Asiyah Akhir Zaman

Asiyah Akhir Zaman
Breafing Pertama


__ADS_3

Rabu.


20.00.


Meja makan telah tertata rapi. Beragam menu masakan yang telah dihidangkan oleh Umi. Hari ini kerjaan Umi hanya masak saja di dapur. Meracik bumbu-bumbu masakan yang sudah menjadi keahliannya.


Hari ini Asiyah ada jadwal syuting siang hari. Jadi memang tidak bisa membantu Umi menyiapkan segala keperluan makan malam.


Caca dan Cita telah sampai. Disusul tiga calon asisten rumah tangga dari kampung sebelah. Mereka berkumpul di ruang tamu rumah Asiyah.


Umi dan Asiyah pun telah siap menyambut kedatangan mereka semua.


"Ayokk langsung saja kita makan malamnya, pasti sudah pada lapar yaa, sudah lengkap semua kan yaa?" ucap Umi. Memastikan seluruh anggota sudah lengkap


Aisyah dan Ali pun juga sudah kelaparan sepertinya. Mereka berdua telah siap duduk di meja makan sejak selesai mengerjakan sholat isya tadi.


Ali pun tampaknya juga sudah menghitung potongan ayam goreng kesukaannya di dalam piring keramik yang lebar itu.


"Satu, dua, tiga.." ucap Ali, seraya menunjuk-nunjukkan ujung jari telunjuknya ke arah piring ayam goreng asin buatan Umi yang menjadi kesukaannya itu.


"Ali! sudah dong, malu sama orang," seketika Aisyah memukul ujung jari Ali yang menunjuk-nunjuk itu. Asiyah marah pada Ali yang duduk di bangku sebelahnya, tingkahnya bikin malu saja.


Ali secepat mungkin menyembunyikan tangannya di bawah meja. Menyadari kesalahannya.


Sementara Asiyah, tampak mondar mandir di depan pintu rumah mereka. Kebingungan. Panik.


"Nak, sudah siap semua kan? Ayokk kita langsung ngumpul di meja makan saja, kasihan mereka ini sudah kelaparan nampaknya," ucap Umi. Menghampiri Asiyah yang terlihat aneh di luar sana.


"Hmmm.. Umi, ada satu orang lagi yang belum datang," ucap Asiyah. Pelan.


"Siapa Nak, sepertinya ini sudah rame sekali," tanya Umi, heran.


"Abang rujak itu Umi, Bang Nomo," jawab Asiyah lagi, sedikit tak enak dengan Umi, karena sebelumnya pun keputusan memilih Bang Nomo atas dasar pilihannya sendiri tanpa melibatkan Umi


"Ooh iya ya, Umi lupa, kita tunggu lima menit lagi yaa Nak, kalau memang tidak datang juga malam ini, kita cari saja penggantinya yang baru, kasihan yang lain datang sebelum jam delapan malam loh, sementara Bang Nomo itu kalau pun datang, berarti kedatangannya tidak tepat waktu, bagaimana mau bekerja sama kita, yaa kan? " jelas Umi, mulai ada rasa kecewa sepertinya.


"Hhmmm.. iya Umi," Asiyah tak dapat membantah lagi. Memang kenyataannya Bang Nomo belum sampai juga di rumahnya hingga saat ini.

__ADS_1


Umi kembali masuk ke dalam rumahnya, menemani para calon asisten pribadi yang lima orang itu di ruang tamu.


Lima menit berlalu lagi.


Umi kembali menghampiri Asiyah di teras rumah.


"Ayokk Nak, masuk, kita makan malam saja, sudah lewat lima menit ini," ucap Umi


"Iya Umi," Asiyah menurut saja, tanpa perlawanan. Melihat jam tangannya. Asiyah tampak kecewa. Padahal Ia sempat menaruh kepercayaan yang besar pada Bang Nomo sebelumnya.


Baru selangkah kaki Asiyah menginjakkan kakinya melewati pintu rumah.


"Assalamu'alaykum Mbak, hhhhhh.. hhhhhh.." teriak suara seorang lelaki dari pekarangan rumahnya. Tersengal-sengal nafasnya.


Sepertinya Asiyah mengenali suara itu.


Asiyah segera keluar dari rumahnya. Disusul Umi.


"Astaghfirullah, Bang Nomo, dari mana saja? Kami nungguin loh, kenapa sampai berkeringat begitu? Sampai basah bajunya, itu ngapain juga motornya didorong begitu Bang?" ucap Asiyah, tanpa jeda bicara. Sekaligus heran dengan apa yang terjadi dengan Bang Nomo.


"Maafin Saya datang terlambat Mbak, motor Saya mogok, sepertinya karena terhempas di jalan waktu itu, kebetulan jalanan sedang sepi, ponsel Saya sedikit rusak, jadi tidak bisa menghubungi siapa-siapa termasuk memberitahukan Mbak tadi, jadi Saya putuskan untuk berlari mendorong motor ini sampai ke sini," jelas Bang Nomo, masih tersengal nafasnya.


