
Inilah jawaban dari do’a Asiyah. Asiyah mendapatkan pekerjaan baru yang lebih baik.
Sedih sebenarnya meninggalkan Maya. Maya telah menjadi teman yang sangat baik untuk Asiyah di kantor yang dulu.
Tiba-tiba saja Asiyah teringat tentang temannya itu.
Apa kabar Maya sekarang yaa?
Nantilah Aku coba hubungi Maya. Kangen juga sama Maya.
“Bismillah.. Maya.. apa kabar?” Tanya Asiyah melalui pesan WAnya pada Maya.
“Alhamdulillah baik Asiyah, waahh Asiyah apa kabarnya? Kerja di mana sekarang, kangeenn nii,” balas Maya pada Asiyah.
“Alhamdulillah May, Aku juga baik, sekarang Aku kerja di PT. Berlian Bercahaya,” balas Asiyah.
“Ohh iya ya.. Aku tahu, itu kan kantor besar Asiyah, gaji Kamu pasti besar yaa di sana? Traktir makan dong gajian pertama, hihihiii..” balas Maya dengan emoticon tawa gelinya.
"Iya Alhamdulillah May, cukup lah untuk kebutuhan Aku dan keluargaku, terutama untuk sekolahnya Ali dan Aisyah, ini memang rezeki mereka."
"Eehh.. May nanti makan di rumah Aku saja yaa, nanti biar Umi yang bikin masakan untuk kita, lagian enak kan bisa nostalgia di rumah, lebih lama, aman dan nyaman, dan yang terpenting, lebih ekonomis, hihihihiii.." sambung Asiyah
"Mau.. mau.. masakin sea food yaa, sama balado petai teri hahahaa, biar ada aroma sedap nanti dari mulut kita," balas Maya tertawa ngakak.
Begitu terlena Asiyah dengan ponselnya, sibuk bertukar pesan dengan Maya, menunduk saja kepalanya dari tadi di meja kerjanya. Fokus menatap layar ponselnya. Keluar masuk pesan WA dari ponsel Asiyah. Berdentam dentum suara ponselnya.
Tiba-tiba Asiyah mengangkat kepalanya. Ada sekelebat bayangan yang lewat di depannya. Siapa? Dilihatnya ke kiri. Dilihatnya ke kanan. Tidak ada yang lewat. Tidak ada yang berdiri. Semua karyawan tampak tenang di meja kerjanya masing-masing.
“Asiyah???”
“Asiyah???”
“Heyyy..”
Maya mengirimi pesan berkali-kali.
Menepuk pundak Asiyah dari belakang menggunakan buku. Pelan. “Asiyah..” ucap Pak Dewa.
Asiyah terkejut. Dilihatnya seorang lelaki berdiri di belakangnya. Memperhatikannya. Pak Dewa adalah manajernya. Tampan rupanya, masih muda, kata staf di sini, Pak Dewa adalah lelaki yang sholeh, tapi sayang sudah beristri. Mengetahui hal tentang Pak Dewa, Asiyah tidak langsung mempercayainya. Karena dulu sudah
banyak sekali lelaki yang katanya sholeh, eehh tahu-tahu.. aahh sudahlah.
Asiyah mulai mencurigai Pak Dewa. Asiyah takut hal yang sama seperti dulu akan terulang lagi. Asiyah mulai berhati-hati.
“Kamu ngapain main handphone di jam kerja
Asiyah?” tegas Pak Dewa.
“I.. iyaa.. maaf Pak,” Asiyah merasa tidak enak. Ternyata Pak Dewa malah memperingatkannya.
__ADS_1
“Ya sudah lanjut kerja lagi,” tegas Pak Dewa lagi.
“Iya Pak..” jawab Asiyah. Asiyah merasa bersalah. Ini memang salahnya.
Hingga siang, pesan WA Maya tidak dibalas oleh Asiyah.
Jam istirahat tiba.
“Heyy May, maaf yaa baru balas, tadi ada Pak Dewa, manajer Aku,” kata Asiyah membalas pesan WA Maya.
“Ohh.. iya iya nggak apa-apa. Hah? Manajer? Kamu diapain emang?” tanya Maya.
“Ditegur tadi gara-gara ketahuan main handphone saat jam kerja,” jawab Asiyah.
“Hahahaa.. hati-hati lohh yaa, jangan-jangan itu cuma modus supaya bisa sok akrab gitu sama Kamu,” Maya tertawa dengan emogi chatnya.
“Ahh Kamu gitu deh May, tapi beneran Aku juga sebenarnya ada mikir ke arah sana juga, hhuuhhh..” balas Asiyah.
“Nanti kalau ada apa-apa jangan lupa kabarin Aku yaa hahaaa..” balas Maya.
“Ya sudah ya Asiyah, Aku mau makan siang dulu nih, daaaa..” sambung Maya.
Asiyah menutup layar ponselnya.
Duduk sendirian di kantin, Asiyah makan sendirian.
