
Lelahnya setelah perjalanan yang panjang, tak bisa menahan mereka untuk segera merebahkan badan di atas kasur empuk mereka masing-masing.
Bongkar muatan yang dibawa harus ditunda terlebih dahulu.
Mandi, bersih-bersih badan, lalu rebahan. Sementara sholat, mereka selalu tepat waktu sholat saat berada di dalam pesawat.
Makanan sudah siap di meja makan. Tiga asisten rumah tangga sudah menyiapkan makanan yang nikmat untuk mereka santap siang ini, yaa atau sore nanti.
"Silahkan Mbak, kalau mau makan, makan siang ini sudah Saya siapkan di atas meja," ucap salah satu asisten rumah tangga, kala melihat Asiyah masuk ke dalam rumah.
"Iya, terima kasih Sari, Saya mau istirahat dulu di kamar yaa, ini tolong barang-barang Saya diangkat ke kamar yaa, ajak si Tika sama Weni bantuin Kamu yaa, banyak soalnya ini, sekalian barang-barang punya Umi dan adik Saya juga yaa," jelas Asiyah yang tampak sangat kelelahan. Memberikan intruksi pada Sari, agar ketiga asisten rumah tangganya bekerja sama membereskan semua barang bawaan mereka yang membludak ini.
"Baik Mbak."
"Nanti malam kita bongkar-bongkar oleh-oleh yaa," sambung Asiyah lagi. Lembut. Menatap wajah Sari.
"Siapp Mbak," Sari bersemangat, menyeringai.
Asiyah tersenyum melihat seringai itu, Asiyah paham betul asisten rumah tangganya tak sabar lagi ingin membongkar tas oleh-oleh yang Ia bawa. Ia lalu berjalan menaiki tangga, menuju kamarnya.
Tiga orang asisten rumah tangganya memang tidak ikut serta dalam liburan mereka. Asiyah bilang sebelum berangkat liburan kemarin, nanti diganti hadiah saja untuk mereka bertiga. Soalnya nanti kalau semua diikutsertakan liburan, rumah siapa yang jaga? Siapa yang mengurus rumah selama kepergian mereka? Dan mereka bertiga memang dipersiapkan di rumah untuk menyambut mereka sepulang liburan seperti saat ini.
Waktu berlalu. Pejaman mata mereka telah terjaga. Kini kedua bola mata mereka telah kembali terbuka menatap dunia.
Bangun dari istirahat ini, mereka sudah bisa langsung mengisi perut-perut kosong mereka yang telah lama memberontak. Seperti yang dikatakan oleh Sari tadi, makanan sudah siap di meja makan. Tinggal dilahap saja.
"Duhh lapar bangett yaa Ca," ucap Cita sembari menuruni tangga rumah yang melingkar panjang menuju lantai bawah.
Cita dan Caca terjaga dalam laparnya. Kini perut mereka telah kembali menuntut haknya. Makan. Tak perlu menunggu waktu malam, sore ini pun sebangun mereka dari tidur, tuntutan alami itu akan segera mereka penuhi.
Disusul oleh Asiyah, Umi dan dua adik kembar Asiyah. Mereka menuju meja makan yang berada di dekat dapur.
__ADS_1
"Masak apa Sari?" tanya Asiyah seketika berada di dapur, pada asisten rumah tangganya.
"Ada sayur asem, ayam goreng, sama teri kacang balado kering Mbak," jawab Sari.
"Maa syaa Allah, enaknyaaa," jawab Asiyah seketika membayangkan kelezatan makanan itu.
"Kalian bertiga sudah makan?" tanya Asiyah. Sambil mengisyaratkan jari telunjuknya pada ketiga asisten rumah tangganya.
"Sudah Mbak, tadi siang," jawab Sari.
"Alhamdulillah kalau begitu, yookk Sari, Saya makan yaa, lapar banget ini," ucap Asiyah.
Memang tidak ada satu orang pun dari mereka yang pulang dari berlibur ini, untuk perduli dengan apa yang mereka bawa sepulang dari Korea, yang penting tas mereka terhitung lengkap, itu sudah cukup bagi mereka untuk bermimpi indah dalam lelapnya tidur mereka siang ini.
Istirahat siang ini sudah cukup. Langit terang berganti gelap. Malam hari pun tiba.
