
Seperti hembusan kapas putih yang terbang dengan ringannya. Bergerombolan satu per satu mereka melewati cakrawala di atas awan.
Dibawa oleh hembusan angin. Mengikuti ke mana arah arus angin membawa mereka.
Hingga segerombolan kapas itu berlalu pergi.
Tak mengganggu siapa pun dan apa pun yang dilewatinya. Bahkan kapas putih itu tak diperdulikan oleh sekitarnya. Kecuali angin yang akan membawanya menuju takdir labuhannya.
Begitulah jalan hidup yang Asiyah lalui, begitulah yang Ia rasakan setelah kelahiran Adam dan Hawa. Semua ujian yang dahulu terasa berat dan menyakitkan. Kini tak ubahnya hanyalah kisah lalu yang menyisakan cerita kenangan.
Bagaikan melewati lorong waktu yang hanya memberikan sebuah pelajaran kehidupan. Bukan, bukan sesuatu yang mesti ditangisi lagi.
Hadirnya Adam dan Hawa di dalam kehidupannya membuat Asiyah benar-benar lupa akan mertuanya. Mertua yang telah mengambil hak anak yatimnya. Semua telah sirna di dalam ingatan Asiyah. Asiyah pun tak ingin lagi mengingatnya walau kadang terlintas di pikirannya.
Acara aqiqah itu digelar sederhana. Layaknya orang biasa yang mengadakannya. Tidak seperti artis terkenal yang kaya raya pada umumnya.
Tetapi yang uniknya, ternyata ada satu media TV yang meliput acara tersebut. Tentu juga karena Asiyah yang mengizinkannya. Syukur alhamdulillah, Asiyah mendapatkan bayaran atas kerjasama tersebut. Ini adalah rezeki anak kembarnya, pikir Asiyah begitu.
Tidak ada yang cuma-cuma memang, Asiyah juga akan menggelar konferensi pers kepada teman-teman wartawan, atas permintaan mereka, sekedar berbagi cerita tentang keadaannya saat ini. Bagaimana buah hatinya, dan lain-lain.
Dan atas izin Allah, nama Asiyah kembali wara wiri di layar Televisi. Asiyah memang tidak menutup kemungkinan untuk Ia kembali bekerja di dunia hiburan ini seperti dulu. Karena Ia harus membesarkan kedua anaknya, dan itu semua membutuhkan biaya yang tidak sedikit.
Di sisi lain, dan di waktu yang berbeda. Ternyata kabar tentang Asiyah sampai juga pada Ustadz Hamdal, yang dahulu sempat ingin menjodohkannya pada salah satu muridnya di pesantren.
Namun qadarullahnya, semua telah didahului oleh kehendak Allah yang ternyata tak merestui perjodohan mereka. Allah lebih memilih jodoh maut untuk lelaki tersebut.
"Maa syaa Allah, Buuu... Ibuuu... lihat nih, di Televisi, ada kabar tentang Asiyah," ucap Ustadz Hamdal, berteriak memanggil istrinya, seraya berdiri dari kursi duduk santainya di depan Televisi ruang tengah rumahnya tersebut.
"Iya Pak, iyaa.." Ustadzah Hani segera datang, keluar dari kamarnya.
"Subhanallah Bu, Asiyah kini telah menjadi seorang janda," ucap Ustadz Hamdal, antusias.
__ADS_1
"Maa syaa Allah, tetapi Ia juga telah dikaruniai sepasang anak kembar dari rahimnya Bu.." sambungnya lagi. Seperti seseorang yang sedang menemukan sebuah hikmah dari kabar terbaru Asiyah.
"Maa syaa Allah, Pak.. apa mungkin, ini pertanda dari Allah untuk kita..?" tanya Ustadzah Hani pada suaminya. Saking antusiasnya, Ustadzah Hani hanya memandangi kabar berita di Televisi itu sambil berdiri.
"Iya Bu, Kita akan lanjutkan perjodohan untuk Asiyah yang telah kita batalkan dulu," jawab Ustadz Hamdal cepat merespon akalnya atas pertanyaan dari istrinya.
"Bismillah Pak, perempuan shalihah seperti Asiyah memang membutuhkan pendamping yang sepadan dengan dirinya untuk dapat menjaga Ia dan juga anak-anaknya," jelas Ustadzah Hani.
"Ibu yakin, Asiyah tidak akan menolak perjodohan ini Pak," sambung Ustadzah Hani lagi.
"Bismillah Bu, in syaa Allah.." ucap Ustadz Hamdal.
Mata mereka berdua hanya tertuju pada Asiyah di dalam media Televisi itu.
