
Tidak dapat dipungkiri, ulah Caca benar-benar membuat rombongan liburan Asiyah kali ini merasa malu. Kecerobohannya dalam melangkah membuat orang-orang yang berada di sekitarnya ikut merasakan imbasnya.
Bukan asisten pemula namanya kalau tidak melakukan kesalahan bukan? Sementara asisten senior saja kerap melakukan kekhilafan.
Tapi ini bukanlah kekhilafan lagi namanya. Duhh.. Caca sudah berulang kali melakukan kesalahan yang jelas saja sangat mempermalukan dan merugikan dirinya sendiri.
Cita pun terkadang hanya geleng-geleng kepala saja melihat polah tingkah rekan kerjanya yang sudah seperti saudaranya itu.
Sementara Asiyah selalu saja memaklumi ulah Caca. Hanya menebarkan senyuman pada asistennya itu tiap kali menciptakan adegan yang menjadikan dirinya pemeran utama di dunia nyata, yang menjadi tujuan dalam sorotan mata para penonton.
Asiyah hanya menyelesaikan setiap permasalahan yang timbul akibat ulah Caca dengan penuh ketenangan. Itu saja yang terus dilakukannya.
Karena memang sejak awal Asiyah memilih Caca adalah sebab kejujuran serta kepolosan dirinya. Bukan karena kehebatannya dalam melayani orang lain, sebab Asiyah pun tahu bahwa Caca belum memiliki pengalaman sebelumnya menjadi seorang asisten.
Sejak usia belia Caca telah menjadi tulang punggung keluarganya. Lulus dari bangku perkuliahan pun, tak sedikit pun Caca membebani ibunya. Pada saat seleksi penerimaan asisten pribadi Asiyah waktu itu, uraian air mata Caca telah meluluh lantahkan semua orang yang menjadi panitianya. Tak sedikit yang ikut dalam seleksi waktu itu.
Memang banyak perempuan yang lebih teliti dan cerdas dari pada Caca pada waktu seleksi kala itu. Tetapi ketulusan hatinya dalam merawat sang Ibu membuat penerimaan asisten saat itu berhenti pada dirinya setelah diterimanya Cita.
Sejak awal, Caca telah menjelaskan pada semua tim penyeleksi akan kekurangannya, yaitu Ia adalah seorang perempuan yang ceroboh. Namun Ia sangat teliti dalam memperhatikan ibunya. Caca adalah seorang anak yang sangat mencintai ibunya. Hanya cintanya yang teramat dalam pada sang Ibu lah yang mampu menjadi pembeda akan kebiasaan cerobohnya itu.
"Saya memang tidak berbakat dalam segala hal Kak, tapi Saya adalah seorang anak yang sangat mencintai ibu saya, Jiwa Saya akan menjadi sekuat baja, jika Saya mendapati ibu saya dalam keadaan lemah, Saya akan berdiri sebagai pelindungnya, Saya akan menopangnya dengan penuh semangat sekali pun Saya merasa tak berdaya," ucap Caca waktu seleksi kala itu. Seakan menyadari bahwa dirinya adalah peserta yang paling buruk. Caca seperti tak bergairah saat berdiri di hadapan mereka.
Caca di hadapkan dengan tiga orang panitia juri penyeleksi. Yang ketiga-tiganya tampak sangat dingin. Wajah-wajah tanpa ekspresi. Datar. Ketus. Judes. Sungguh sangat tidak bersahabat. Meski sesekali tersenyum. Hanya untuk beberapa detik saja. Senyuman macam apa itu? Sangat tidak mencerminkan keramahan serta persaudaraan.
Dua orang juri perempuan yang mengenakkan hijab. Dan seorang juri laki-laki yang tampak tenang dengan hanya melihat-lihat saja, sepertinya tugasnya hanyalah memberi penilaian tanpa berkata-kata. Sebagai pengamat psikologisnya saja di sana.
"Oke, baik, jadi ibumu adalah satu-satunya orang tua yang Kamu miliki saat ini?" tanya salah satu juri berhijab dengan wajah datarnya. Dingin.
"Iya Kak," jawab Caca.
"Maaf yaa Ca, sejak kapan bapak kamu meninggal dunia?" tanya juri itu lagi.
