
Subuh ini Asiyah kembali sholat di langgar, rencananya memang mau setiap subuh Asiyah sholat di langgar. Selain sholat berjamaah itu sangat menyenangkan bagi Asiyah, Asiyah juga tampaknya masih penasaran dengan suara adzan yang kemarin didengarnya. Merdu sekali, maa syaa Allah..
Kali ini Asiyah mengajak asisten dan sopirnya untuk sholat di langgar. Sudah terencana kali ini. Jadi memang Caca dan Cita sudah bangun lebih awal.
"Ayo Ca, Cita, Pak Nomo mana?" tanya Asiyah, seketika keluar dari kamarnya dan mendapati Caca dan Cita yang juga sudah siap.
"Sudah jalan di depan Mbak, sudah duluan tadi," jawab Cita.
"Ohh ya sudah, ayok ayok cepat, biar bisa bareng jalannya sama ibu-ibu di sini," ajak Asiyah.
Caca dan Cita mengikuti.
Berjalan di tengah terangnya jalanan Desa, disinari lampu jalan, subuh ini mereka telah siap dengan mukena dan baju sholatnya masing-masing.
Dingiiinnnnn.. udara di Desa ini memang masih sangat murni.
Pak Nomo berjalan paling depan, sementara Asiyah bersama Caca dan Cita mengikuti dari belakang.
"Kenapa.. masih pada ngantuk yaa?" canda Asiyah pada Caca dan Cita.
Caca dan Cita menguap saja dari tadi sambil berjalan.
Mereka berdua itu sebenarnya tidak menggunakan hijab, tetapi menjadi persyaratan saat melamar menjadi asisten Asiyah dulu untuk mengenakan hijab. Sholat lima waktu pun Asiyah lah yang rajin mengingatkan mereka. Dulu mereka berdua gayanya jauh sekali dari kata muslimah. Tapi Asiyah pelan-pelan telah membentuk kepribadian mereka yang baru.
Pak Nomo sigap sekali dalam langkah kakinya.
"Allahu akbar.. Allahu akbar........." lantunan adzan itu berkumandang di tengah perjalanan mereka.
Benar-benar merdu, terdengar di telinga Asiyah.
Sesampainya di langgar, mereka langsung saja mengambil posisi sholat. Sudah ramai, seperti kemarin. Warga desa di sini terbilang rajin.
Usai sudah sholat subuh hari ini.
Ketika keluar dari langgar, Asiyah melihat Mas Wedo. Didekatinya seketika, "Assalamu'alaykum Mas Wedo," ucap Asiyah.
"Wa'alaykumussalam Mbak Asiyah, sholat di sini juga yaa, sama siapa?"
"Iya Mas sama asisten dan sopir Saya," Asiyah senyum.
"Oohh yaa Mas Wedo yang suka adzan di langgar ini siapa yaa?" sambung Asiyah.
__ADS_1
"Kenapa Mbak? Suara adzannya merdu yaa?" Wedo tersenyum.
"Iya Wedo, sampai penasaran Saya sama mu'azzinnya?"
"Hehe.. itu yang jadi mu'azzinnya Pak Dimas, yang waktu itu kita temui di pondoknya, sekaligus pemilik villa tempat Mbak Asiyah menginap," Jelas Wedo.
"Hehehe.. memang Pak Dimas begitu sempurna yaa mbak, Sholeh, kaya, ganteng pula.. memang perempuan-perempuan di desa ini banyak yang tergila-gila sama Dia Mbak, tapi Pak Dimas begitulah, belum jodohnya katanya, tiap kali ditanya soal perempuan," jelas Wedo.
"Loohh jadi Pak Dimas belum menikah yaa? Belum punya istri?" tanya Asiyah. Seperti ada angin segar menghampiri Asiyah.Tampak berbinar mata Asiyah memandangi Wedo. Penuh harapan. Entah harapan apa yang muncul.
"Belum Mbak, kenapa? Mbak Asiyah suka juga yaa sama Pak Dimas?" Wedo menggoda. Tertawa geli menutup mulutnya melirik ke arah Asiyah.
"Aahh.. Mas Wedo bisa saja,"
"Kalau iya juga nggak apa-apa Mbak, toh Pak Dimas memang sesempurna itu kok, wajar saja kalau Mbak Asiyah suka heheee," goda Wedo lagi.
"Hhmm...Ya sudah yaa Mas, Saya duluan, asisten dan sopir Saya sudah menunggu di sana, terimakasih infonya, assalamu'alaykum," Asiyah tersenyum. Berusaha menyembunyikan harapannya.
