
Sejak terdengarnya berita siang itu tentang Dimas dan Mawar yang sedang melangkahkan hubungan mereka dengan serius ke jenjang pernikahan, Asiyah seperti kehilangan semangat hidup untuk tinggal di Desa Hijau ini lebih lama.
Sejak kemarin Asiyah tak keluar lagi dari villa. Padahal sebelumnya Asiyah begitu bersemangat untuk mengelilingi Desa Hijau ini, berpetualang mencari pengalaman baru, mengumpulkan foto-foto pada memori kameranya.
Sudah satu pekan berlalu.
Kabar dari Pak Sendi tak kunjung datang.
Asiyah yang awalnya datang ke Desa Hijau ini untuk menenangkan dirinya, juga mencoba berlari dari kenyataan pahit yang Ia terima akibat ulah Pak Sendi pada dirinya, pada akhirnya memang mendapatkan ketenangan itu. Yaa antara ketenangan atau kah sebuah perasaan baru yang tumbuh di dalam hatinya.
Seperti terjaga dari tidurnya. Asiyah tiba-tiba tersadar. Hari ini petualangan akan dimulainya lagi. Asiyah kembali ingin meluruskan niatnya. Bukan Dimas tujuannya datang ke Desa Hijau ini, bukan.
Umi tak pernah presensi menelepon Asiyah setiap hari. Ketika malam saat Umi hendak tidur, Ia selalu teringat akan anak perempuan sulungnya yang sholeha itu. Bagaimana keadaan Asiyah hari ini? Apakah Asiyah sudah makan? Apakah Asiyah sehat? Apakah keadaannya baik-baik saja?
Kriinggg.. kriinggg..kriinnggg.. ponsel Asiyah berbunyi. Ia segera mengangkat teleponnya.
"Assalamu'alaykum, Nak.." Umi yang menelepon Asiyah.
"Wa'alaykumussalam Umi, iya Umi, nih Asiyah baru mau tidur Mi," jawab Asiyah
"Iya Nak, gimana hari ini Nak? semua aman di sana?" tanya Umi.
"Alhamdulillah Umi, hari ini aman semua, Asiyah masih penasaran aja sama Desa Hijau ini, besok rencananya Asiyah mau main ke sawah Mi."
"Alhamdulillah Nak, ya sudah yang penting hati-hati saja yaa Nak, pergilah selagi tempat itu aman dan menyenangkan untuk Kamu Nak."
"Iya Umi, in syaa Allah ada Allah yang menjaga Asiyah."
"Umi tidur lagi yaa, sudah jam berapa ini Mi," sambung Asiyah, meminta Umi untuk segera beristirahat.
"Iya Nak, Umi tidur dulu yaa, assalamu'alaykum," tutup Umi.
"Wa'alaykumussalam Umi."
Asiyah tidur dengan lelapnya malam ini. Hatinya sudah mulai terbiasa dengan patahan yang tercipta di dalam dadanya.
Pagi ini langit tampak cerah, namun hati Asiyah masih sedikit mendung.
__ADS_1
Kemarin Mas Wedo bilang, di dekat perkebunan sayur ada persawahan yang luas. Pemandangannya bagus sekali untuk dijadikan objek pemotretan.
Pas sekali, disaat Asiyah sedang bingung berada di Desa Hijau ini, Mas Wedo datang memberikan ide-ide cemerlangnya.
Subuh ini Asiyah kembali sholat di langgar. Ditemani Caca dan Cita serta Pak Nomo.
Sungguh harapan untuk bertemu dengan Dimas tak diharapkannya lagi.
Setelah selesai sholat subuh. Asiyah tak menoleh lagi ke arah manapun selain arah jalan pulang ke villa. Asiyah pun berharap tak akan melihat Dimas walaupun hanya bayangannya.
Namun keinginan akal kadang memang tak sejalan dengan hati.
Dan takdir pun kadang berjalan tak sesuai dengan keinginan.
Dimas berjalan berpapasan melewati tubuh Asiyah.
Asiyah sungguh tak sengaja melihat wajah Dimas. Mengapa hati ini seakan patah ketika melihatnya, padahal Asiyah sendiri pun tak tahu kapan berkembangnya bunga di dalam dadanya, atau mungkin ini sebenarnya hanyalah rasa kagum terhadap Dimas karena lantunan adzannya?
Dimas menyapa, "Assalamu'alaykum Asiyah."
Mereka berlalu begitu saja seperti hembusan angin.
Asiyah kembali ke villa.
Sejak subuh hingga matahari terbit, Asiyah hanya menatap kosong pada sekelilingnya. Asiyah duduk dikursi depan villa, tapi pemandangan yang seharusnya menyenangkan mata dan menyejukkan hatinya justru tak memberi makna apa-apa.
