
Siang yang sangat menegangkan sekaligus melelahkan bagi Asiyah. Banyak hal yang harus dilewatinya, bahkan terlupakan.
Di sisi lain Asiyah berlomba dengan waktu demi dapat mengatur hidupnya dengan sangat baik, sesuai dengan rancangan naluri manusiawinya. Tetapi di sisi lain ada dzat yang bertindak sebagai pengambil keputusan akhir atas setiap rencana yang telah diatur oleh setiap hamba-Nya.
Niatnya tadi mau belanja di Mall, qadarullahnya ada kendala yang membuat rencana Asiyah tidak berjalan sesuai dengan niat awalnya. Padahal sesuatu yang ingin dibelinya ini terbilang penting. Asiyah hendak membeli beberapa pakaian dan perlengkapan lainnya untuk persiapan syuting film yang sedang dikerjakannya. Yang memang harus didapatkannya sesegera mungkin.
Memang, dalam hidup ini banyak hal yang tak terduga yang terjadi pada diri kita. Rencana yang telah sematang-matangnya diatur, ternyata malah tak sesuai dengan apa yang dibayangkan sebelumnya. Malah terkadang kejadian yang kita anggap sebagai musibah pada awalnya, justru hal itulah yang pada akhirnya menjadi keuntungan untuk diri kita.
Hingga pada puncaknya kita akan benar-benar sadar, bahwa sebaik-baik rencana adalah rencana sang Maha Pencipta. Bahwa seburuk-buruk rencana adalah rencana tanpa menyertakan Allah.
Dan Asiyah sangatlah menyadari akan hal ini.
Persis seperti yang dialaminya. Tak disangka pada akhirnya sopir pribadi yang selama ini Ia cari, kini tanpa sengaja telah Ia dapatkan. Nomo. Seiring dengan kejadian buruk yang menimpanya.
Setelah kejadian siang itu, yang menghancurkan dagangan rujak buah Bang Nomo. Seketika Asiyah membatalkan rencananya untuk berbelanja di Mall. Sekaligus melupakan semua tentang Caca.
Sesampainya di rumah.
"Assalamu'alaykum Umi," Asiyah tampak lesu dengan langkah pelannya masuk ke dalam rumah. Mencium tangan Umi yang berdiri di tengah rumah mereka. Lesu pembawaannya. Wajah Asiyah tampak sedikit pucat.
"Wa'alaykumussalam Nak, loh gimana tadi, dapat perlengkapan shootingnya? Mana belanjaannya Nak? Ini juga kenapa wajah Kamu pucat sekali?" tanya Umi.
Seperti menyadari ada hal yang tidak beres pada anak gadisnya. Sudah keluar rumah dalam waktu yang cukup lama, tetapi saat sampai di rumah Asiyah malah tidak membawa apa-apa. Tapi kenapa Asiyah tampak sangat pucat sekali? Kelelahan kah? Umi curiga.
"Nggak ada apa-apa Umi, Asiyah masuk ke kamar dulu yaa Mi?" ucap Asiyah. Melangkah menuju kamarnya. Masih dengan langkah lesunya.
"Benar Nak nggak ada apa-apa? Nanti kalau ada apa-apa, kalau Asiyah butuh apa-apa, jangan lupa bilang sama Umi yaa Nak?" ucap Umi. Sedikit berteriak, melihat ke arah Asiyah yang telah berlalu meninggalkannya ke dalam kamar.
"Iya Umi, Asiyah istirahat dulu yaa," jawab Asiyah. Terdengar pelan dari depan kamarnya menghadap ke arah Umi sejenak. Terburu-buru dalam rasa lelah dan langkah kaki lemahnya.
Dduuuppppp. Bunyi pintu kamar Asiyah tertutup. Asiyah masuk ke kamarnya.
Umi masih diam, menatap ke arah kamar anaknya itu. Kemudian berlalu, kembali melakukan aktivitasnya.