Lepas maghrib ini, pembongkaran tas akan dilakukan.
Caca dan Cita memang sudah tahu betul di mana letak pakaian Asiyah. Karena pada keseharian Asiyah, Caca dan Citalah yang mengurusi semua perlengkapan Asiyah, termasuk perlengkapan pribadi milik Asiyah.
"Loh Mbak, ini koper Mbak bukan ya? Kok isinya pakaian laki-laki semua?" tanya Caca. Kaget bukan main ketika membuka dan mengobrak-abrik isi dari koper itu.
Caca seketika terkejut melihat dari salah satu isi koper milik Asiyah yang berisikan pakaian laki-laki. Dibongkarnya koper itu.Tak ada satu pun pakaian milik Asiyah di dalamnya.
"Jangan bercanda deh Ca, sebentar lagi kita mau bongkar oleh-oleh ni, biar cepat, jangan dilama-lamain sama gurauan receh Mu itu," jelas Cita. Mengingatkan Caca tegas .
"Siapa yang bercanda sih Cit, lihat sendiri nih, kalau Kamu nggak percaya," jawab Caca.
Asiyah yang mendengar pembicaraan mereka. Segera menghampiri Caca.
Cita pun juga turut memastikan.
__ADS_1
Tepat di depan koper kecil itu. Mereka menatap ke satu arah, koper kecil milik Asiyah. Lalu saling menatap wajah mereka masing-masing.
"Subhanallah, koper siapa ini?" ucap Asiyah. Kaget.
Lama berpikir. Asiyah mondar-mandir di dalam kamarnya. Bingung.
"Ca, ini gara-gara Kamu kali, sifat ceroboh Kamu lagi kumat kali pas di Korea, coba Kamu pikir lagi deh, ini gimana caranya isi koper punya Mbak Asiyah bisa begini? Pakaian laki-laki semua?" tanya Cita.
"Kayaknya Aku nggak sepikun itu banget deh Cit, sampai semua isinya berubah begini,"
"Tunggu dulu deh, bukannya ini koper kabin pesawat yaa? Bukannya ini Mbak Asiyah yang bawa?" Caca sedikit berpikir.
Cita dan Caca kemudian melihat ke arah Asiyah. Serentak.
Asiyah seketika sadar dari kebingungannya. Seperti sedikit menyadari apa yang sedang terjadi. Tatapan dua orang asisten pribadinya. Sungguh menjadikan sebuah pertanyaan besar dibenaknya. Langkah kaki mondar mandirnya terhenti. Apa ini adalah kesalahan ku sendiri? Apa jangan-jangan koperku? Asiyah kemudian teringat akan lelaki yang menabraknya di pesawat waktu itu. Lelaki itu juga membawa sebuah koper kabin yang tampak sama persis seperti koper miliknya. Apa jangan-jangan? Pikiran Asiyah mulai berputar curiga.
Asiyah menghampiri Caca dan Cita yang duduk persis di hadapan koper itu, "Coba dikeluarin semua isi kopernya Ca?" perintah Asiyah pada Caca.
"Ayo cepat Ca, buka semua," sambung Cita.
"Iya," jawab Caca.
Semua pakaian laki-laki yang berada di dalam koper itu dihamburkannya.
Ada album foto kecil di dalamnya. Asiyah mengambilnya perlahan. Dilihatnya ada foto lelaki yang menabraknya waktu di pesawat. Nggak salah lagi nih, pikir Asiyah. Ini adalah koper milik lelaki itu.
"Coba bongkar lagi Ca?" perintah Asiyah lagi.
"Iya Mbak," Caca sigap melakukan perintah Asiyah.
"Mbak, ini ada berkas CVnya Mbak, ada fotonya juga," ucap Caca seraya menyerahkan berkas-berkas yang tersusun rapi di dalam sebuah map plastik berwarna biru.
__ADS_1
Asiyah menyambutnya. Kemudian membukanya. Dilihatnya satu persatu berkas-berkas itu. Baru lembaran pertama dibukanya. Asiyah tampak takjub mengetahui latar belakang pria itu. Ternyata Ia adalah seorang yang sangat terpelajar. Dari riwayat pendidikan yang cukup mumpuni. Semakin dibacanya, Asiyah semakin penasaran. Siapa pemilik koper ini sebenarnya?