"Sejak Saya berumur delapan tahun Kak," Caca menjawab dengan sigap.
"Oke, sudah lama juga yaa, kenapa bisa meninggal dunia kalau kami boleh tahu?" masih dengan dinginnya tatapan khas penjurian yang seakan ingin menerkam.
"Ayah saya mengalami kejadian nahas pada waktu itu Kak, mobil truk muatan barang yang dibawanya mengalami kecelakaan beruntun, mobilnya terbalik, seketika meledak dan terbakar," cerita Caca, singkat.
"Lalu bagaimana kondisi ibu kamu saat itu?" tanya juri berhijab yang ke dua.
"Ibuu.. sempat tidak menerima takdir yang menimpanya, Saya sempat dititipkan di rumah Nenek Kak, mamanya ibu, Saya diurus oleh Nenek, disekolahkan, sampai Saya berusia dua belas tahun."
"Lalu?" juri itu tampak semakin penasaran dengan kisah hidup Caca.
"Lalu Saya kembali kepada Ibu, setelah Nenek meninggal dunia, Ibu mulai belajar menerima takdirnya, rasa kasih sayang Ibu terhadap Saya yang begitu besar, membuat Ibu perlahan sembuh dari rasa sakitnya, dan perlahan terbiasa dengan takdirnya, terbiasa juga akan kepergian suaminya, yaitu ayah saya," jelas Caca, singkat namun sangat terperinci.
Suasana di ruangan kecil itu seketika berubah menjadi haru. Tak ada satu pun dari juri itu menganggap cerita itu adalah kisah fiksi karangan Caca. Semua percaya. Terlebih juri laki-laki itu, Ia membaca jelas kejujuran dari perilaku dan sikap yang ditunjukkan oleh Caca.
Wajah Caca yang begitu polos dengan berjuta cerita yang keluar dari bibirnya yang sedikit tebal itu telah meluluh lantakkan seisi ruangan.
Asiyah tiba di ruangan itu. Sebagai penyeleksi terakhir. Cita dan Caca dikumpulkan.
Asiyah mulai memainkan kecerdasannya. Empatinya pun dipergunakan seobjektif mungkin.
Caca yang berkulit putih sementara Cita yang berkulit sawo matang itu tengah berdiri di dalam gugupnya penghakiman. Seakan seperti tersangka maling ayam yang berdiri di tengah masyarakat dengan panasnya caci maki. Mereka terdiam. Hanya sesekali menatap ke arah Asiyah.
Asiyah hanya diam. Tersenyum. Sedikit menyunggingkan senyumannya. Harus tetap terlihat berwibawa dan sedikit menakutkan di hadapan calon asistennya.
"Assalamu'alaykum, Caca, Cita," Asiyah memberikan salam kepada keduanya dengan sedikit menaikkan intonasi suaranya. Menyapa mereka dari kursi yang telah dipersiapkan khusus untuk dirinya. Duduk dengan tenang. Sedikit mengeluarkan sisi lain dari dirinya.
Asiyah yang biasanya tampak sangat ramah dan lembut, kini tampak menyeramkan bak monster yang siap menghabisi mangsanya.
__ADS_1
Sebelumnya Asiyah telah mengetahui tentang keduanya ketika breafing dengan ketiga rekan penyeleksinya tadi.
"Baiikkk, Kamu yang berkulit sawo matang, bernama Cita, cantik juga, Saya hanya akan mengajukan satu pertanyaan untuk Kamu, apa Kamu siap? Cita?" Asiyah berbicara dengan perlahan. Menyatukan kedua kepalan tangannya di atas meja penjurian.
"In syaa Allah Saya siap Kak," jawab Cita dengan tegas, tanpa keraguan.
Diketahui sebelumnya, bahwa Cita adalah seorang perempuan yang cerdas. Dia juga seorang yang tekun lagi penuh dengan ketelitian.
"Oke baik, siap yaa?" Asiyah mengulangi pertanyaannya dengan senyuman yang menggoda.
"In syaa Allah Kak," jawab Cita sekali lagi dengan tegas dan penuh keyakinan.
"Pertanyaan Saya sederhana."
"Apakah Kamu membawa dompet?" tanya Asiyah.
"Bawa Kak."
