Asiyah Akhir Zaman

Asiyah Akhir Zaman
CCTV


__ADS_3

Waktu terasa begitu cepat berlalu bagi Umi. Menanti anak perempuan sulungnya kembali dari jeruji besi.


Sementara Asiyah masih harus menelan kenyataan pahit berada di dalam sel tahanan. Merasakan lamanya waktu berjalan. Begitu sangat lama.


Karirnya pun padam, Asiyah diberhentikan dengan tidak hormat oleh pihak perusahaan tempat Ia bekerja tanpa adanya toleransi, karena dianggap telah mempermalukan perusahaan.


 


“Umi.. Asiyah difitnah.. Umi ingat peristiwa penjebakan Asiyah yang direncanakan Pak Tomi waktu itu? Asiyah juga akan dipenjarakannya jika tidak mau menikah dengannya, Umi ingatkan?” Asiyah menjelaskan pada Umi di ruang jenguk penjara. Tatapannya tajam. Getir bibirnya. Air matanya menetes. Pada akhirnya Asiyah merasakan juga rasanya hidup di dalam penjara, setelah sebelumnya Asiyah berhasil mengelak dari ancaman penjaranya Pak Tomi, pikirnya.


Umi hanya diam. Menunduk. Tak sanggup melihat wajah Asiyah.


“Percayalah pada Asiyah Umi, siapa lagi yang bisa menolong Asiyah kalau bukan Umi..” Asiyah meneteskan air matanya, lagi.


Umi masih saja diam. Hingga waktu besuk berakhir. Umi diam, dengan getaran keriput di sudut matanya. Umi tidak mau menatap Asiyah, Umi hanya sekedar membawakan makanan saja untuknya. Sungguh tak tega rasanya melihat putri sholehanya berada di tempat seperti ini.


Asiyah dan Umi hanya berpelukan saja, tanpa adanya pembicaraan mengenai jalan keluar untuk peristiwa ini.


 


Umi sangat menyayangi Asiyah. Di dalam lubuk hatinya yang paling dalam Umi sangat mempercayai Asiyah. Umi tahu betul, Asiyah tidak mungkin melakukan perbuatan tercela seperti itu. Asiyah adalah putri baiknya. Sejak kecil Asiyah selalu berkata jujur dan menjaga dirinya dari berbuat jahat pada orang lain.


Umi sempat berpikir, Asiyah ada benarnya juga, mungkin saja Pak Kani yang membuat semua ini terjadi, Pak Kani telah mengatur semuanya untuk membalas penolakan cintanya pada Asiyah. kasus ini harus diselidiki lagi. Umi tidak bisa tinggal diam. Gadisnya harus bebas. Umi telah mengajarkan akhlak terpuji padanya. Gadisnya tidak mungkin melakukan hal rendahan seperti ini.


 


Pak Subroto. Orang pertama yang terlintas di pikiran Umi. Seorang pengacara. Dia adalah orang yang tepat untuk membantu permasalahan ini. Umi segera menghubunginya.


"Hallo, assalamu'alaykum Pak Subroto."

__ADS_1


"Iya Bu, gimana? ada yang bisa Saya bantu?"


"Iya Pak, apa Bapak sudah mendengar kabar tentang Asiyah yang dijebloskan ke dalam penjara tempo hari?"


"Iya Bu, rencananya memang Saya mau segera mengurus perihal ini, kebetulan kemarin Saya masih sibuk, masih ada urusan yang harus Saya selesaikan."


"Jadi bagaimana Pak, kapan kita bisa segera bertemu?"


"In syaa Allah secepatnya yaa Bu, Ibu berdo'a saja di rumah, tenangkan diri Ibu yaa, Saya akan segera mengurus semuanya."


Tidak perlu memohon dan memelas padanya, tidak butuh waktu lama, Pak Subtroto langsung menyanggupi permintaan Umi untuk membantunya. Walaupun sebenarnya Umi belum memintanya. Lagi-lagi dengan biaya yang boleh kapan saja Umi membayarnya. Tidak apa-apa kata Pak Subroto, Dia ikhlas membantu.


 


Hari ini adalah hari pertama setelah kesepakatan bersama Umi kemarin.


Bersama teman-temannya, Pak Subroto bergerak cepat, melakukan pengumpulan barang bukti. Penyelidikan dimulai dari restoran tempat kejadian penuduhan terhadap Asiyah kemarin terjadi.


Beruntungnya Asiyah, restoran itu dikelilingi oleh CCTV. Tak terkecuali ditempat parkir kendaraannya. Semua bagai penyelamat yang disediakan oleh Allah memang untuk Asiyah.


Pemeriksaan dimulai dari sana secara mendetail.