Tidak jauh dari hadapan Asiyah, ada seorang pria. Sepertinya sudah berumur. Melirik ke arah Asiyah sesekali.
Duhh siapa lelaki itu? Apa maunya? Apa jangan-jangan ingin modus seperti para bapak-bapak di kantor yang dulu?
Asiyah melambatkan gerak tangannya dalam menyuapi makanan ke mulutnya. Sesekali Asiyah melihat ke arah pria itu. Beberapa kali mereka saling bertatap mata. Arrgghh selera makan Asiyah mulai hilang. Asiyah membereskan semua barang-barangnya. Hendak ke musholla saja langsung untuk menunaikan sholat dzuhur.
Asiyah berjalan ke luar kantin melewati pria
itu.
"Eeehh mbak sebentar, maaf..” pria itu menyetop langkah kaki Asiyah. Berdiri tepat di hadapan Asiyah.
Duuhh.. tuhhh kan benar, pasti mau modus lagi nih. Apa yang mau dilakukan pria ini? Asiyah diam. Menelan ludahnya. Keluar peluhnya.
“Kamu staf baru itu ya?” tanya pria itu.
“I.. iya Pak.. ada apa?” jawab Asiyah.
“Kamu tahu, di sudut ruang tunggu tamu di depan meja recepcionist ada cermin yang besar?” Mata pria itu melotot.
“Tahu Pak,” jawab Asiyah. Gugup.
__ADS_1
“Coba Kamu itu kalau mau ke mana-mana ngaca dulu, lihat tuh di kepala Kamu ada apa..” ucap pria itu.
Asiyah memegang kepalanya.
Dirabanya.
Ternyata ada kertas yang menempel.
Astaghfirullah. Ternyata ini penyebab pria itu dari tadi melihatku?
Asiyah sudah salah menduga.
“Ohh iya, terima kasih Pak, ini tadi Saya habis membuat skema, kerjaan kantor.. heheee..” Asiyah menyeringai.
“Ya sudah.. ya sudah.. Kamu tuh masih muda tapi ceroboh, apa nggak malu dilihatin orang-orang,” Bapak itu memperingatkan Asiyah.
Asiyah melirik pada kartu karyawan yang menempel pada saku baju pria itu. Kepala Personalia. Ternyata pria itu adalah Kepala Personalia di kantornya. Wajar saja kalau Ia peduli pada Asiyah. Sampai-sampai Asiyah ditegurnya begitu.
Asiyah segera pergi dari kantin itu.
Sungguh malu rasanya. Berarti sepanjang perjalanan ke luar kantor tadi sampai Asiyah menyelesaikan makannya di kantin, kertas itu sudah tertempel indah di kepalanya? Subhanallah.. malu sekali rasanya. Seperti orang gila saja.
Selepas sholat dzuhur di musholla tadi, Asiyah langsung kembali ke meja kerjanya.
Huhhh.. Asiyah menghela nafasnya. Tiba-tiba merenungkan kisah hidupnya. Benar-benar, trauma akan para pria penggoda wanita yang dulu pernah menghampiri hidupnya, melekat di dalam pikiran dan hatinya. Hingga kini Asiyah merasa dihantui olehnya. Terus saja berprasangka buruk pada setiap laki-laki. Terlebih pada bapak-bapak di kantornya.
Tiga bulan sudah Asiyah bekerja di gedung biru ini.
Semua terasa aman-aman saja.
Tidak ada pesan modus yang berusaha menggodanya masuk ke dalam ponselnya.
Tidak ada ajakan bepergian yang aneh-aneh dari para pria kepadanya.
Tidak ada tangan-tangan jahil yang berusaha menyentuh dirinya.
Asiyah pernah bercerita pada salah satu teman yang juga bekerja di dalam satu ruangan kerja dengannya, bahwa Ia pernah mengalami hal buruk di kantor sebelumnya, hal itulah yang membuat Asiyah mengundurkan diri bekerja di sana. Yaa walaupun Asiyah tidak menceritakan detail kejadiannya, Asiyah masih menjaga batasannya dalam bercerita. Kasihan nanti kalau sampai aib tentang bapak-bapak genit itu sampai menyebar, kasihan keluarga mereka. Toh Asiyah pun tak kurang satu apa pun dari tubuhnya. Yang terpenting sekarang mereka tidak mengganggu Asiyah lagi.
Mendengar cerita Asiyah, temannya itu berusaha meyakinkan Asiyah tentang keamanannya berada di kantor ini, Asiyah bisa tenang kok bekerja di sini. Itu keyakinannya.
Daann terbukti memang, kata temannya itu, di kantor ini tidak ada para pria penggoda wanita seperti yang Asiyah alami dulu.
Alhamdulillah.
__ADS_1
Asiyah berusaha meyakinkan dirinya. Ini semua aman. Tempat ini benar-benar aman dari orang-orang seperti itu. Ini adalah kantor yang tepat untuk Asiyah. In syaa Allah.