Seakan menemukan jawaban atas pertanyaan ikhtiar mereka selama ini.
Tak membuang waktu.
Siang ini. Ustadz Hamdal mencoba menghubungi Asiyah melalui Cita. Ternyata, benar, Cita sudah tak bersama Asiyah lagi kurang lebih selama tiga tahun terakhir setelah Asiyah menikah.
Namun, Ustadz Hamdal benar tak salah mencari jalannya. Cita yang sudah diberitahukan sebelumnya oleh Ustadz Hamdal tentang maksud pertemuannya dengan Asiyah, menjadi jalan termudah yang dilalui oleh Ustadz Hamdal dan Ustadzah Hani untuk bertemu dengan Umi dan juga Asiyah.
Tak sulit. Sungguh pertemuan ini dipermudah oleh Allah.
Asiyah dan Umi menyetujui pertemuan ini. Setelah sebelumnya, Cita lah yang menjadi penghubung di antara pihak Ustadz Hamdal dan pihak Asiyah
"Umi, apakah Umi yakin dengan pertemuan ini?" tanya Asiyah di senyapnya malam. Setelah Ia menidurkan Adam dan Hawa.
"Apakah semua ini tidak terlalu cepat Umi?" sambungnya lagi. Penuh ragu.
"Tidak ada kata 'terlalu cepat' untuk sebuah kebaikan Nak, apalagi sebuah keputusan yang diambil telah dijatuhi pertimbangan yang matang berlandaskan ibadah, lillahi ta 'ala," jawab Umi, dengan bijaknya.
__ADS_1
"In syaa Allah, Umi yakin Nak, jika memang jodoh Asiyah yang terakhir telah sampai dan menemukan jalannya, maka segalanya akan dipermudah oleh Allah, bahkan hati kita yang pada awalnya ragu, akan serta merta dipenuhi keridhoan dan keikhlasan jika saatnya sudah tiba," jelas Umi penuh keyakinan, seraya menatap kedua cucunya yang tertidur dengan lelapnya di kamar Asiyah.
"Iya Umi, in syaa Allah, Asiyah yakin, Adam dan Hawa juga pasti membutuhkan seorang Ayah untuk membimbing jalan hidup mereka," ucap Asiyah. Pelan. Penuh rasa kasih terhadap kedua anak yatimnya.
Umi menyetujui perkataan Asiyah tersebut. Dengan senyuman di bibirnya.
Malam kegelisahan ini pun berlalu.
Hari yang mendebarkan akhirnya datang juga.
Ustadz Hamdal bersama Ustadzah Hani datang mengunjungi kediaman Umi. Bersama Cita yang mengantarkan mereka. Tetap setia berjuang demi kebahagiaan Asiyah hingga kini. Walau kenyataannya Cita bukanlah asisten pribadi Asiyah lagi.
Pembicaraan ini sungguh sangat privasi. Ustadz Hamdal hanya ingin ada Ia dan istrinya, juga Umi dan Asiyah saja yang terlibat. Karena ada sebuah situasi nanti, di mana Ustadz Hamdal akan membicarakan tentang berbagai kekurangan serta kelebihan yang dimiliki oleh lelaki yang akan dijodohkannya pada Asiyah.
Tentu Umi dan Asiyah tidak keberatan akan hal ini.
"Umi, Asiyah, mengenai lelaki ini.. Dia telah menyerahkan sepenuhnya keputusan pencarian jodohnya kepada Saya dan juga istri saya, Ia telah benar-benar ikhlas akan takdirnya," jelas Ustadz Hamdal. Serius.
Umi dan Asiyah menyimak dengan patuh.
"Silahkan dibaca biodata lengkapnya," ucap Ustadz Hamdal, seraya menyerahkan sebuah berkas kepada Asiyah.
Pembicaraan semakin serius. Suasana berubah dingin di lingkaran kursi duduk mereka, ketika Asiyah mulai membaca CV lelaki itu.
"Dia baru saja menyelesaikan studinya, juga kini telah memiliki beberapa usaha yang nantinya akan menjadi ladang rezeki untuknya menafkahi Asiyah dan kedua anak kalian, in syaa Allah," sambung Ustadz Hamdal lagi.
Asiyah dan Umi membaca CV itu bergantian.
Maa syaa Allah Betapa terkejutnya Asiyah. Ternyata lelaki ini adalah..?
Asiyah telah mengenalnya sebelumnya. Bahkan telah berbicara dengannya.
__ADS_1
Tentu Asiyah menyetujui perjodohan ini. Hatinya dengan mudah tergerak untuk melanjutkan proses ta'aruf ini ke tahapan selanjutnya.