Untunglah pihak restoran masih menyimpan dokumentasinya. Lega rasanya, bukti itu telah didapatkan dalam sekejap. Dengan sangat mudah. Pak Subroto dengan sigap mengurus semuanya. Walau pada awalnya agak sulit meminta dokumentasi CCTV di restoran ini. Karena mereka beranggapan hal ini adalah privasi.


Rekaman CCTV itu diselidiki dengan sangat matang dan teliti.


Tampak seorang pria yang memasukkan cincin milik pak sopir kedalam tas milik Asiyah siang itu, persis sebelum kejadian kehilangan cincin itu. Pria itu tidak lain adalah Pak Kani. Seperti peristiwa yang telah direncanakan sebelumnya, hal ini penuh perhitungan dilakukan olehnya, hingga tertutup sangat rapi segala perbuatannya.


Ternyata dugaan Asiyah dan Umi sebelumnya benar. Tidak salah lagi. Mungkin Pak Kani memang menaruh dendam yang mendalam pada Asiyah atas penolakan cintanya dahulu. Ini sungguh tidak profesional, Pak Kani telah mencampuradukkan urusan pribadinya dengan pekerjaan kantor.

__ADS_1


Benar-benar Asiyah tak menyangka, memang Pak Kani sendirilah yang nekat memasukkan cincin itu ke dalam tas Asiyah saat Asiyah meninggalkannya di meja restoran. Saat itu Asiyah sedang sibuk mencicipi makanan retoran yang disajikan ala-ala prasmanan, Asiyah begitu tergoda, Asiyah begitu penasaran kala itu dengan rasa masakannya, terlihat jelas semangat Asiyah di dalam CCTV itu. Sampai-sampai Dia lupa telah meninggalkan tasnya di meja makan, di tempat Ia duduk bersama Pak Kani tadi.


Memang Asiyah merasa aman-aman saja waktu itu. Tidak menaruh curiga sama sekali pada Pak Kani. Tak satu pun gelagat yang mencurigakan yang ditunjukkan oleh Pak Kani. Bahkan menurutnya, tidak mungkin Pak Kani akan melakukan fitnah keji seperti ini pada dirinya. Siapalah Asiyah? Hanya gadis biasa, pikirnya. Sangat rendahan perbuatan seperti ini.


 


Singkat cerita, semua proses berjalan dengan lancar.


Asiyah dibebaskan dan dinyatakan tidak bersalah.


Tetapi lagi-lagi permasalahan tidak berhenti sampai di sini.


Betapa herannya Asiyah, kenapa Pak Kani tidak dijebloskan ke dalam penjara yaa? Bukannya sudah jelas, Pak Kani telah melakukan kasus pencemaran nama baik terhadap Asiyah? Padahal laporan telah diajukan kepada yang berwajib.


Ahh.. sudahlah Asiyah tidak mengerti dengan persoalan hukum seperti ini. Yang terpenting sekarang Asiyah sudah bebas.


 


Lalu bagaimana dengan pekerjaan Asiyah? Begitu berita ini menyebar di media, pihak perusahaan kembali memanggilnya. Ternyata bukan untuk dipekerjakan kembali, karena posisi Asiyah kemarin sudah ada yang mengisi, tetapi untuk pemberian sejumlah uang pada Asiyah.


Kata Pak Kasrun, uang ini untuk Asiyah sebagai insentif tambahan karena selama ini Asiyah sudah bekerja dengan sangat baik dan juga pihak perusahaan mengaku menyesal dengan adanya kejadian ini. Nanti suatu saat in syaa Allah, jika ada posisi kosong lagi yang cocok untuk Asiyah, pihak perusahaan dengan senang hati menerima Asiyah kembali sebagai staf terbaiknya.


Mendengarkan pengakuan Pak Kasrun tentang hal itu membuat Asiyah merasa lega, Asiyah tampak bahagia. Tetapi bukan karena Asiyah merasa masih ada harapan untuk dirinya bekerja di kantor ini, tetapi lebih karena Asiyah tahu bahwa orang-orang di kantor ini menyayanginya dan masih mengharapkannya untuk kembali.


 


Sebenarnya Asiyah sangat takut. Trauma. Bayang-bayang tentang kejadian demi kejadian buruk yang menimpanya terus menghantuinya. Lagi-lagi permasalahannya seputaran mereka, bapak-bapak itu. Ini persoalan cinta, cinta mereka, aahh entahlah itu cinta atau ambisi? Kok malah memaksa.


Takut sekali rasanya untuk kembali bekerja di kantoran lagi, seakan-akan mereka ada di mana-mana. Apalagi setelah Asiyah tahu, Pak Kani tidak ditahan di penjara. Asiyah semakin cemas.

__ADS_1


 


__ADS_2