
"Saya terima nikah dan kawinnya Asiyah.......... tunai," gema ikrar akad pernikahan itu terdengar lantang di telinga Asiyah.
Entah mengapa suara itu terdengar sangat berbeda dengan pernikahannya yang sebelumnya.
Sungguh ketulusan niat yang berlandaskan agama ini terasa penuh di dalam lubuk hatinya. Lillahi ta 'ala. Ibadah yang benar-benar dijalankan dengan penuh kepasrahan akan ketetapan Allah.
Tak hanya warga setempat, acara ini juga disaksikan oleh para pengurus pesantren Abu Bakar Ash-Siddiq. Para santri yang diundang sebagai perwakilan undangan serta para alumni pesantren juga turut hadir.
Di saksikan oleh ratusan orang-orang sholeh dan sholeha menjadi anugerah terindah yang Asiyah rasakan. Maa syaa Allah.
Air mata murni ketulusan Asiyah tak terasa telah menetes membasahi pipi polosnya tanpa polesan make up. Betapa bahagianya Asiyah saat ini.
Adam dan Hawa ikut menyaksikan bagaimana ibunya telah mendapatkan sosok lelaki yang tepat untuk dijadikan ayah mereka.
Dengan balutan pakaian gamis syar'i serba putih yang menjuntai di tubuhnya. Asiyah terlihat sangat sederhana dengan wajah anggunnya. Wajah yang memancarkan cahaya kilau yang berasal dari dalam hatinya. Maa syaa Allah calon ratu bidadari surga.
Keluarga ke dua belah pihak, serta para tamu undangan yang hadir, mereka semua pun kompak mengenakan pakaian syar'i bernuansa serba putih.
Hadir juga dalam acara khidmat ini perwakilan dari media Televisi yang diizinkan untuk meliput acara sakral ini.
Kembali viral nama Asiyah. Berita ini tentu menghebohkan kembali jagat Maya.
Asiyah yang baru saja ditinggal mati oleh Pak Sendi, kini telah menikah lagi. Dengan seorang Ustadz Muda yang begitu tampan parasnya. Juga sekaligus seorang pengusaha yang sukses dibidangnya.
Tak menjadi buah pikiran bagi Asiyah. Berita tentang dirinya sudah biasa muncul di media TV. Yaa ini lah konsekuensi yang mau tidak mau harus Ia terima sebagai pekerja dunia hiburan, public figure.
Zulfikar. Nama itu tertulis pada CV ta'aruf yang di serahkan oleh Ustadz Hamdal waktu itu pada Asiyah dan Umi. Asiyah melihat foto lelaki itu. Kemudian membaca riwayat pendidikan serta sedikit cerita tentang latar belakang keluarganya.
Yaa, tidak salah lagi. Zulfikar yang dimaksud oleh Ustadz Hamdal saat itu adalah salah seorang lelaki yang mengajak Asiyah, Caca, Cita, dan Pak Nomo di masa lalu untuk berkeliling pondok pesantren Abu Bakar Ash-Siddiq.
Lelaki muda yang dikatakannya sebagai seorang pengurus pesantren. Lelaki muda yang sebenarnya hanyalah anak angkat kesayangan Ustadz Hamdal yang dibawanya ke mana pun Ia pergi. Seorang anak yatim yang banyak membantu Ustadz Hamdal dalam kesehariannya.
__ADS_1
Begitu kalutnya Ustadz Hamdal kala itu. Melepas kepergian Zulfikar yang hendak menyelesaikan pendidikannya hingga ke Kairo. Padahal waktu itu, Ustadz Hamdal juga hendak menjodohkannya dengan Asiyah, sebelum akhirnya Asiyah menikah dengan Pak Sendi.
Tapi Allah berkata lain. Asiyah dan Zulfikar belum saatnya untuk dipertemukan hingga menjadi sepasang teman hidup.
Waktu berlalu. Ustadz Hamdal merasa sangat sepi menjalani hari-harinya tanpa Zukfikar. Dan kesedihan yang dirasakan oleh Ustadz Hamdal bertambah parah. Ujian kesedihan di hatinya seakan tak berhenti.
Kala itu ditengah menempuh pendidikannya. Ustadz Hamdal mendapatkan berita buruk dari jauh, tentang keadaan Zulfikar.
Bahwa Zulfikar mengalami kecelakaan. Ia ditabrak oleh sebuah mobil yang melintas di jalan raya, saat Zulfikar menyeberang jalan. Pelakunya adalah seorang pemabuk yang mengendarai kendaraannya ugal-ugalan di siang hari.
Hingga peristiwa ini mengakibatkan banyaknya cedera pada organ dalam tubuh Zulfikar.
Qadarullah. Takdir Allah mulai bermain lagi dengan hebatnya. Zulfikar diberikan ujian dari Allah agar belajar bersabar seumur hidupnya. Karena kejadian kecelakaan itu, dokter telah memvonis Zulfikar tidak dapat memiliki keturunan dari organ reproduksinya yang mengalami cedera parah saat itu.
Hal inilah yang pada akhirnya yang membuat Ustadz Hamdal dan Ustadzah Hani berpikir bahwa Asiyah adalah jodoh yang tepat untuk Zulfikar.
