
Hari-hari berlalu. Bentakan di malam itu masih sangat berbekas di hati Asiyah.
Sikap Pak Sendi semakin hari kian berubah pada Asiyah.
"Assalamu'alaykum, iya Ma.. hhhmmm iya berapa Ma? Sepuluh juta? Untuk biaya pergi jalan sama teman arisan Mama? Iya nanti Aku transferin yaa Ma, uang bulanannya nanti yaa Ma, sabar yaa Ma, Aku lagi banyak pengeluaran bulan ini soalnya, I Love You Maa.." Pak Sendi menutup teleponnya.
Asiyah mendengar pembicaraan itu. Asiyah tak sengaja melihat suaminya sedang berbicara dengan ibu mertuanya. Dari jarak yang cukup jauh di tengah rumah mereka.
Bulan ini, gaji para asisten rumah tangga agak terlambat. Entah kenapa Pak Sendi belum juga memberikan uang bulanan pada Asiyah.
Tak enak hati rasanya pada mereka yang sudah bekerja keras membantu Asiyah dan Pak Sendi di rumah ini. Asiyah diperlakukan layaknya ratu oleh mereka.
Rasa bersalah muncul di benak Asiyah. Lalu bertanya-tanya pada hatinya. Apa yang terjadi dengan suamiku?
Kini perasaan itu telah berbeda. Hanya rasa takut yang menyelimutinya setiap kali ingin berbicara perihal materi pada suaminya.
Asiyah takut dibentak lagi. Asiyah trauma akan lukanya yang kemarin belum sembuh hingga kini.
Tiada pelipur lara. Buah hati yang ditunggu-tunggu untuk segera mencairkan jarak di antara kami yang terlanjur membeku. Kapan waktu itu akan datang? Asiyah bertanya-tanya dalam hati.
Dilihatnya sang suami sedang melucuti pakaiannya di kamar mereka. Pulang kerja hari ini Pak Sendi tampak berbeda. Sepertinya sangat lelah. Kusut sekali lipatan wajahnya.
Asiyah menghampirinya.
"Yangg, Aku kasihan melihat para karyawan kita, sudah lewat berapa hari dari tanggal gajian mereka, juga persediaan kebutuhan pokok kita di rumah ini sudah mulai habis, bisakahhh..?" ucapan itu terdengar pelan dan lembut. Lalu terputus.
Krriinngg.. krriiinnggg.. krriinngg.. "Ya Ma, assalamu'alaykum.. sudah Ma, uang bulanan Mama baru saja Aku transfer seratus lima puluh juta yaa Ma...........(bla bla bla)" Pak sendi menutup teleponnya.
__ADS_1
Sesegera itu Pak Sendi merespon telepon dari mamanya. Lalu menutup teleponnya lagi. Ternyata Mama sudah tak sabar lagi menunggu jatah bulanan dari anak lelakinya itu.
Alhamdulillah, suamiku bisa mengirimi Mama uang bulanan, berarti kebutuhan rumah ini juga akan segera dipenuhinya. Begitu pikir Asiyah. Senyuman lega itu terlukis dari wajahnya. Tak gugup lagi rasa takutnya.
"Yaanngg..?" Asiyah mencoba menyambungkan ucapannya tadi pada suaminya. Lembut.
"Uang bulananku....?" Lembut terdengar dari mulut Asiyah.
"Uang bulanan apa!!?? Uangku telah habis Asiyah!! Aku ingin tidur, lelah sekali rasa tubuhku!!" Pak Sendi lalu merebahkan tubuhnya di atas kasur. Sungguh kelembutan Asiyah dibalas dengan bentakan lagi.
Asiyah masih berdiri di pijakannya tadi. Tak disangkanya bentakan itu kembali terulang. Berdegup lagi jantungnya. Air matanya kembali mengalir. Wajahnya memerah.
Dilihatnya jam dinding itu. Pukul 11.10 malam. Mungkin suamiku sangat lelah. Hingga tak dapat menahan amarahnya padaku. Atau memang uangnya sudah benar-benar habis? Asiyah bertanya lagi dalam pikirnya. Juga mencoba berpikir positif kepada suaminya.
Pukul 01.15 malam. Krriinnngg.. kkkrriinngg.. dilihatnya ponsel itu. Ternyata adik perempuannya yang menelepon.
Asiyah ternyata masih terjaga. Tiba-tiba saja air matanya menetes. Entahlah.. perasaan apa ini. Apakah ini sebuah kecemburuan? Atau memang sebuah ketidakadilan yang menggoreskan sebuah luka?
