah ini, SATU MILYAR uang saya hilang karena keteledoran kamu!” Pak Tomi tampak sangat marah sekali.
Asiyah masih menunduk saja.
“Saya bisa saja memaafkan kesalahan Kamu dan menganggap ini hanya sebuah musibah saja, asalkaaannn..” Pak Tomi menatap wajah Asiyah.
“Asalkan apa Pak? Saya akan lakukan apapun asal Bapak memaafkan Saya.. tapi jangan pecat Saya Pak, Saya sangat membutuhkan pekerjaan ini,” Asiyah memohon dan memelas pada Pak Tomi walau sebenarnya Asiyah tidak tahu menau akan kesalahannya.
Pak Tomi diam. Berdiri mendekati Asiyah.
Asiyah secepat mungkin mengatur jarak dengan Pak Tomi.
“Asalkan Kamu mau menjadi istri ke dua Saya,” ucap Pak Tomi jelas dan tegas.
Asiyah hanya diam. Tidak menyangka ternyata Pak Tomi masih saja menginginkannya hingga saat ini. Dan bisa-bisanya Pak Tomi memaksanya dengan cara seperti ini, dalam keadaannya yang masih berkabung akan kepergian Abi.
“Saya beri Kamu waktu satu pekan untuk memikirkan semua hal ini, kalau tidak, Kamu bukan hanya akan Saya pecat tapi juga akan Saya penjarakan, sekarang Kamu boleh keluar dari ruangan Saya,” Pak Tomi sepertinya tidak main-main dengan ucapannya. Penuh ancaman.
Satu pekan yang penuh dengan kegelisahan pun akhirnya terlewati juga.
Setiap harinya selama tujuh hari Asiyah berdo’a pada Allah memohon jalan keluar yang terbaik. Asiyah tidak menceritakan hal ini pada siapa pun. Biarlah menjadi rahasia di hatinya. Cukup Allah dan Asiyah saja yang tahu. Asiyah tidak mau membebani Umi dengan banyaknya pikiran yang diakibatkan oleh dirinya.
Ini hari kesembilan dari waktu yang diberikan oleh Pak Tomi padanya. Asiyah belum juga memberikan jawaban.
Hari ini banyak sekali pekerjaan untuk Asiyah. Bertumpuk sekali berkas diletakkan di atas meja kerjanya yang harus diselesaikan olehnya hari ini juga. Lembur. Asiyah lembur.
Ini sudah jam setengah enam sore, hampir maghrib. Pekerjaan Asiyah belum selesai juga. Maya sudah pulang duluan jam lima tadi. Asiyah sendirian di dalam ruangannya.
Kantor sudah sepi. Lagian tumben Asiyah diberikan tugas lembur sendirian. Biasanya pekerjaan itu bisa dikerjakan berdua dengan Maya biar cepat selesai. Asiyah lelah. Istirahat sejenak di kursi empuknya. Meliukkan badannya ke kanan dan ke kiri.
Tiba-tiba Asiyah mendengar langkah sepatu. Melangkah perlahan. Tak.. Tok.. Tak.. Tok.. Langkah senyap itu sesekali terhenti. Suara itu menuju ke arahnya. Perlahan. Mengendap-endap. Senyap. Sepatu hitam mengkilat itu mendorong pintu.
Ternyata Pak Tomi. Itu kaki Pak Tomi. Pak Tomi masuk ke ruangannya. Pak Tomi berjalan perlahan kearahnya. Asiyah segera berdiri dari kursinya. Panik. Kini mereka berdiri berhadapan.
“Apa kamu sudah menyiapkan jawaban dari pertanyaan Saya kemarin Asiyah?” tanya Pak Tomi. Menatap Asiyah penuh ancaman dengan senyum halus di ujung bibirnya.
“Ma.. maaf Pak,” Asiyah terbata-bata. Ketakutan.
__ADS_1
“Kamu mencoba mempermainkan Saya ya?” Pak Tomi menatap Asiyah tajam. Tampaknya Pak Tomi sangat marah.
Asiyah hanya diam.
