Asiyah Akhir Zaman

Asiyah Akhir Zaman
Pulang


__ADS_3

Swwiiinnngggg.. bunyi pesawat melintasi cakrawala.


Setelah sebelumnya menaiki ojek motor, dilanjutkan dengan menaiki bus, kini Asiyah beserta dua asisten dan sopirnya menerbangkan diri menggunakan pesawat. Mereka akan segera sampai di rumah Asiyah dengan kecepatan robot burung raksasa itu.


Asiyah menatap kosong di pinggiran kaca jendela pesawat. Jauh memandang pada sekeliling awan putih yang membentang terang.


Umi, Aisyah dan Ali yang disimpannya di dalam hati, telah lama memberontakkan dadanya. Seolah tak tahan menahan rindu, walau Asiyah selalu saja berusaha untuk memendamnya dalam diam. Berusaha mengalihkan pikirannya akan kerinduan kepada mereka. Tapi tetap saja, air mata itu menetes kala mengingat mereka. Keluarga kecilnya.


Tak lama perjalanan kepakan sayapnya di angkasa, robot burung raksasa itu mendarat di lintasannya. Menyelesaikan tugasnya dari tuannya.


Sswwwiiinnnggg..


Menuruni tangga pesawat, Asiyah menatap getir angkasa yang baru saja dilewatinya. Silau sekali siang ini. Langit seakan menantang matanya dengan cahaya sinarnya. Asiyah meneduhkan keningnya dengan telapak tangan kanannya.


Taxi telah menunggu mereka di depan bandara, karena memang sudah dipesan oleh Caca sebelumnya.


Cita dan Caca beserta Pak Nomo sibuk menggerek koper-koper mereka, termasuk koper milik Asiyah.


"Banyak juga yaa barang bawaan kita Ca," ucap Cita seraya menggerek dua koper besar.


"Yaa kan rencananya mau nginap lama di villa, eehh ternyata nggak sampai satu bulan Pak Sendi sudah menyerah," jawab Caca.


"Kalian itu kebanyakan bawa make up, gosokkan untuk tangan lah, untuk muka lah, semuanya pake digosok-gosok, belum lagi itu sepatu, baju-baju," sambung Pak Nomo.


"Ya elah Pak, itu tu ritual wajib buat cewek-cewek," ucap Caca.


"Wajib sih wajib, wong kita perginya ke desa kok bukan mau fashion show, pppffttt.." Pak Nomo meledek dengan menahan tawanya.


"Harus tetap cantik dan fashionable dong Pak, di mana pun dan kapan pun," sambung Cita.


"Berarti ini barang bawaan Saya yang paling sedikit kali yaa hehee," ucap Pak Nomo.


"Gimana nggak sedikit, Bapak kan satu pekan bajunya tiga kali aja gantinya, pppffttt.." Caca balik meledek.


"Hehehee, yaa nggak apa-apa, yang penting bersih toh, toh istri Saya juga nggak ada di dekat Saya, nanti kalau ada istri Saya, baru Saya tunjukkan kegantengan Saya yang super power full," kilah Pak Nomo.


"Aahhh, bisa aja Pak Nomo, bilang aja kalau emang dasarnya jorok gitu bawaannya," sambung Caca.


Asiyah dan Cita yang mendengarkan dan melihat pertempuran sengit mereka, hanya bisa tertawa kecil.

__ADS_1


"Di mana taxinya Ca?" tanya Asiyah, seketika berhenti tepat di depan pintu gedung bandara.


"Sebentar Mbak, Saya hubungi dulu taxinya," jawab Caca, seraya memberikan isyarat melalui tangannya, seolah sedang menelepon.


"Hallo, Pak, kami sudah di depan bandara ini, Bapak di mana?" Caca menelepon taxi yang sudah dipesannya tadi.


"Iya Mbak, Saya juga sudah di depan, ini Mbak Saya yang melambaikan tangan, nggak jauh dari mbaknya," ucap sopir taxi itu. Dia mengenali Caca karena mendengar suara Caca jelas ada di sekitarnya.


"Ohh.. Iya iya, munduran yaa Pak, barang bawaan kami lumayan banyak ini," perintah Caca.


"Ssiiaappp Mbak," sopir taxi itu memundurkan mobilnya, mendekati mereka.


Pak sopir taxi memasukkan barang-barang mereka ke dalam bagasi mobil. Duuhh ternyata tidak muat, perkiraan Caca kali ini meleset, seharusnya Dia memesan mobil angkutan online yang besar saja, seperti pas mau berangkat waktu itu.


