
Perdebatan antara Asiyah dan Pak Sendi waktu itu tidak membuahkan hasil sama sekali.
Awalnya memang Pak Sendi rutin mencoba menghubungi Asiyah, namun pada akhirnya Pak Sendi juga mengambil sikap yang sama dengan Asiyah, Ia menghilang tanpa kabar.
Melihat keadaan yang sama sekali tak menemui titik temu, Asiyah semakin kalut. Kontrak sudah ditanda tangani, tanggung jawabnya masih terpampang di kertas putih itu.
Ya sudahlah mungkin memang sebaiknya Asiyah benar-benar menghilang saja saat ini. Pergi ke suatu tempat yang bisa sedikit membuat dirinya tenang. Mungkin sebuah pedesaan, atau villa di sebuah tempat yang jauh dari keramaian, bisa juga sebuah tempat penginapan terpencil yang dikelilingi hutan.
Asistennya segera mengatur segala sesuatunya. Mempersiapkan segalanya dengan matang. Mungkin dalam waktu yang cukup lama kepergian ini akan dilakukan. Asiyah pergi menenangkan dirinya. Melakukan perjalanan yang entah sampai kapan akan diakhiri.
Setelah memilih beberapa tempat disebuah pedesaan, para asisten kembali merembukkan kembali keputusan mereka.Tempat mana yang paling sesuai untuk dijadikan persinggahan Asiyah dalam mengistirahatkan pikirannya yang teramat sangat berat dengan beban persoalan pengkhianatan.
Di sebuah desa. Perkampungan yang sejuk. Mereka telah memutuskannya. Desa Hijau.
Penerbangan pesawat telah mendaratkan mereka. Disambung menggunakan bus menuju ke pedesaan. Sesampainya di desa mereka sudah ditunggu oleh ojek motor yang akan mengantarkan mereka sampai ke villa.
Angin sejuk menghembuskan wajah-wajah mereka kala menaiki ojek motor itu. Wajah Asiyah memandang luas ke sekelilingnya. Dihirupnya angin pedesaan ini berkali-kali, maa syaa Allah kesejukannya serasa tembus sampai ke dalam kegelisahan hatinya, membersihkannya, menghembuskannya.
Dari persimpangan desa, membutuhkan waktu 20 menit untuk sampai ke villa. Cukup lama memang, karena letak villa berada di dekat sungai dan sawah di pedalaman. Sengaja memang dibangun cukup jauh, katanya supaya orang luar yang nginap di Desa Hijau ini bisa betah dengan suasana sekitar villa yang masih sangat asri, jauh dari polusi.
"Assalamu'alaykum Umi, Asiyah sudah sampai di Desa Hijau," ucap Asiyah saat mengabari Umi via telepon.
"Wa'alaykumussalam.. iya Nak, alhamdulillah.. gimana perjalanannya tadi?"
"Alhamdulillah Umi, semua berjalan lancar,"
"Umi, Asiyah mau beres-beres barang dulu yaa, habis ini Asiyah mau tidur dulu, capek banget Umi," sambung Asiyah. Mengakhiri teleponnya.
Sebelum perjalanan ini dilakukan, jauh-jauh hari Asiyah sudah berbicara dengan Umi mengenai permasalahannya ini. Mengenai apa yang sedang Dia hadapi. Alhamdulillah Umi mengerti dengan situasi ini.
__ADS_1
Satu bulan rencananya Asiyah akan menenangkan dirinya di Desa Hijau, atau sampai kondisi benar-benar kondusif, Asiyah pun tak dapat memastikannya. Yaa sampai mendapatkan kabar yang menyenangkan dari Pak Sendi, in syaa Allah. Asiyah yakin tidak ada permasalahan yang tidak ada jalan keluarnya. Cepat atau lambat Pak Sendi pasti akan mengabarinya kembali dengan solusi yang tak bertentangan dengan keyakinannya.
Umi merestui perjalanan ini. Umi hanya bisa mendo'akan dari kejauhan agar anak sulungnya ini selalu dalam lindungan Allah
Asiyah ditemani dua orang asisten dan sopirnya.
Sudah semalaman Asiyah berada di Desa Hijau ini.
Pagi ini sangat cerah. Terdengar kicauan burung dari balik jendela.
Angin sejuk menghembuskan wajah Asiyah kala Ia membuka jendela kamarnya.
Segar sekali rasanya. Sangat berbeda dengan udara di Kota yang penuh dengan polusi. Sesak dengan ramainya padat penduduk. Rumah-rumah dan pabrik-pabrik yang memproduksi banyaknya limbah.