"Okee, langsung saja pertanyaan Saya yaa Cita, berapa jumlah uang yang ada di dompet Kamu saat ini?" tanya Asiyah, santai. Menyandarkan punggungnya di kursi. Sedikit memutarkan kursinya ke kiri dan ke kanan.
"Lima ratus tujuh puluh enam ribu lima ratus rupiah," jawab Cita tanpa ragu.
Asiyah tersenyum. Menegakkan kembali badannya. "Bisa Kamu tunjukkan pada Saya sekarang Cita?" tanya Asiyah.
"Bisa Kak, apa Saya boleh permisi mengambil dompet Saya di belakang Kak," tanya Cita.
"Silahkan, Kamu akan ditemani satu orang juri kita."
"Ayoo Mas, silahkan diikuti Cita ke belakang mengambil dompetnya," perintah Asiyah, halus.
Beberapa menit kemudian mereka kembali, membawa dompet yang diminta tadi.
Para juri kembali duduk dengan formasi lengkap di kursinya masing-masing.
"Bisa Kamu mendekat ke hadapan Saya?" tanya Asiyah.
Cita menganggukkan kepalanya. Kemudian segera menghampiri meja Asiyah.
"Silahkan Kamu hitung," perintah Asiyah pada Cita yang telah siap memegang dompet di tangannya.
Cita segera mengeluarkan isi dompetnya. Menghitung uangnya dengan teliti.
Dan ternyata..
Lima ratus tujuh puluh enam ribu lima ratus rupiah. Uang yang ada di.dompetnya tepat senilai dengan apa yang Cita sebutkan sebelumnya di hadapan para juri.
Para juri tersenyum. Tidak terkecuali dengan Asiyah. Semua bertepuk tangan.
"Baik Cita, terima kasih sebelumnya atas partisipasinya dalam mengikuti seleksi penerimaan asisten pribadi Saya, silahkan menunggu konfirmasi dari kami selanjutnya yaa, jika Kamu terpilih, dalam waktu tiga hari ke depan, pihak kami akan menghubungi Kamu via telepon," jelas Asiyah, dengan senyuman manisnya, kali ini terlihat sangat ramah.
"Baik Kak, terima kasih, kalau begitu apa Saya sudah boleh pulang?" tanya Cita.
"Yaa silahkan, masih ingat pintu keluarnya kan?" ucap Asiyah dengan candanya, seraya tersenyum.
"Iya Kak, ingat," jawab Cita dengan senyuman kembalinya.
Cita beranjak pergi dari ruangan perjuangan itu. Menjabat tangan para juri satu per satu. Mengucapkan salam dan berterima kasih dengan tutur kata sopannya.
Sementara Caca masih berdiri membatu pada posisinya.
"Yaaa jadi bagaimana dengan Kamu, Caca?" tanya Asiyah. Dingin.
__ADS_1
Caca yang diberi pertanyaan seperti itu merasa kebingungan. Apanya yang bagaimana? Belum juga ditanya. Caca hanya diam menatap Asiyah.
Asiyah kemudian diam. Menatap Caca sejenak. Para juri juga hanya diam. Menyerahkan sesi penilaian terakhir ini pada Asiyah.
"Saya mau mengabarkan kabar yang mungkin akan membuat Kamu sangat panik, tapi Saya mohon pada Kamu sebelumnya untuk tetap bersikap tenang yaa setelah mendengar kabar dari Saya," jelas Asiyah. Tampak sangat serius dengan ucapannya.
"Iya Kak, Saya siap," ucap Caca. Wajahnya tampak mulai panik. Kedua tangannya mulai mengepal kuat.
Asiyah melihat betapa gugupnya Caca kala saat itu.
"Kamu yakin Caca?" tanya Asiyah sekali lagi.
"In syaa Allah Saya yakin Kak," jawab Caca, berusaha untuk tegas pada pendiriannya.
"Hhmmm.. barusan Saya mendapatkan kabar, bahwa Kamu disuruh pulang secepatnya ke rumah, karena Ibu Kamu tiba-tiba pingsan tak sadarkan diri," Asiyah melemahkan suaranya.
Seketika, mata Caca berkaca-kaca. Hingga tak kuat menahan tetesan air matanya yang pada akhirnya tumpah ruah juga di hadapan para juri.