Di dalam kamar. Yang teringat di dalam pikirannya, hanyalah kejadian yang baru saja terjadi.
Seperti tak lepas dari bayangannya, sejak suara gemuruh jatuhnya motor abang rujak itu di aspal yang kering mengotori pikiran tenangnya. Berputar-putar bayangan serakan buah-buahan segar itu di kepala lunaknya, suara pecahan tabung kaca tempat buah-buahan segar itu, sedikit membut mata halunya terperanjat seketika mengingatnya, terpejam erat, menggenggam kelopak matanya. Sepertinya Asiyah mengalami trauma akan kesalahan yang telah Ia lakukan.
Terus saja, rasa bersalah itu muncul di pikirannya. Berputar. Bagai baling-baling kincir angin yang terbang berkeliling pada porosnya, tertiup angin, lembut namun menghasilkan udara yang menari. Seperti itu pula, bayangan yang muncul akan kejadian itu, menghasilkan rasa takut akan terulangnya kembali kesalahan yang sama dilakukan olehnya.
Rasa bersalah ini harus segera tuntas.
Asiyah segera mengecek ponselnya. Mencari kontak abang rujak tadi.
Ke atas. Ke bawah. Terus menyentuhkan jempol kurusnya pada ponsel pintarnya. Asiyah sedikit lupa nama abang rujak yang telah Ia rugikan tadi.
"Mmmmm.. ya Allah kok lupa yaa," ucap Asiyah pelan.
"Pono? Bukan."
"Tono? Bukan."
"Mono? Juga bukan."
"Ya Allah, siapa yaa? Astaghfirullah."
Sambil mondar mandir langkah kakinya, mencoba mengingat nama abang rujak tadi.
__ADS_1
"Noto? Dono? Nomo? Nomo? Iya, Nomo."
Ttuutt.. ttuuutt.. ttuuutt.. Asiyah segera menekan tombol telepon. Menunggu diangkat oleh Bang Nomo.
Beberapa menit. Telepon Asiyah belum juga terhubung.
Krrsseekk.. krreesekk.. Tersambung.
"Assalamu'alaykum Bang Nomo, maaf mengganggu yaa," ucap Asiyah.
"Wa'alaykumussalam Mbak, nggak Mbak, nggak apa-apa, maaf Mbak agak lama ngangkat teleponnya, soalnya Saya lagi di bengkel, benerin motor Saya yang rusak karena terhempas di aspal tadi, jadi gimana Mbak, ada apa?" tanya Nomo balik.
"Hhmmm begini Bang, meneruskan pembicaraan kita dipinggir jalan tadi, kira-kira, apa Abang bersedia menjadi supir pribadi Saya?" Asiyah memastikan lagi kesediaan Bang Nomo untuk bekerja dengannya.
"In syaa Allah Saya siap Mbak, justru Saya sangat senang sekali mendapatkan pekerjaan ini," jawab Bang Nomo.
"Alhamdulillah kalau begitu Bang, ini adalah jawaban yang Saya tunggu-tunggu."
"Nah, pekan depan, Saya mengadakan kumpul pertama kita di rumah Saya, tepatnya hari Rabu, pukul 20.00, pas waktu makan malam yaa Bang biar enak ngobrolnya, untuk membicarakan segala macam hal selama Abang bekerja dengan Saya nantinya."
"Nanti yang hadir dalam pertemuan itu yaitu, dua asisten pribadi Saya beserta satu supir pribadi Saya yaitu Bang Nomo, in syaa Allah yaa Bang, yang nantinya memang akan menemani Saya kemana pun Saya beraktivitas dua puluh empat jam full, apa Abang siap?" jelas Asiyah panjang lebar. Dengan penuh wibawa namun tetap santai.
"in syaa Allah Saya siap Mbak, demi istri dan anak Saya, apa pun akan Saya lakukan Mbak, yang penting halal," jawab Bang Nomo tegas.
