
Benarlah.. selama kita masih diberi nafas didunia ini, selama itu pulalah ujian hidup masih akan terus berjalan.
Kekayaan yang diraih Asiyah saat ini, tak serta merta membuatnya jatuh dalam kebahagiaannya tanpa hambatan.
Mulai dari kerikil sampai batu karang yang besar akan terus mengiringi perjalanannya.
Yaa begitulah..
Apa yang Allah janjikan tak kan pernah meleset satu kali pun. Ketika Allah mengatakan setiap orang beriman pasti akan diuji, diuji dengan kemiskinan, kesusahan, kekayaan maupun kebahagiaan yang dimiliki, maka firman Allah akan senantiasa nyata dan hidup hingga kehidupan akhirat.
Suatu hari Pak Sendi memberikan kontrak kerja lagi pada Asiyah.
Asiyah menandatanganinya dengan penuh semangat di tengah meredupnya karir kebintangannya. Alhamdulillah.. kali ini film religi lagi, untuk ditayangkan selama liburan Idul Fitri nanti.
"Assalamu'alaykum Asiyah, bagaimana kabarnya?"
"Wa'alaykumussalam, iya Pak, alhamdulillah Saya baik."
"Saya ada kabar baik nih untuk Kamu," ucap Pak Sendi via telepon.
"Maa syaa Allah, kabar baik apa itu Pak? Ada job baru untuk Saya?"
"Alhamdulillah Asiyah, kemarin ada yang menawarkan film religi untuk Kamu bintangi, apa Kamu mau?"
"Alhamdulillah, Saya mau sekali Pak, sudah lama sekali rasanya tidak main film, senang sekali rasanya mendapatkan tawaran lagi," Asiyah senyum sumringah di balik ponselnya.
Setelah sekian lama Asiyah berlibur, karena kebetulan juga job lagi sepi, banyak tawaran yang tidak sesuai dengannya bersamaan dengan tawaran pekerjaan yang juga lagi sepi-sepinya.
"Ya sudah besok Saya tunggu di kantor yaa, biasa jam 9 pagi ya."
"Siapp Pak, in syaa Allah."
"Okee Asiyah, sampai jumpa besok, assalamu'alaykum."
"Wa'alaykumussalam, Pak Sendi."
__ADS_1
Beberapa bulan berlalu. Film itu sudah setengah jalan digarap. Pundi-pundi uang sudah masuk ke ke rekening Asiyah.
Bukannya malah bahagia, Asiyah malah mendapati keraguan yang semakin meninggi di dalam dirinya. Perasaan mengganjal di dalam hati Asiyah yang tak tahu mengapa sampai hadir seperti ini.
Pagi ini, selepas sholat subuh, Asiyah pergi menghampiri Umi ke kamarnya. Dibukanya pintu kamar Umi yang tidak pernah terkunci itu. Dilihatnya Umi juga baru selesai berbenah selepas sholat subuh.
Umi melihat ke arah Asiyah.
"Ada apa Nak? Duduk sini cerita sama Umi," Umi melihat anak sholehahnya terlihat gelisah. Seperti ada hal yang ingin diceritakannya.
Asiyah kemudian duduk di sebelah Umi yang masih berada di atas sajadahnya, melipat-lipat mukenahnya.
"Umi, kenapa perasaan Asiyah akhir-akhir ini merasa tak enak yaa Mi?" Asiyah menatap wajah Umi.
"Ada apa Nak? Cerita saja sama Umi? Apa ini ada kaitannya dengan pekerjaan Asiyah? Atau persoalan dengan laki-laki yang Asiyah suka?" tanya Umi.
"Asiyah hanya merasa ada yang aneh adegan film yang akhir-akhir ini Asiyah perankan Umi."
"Nggak apa-apa Nak, Asiyah ikuti saja selagi jalannya benar dan lurus, tapi kalau sudah bertentangan dengan hati nurani Asiyah, mundurlah, Umi akan selalu berada di belakang Asiyah untuk mendukung Asiyah."
"Iya Umi, Asiyah juga tidak tahu, tapi kegelisahan itu semakin besar akhir-akhir ini," Asiyah diam.
Sementara Umi, Umi tahu betul tentang apa yang Asiyah rasakan. Lagi pula Umi juga tahu betul tentang dunia hiburan yang sedang digeluti anaknya itu, tak sebersih yang terlihat, pun tak semudah seperti yang dibayangkan masyarakat biasa yang menontonnya.
Pekerjaan Asiyah di dunia hiburan ini memang dengan sangat mudah akan memberinya kekayaan. Tapi juga dengan sangat mudah membuatnya jatuh berantakan.
Hadirnya banyak pesaing di dunia hiburan, membuat Asiyah lambat waktu mulai redup ketenarannya. Tidak butuh waktu lama untuk menyingkirkan Asiyah di atas sinarnya bagi siapa pun yang menjadi pesaing.