Asiyah yang telah memiliki keturunan dari rahim sucinya akan sangat tepat jika disandingkan dengan Zulfikar yang tak bisa memberikan jalan keturunan pada perempuan manapun lagi.
Asiyah adalah perempuan sholeha berhati lembut. Ia adalah perempuan yang murah hati. Ustadz Hamdal dan Ustadzah Hani memiliki keyakinan yang kuat akan penerimaan Asiyah terhadap segala kekurangan fisik yang dimiliki oleh Zulfikar.
Kekurangan fisik yang Zulfikar miliki adalah takdir dari Allah agar Ia dapat bersatu dengan mudah bersama Asiyah. Sebaliknya, status janda dua anak yang disandang oleh Asiyah, juga sebagai jalan dekatnya jarak antara mereka berdua.
Allah telah memberikan ujian pada diri mereka masing-masing sebelum pada akhirnya dipertemukan.
Sama-sama berada dalam keadaan menyakitkan yang menguji kesabaran mereka.
Maa syaa Allah, bahkan keadaan mereka saat ini justru saling melengkapi. Zulfikar akan berdakwah dengan ditemani oleh Asiyah yang memilih mundur dari dunia hiburan demi bersama sang suami. Juga bersama anak kembar mereka.
Betapa berlipat ganda hikmah yang Allah berikan pada sepasang anak manusia pilihan Allah ini.
Zulfikar menikahi seorang janda sekaligus memelihara dua orang anak yatim. Mendidik mereka dengan landasan agama, menempatkan mereka berada dalam lingkungan orang-orang yang sholeh dan sholeha.
__ADS_1
Sementara Asiyah mendapatkan pahala yang berlipat dengan memilih mendampingi suaminya berdakwah menyebarkan syari'at agama Allah, dibandingkan jika Ia harus kembali bekerja di dunia hiburan. Juga bersabar atas kekurangan fisik yang dimiliki oleh suaminya.
Kehidupan berjalan seiring waktu.
Ustadz Zulfikar semakin meroket namanya dengan adanya nama besar Asiyah sebelumnya di jagat maya. Pundi-pundi rezeki mengalir dengan deras ke dalam rumah tangga mereka.
Maa syaa Allah, betapa baiknya suami Asiyah saat ini. Sungguh jauh dari sifat pelit dan kikir terhadap dirinya. Bahkan Adam dan Hawa sama sekali tak kekurangan satu apapun olehnya.
Keuangan rumah tangga mereka sebagian besar justru telah diserahkan sepenuhnya oleh Ustadz Zulfikar kepada Asiyah, sang istri tercintanya. Ia benar-benar telah menyerahkan kepercayaannya kepada Asiyah.
Ustadz Zulfikar juga begitu santun dan berlemah lembut membersamai Asiyah dan anak kembar mereka. Begitu beruntung Asiyah, maa syaa Allah, Ia telah bertemu dengan seorang raja yang benar-benar telah meratukan dirinya tanpa tapi.
Sungguh terbayarkan semua peristiwa menyakitkan yang dialami oleh Asiyah di masa lalu. Kini Ia mendapatkan keluarga yang utuh. Sepasang anak yang sehat dan cerdas. Juga seorang suami yang begitu baik akhlaknya kepada dirinya.
Sudah satu minggu Asiyah serta suami dan anak-anaknya berada di Jakarta. Menginap di rumah Umi. Asiyah begitu merindukan Umi dan kedua adiknya.
Umi semakin tua. Adik-adiknya bertumbuh dewasa. Mereka saling menjaga satu sama lain.
Yaa suatu saat Asiyah juga akan pindah ke Jakarta untuk tinggal dekat bersama Umi dan kedua adiknya. Bukan dalam waktu dekat. In syaa Allah, suatu saat. Asiyah ingin menemani Umi di hari tuanya bersama adik-adiknya, anak-anaknya, suaminya.
Sore ini mereka makan di luar bersama. Umi, Aisyah, Ali, Zulfikar, Asiyah, Adam dan juga Hawa.
Duduk di sebuah restoran pinggir jalan, dibalik dinding kaca bening itu, sepintas penglihatan Asiyah tertuju pada sosok seorang perempuan paruh baya yang melintasi jalanan bersama seorang gadis muda, mengendarai sepeda motor.
Sepertinya Asiyah mengenali wajah mereka. Hanya saja penampilan itu telah berubah. Sedikit lusuh. Tak mewah lagi.
Mama dan Laura? Begitu kira Asiyah. Apa yang terjadi dengan mereka? Bukankah mereka adalah manusia-manusia yang berlagak sombong? Bukankah seluruh harta Pak Sendi termasuk harta milikku telah jatuh semua ke dalam genggamannya waktu itu?
Ahh entah lah. Allah maha kuasa atas segala tindakan curang setiap hamba-Nya. Kini diriku telah bahagia dalam kehidupan yang baru.
Allah pasti akan memberikan balasan pada setiap perbuatan hamba-hamba-Nya. Entah itu perbuatan baik atau perbuatan buruk. Entah cepat ataukah lambat. Entah di dunia ini, atau diakhirat nanti. Balasan itu adalah sebuah kepastian.
__ADS_1
Hanya mereka yang beriman kepada Allah yang senantiasa menanti hikmah dari setiap ujian kehidupan yang sedang mereka lalui.
............................... T A M A T .................................