Asiyah Akhir Zaman

Asiyah Akhir Zaman
Teka-teki Pak Kasrun


__ADS_3

Entahlah.. entah apa yang aneh pada apa yang dirasakannya. Mungkin ini hanya perasaannya saja. Asiyah merasa Pak Kasrun seringkali mencoba memasuki kehidupannya lebih dalam.


Sudah beberapa bulan berlalu, Pak Kasrun terus saja memperhatikan Asiyah. Terkadang ada rasa tak nyaman yang timbul pada diri Asiyah. Bagaimana tidak? Pak Kasrun selalu saja berusaha untuk mengetahui tentang seluk beluk kehidupan keluarganya.


Pak Kasrun adalah staf senior di perusahaan ini. Gajinya sudah sangat besar. Jauh berbeda dengan gaji yang diterima Asiyah. Usianya juga sudah mendekati masa pensiun. Tidak lama lagi Pak Kasrun akan selesai masa jabatannya di kantor ini.


 


Sudah hampir satu tahun, Asiyah masih saja merasakan sesuatu hal yang aneh. Mencurigakan. Walau Asiyah tahu betul selama hampir satu tahun ini Pak Kasrun adalah orang yang baik. Terlihat sholeh, hanya saja Asiyah sudah trauma dengan tipuan lelaki yang seperti itu. Berpura-pura sholeh di hadapannya untuk menarik perhatiannya yang kemudian berniat untuk menikahinya, katanya begitu.


 


Asiyah satu ruangan memang dengan Pak Kasrun. Tetapi anehnya tidak hanya di dalam ruangan saja Pak Kasrun memperhatikan Asiyah, di luar ruang kantor pun juga, hingga semua akun media sosial milik Asiyah pun tak luput dari intaiannya. Pak Kasrun seringkali bahkan mengulang-ngulang pertanyaan tentang siapa Asiyah? Siapa keluarga Asiyah? Dan semua tentang Asiyah.


Pernah waktu itu pagi-pagi sekali saat rutinitas pekerjaan belum dimulai, waktu itu sedang ada acara olahraga bersama. Rasa lelah yang masih menyelimuti tubuhnya belum lenyap, peluh beku masih berjatuhan dari dahi Asiyah. Tetapi lirikan mata Asiyah tertuju pada sikap Pak Kasrun, lagi. Tampaknya Pak Kasrun ingin memulai pendekatannya lagi pada Asiyah.


Asiyah sungguh sangat lelah sehabis olahraga tadi. Hhuuhhh keringatnya benar-benar membasahi pakaiannya. Nafasnya masih sedikit tersengal.


Seperti tak perduli dengan lelahnya Asiyah saat ini, Pak Kasrun kembali mencerca pertanyaan pada Asiyah, "Asiyah apa nama FBnya? Saya punya FB, anak Saya yang buatkan, nanti kita jalin pertemanan di FB yaa."


Asiyah terdiam, melihat ke arah Pak Kasrun. Pikiran aneh itu muncul lagi di kepalanya.


"Oohh FB Pak, ada.. nama FB Saya Asiyah92, nama FB Bapak apa?" tanya Asiyah, berpura-pura seakan tak ada sangkaan buruk pada Pak Kasrun.


"Asiyah92.. Asiyah92.. nahh yang ini yaa?" tanya Pak Kasrun sembari mengarahkan layar monitor PC kerjanya ke arah Asiyah.


"Iya benar Pak, Saya konfirmasi yaa.." ucap Asiyah.


Pak Kasrun tampak pasat memperhatikan layar PCnya setelah menjalin pertemanan dengan Asiyah di FB. Kepalanya bersandar di atas salah satu telapak tangannya.


Beberapa hari berlalu setelah pagi yang melelahkan itu.

__ADS_1


Mungkinkah setelah berteman dengan Asiyah di media sosial itu, Pak Kasrun langsung menyelidikinya melalui media itu? Sehingga muncullah banyak pertanyaan lagi terhadap Asiyah?


Kali ini saat istirahat siang.


Pak Kasrun dan Asiyah telah selesai dari jam istirahatnya, sholat sudah, makan pun sudah. Mereka kembali ke meja kerjanya masing-masing. Duduk-duduk santai, mengambil nafas sejenak untuk kembali melanjutkan pekerjaan mereka.


Namun, di sela-sela kesibukan Asiyah mengecek-ngecek ponselnya, Pak Kasrun tiba-tiba bertanya. lagi.


"Asiyah.. Abimu sudah meninggal dunia ya?"


"Iya Pak, belum lama ini."


"Apa penyebabnya?"


"Abi kena serangan stroke Pak, sudah berobat sana-sini tapi ternyata Allah berkehendak lain pada Abi, belum lama ini."