Mereka yang muda dan memiliki talenta. Mereka yang bersinar dengan wajah barunya yang lebih menarik dibanding Asiyah.
Memang, jika ingin terkenal, seorang yang bekerja di dunia hiburan ini harus membuat sebuah skandal, supaya nama mereka bisa terus bersinar atau melejit lagi dari keterpurukan. Tidak terkecuali untuk Asiyah. Toh awalnya memang Asiyah bisa menjadi bintang karena adanya kasus pemfitnahan itu bukan? Lalu Asiyah menjadi terkenal di mana-mana.
Pembuatan film sudah hampir selesai, alhamdulillah.
Hingga akhirnya kegelisahan yang Asiyah rasakan waktu itu terjawab sudah. Memang ada hal yang tidak beres dengan film yang Ia bintangi sekarang. Ada skandal di dalamnya yang Asiyah sendiri tak menyadarinya saat penandatanganan kontrak waktu itu.
__ADS_1
Di sesi terakhir pembuatan film ini ternyata telah disisipkan adegan yang bertentangan dengan hati nuraninya, bertentangan dengan jati dirinya sebagai muslimah. Mengharuskan Asiyah untuk melepaskan hijabnya. Jelas, Asiyah menolaknya dengan tegas.
Malam itu, ketika seluruh kru sudah siap untuk memproduksi film lagi, Asiyah justru tampak murka. Melemparkan kertas skenarionya, Asiyah sungguh sangat marah, merasa sangat dilecehkan. Adegan macam apa ini? Di akhir film religi ada adegan yang memaksanya untuk memperlihatkan auratnya?
Tidak pernah terbayangkan oleh Asiyah sebelumnya. Sesuatu yang sangat mustahil dilakukan olehnya.
Produksi film malam itu dibatalkan.
Siang ini Asiyah menghadap Pak Sendi, membicarakan mengenai adegan semalam yang sama sekali tidak diketahuinya ada di dalam kontrak kerja sama.
"Maaf Pak, ini mungkin memang kesalahan Saya sebelumnya karena waktu itu terlalu mempercayai Bapak sehingga tidak membaca sampai selesai adegan yang akan Saya mainkan di film ini waktu penandatangan kontrak kerja waktu itu."
"Sekali lagi Saya mohon maaf, Saya tidak bisa melakukannya," sambung Asiyah saat membicarakan tentang hal ini di hadapan Pak Sendi.
Pak Sendi melihat ke arah Asiyah. Memperhatikan Asiyah yang tiba-tiba masuk ke ruangannya, seakan tanpa jeda dalam tingkahnya langsung saja berbicara seperti itu kepada dirinya.
Setelah kejadian siang itu di kantor Pak Sendi. Asiyah tiba-tiba menghilang tanpa jejak.
Ternyata Pak Sendi menolak permintaan Asiyah, dengan dalih bahwa Asiyah telah menandatangani kontrak kerja itu sebelumnya dan itu berarti Asiyah telah terikat perjanjian yang berbadan hukum.
Bukan..
Jelas Asiyah bukanlah seorang yang khianat. Dia tidak sedang lari dari tanggung jawabanya. Asiyah sama sekali tidak tahu bahwa pada adegan terakhir film itu mengharuskan Ia melepaskan hijabnya.
Pada saat penandatanganan kontrak waktu itu, Asiyah memang tidak membacanya sampai selesai. Apalagi untuk membaca skenarionya, karena di dalam pikirannya saat itu, ini adalah tawaran film religi dan selama ini Pak Sendi sangat dapat dipercaya. Lalu.. apa sebenarnya yang sedang terjadi saat ini?
Asiyah hanya sedang bersembunyi di suatu tempat.
Pak Sendi terus menghubunginya. Namun tak ada satu pun hal yang bisa meyakinkan Asiyah untuk kembali dari persembunyian. Asiyah sangat berharap adegan itu dihapus. Bisa sajakan skenarionya diperbaiki, tidak perlu memakai adegan seperti itu segala. Ucap Asiyah begitu pada Pak Sendi siang itu.
Ahh memang setiap pekerjaan mempunyai tantangannya masing-masing. Termasuk pekerjaannya saat ini. Mungkin ini adalah bagian skandal yang sudah direncanakan oleh Pak Sendi untuk menaikkan kembali popularitas Asiyah yang mulai meredup.
Asiyah bersikeras dalam sikapnya. Baginya hijab bukanlah sekedar penutup dan pembalut tubuhnya, tapi lebih dari itu, hijab adalah lambang ketaqwaannya kepada Allah. Mungkin kah hanya karena uang Asiyah melakukan ini semua? Sementara di masa yang lalu sudah begitu banyak situasi yang memaksanya seakan masuk dalam lingkaran pengumpulan uang dengan cara yang lebih mudah? Ini tidak mungkin terjadi..
__ADS_1