Pantas saja Desa ini dinamakan Desa Hijau, di sepanjang perjalanan masuk desa kemarin hingga ke tempat penginapan, Asiyah disuguhi dengan pemandangan dedaunan dan pepohonan segar yang berwarna hijau. Wanginya rerumputan yang terbang hasil dari pemangkasan seorang petugas taman-taman hijau itu pun sangatlah segar. Rasanya Asiyah bakalan betah berlama-lama di Desa ini. Kecuali rasa rindunya pada Umi dan adik kembarnya yang pastinya membuat Asiyah ingin pulang.
Di penginapan ini, makan dan minum beserta segala keperluan Asiyah sudah disiapkan oleh petugas villa.
"Cekrekkk.. cekrekkk.." Asiyah memotret setiap sudut pemandangan yang disukainya, di setiap jalan yang dilewatinya.
"Assalamu'alaykum.. Asiyah yang di TV itu kan yaa?" tanya seorang lelaki yang ternyata mengenali Asiyah ketika berjalan berpapasan dengannya.
"Wa'alaykumussalam.. iya benar Mas," Asiyah tersenyum ramah. Berhenti dari segala aktivitasnya.
"Boleh minta foto barengnya mbak Asiyah?" pinta lelaki yang turun dari sepeda itu dengan sungkan.
"Boleh, silahkan," Asiyah berdiri lurus tersenyum menghadap kamera handphone milik lelaki itu.
"Cekrekkk.. cekrekkk.." lelaki itu memotret selfie bersama Asiyah menggunakan ponselnya.
__ADS_1
"Sekali lagi yaa mbak, maaf fotonya pada goyang, gemetaran tangan Saya," pinta lelaki itu lagi pada Asiyah. Menyeringai. Kentara sekali sikap groginya.
Asiyah menurut saja. Asiyah memasang badan lagi dan tersenyum.
"Terimakasih banyak yaa mbak," ucap lelaki itu.
"Ngomong-ngomong mbaknya lagi liburan di sini yaa? Atau mau shooting film?"
"Liburan aja Mas, kebetulan ada waktu kosong, sama asisten juga," jawab Asiyah sambil mengarahkan kameranya ke sudut pemandangan Desa Hijau ini.
"Oohh.. Mbaknya suka memotret yaa?"
"Gak juga Mas, ini kebetulan pemandangannya bagus, Saya suka, kalau kamera ini memang selalu saya bawa ke mana-mana Mas," ucap Asiyah tersenyum.
"Oohh.. Mbaknya pasti nginap di villa itu yaa?"
"Iya, kok Mas nya tahu ya?"
"Iya karena memang villa milik Pak Dimas itu paling bagus dan paling nyaman di Desa ini Mbak, nahh.. kalau rumah Saya tepat di belakang villa itu Mbak, mesti keliling jalannya."
"Ohh iya nama Saya, Wedo Mbak.. kalau Mbaknya butuh bantuan apa-apa, panggil saja Saya, in syaa Allah Saya siapp," jelas Wedo.
"Waahh.. maa syaa Allah Mas Wedo, terimakasih banyak, in syaa Allah Mas, pasti," sambut Asiyah atas ucapan Wedo.
Wedo segera pergi meninggalkan Asiyah setelah berbasa basi.
Sudah dua jam Asiyah berkeliling Desa. Keringatnya sudah membasahi wajahnya. Kamera pun sudah banyak menyimpan gambar-gambar pemandangan pagi ini. Langit yang biru. Burung yang berterbangan, dengan kicauannya yang sangat indah. Mereka terbang beramai-ramai dengan kompaknya. Serta wajah-wajah warga desa yang tampak berlalu lalang pergi ke ladang, dari kejauhan sungguh menambah pesona asri Desa Hijau ini.
Tidak jauh dari villa pun ada sungai. Jernih sekali airnya. Bebatuan besar yang memenuhi airnya. Bersih terawat. Masyarakat di Desa ini sangat menjaga kebersihan. Sebagai aset mereka juga katanya, untuk menarik wisatawan masuk ke Desa mereka.
__ADS_1
Ini baru hari ke dua Asiyah di Desa Hijau ini. Tetapi Asiyah sudah benar-benar dibuat takjub. Maa syaa Allah.
Kali ini perjalanan sudah cukup sampai di sini saja. Asiyah benar-benar lelah. Dilanjutkan besok saja lagi.