Perseteruan di dalam ruangan itu berlangsung selama lima menit. Lima menit yang mendebarkan bagi Asiyah. Bahkan hampir terjadi adegan pelecehan oleh Pak Tomi pada dirinya.
Tidak terasa air matanya mulai menetes. Asiyah takut.
Asiyah berusaha lari dari ruangan itu.
DidorongnyaPak Tomi keras. Ditendangnya kaki Pak Tomi. Pak Tomi terjatuh. Secepat mungkin mengambil semua barang-barangnya, Asiyah segera lari.
Pak Tomi mengejar Asiyah. Dilihatnya di depan kantor, Asiyah sudah berlalu dengan motornya.
Tak kuasa Asiyah menahan tangis. Di sepanjang jalan air matanya terus mengucur. Membusai pipi mulusnya. Lima menit perjalanan, Asiyah berhenti di pinggir jalan. Di tempat makan pinggir jalan. Asiyah duduk sendirian merenung. Menghapus air matanya sesekali. Memesan minuman dingin agar sedikit lega rasa hatinya. Berusaha menenangkan dirinya sendiri.
“Kenapa Dek?” tanya abang-abang penjual makanan itu.
“Nggak ada apa-apa Bang, tadi kelilipan,” Asiyah menghapus air matanya lagi. Berusaha menutupi. Seolah tidak terjadi apa-apa.
Terdengar adzan maghrib berkumandang. Asiyah segera meninggalkan tempat itu. Mencari masjid terdekat. Ini waktu yang ditunggu Asiyah, mengadu pada Allah dalam do’anya tiap kali ditimpa masalah.
Asiyah mampir di sebuah masjid di pinggir jalan di dekat tempat makan tadi. Berwudhu. Mengusap wajahnya. Hati Asiyah sedikit tenang. Wajahnya terasa segar dengan basuhan air wudhu itu. Asiyah sholat mengikuti imam.
Asiyah berdo’a dan memohon pada Allah, merendahkan dirinya di hadapan Allah, meninggikan Allah dengan segala puji-pujian kepada-Nya, hingga sampailah Asiyah pada inti permohonannya pada Allah yang maha mengabulkan segala do’a.
“Ya Allah, berilah hamba petunjukMu, apa yang harus hamba lakukan ya Allah, tolonglah hamba ya Allah, bantulah hamba keluar dari semua masalah ini, berilah hamba jalan keluar yang terbaik ya Allah, tuntunlah hamba ya Allah,”
Asiyah memohon pada Allah. Memelas sekali meminta pertolongan Allah. Lama Asiyah termenung di dalam masjid. Terus memuji Allah, terus beristighfar dan bersholawat.
Dilihatnya sudah jam tujuh malam. Asiyah harus segera pulang. Malam ini tidak ada jadwal perkuliahan. Kasihan nanti Umi dan adik kembarnya cemas mencari dirinya.
Sepanjang perjalanan pulang ke rumah, Asiyah terus beristighfar dan bersholawat. Berharap pertolongan Allah segera datang padanya.
Sesampainya di rumah. Asiyah terkejut. Kali ini benar-benar mengejutkannya.
Ada mobil terparkir di depan rumahnya. Yaa.. ini mobil Pak Tomi. Tidak salah lagi. Di depan pintu rumahnya tersusun sepatu mengkilat milik Pak Tomi. Asiyah gugup. Diputarnya balik motornya. Asiyah tidak mau bertemu Pak Tomi lagi. Selamanya.
Di perjalanan Asiyah merasa apa yang dilakukannya salah.
Aahh ini tidak benar, sebaiknya ditemui saja Pak Tomi, Asiyah penasaran juga apa yang dilakukan Pak Tomi di rumahnya dan apa yang sedang dibicarakan Pak Tomi pada Umi. Asiyah kembali lagi ke rumah.
Baru saja menampakkan wajahnya di hadapan Umi di depan pintu, Asiyah mendapati wajah Umi yang tampak masam.
Pak Tomi yang duduk di hadapan Umi juga menatap ke arahnya dengan wajah penuh kelicikan.
Umi tampak marah pada Asiyah. Apa yang sebenarnya sudah diceritakan Pak Tomi tentangnya pada Umi? Asiyah sungguh tidak tahu.
__ADS_1