"Hehee alhamdulillah, baiklah Bang, jangan lupa dibawa identitas Abang ya, KTP, KK, SIMnya juga dibawa yaa, sebagai kelengkapan saat bekerja nanti, biar semuanya bisa berjalan lebih aman ke depan," jelas Asiyah dengan rasa kecilnya.
"Siaapp Mbak, aamiin, aamiin ya robbal'alamin," jawab Bang Nomo.
"Okee Bang, nanti Saya share lokasi rumah Saya yaa, nomor WA Bang Nomo ada? Nanti biar Saya kirim ke sana saja?" tanya Asiyah.
"Ohh iya Bang, nanti Saya kirim lokasi rumah Saya yaa."
"Baiklah kalau begitu Bang, sampai bertemu rabu depan yaa, terima kasih banyak sebelumnya Bang Nomo, assalamu'alaykum," ucap Asiyah mengakhiri teleponnya.
"In syaa Allah Mbak, sama-sama, wa'alaykumussalam," jawab Bang Nomo.
Asiyah segera mengirimkan lokasi rumahnya pada Bang Nomo, seketika menutup teleponnya.
Alhamdulillah, Asiyah tinggal menunggu pertemuan saja dengan Bang Nomo.
Entahlah, Asiyah seketika tertarik dengan kepribadian Bang Nomo ketika pertama kali bertemu tadi. Kejujurannya dalam mengakui kesalahannya pada Asiyah sudah cukup bagi Asiyah untuk menjadikannya sebagai seorang yang Ia percaya.
Cita. Yaa.. Cita. Asiyah teringat pada asisten pribadinya.
Kini Asiyah mengirimkan pesan pada Cita via WA, mengenai pertemuan yang akan diadakannya Rabu depan di rumahnya.
"Siaapp Kak, in syaa Allah Cita datang tepat waktu," balas Cita melalui WAnya.
Alhamdulillah. Tinggal satu orang lagi yang belum dihubunginya sama sekali, pikir Asiyah.
Caca. Bahkan diterimanya Caca sebagai asisten pribadinya belum diberitahukannya sama sekali oleh Asiyah.
Segera dihubunginya. Asiyah tak mau melupakan hal penting seperti ini lagi. Akibat menunda-bunda sebuah pekerjaan hingga menjadi terbengkalai dan mengakibatkan keterburu-buruan dalam pekerjaan terjadi. Hingga terjadilah hal-hal yang tidak diinginkan sebagai akibat dari perbuatan desakan yang sangat tidak tepat.
Tttuuttt.. ttuuutt.. ttuuutt.. Telepon itu belum juga terhubung.
Kkrresek.. krreesekk.. kresekk.. Telepon itu terhubung.
__ADS_1
"Hallo, assalamu'alaykum, benar ini dengan Caca," tanya Asiyah ramah via telepon.
"Wa'alaykumussalam, benar, ini dengan siapa yaa?" tanya Caca balik.
"Alhamdulillah Caca, berarti Saya tidak salah yaa, hehee," ucap Asiyah dengan candaannya.
"Saya Asiyah, Caca masih ingat dengan seleksi penerimaan asisten pribadi Saya tempo hari?" sambungnya.
"Kak Asiyah, aaaaaa, Kak Asiyah, ini benar Kak Asiyah? aaaaaaa," Caca seketika terkejut. Antusias. Berteriak. Melupakan pertanyaan Asiyah barusan.
"Hallo Caca?" panggil Asiyah lagi.
Caca masih saja berteriak.
"Caca? Hallo?"
"Eehh iya Kak, iya, maaf Kak, maaf, Caca terlalu senang Kak," ucap Caca segera.
"Langsung saja yaa Caca, Kakak cuma mau memberitahukan, bahwa Caca diterima sebagai salah satu asisten pribadi Kakak, selamat yaa Caca," jelas Asiyah, singkat.