"Ya Mbak, Wa'alaykumussalam.. hati-hati."
Pandangan Asiyah tiba-tiba terlempar ke arah kanan, ada seorang lelaki yang lewat. Jalannya melambat. Sekelebat bayangan yang dilihatnya penuh karisma. Pak Dimas. Lelaki yang dalam sekejap meluluhkan pendengarannya karena lantunan suara adzannya. Maa syaa Allah..
Pak Dimas juga melihat ke arah Asiyah. Mereka saling melempar senyuman. Dan berlalu, kembali ke jalan mereka masing-masing.
Sudah berlalu beberapa detik sejak Asiyah menoleh ke sekelebat bayangan yang mengganggu ujung matanya tadi.
Caca dan Cita sudah menunggu di ujung langgar sana.
Asiyah segera menghampiri mereka.
"Pak Nomo ke mana?" tanya Asiyah. Ketika mendapati Pak Nomo menghilang.
"Pak Nomo ke toilet sebentar Mbak, tadi lari-larian keluar dari langgar, gak tahan lagi katanya, sakit perut," Caca tertawa menceritakan kejadiannya.
"Hhmm.. ada-ada saja Pak Nomo, ya sudah kita tunggu saja," Asiyah ikut tertawa.
Lima belas menit berlalu.
Pak Nomo tak kunjung menampakkan dirinya.
"Lama banget Pak Nomo," Cita mulai mengeluh.
__ADS_1
"Iya nih, ngapain sih? Bersemedi kali yaa Pak Nomo?" sambung Caca.
Asiyah tertawa kecil.
Lelah berdiri. Mereka akhirnya duduk di lantai depan langgar.
"Ayok kita tunggu di sana saja, capek juga berdiri lama-lama," ajak Asiyah.
Lima menit berlalu.
Pak Nomo keluar dari persembunyiannya. Dengan wajah yang pucat. Membungkukkan badannya. Tangannya mencengkeram perutnya.
"Hhhhhh.. hhhhh.. aduh Mbak maaf yaa menunggu lama, perut Saya sakit sekali rasanya," ucap Pak Nomo.
"Kenapa Pak? Salah makan yaa? Sampai pucat begitu mukanya? Mencret memang BABnya?" tanya Asiyah.
"Gak tahu juga Saya Mbak, apa karena makan sambel di villa tadi malam yaa? Atau karena saking dinginnya subuh ini, jadi badan Saya rasanya agak kaku, terus lari ke perut gitu sakitnya?" Pak Nomo mencoba menerka-nerka.
"Ada-ada aja Pak Nomo, jadi ini gimana? Sanggup jalan ke viila?" tanya Asiyah.
"In syaa Allah Mbak, Saya nggak apa-apa," jawab Pak Nomo, tersengal-sengal nafasnya.
"Ya sudah, pelan-pelan saja kita jalannya, Bapak jalan duluan saja, biar kami bertiga jalan di belakang Bapak," ucap Asiyah.
Di perjalanan pulang ke villa.
"Ca, tadi Kamu dengar gak lantunan adzan tadi?" tanya Cita.
"Dengar, ada apa memangnya?" tanya Caca.
"Merdu banget ya? Kayak dibikin jatuh cinta Aku sama orangnya cuma karena mendengar suara adzannya," jelas Cita.
"Iya sih Cit, tapi kan gak mungkin banget kan kalau Aku nikahin suaranya aja, tanpa melihat wajah laki-laki yang adzan," jelas Caca.
"Ahh, Kamu Ca, gak peka nih sama perasaan, kalau udah cinta ya cinta, biarin wajahnya mau kayak gimana juga," jelas Cita.
"Ehh.. tapi Aku yakin deh, pasti ganteng deh laki-laki yang adzan tadi, soalnya dari suaranya aja seksi banget, merduuuu.." sambung Cita mengandai-andaikan dengan senyumannya. Dengan kedua tangan yang dibentangkannya.
"Yakin Kamu Cit, ntar kakek-kakek gimana? Hahaaa," ucap Caca.
"Kan kita nggak tahu ya kan Mbak, siapa tahu laki-laki itu sudah tua ya kan? Suaranya aja yang keren bak anak muda, pppffttt," Caca meledek dengan tawa kecilnya.
__ADS_1
Asiyah senyum. Sedikit tak enak rasa hatinya mendengar ungkapan hati Cita barusan. Yang sebenarnya, hati Asiyah pun sepakat dengan apa yang dikatakan Cita.
Sementara Pak Nomo masih tergopoh-gopoh jalannya di depan.