Seketika Asiyah kembali tersadar dari lamunannya disaat Mas Wedo menyapanya dari kejauhan. Memang terlalu penuh isi di pikiran Asiyah hingga tak tau lagi rasanya hal yang mana yang harus dipikirkannya, hal yang mana yang harus dianalisa olehnya.
"Assalamu'alaykum Mbak.." sapa Mas Wedo.
"Jadi ke sawah Mbak? Jam segini sawah masih ramai loh Mbak," tanya Mas Wedo.
"Eehh Mas Wedo, iya in syaa Allah, ini sebentar lagi Saya mau bersiap-siap ke sawah," jawab Asiyah, terjaga dari tidurnya memori pikiran sesaat ini.
Astaghfirullah.. Asiyah mengucap dalam hati. Ada apa dengan diriku ini? Ma fi qalbi ghairullah..
"Ya sudah ya Mbak, ini Saya juga mau ke sawah, sampai jumpa disana nanti yaa, assalamu'alaykum," ucap Mas Wedo seraya melambaikan tangannya dari kejauhan, kali ini Mas Wedo menggunakan sepeda tua miliknya.
__ADS_1
"Iya Mas Wedo in syaa Allah nanti Saya nyusul ya," jawab Asiyah sedikit berteriak, seraya melambaikan tangannya.
Asiyah kembali masuk ke dalam Villa, kali ini Asiyah akan pergi ke sawah bersama Caca dan Cita.
"Caca, Cita, pagi ini kalian temani Saya ke sawah yaa," pinta Asiyah pada dua asistennya itu saat mereka membantu Asiyah bersiap pagi ini, menyiapkan pakaian untuk Asiyah yang biasa dipakainya sehari-hari.
"Iya Mbak, apa yang perlu kami bawa nanti Mbak," tanya Caca.
"Gak usah bawa apa-apa, kita nyantai-nyantai saja nanti, tapi nanti pakai pakaian yang cocok di persawahan ya, nanti Saya mau ngajak kalian berdua berfoto di sana," jawab Asiyah.
"Ohh iya siap Mbak," jawab Caca.
"Jam berapa Mbak, kita berangkatnya?" tanya Cita.
"Satu jam lagi kita bergerak ke sana, yang mau bawa makanan bawa aja, nanti kita mampir dulu di toko depan," jelas Asiyah.
"Oke siap Mbak," jawab Cita.
Satu jam sudah berlalu.
Asiyah beserta kedua asistennya berada di perjalanan menuju sawah. Mereka menggunakan ojek motor. Tak lupa mampir dulu di toko persimpangan desa. Caca dan Cita mau membeli persiapan makanan ringan katanya di sana.
Lima kantong besar persiapan makanan ringan dan minuman mereka, menjelang kembali ke villa untuk makan siang nanti.
Tak lama berselang. Mereka sampai di persawahan setelah sebelumnya dibawa keliling oleh ojek motor ini.
"Assalamu'alaykum Mas Wedo, assalamu'alaykum ibu-ibu, bapak-bapak," sapa Asiyah, sedikit berteriak, ramah, melambaikan kedua tangannya. Asiyah juga membawakan makanan ringan untuk dibagi-bagikan kepada warga sawah hari ini.
Namun lagi-lagi, suasana hati Asiyah tiba-tiba berubah.
Rencananya Asiyah ingin melakukan pemotretan bersama Caca dan Cita. Pemotretan santai saja. Tetapi kali ini Asiyah benar-benar menyaksikannya sendiri. Hingga membuat Asiyah tak bersemangat melakukannya lagi walau pada akhirnya harus dilakukan juga. Karena memang sudah disepakati oleh Asiyah kepada Caca dan Cita sebelumnya. Janji harus ditepati bukan? Asiyah akan tetap melakukannya.
Dimas dan Mawar. Mereka berdua juga sedang berjalan bersama di sana, santai, sepertinya mereka berdua sedang membicarakan sesuatu yang penting di sana. Karena tampak dari raut wajah Mawar maupun Dimas, mereka sedang mengalami situasi yang serius.
Tentu mereka sedang membicarakan hal-hal yang berkaitan dengan hubungan mereka, yang sebentar lagi akan dilabuhi ke pelaminan, pikir Asiyah begitu.
Asiyah berusaha mengelabuhi perasaannya, seakan tak terjadi apa-apa. Padahal jelas sekali apa yang sedang Ia lihat saat ini begitu membuat hatinya seakan berubah sakit, yang entah apa penyebabnya setiap kali nama Dimas dikaitkan dengan Mawar.
__ADS_1