"Duhh nggak muat yaa di bagasi Pak," Caca merasa tidak enak dengan Asiyah. Wajahnya tampak gugup.


"Ya sudah nggak apa-apa Ca, Saya duduk di depan sendirian, Kamu, Cita dan Pak Nomo duduk bertiga di belakang sambil pegang satu koper itu yaa," ucap Asiyah seketika.


"Duhh nggak apa-apa Mbak? Maafin Saya yaa Mbak, harusnya Saya pesan mobil besar saja tadi," Caca merasa sangat tidak enak.


"Yaa nggak apa-apa lah, kan Kamu yang kesempitan di belakang, Kamu juga yang kerepotan megangin barang, pppffttt.." Asiyah menahan tawanya.


Cita dan Pak Nomo melepas tawanya.


"Iya ya, kenapa ya? Khilaf Aku Cit," jawab Caca.


"Ya sudah ayo kita pulang," ajak Asiyah.


Kini mereka berada di dalam taxi itu. Asiyah duduk di depan, di sebelah sopir. Caca, Cita dan Pak Nomo duduk bertiga di belakang, dempet-dempetan.


Caca duduk paling pinggir di belakang Asiyah. Sambil menggendong kopernya sendiri, " Duuhh berat bangett ini, nggak muat banget yaa ditarok di bawah," Caca ngedumel.


Cita tampak risih tersenggol-senggol oleh koper bawaan Caca yang dipangkunya.


"Lagian Kamu sih, sudah tahu kita bertiga saja nggak muat kalo cuma buat duduk doang, nah ini ditambah sama barang lagi," Cita ngomel juga akhirnya.


Pak Nomo malah tertidur di sudut bangku.


"Iya, iya, maaf," Caca merasa sangat bersalah.

__ADS_1


Mereka semua merasa sangat lelah. Wajar saja jika Caca pun salah memesan kendaraan untuk mereka pulang.


Dua puluh menit perjalanan.


Mereka sampai di rumah mewah Asiyah.


"Assalamu'alaykum Umiiii," panggil Asiyah, melangkah masuk ke dalam rumahnya.


Diikuti dua asisten dan sopirnya tadi.


"Kakakkkkkkk.. Kakakkkkkkk.." teriak Aisyah dan Ali yang berlarian dari ruang tengah rumah mereka, seketika melihat Asiyah datang.


"Yyeee.. yyeeee.. Kakak pulang," Aisyah dan Ali mengucapkan yel yel kegembiraannya seraya berlari.


Asiyah merendahkan tubuhnya, sejajar dengan dua adik kembarnya. Mereka saling berpelukan.


"Lama banget Kakak pulang, Aisyah rindu," Aisyah meneteskan air matanya memeluk Asiyah.


"Iyaa Ali juga rinduu," tak kalah sedih, Ali juga meneteskan air matanya memeluk Kakak cantiknya itu.


Asiyah tak kuasa menahan tangis melihat adik kembarnya yang manja itu.


"Iya, Kakak ada urusan penting Sayang, maafin Kakak yaa," ucap Asiyah menenangkan mereka, menatap wajah adiknya satu per satu.


"Oo yaa, Umi mana Sayang, dari tadi nggak kelihatan," tanya Asiyah.


"Nak, Umi habis BAB tadi," Umi muncul dari dalam kamarnya.


Asiyah segera berdiri. Memeluk Umi, meneteskan air matanya lagi.


Umi juga tak kuasa menahan air mata kerinduan itu.


"Umi," Asiyah, Caca dan Cita menyalami tangan Umi bergantian. Begitu pula Pak Nomo, memberikan isyarat sungkan pada Umi, karena memang Umi tak mau bersentuhan dengan lelaki yang bukan mahramnya.


"Ayo, ayoo, istirahat dulu, yang mau makan langsung saja ke dapur yaa, Umi masakin makanan kesukaan kalian," Umi sudah tahu betul masakan kesukaan Caca, Cita dan Pak Nomo, karena sejak awal bekerja dengan Asiyah, mereka memang tinggal serumah dengan Asiyah di rumah ini.


"Iya Umi, Kami mau istirahat dulu sebentar," ucap Cita.


"Umi Asiyah juga mau tiduran dulu yaa, capek banget rasanya," sambung Asiyah.

__ADS_1


"Iya, iya, nggak apa-apa, istirahat saja dulu," ucap Umi.


"Marii Umi," Pak Nomo pun berlalu mencari tempat ternyamannya, kamar.


__ADS_2