Jika memang tadi Pak Sendi membentaknya karena rasa lelah yang teramat, lalu bagaimana dengan adiknya yang menelepon tengah malam begini mengganggu tidurnya? Mengapa dia tidak marah?
Dan jika memang Pak Sendi tidak mempunyai uang sepeser pun, lalu uang apa yang Ia berikan pada adiknya itu? Apakah itu penting? Hanya untuk liburan? Sebanyak itu, tanpa bertanya lagi perihal ini dan itu kepada adiknya.
Sementara kebutuhan pokok rumah tangganya belum juga Ia tunaikan. Apakah Pak Sendi tak bisa membedakan antara hal yang wajib dan yang sunnah perihal menafkahi. Bukan kah Pak Sendi katanya sudah mulai memperdalam ilmu agama?
Tidakkah Pak Sendi tahu, bahwa ada seorang istri yang harus Ia utamakan setelah menikah? Ataukah ingatannya telah rusak?
Sikap macam apa ini? Sungguh berbeda dengan sikap yang Asiyah terima. Asiyah sungguh merasakan sakit pada hatinya. Kecemburuan pada ipar dan mertuanya tak dapat Ia hindarkan. Apakah ini adalah perasaan yang wajar? Tanya Asiyah berulang-ulang dalam hatinya.
__ADS_1
Sepertiga malam ini Asiyah kembali terjaga. Menunaikan hasrat hatinya.
"........Ya Allah.. apa yang sebenarnya terjadi? Begitu sakit rasanya hati hamba saat dibentak oleh suami hamba, ya Allah.. hamba sungguh lemah tak berdaya, ya Allah.. tunjukkanlah kebenarannya kepada hamba, mungkinkah perasaan sakit ini salah? Jika hamba salah, maka perbaikilah hati hamba ya Allah, dan jika perasaan sakit ini adalah benar, maka berikanlah hidayah-Mu kepada suami hamba agar Ia kembali lembut seperti dulu, lalu kuatkanlah hamba dalam menghadapi segala ujian dari-Mu ini............"
Begitulah sepenggal isi do'a yang dipanjatkan oleh Asiyah kepada Sang Maha Pemilik Hati di sepertiga malam ini.
Asiyah kembali tidur di atas kasur mewahnya.
Beberapa jam berlalu. Lapisan hitam telah terlucut menjadi putih. Malam telah berubah menjadi siang.
Terik matahari siang ini begitu menyengat. Pak Sendi pulang ke rumah dengan membawa segepok uang. Membagi gaji para asisten rumah tangga dan juga karyawan mereka yang lainnya yang bekerja di rumah.
Asiyah melihatnya.
Tersenyum. Alhamdulillah, akhirnya mereka mendapatkan haknya. Lega rasanya hati Asiyah telah lepas kewajibannya.
Masuk kembali ke kamarnya. Asiyah kemudian berpikir, mengapa Pak Sendi tak memberikan uang itu kepadaku terlebih dahulu? Biasanya Aku lah yang mengatur keuangan rumah tangga ini. Tapi yaa sudahlah. Mungkin suamiku sedang terburu-buru hingga tak sempat memberikannya kepadaku. Asiyah lagi-lagi tetap berpikir positif pada suaminya.
Diatas kasur itu. Asiyah masih menunggu, entah apa. Dalam lamunan. Dengan televisi besar yang menyala di hadapannya
Pak Sendi masuk ke dalam kamar.
"Yangg, semua gaji karyawan kita sudah Aku bayarkan, uang belanja stok bulanan dapur juga telah Aku titipkan pada ART kita, mulai bulan ini uang untuk kebutuhan pribadi kamu biar Aku saja yang pegang yaa, toh kamu juga nggak kerja lagi, jadi biar hemat, Aku saja yang mengatur semuanya, jangan boros yaa Yangg, kamu juga nggak usah perawatan dulu yaa, mahal soalnya.."
Asiyah melongok mendengar kata-kata itu. Seakan tak memberinya hak untuk bicara, jeda bicaranya tak terputus.
Dan keputusan itu telah diambil tanpa adanya kesepakatan antara mereka berdua.
__ADS_1
Pak Sendi sekali lagi telah melukai perasaannya. Kali ini bukan bentakan, tapi ada nafkah pribadi yang seharusnya Ia terima, malah tak ada wujudnya lagi dari suaminya. Bagaimana caranya Ia mau meminta? Sementara tak tampak lagi nilai berapa yang boleh Ia pergunakan. Tak ada lagi bunyi notifikasi rekening tiap bulan yang biasa Ia terima dari Pak Sendi.