
Tubuh Asiyah, Caca dan Cita masih bergoyang di bawah sinar matahari sore. Di atas ojek motor itu mereka masih menerka-nerka apa yang akan dilakukan Pak Sendi pada Asiyah pekan depan, saat pertemuan yang telah direncanakan, setelah sekian lama mereka saling menghilangkan jejak masing-masing. Mengeraskan tancapan pendirian atas prinsip diri masing-masing.
"Nanti berhenti di depan saja Pak," ucap Asiyah pada mamang ojek seraya menunjukkan ujung jarinya yang lentik itu.
"Di dekat pondok itu Mbak?" tanya mamang ojek.
"Iya Mang, pondok itu kosong kayaknya, kami mau mampir di sana saja," jawab Asiyah.
"Iya Mbak," ucap mamang ojek, seraya memutarkan stang motornya ke arah pondok.
Angin sore menghembuskan hijab mereka. Asiyah, Caca dan Cita turun dari motor.
"Alhamdulillah, akhirnya kita sampai untuk kali ke dua di sawah ini," ucap Caca.
"Yeayy foto-foto lagi," sambung Cita dengan gumam kecilnya yang sepertinya senang sekali kembali ke sini.
Asiyah membayar ongkos ojek motornya.
"Terima kasih yaa Mang, Oo yaa Mang, jangan lupa yaa seperti kemarin, jemput lagi jam 5 sore di sini yaa," ucap Asiyah pada Mamang ojek itu.
"Iya Mbak sama-sama, siap," jawab mamang itu seraya memasukkan uang dari Asiyah tadi ke saku kiri jaketnya.
Mamang ojek itu pun pergi.
Asiyah berdiri memandangi bentangan sawah.
Di sudut sawah ini para petani tampak sepi, karena memang petakan sawah di bagian ini baru saja selesai ditanami padi kemarin. Tapi ada untungnya juga, dengan begitu Asiyah bisa bebas berekspresi dalam pemotretan kali ini.
Hanya saja makanan ringan yang sudah dibeli di perjalanan tadi untuk para petani, belum bisa dibagikan saat ini, karena jarak mereka yang terlalu jauh dengan petani-petani itu, mungkin nanti saja saat mereka hendak pulang, sekalian saja saat melewati para petani yang berada di ujung sawah sana.
Asiyah beserta Caca dan Cita segera naik ke pondok kosong itu, meletakkan barang-barang bawaannya tadi. Sedikit berbenah, mengatur langkah.
"Assalamu'alaykum Mbak," sapa seorang pak petani dengan ramahnya melempar senyuman, melewati pinggir sawah menggunakan sepeda tuanya.
"Wa'alaykumussalam Pak," jawab Asiyah membalas dengan senyuman. Melambaikan tangannya.
"Hayy Pak," Caca dan Cita ikut melambaikan tangannya.
Pak Petani itu berlalu dengan sepedanya.
Tiba-tiba Asiyah teringat akan sesuatu. Makanan ringannya.
"Paakkk.. Paakkk.." Asiyah berteriak memanggil pak petani itu.
Sepertinya pak petani itu mengayuh sepedanya menuju para petani yang ada di ujung sawah sana. Asiyah hendak menitipkan makanan ringan yang dibawanya tadi untuk para petani di sana.
Pak petani itu seketika terhenti dari kayuhan sepedanya. Menengok ke belakang. Dilihatnya Asiyah memanggilnya, melambaikan tangan ke arah dirinya.
"Iyaa Mbak," jawabnya.
"Tunggu sebentar Pak, ini Saya titip makanan ini yaa untuk petani disana, ada sedikit makanan dan minuman ringan untuk mereka, ada sedikit rezeki sore ini," Asiyah bernafas dengan tersengal, berjalan agak cepat mengejar petani itu. Mengulurkan beberapa kantong yang berisi makanan dan minuman ringan.
"Waahh.. Mbak Asiyah, terima kasih banyak yaa, bisa gemukan para petani di sawah kalau dikasih makanan seperti ini setiap hari, heheee," pak petani itu menerimanya dengan senang hati, menggantungkan kantongan makanan itu di sepedanya.
__ADS_1
"Sama-sama pak, aahh bisa aja Bapak, sekali-sekali nggak apa-apa lah yaa," Asiyah tersenyum.
"Ya sudah kalau begitu Saya lanjut jalan lagi yaa Mbak, assalamu'alaykum.."
"Wa'alaykumussalam, hati-hati Pak."
Asiyah kembali naik ke pondok. Kemudian turun kembali, berjalan ke area tengah pematang sawah. Disusul oleh Caca dan Cita yang sudah siap dengan perlengkapan masing-masing.
"Ayok Ca ambil posisi kayak kemarin yaa," ucap Asiyah.
Caca dan Cita segera melakukan seperti apa yang diperintahkan oleh Asiyah kemarin sore. Sore ini hanya tinggal mengulangi saja, hanya berbeda sudut lokasi sawah saja.
Cekrekkk.. cekreekk.. Asiyah memotret Caca.
Cekrekkk.. cekrekkk.. kemudian Cita dan Caca, mereka bertiga saling memotret secara bergantian. Juga sesekali menggunakan kamera otomatis untuk memotret gambar mereka bertiga.
"Mbaakk tolongiinnn," suara Caca dari kejauhan memanggil Asiyah.