"Maa syaa Allah, ya sudah Bang, ayok kita langsung masuk saja, makan malam sudah disiapkan," ucap Asiyah.


"Maaf ya Bu, Saya datang terlambat," ucap Bang Nomo pada Umi seraya melangkahkan kaki lelahnya masuk ke dalam rumah Asiyah.


"Iya nggak apa-apa, ayokk Nak kita makan," jawab Umi yang bersikap ramah, seketika menganggap Bang Nomo seperti anaknya sendiri. Mempersilahkan Bang Nomo masuk ke dalam rumahnya. Begitu kasihan Umi melihat Bang Nomo yang tampak sangat bersungguh-sungguh dengan kucuran keringat yang membasahi pakaiannya.


Mereka semua berjalan ke meja makan. Lengkap sudah personil mereka malam ini.


"Maaf ya Mbak, Bu, kalau keringat Saya bau, Saya habis mendorong motor tadi, mogok di jalan motornya," jelas Bang Nomo, seketika mereka telah rapi memilih tempat duduk mereka masing-masing di meja makan.


"Nggak apa-apa Bang Nomo, kita di sini bakalan seperti keluarga ke depannya, biasa saja yaa, jangan sungkan-sungkan," ucap Asiyah, menenangkan.


"Ayokk dimakan, ini Umi masak sendiri semuanya, ayok Nak jangan sungkan," ucap Umi.


Mereka semua mulai sibuk menyantap masakan Umi di meja makan yang besar itu. Tak terkecuali Aisyah dan Ali.

__ADS_1


" Ohh iya, kita ngobrolnya sambil makan saja yaa, biar lebih santai," ucap Asiyah, seraya mengayunkan sendok garpunya.


"Semuanya membawa identitas masing-masing kan? seperti KTP, KK? Khusus untuk Bang Nomo bawa SIM juga kan? Kalau Caca dan Cita sudah lengkap yaa pada saat pendaftaran seleksi waktu itu," tanya Asiyah.


"Bawa Mbak," jawab Bang Nomo.


Disusul dengan tiga orang asisten rumah tangga itu, menjawab.


Tiga orang asisten rumah tangga itu datang dengan mengenakan hijab, termasuk Caca dan Cita. Mereka semua telah diberitahukan sebelumnya untuk mengenakan hijab selama bekerja dengan Asiyah maupun selama berada di lingkungan yang ada kaitannya dengan Asiyah.


"Alhamdulillah kalau begitu, berarti sudah siap bekerja semua nih ya hehee," ucap Asiyah dengan candanya.


"Nanti kalian saling berkenalan saja masing-masing yaa," ucap Asiyah.


"Di sini yang mau Saya sampaikan, yaitu kalian sebagai pekerja yang menginap di rumah Saya, sudah tahu kan sebelumnya yaa," sambung Asiyah lagi.


"Nah di sini kita bangun sistem kekeluargaan saja yaa, nggak usah kaku, tetapi tetap norma kesopanannya dijaga, yang perempuan tetap memakai hijabnya, sholatnya dijaga, dan juga kalian panggil Saya Mbak saja yaa, khusus untuk Bang Nomo, mulai sekarang Saya panggil Pak Nomo yaa, biar tetap ada rasa profesional kerjanya, karena kan Bang Nomo akan ikut kemana pun Saya bekerja nantinya," jelas Asiyah.


"Iya Mbak," jawab seluruh calon pekerja secara bergantian.


Umi menyimak.


Asiyah juga memperhatikan.


Sementara Ali asik dengan ayam gorengnya.


"Awal bulan nanti, kalian semua datang kembali ke sini untuk mulai bekerja dengan membawa pakaian dan perlengkapan pribadi kalian masing-masing, kamar untuk kalian juga sudah Saya sediakan," jelas Asiyah.


"Untuk Caca dan Cita, kamar kalian berada di atas sana, tepat bersebelahan dengan kamar Saya, kalian satu kamar berdua yaa, kasurnya ada dua di kamar itu, cukup luas kok, sambung Asiyah lagi.


"Untuk para asisten rumah tangga untuk sementara kalian juga satu kamar bertiga dengan kasur yang terpisah masing-masing yaa."


"Untuk Pak Nomo, sendirian dulu di kamarnya yaa," ucap Asiyah seraya tersenyum.


"Nanti kalau mau pulang ke rumah atau kalau ada keperluan, bilang saja sama Saya yaa atau izin sama Umi, nggak apa-apa, asal tetap sadar sama kewajibannya, karena di sini kan sifatnya kalian sebagai pekerja nginap, dan juga Saya mesti mencari solusi lain selama kalian nggak ada," sambung Asiyah lagi dengan penjelasannya.


Yaa malam ini adalah breafing pertama mereka dengan suasana yang santai, walau memang masih terasa kaku satu sama lain. Tapi lumayan lah untuk membicarakan banyak hal yang dikira penting untuk disampaikan di awal.

__ADS_1


Awal bulan mereka sudah mulai bekerja pada keluarga Asiyah.


Bismillahirrahmanirrahiim.


__ADS_2