"Innalillahi wa inna ilaihi raji'un, Saya turut berduka cita ya."


"Umi berjualan makanan kecil Pak, kayak keripik dan kerupuk, kue-kue.. dititipin ke warung-warung sekitaran rumah dan kantin-kantin sekolah, juga perkantoran."


"Yaaa.. untuk menyambung hidup lah Pak.." Asiyah diam sejenak.


"Dulu sebelum Abi jatuh sakit, Abi punya perusahaan yang bisa dibilang sukses, tapi qadarullah ya Pak, roda terus berputar, perusahaan Abi mendadak bangkrut, Abi jatuh sakit, jadiii... keadaan pun mendadak berubah total." Sambung Asiyah.


"Iya.. iya.. namanya jalan hidup tidak ada yang bisa menebak Asiyah, semua sudah ditetapkan oleh Allah, kita sebagai hamba yang beriman cuma harus ikhlas dan sabar dalam menjalaninya."


"Terus Saya lihat di medsos Kamu, Kamu punya dua orang adik yaa? Mirip sekali mereka, kembar yaa?" sambung Pak Kasrun.


"Hhhhmm.. iya mereka kembar Pak," Asiyah tersenyum mengingat adik-adik kembar kesayangannya itu.


"Sekolah di mana mereka?"

__ADS_1


"Sekolah di dekat rumah Pak, sekolahnya alhamdulillah nggak mahal, jadi Asiyah bisa bantu Umi untuk membiayai sekolah mereka, kasihan mereka kalau tidak sekolah Pak."


"Iya iya benarlah itu," ucap Pak Kasrun.


Pak Kasrun terus saja menjejali Asiyah dengan berbagai pertanyaan siang itu.


Asiyah mulai cemas. Asiyah takut sekali apa yang dialaminya di kantornya yang dulu terjadi lagi. Asiyah capek sekali rasanya. Asiyah hanya ingin bekerja mencari uang dengan cara yang baik dan dengan keringatnya sendiri, tanpa bantuan dan iming-iming kemewahan dari orang lain, itu saja. Asiyah lelah dengan semua cara para pria yang ingin memilikinya. Pria-pria penggila wanita. Om-om genit yang tidak ada lelahnya mengejar dirinya.


Tiba saatnya pembagian bonus bagi karyawan manajemen karena kerja keras mereka selama ini. Bonus ini berupa sejumlah uang. Memang rutin diberikan oleh pihak kantor sebagai penyemangat bagi karyawannya. Tak terkecuali untuk Asiyah.


Pagi-pagi sekali pencairan uang bonus itu diberikan secara tunai kepada karyawannya. Pak Kasrun yang membagikannya.


"Asiyah.." panggil Pak Kasrun.


Asiyah terkejut. Namanya yang didahului oleh Pak Kasrun. Ia seketika berdiri dari kursi kerjanya. Menghampiri Pak Kasrun di meja kerjanya.


"Asiyah.. ini bonus untuk Kamu, dan khusus untuk Kamu sudah saya lebihkan menggunakan uang pribadi Saya, Saya tahu Kamu butuh banyak uang untuk membiayai kebutuhan keluarga Kamu," Pak Kasrun tersenyum pada Asiyah menyerahkan amplop putih itu.


"Terima kasih banyak Pak, Alhamdulillah.. Saya terima ya Pak," ucap Asiyah.


Pak Kasrun lanjut memberikan senyumannya.


Di sisi lain Asiyah merasa sangat senang mendapatkan kelebihan bonus ini. Tapi juga di sisi yang lainnya lagi, Asiyah merasa ada yang aneh dengan semua ini. Perhatiannya, semuanya..


Sesekali Pak Kasrun bercerita tentang keluarganya. Pak Kasrun sempat mengajak Asiyah ke rumahnya untuk bertemu dengan istrinya. Pak Kasrun ingin mengenalkan Asiyah pada keluarganya.


Sore itu sepulang kerja, Pak Kasrun tak sungkan berkata pada Asiyah, "Asiyah.. ayok main ke rumah Saya, ada istri dan anak Saya di sana, nanti kalau mau nginap di rumah Saya biar Saya dan istri Saya yang meminta izin pada umi Kamu."


"Hmm.. terimakasih Pak, tapi tidak usahlah, kasihan Umi dan Adik-adik ditinggal di rumah," ucap Asiyah, selembut mungkin menolak tawaran itu.


"Ya sudah, kapan-kapan kalau mau ke rumah Saya main-main, bilang saja yaa.." Pak Kasrun santai dan serius dalam ucapannya.

__ADS_1


Asiyah heran.


__ADS_2