"Saya permisi dulu kalau begitu Kak," Caca berucap dengan getaran dari pita suaranya. Bibirnya tak hentinya bergoyang. Caca mulai pucat.
"Eehh.. tunggu dulu Caca, Kamu mau ke mana?" tanya Asiyah.
Caca sudah membalikkan badannya.
"Saya harus segera pulang Kak," jawab Caca. Sangat panik. Tidak perduli lagi dengan seleksi ini.
"Ya sudah silahkan," jawab Asiyah. Mempersilahkan Caca keluar ruangan dengan membentangkan uluran telapak tangan kanannya kepada Caca.
5.. 4.. 3.. 2.. 1.. Detik berjalan menghitung diri.
Guuubbrraakkk..
Geedebbbrraakk..
Suara berisik bak kecelakaan besar antar kendaraan di jalan raya tol. Pintu ruangan seakan mau hancur. Tubuh Caca dengan kuatnya menghantam pintu kayu yang tebal itu. Caca pun tak kuasa menahan pentalan tubuhnya sendiri. Seketika pintu bergoyang hebat bersamaan dengan tergeletaknya tubuh pendek Caca yang putih itu di lantai. Terlentang. Tepat di hadapan para juri. Matanya terbelalak. Menghadap ke langit ruangan. Nafasnya tersengal-sengal. Hhhhhh.. hhhhhhh.. hhhhhhh.. hhhhh..
Seisi ruangan seketika riuh. Berisik dengan tawa para juri, tak terkecuali Asiyah. Asiyah berdiri dari kursinya. Membantu Caca untuk berdiri.
"Bagaimana rasanya Caca? Apakah sakit?" tanya Asiyah. Menatap Caca dengan polosnya.
Caca masih tersengal dengan nafasnya. Menatap wajah Caca yang berada di hadapannya. Kemudian Caca berdiri dibantu oleh Asiyah. Tak terhitung rasa malu yang menghampiri dirinya saat ini.
"Oo yaa Ca, kami minta maaf sebelumnya ternyata kabar barusan itu bukan ditujukan untuk Kamu, tapi untuk Caca karyawan TV Jos, kebetulan namanya sama dengan nama Kamu," jelas Asiyah pada Caca. Dengan seriusnya, sekaligus menahan tawanya.
Caca terdiam.
"Duuhhh.. jadi bukan Saya Kak, hhhhhhhh.. Saya sudah sangat panik Kak," jelas Caca.
"Bukan," Asiyah tersenyum, memegang pundaknya. Menatap mata Caca yang berbinar menatap matanya.
"Oo yaa satu lagi, kami lupa memberi tahu Kamu tadi Ca, kalau pintu ini kami tutup dan dikunci rapat setelah pulangnya Cita tadi agar kita lebih tenang berbicara," jelas Asiyah.
"Oohh iya, jadi begitu Kak, nggak apa-apa Kak," jawab Caca, sudah mulai tenang.
"Ya sudah, sepertinya kami tidak ada pertanyaan lagi untuk Kamu yaa, kita cukupkan sampai di sini, Kamu boleh pulang," jelas Asiyah seraya menatap wajah Caca.
"Saya sudah boleh pulang Kak?" tanya Caca dengan bingung pada raut wajahnya yang tak dapat ditutupi.
"Iya, silahkan Caca, jangan lupa salam sama ibu kamu yaa," Asiyah tersenyum sangat ramah kali ini pada Caca.
Caca segera pergi dari posisinya. Seperti peserta seleksi pada umumnya, sebelum keluar ruangan Caca menjabat tangan para juri satu persatu. Memberikan salam dengan sopannya. Seluruh juri. Tanpa terkecuali.
__ADS_1
Sekepergiannya Cita dan Caca dari ruangan itu, seluruh juri tertawa tanpa hentinya. Yaaa mereka telah berhasil mengetes Cita dan Caca.
Dan benarlah bahwa Cita adalah perempuan yang cerdas dan sangat teliti. Sementara Caca adalah perempuan yang sangat mencintai ibunya namun Ia adalah seorang yang sangat ceroboh. Tetapi dari keduanya, para juri menilai mereka berdua sebagai perempuan yang jujur.