"Suara Caca kan tuh? Dimana?" tanya Asiyah, heran.
Asiyah dan Cita yang sedang melakukan pemotretan berdua dikagetkan dengan suara Caca yang sepertinya sedang minta tolong dari kejauhan.
"Duhhh Mbak, aaaa aaaa Caca kecebur di sana," tiba-tiba Caca muncul dengan tubuh yang dipenuhi lumpur sawah.
Sontak Asiyah dan Cita tertawa terbahak-bahak.
"Kamu habis ngapain Ca? Nangkapin kodok ya?" ledek Cita dengan tawanya.
Tak terasa waktu berlalu. Asiyah larut dalam asiknya pemotretan sore ini. Tampaknya Asiyah sudah melupakan kejadian kemarin sore.
Tekk.. kreteekkk.. kreteekkk.. dari kejauhan mamang ojek motor tampak mendekat dengan mengepulkan asap knalpot motornya.
"Alhamdulillah.." seketika Caca berucap syukur ketika melihat jemputan sudah datang.
"Ayokkk.. ayokkk kita pulang, mamang ojek sudah datang," ajak Asiyah pada kedua asistennya.
Mereka bertiga segera berkemas, mengambil barang di atas pondok. Kemudian menaiki ojek.
"Maaf yaa Mang, motornya jadi kotor dehh," ucap Caca memelas.
"Iya nggak apa-apa Mbak, nanti bisa Saya bersihkan," jawab mamang ojek seraya tersenyum.
"Makasih yaa Mang, nggak sengaja kecebur ke sawah soalnya tadi," ucap Caca lagi.
"Heheee.. dapat nggak belutnya?" canda mang ojek.
"Ahh Mamang bisa saja ngeledek nih," Caca menyeringai.
Tubuh mereka bergoyang lagi di atas ojek motor. Udara petang sudah mulai sejuk. Cuaca sudah meneduh. Beberapa menit berlalu. Mereka sampai di villa.
Caca segera mandi. Masuk ke villa dengan meninggalkan jejak lumpur di lantai villa.
"Maaf yaa Mas, lantainya jadi kotor nih," Caca meminta maaf pada mas-mas penjaga villa seketika melihat mereka mendapati Caca yang berselupung lumpur di tubuhnya.
__ADS_1
""Nggak apa-apa Mbak, nanti kami bersihkan, ini sudah menjadi tugas Kami."
Pelayanan keramahan mas-mas penjaga villa membuat hati Caca menjadi tenang.
Hari ini cukup melelahkan bagi Asiyah.
Esok hari rencananya mereka akan kembali ke kota.
"Cita, Caca mana? Masih mandi yaa?" tanya Asiyah saat menengok dua asistennya ke kamar sebelah.
"Iya Mbak, katanya gatal badannya Mbak, jadi lama mandinya," jawab Cita.
"Nanti bilangin yaa sama Caca juga yaa, besok kita pulang ke kota, siapin semuanya," perintah Asiyah.
"Iya Mbak, nanti saya sampaikan."
Asiyah kembali ke kamarnya.
Mereka beristirahat malam ini.
Subuh hari tiba. Asiyah membangunkan Caca dan Cita seperti biasa untuk sholat subuh di langgar. Tak lupa dengan Pak Nomo.
Di perjalanan menuju langgar mereka bertemu dengan Wedo.
"Assalamu'alaykum Mas," ucap Asiyah menghampiri Wedo yang berjalan mendahului mereka.
"Wa'alaykumussalam Mbak, ayok bareng," ucap Wedo.
"Oo ya Mas, hari ini in syaa Allah kami akan kembali ke kota, kami mohon maaf ya Mas, kalau selama ini ada tingkah dan ucapan kami yang kurang berkenan," Asiyah pamit.
"Maa syaa Allah, mau pulang hari ini Mbak, kenapa mendadak sekali? Nggak pamitan dulu sama Pak Dimas?" tanya Wedo.
"Nah itu tuh Pak Dimas, Paakkk.. paakkk.." Wedo berteriak memanggil Dimas yang kebetulan berada di dekat mereka.
Dimas terhenti dari langkahnya.
"Assalamu'alaykum, iya Wedo ada apa?" tanya Dimas.
"Ini Pak, Mbak Asiyah mau pamit pulang ke kota hari ini," ucap Wedo.
"Asiyah, benar mau pulang hari ini? Kenapa mendadak sekali?"
Asiyah hanya tersenyum, tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Seperti ada rasa kecewa hingga membuat lidahnya kaku. Tatapannya seakan ingin basah.
"Kapan ada waktu main ke desa ini lagi yaa. Warga desa sini sangat menyukaimu," ucap Dimas, melihat wajah Asiyah.
"Iya warga desa sangat menyukai Mbak Asiyah, termasuk Pak Dimas kan heheee," ledek Wedo.
"Ya sudah, Saya duluan yaa, mau adzan, assalamu'alaykum," Dimas menyegerakan langkah tubuhnya.
"Wa'alaykumussalam, mariii Pak," mereka menjawab secara bergantian.
"Maa syaa Allah Caca, benarkan dugaanku, yang adzan di langgar ini ternyata ganteng banget, sesuai banget dengan merdu suara adzannya," Cita tampak sangat senang.
__ADS_1
"Iya benar Kamu Cit, Pak Dimas ganteng banget," sambung Caca. Sumringah.