Asiyah Akhir Zaman

Asiyah Akhir Zaman
Hadiah Rahasia


__ADS_3

Hampir satu jam berlalu.


Mama keluar dari ruang rawat inap itu bersama Laura. Membawa berkas hasil cek kesehatan yang digenggam Pak Sendi tadi. Dengan matanya yang tampak sendu karena tak hentinya menangis. Berusaha menerima kenyataan yang ada di depan matanya.


Asiyah dan Umi seketika menghampiri Mama.


"Mama minta maaf Asiyah, ternyata selama ini sudah banyak hal yang kamu lalu dengan Sendi, maafkan Mama," seraya menyerahkan berkas yang dipegangnya pada Asiyah.


Mama sungguh merasa sangat bersalah akan perbuatannya selama ini.


"Maafkan Asiyah Ma, Asiyah terpaksa merahasiakan semua ini dari Mama, Umi dan juga Sendi. Asiyah tidak ingin melihat Sendi terpuruk, biarlah Asiyah yang menanggungnya," jelas Asiyah. Tatapannya juga penuh dengan rasa harap akan pengertian Mama.


Laura memeluk Asiyah. "Maafin Laura juga Kak, selama ini Laura juga telah salah menilai Kakak," air mata itu menetes.


Asiyah merangkul adik iparnya itu.


Umi diam. Menatap prihatin akan keadaan mereka


Tiba-tiba Suster berlarian masuk ke dalam kamar Pak Sendi. Memeriksakan keadaan pasien.


Mama, Umi dan Laura hanya bisa pasrah menunggu kabar Pak Sendi dari balik pintu.


Hanya Asiyah yang diizinkan masuk ke dalam kamar, melihat suaminya.


Dokter dan para suster keluar dari kamar. Telah selesai menangani Pak Sendi dengan maksimal. Mengerahkan segala kemampuan dengan alat-alat tercanggih sekalipun.


"Maafkan kami, kami sudah berusaha maksimal, pasien dinyatakan koma, banyak-banyak berdo'a ya Bu, kami permisi dulu," ucap Dokter itu. Dengan wajah penuh empati menjelaskan keadaan Pak Sendi dengan singkat.


"Astaghfirullah.." ucap Umi.


Mama dan Laura menangis lagi dengan ratapan sedihnya.


"Qodarullah wa maa syaa'a fa'ala," ucap Asiyah pelan. Lalu terdiam. Menatap kosong ke arah lantai. Air matanya terjatuh dengan sendirinya.


Sejak saat itu, Asiyah hanya menunggui suaminya setiap saat di dalam ruang rawat inap itu. Juga mengaji di sampingnya, terus mendo'akannya agar segera sembuh. Umi lah yang mengantarkan segala kebutuhan Asiyah di dalam sana setiap harinya.

__ADS_1


"........Ya Allah, inikah jawaban atas ujian yang hamba hadapi selama ini? Sungguh berat hamba menjalani semuanya sendirian ya Allah, tolong hamba ya Allah, berilah hamba kekuatan dalam melewati semua ini............" begitulah penggalan do'a yang dipanjatkan oleh Asiyah di sepertiga malam ini. Di dalam ruangan rawat inap rumah sakit yang sunyi. Hanya ada dia dan suaminya.


Tak bosannya Asiyah merawat suaminya. Dilupakannya semua perbuatan jahat Pak Sendi selama masih sehat dulu. Asiyah hanya ingin mencintai suaminya dengan setulusnya. Betapa mulia hati Asiyah. Tak diingatnya lagi semua hal menyakitkan yang diciptakan oleh Pak Sendi dulu padanya.


Hari-hari berlalu.


Semua alat bantu kesehatan yang terpasang pada tubuh Pak Sendi masih saja tak kunjung lepas.


Sudah hampir satu bulan berlalu.


Tanda-tanda sadarnya Pak Sendi tak juga muncul.


Pagi ini Asiyah bangun tidur seperti biasanya untuk melaksanakan sholat subuh. Entah mengapa kepalanya terasa sangat pusing. Matanya berkunang-kunang. Perutnya terasa sangat mual. Wajahnya terlihat pucat.


Asiyah segera berlari ke kamar mandi. Uuuwweekkkk.. uuuuwwweeekkk.. terdengar keras suara muntahan itu. Tak kuat menahan lemahnya diri. Asiyah jatuh pingsan di lantai, sebelah ranjang tidur suaminya.