"Ya Allah, ya Allah, benar nih Kak? Caca diterima jadi asisten pribadi Kak Asiyah?" tanya Caca lagi.
"Iya Caca," jawab Asiyah, lembut, dengan tenangnya menjelaskan pada Caca.
"Oo ya Caca, sebelumnya Saya mau memberitahukan tentang salah satu peraturan ketika bekerja sebagai asisten pribadi Saya, dan memang sebelumnya juga telah diberitahukan yaa bahwa siapa pun nanti yang diterima sebagai asisten pribadi Saya, berarti juga harus siap mengikuti segala macam peraturan yang ada," jelas Asiyah.
"Iya Kak, Caca masih ingat, Caca siap mengikuti aturannya Kak," jawab Caca, tegas.
"Alhamdulillah yaa Ca, jadi aturan pertamanya, Caca harus menutup aurat Caca selama bekerja, selama Caca berada di ruang lingkup pekerjaan, maupun selama Caca berada di seluruh area yang ada kaitannya dengan Saya, mengerti yaa Ca?" tanya Asiyah.
"Iya Kak, Caca mengerti," jawab Caca.
"Jadi gimana? Caca bersedia untuk mematuhi aturan ini?" tanya Asiyah lagi.
"Caca siapp Kak, tanpa syarat, Caca sanggup mematuhi seluruh aturan," jawab Caca lagi, dengan tegasnya.
"Nah, in syaa Allah rabu depan pukul 20.00, Saya mengadakan pertemuan di rumah Saya, jadi yang hadir adalah dua orang asisten pribadi Saya dan juga satu orang supir Saya, gimana Caca bisa?" tanya Asiyah, lembut. Dengan santainya.
"Bisa Kak, bisa," jawab Caca, tegas.
"Baiklah, nanti Saya kirimkan lokasi rumah Saya via WA yaa Ca, apa Caca ada nomor WA?" tanya Asiyah lagi.
"Ada Kak, ini nomor WA Caca juga," jawab Caca, cepat.
"Baiklah kalau begitu Saya tunggu untuk Rabu pekan depan yaa Ca, mmmmm.. jangan lupa hijabnya dipakai yaa Ca, hehee," pinta Asiyah dengan candanya, sedikit tertawa menggoda Caca yang notabene adalah seorang perempuan tanpa kerudung menutupi rambut yang bercat merah menyala di kepalanya.
"Iya Kak, Caca akan datang dengan memakai hijab, hehee," Caca menyeringai, menyadari akan auratnya yang terbuka.
"Oke Caca, Saya tutup dulu teleponnya yaa, sampai ketemu pekan depan, jangan lupa jaga kesehatan yaa, assalamu'alaykum," ucap Asiyah. Lembut dengan wibawanya.
"Iya Kak, Caca akan persiapkan diri dengan sebaik mungkin untuk pertemuan pertama kita besok setelah Caca diterima sebagai asisten pribadi Kakak, wa'alaykumussalam," jelas Caca, dengan penuh semangat.
Alhamdulillah, akhirnya selesai juga semuanya dihubungi. Tinggal bagaimana mempersiapkan pertemuan pekan depan saja. Mempersiapkan makan malamnya dan juga hal-hal apa saja yang harus disampaikan untuk kali pertamanya.
Umi. Yaa soal makan malam, Asiyah bisa mengaturnya bersama Umi. Sekaligus nanti memberitahukan pada Umi tentang supir pribadi barunya, yang baru saja Ia dapatkan. Dalam hal ini, Asiyah tidak melibatkan Umi dalam pengambilan keputusan saat memilih Bang Nomo sebagai supir pribadinya. Tetapi Asiyah yakin, Umi akan sependapat dengannya tentang Bang Nomo.
Nanti malam sajalah membicarakan semua ini dengan Umi. Siang ini Asiyah mau beristirahat dulu. Lelah sekali rasanya.
__ADS_1