Kini, suami dan istri itu sama-sama tak sadarkan diri di ruangan yang sepi ini. Jam dinding yang terpajang menatap mereka dengan senyap. Langkah perputarannya masih menunggu untuk menyaksikan takdir apa yang akan terjadi pada mereka selanjutnya.


Cicak pun turut andil dalam membersamai mereka. Membunyikan suaranya sesekali. Mencoba membangunkan keduanya. Tak sanggup menyaksikan betapa dramatisnya kesedihan kedua orang di hadapan mereka.


Asiyah segera diperiksa oleh petugas medis di sana. Ternyata masih hidup. Dengan cepat mereka membawa Asiyah ke UGD Rumah Sakit.


Tidak butuh waktu lama. Asiyah pun sadarkan diri. Ternyata tidak terjadi apa-apa dengan Asiyah. Begitu kata Dokter.


Umi yang sedari tadi datang mencari anak perempuannya itu, akhirnya sampai juga di ruang UGD.


Betapa terkejutnya Umi. Begitu pun dengan Asiyah. Mendapatkan kabar yang datang dari seorang suster. Ternyata Asiyah tengah mengandung. Dan usia kandungannya sudah memasuki usia tiga bulan.


Benar-benar, sungguh Asiyah tak menyangka sebelumnya. Padahal akhir-akhir ini, sebelum Pak Sendi koma, Asiyah dan Pak Sendi sudah mulai mengabaikan program kehamilan mereka.


Lelahnya Asiyah mengurus rumah tangga mereka. Belum lagi banyaknya tekanan di dalam batinnya. Juga Pak Sendi yang begitu lemah secara fisik. Rasanya harapan untuk memiliki anak sangat sulit untuk dicapai.


Siang ini hasil pemeriksaan rutin Pak Sendi akan keluar lagi.


Asiyah selalu berharap akan adanya berita bahagia dari pihak rumah sakit.

__ADS_1


"Maafkan Saya Bu, sekali lagi kami tim medis sudah berusaha penuh, kondisi Pak Sendi semakin hari semakin menurun," jelas Dokter.


"Lalu kami harus bagaimana Dokter?" tanya Asiyah.


"Sangat kecil harapannya untuk sembuh, perbanyak berdo'a saja untuk yang terbaik bagi suami ibu......" jawab Dokter itu lagi.


Asiyah terdiam. Menitikkan air mata. Dokter itu keluar dari ruangan. Umi pun tak dapat berkomentar apa-apa.


"Sabar Nak, semua ini sudah jalan dari Allah," ucap Umi. Sambil mengelus kedua pundak Asiyah.


Entah harus bahagia ataukah sedih dengan keadaan ini.


Detik demi detik berlalu. Pak Sendi belum juga sadar.


Di larut malam begini, hanya ada Asiyah dan Pak Sendi di ruangan ini.


"Abang.. maafkan Asiyah yang sudah menyembunyikan kondisi kesehatan Abang yang sebenarnya, Asiyah hanya tidak ingin menambah beban pikiran Abang, Asiyah takut Abang jatuh sakit," ucap Asiyah lembut. Mencoba berbicara dengan suaminya. Mudah-mudahan Ia mendengar.


"Asiyah hamil anak kita Bang, ternyata Allah mempercayai amanah ini pada kita. Asiyah sangat bahagia dengan kehamilan ini," sambungnya lagi.


"Ohh iya Bang, kata Dokter, anak kita kembar, dan kemungkinan besar kata Dokter, jenis kelaminnya satu laki-laki dan yang satu lagi perempuan Bang, apakah Abang juga senang?" Asiyah menatap suaminya dengan antusias ucapannya. Sesekali tersenyum seakan Pak Sendi benar-benar sedang mendengarnya.


"Abang, maafkan Asiyah yang tak sempurna menjadi istri Abang.."


"Maafkan atas semua kekurangan yang Asiyah punya.."


"Maafkan Asiyah Abang.."


Ucapan itu terdengar lirih sekali. Sesekali Asiyah mencium wajah suaminya, hingga tertidur lelap sampai subuh tiba.


Tanpa disadari oleh Asiyah, suaminya yang terbaring lemah itu menitikkan air matanya. Jatuh dari tiap sudut matanya.


Sementara Mama, sesekali menjenguk anak lelaki yang menjadi super hero dalam keluarganya itu. Mama menatap Asiyah tiap kali datang melihat putranya itu.


Dan Asiyah hanya bisa diam, sambil menggelengkan kepalanya, menatap sendu wajah Mama. Sebagai isyarat, bahwa belum ada perubahan dengan kondisi kesehatan Pak Sendi.

__ADS_1


__ADS_2