
Persis seperti cerita Bu Nuri kemarin pada Asiyah saat pertemuan makan siang itu, Pak Kani benar-benar serius ingin menikahi Asiyah.
Tak pernah terbayangkan oleh Asiyah sebelumnya akan datangnya saat seperti ini. Saat-saat di mana darahnya terasa membeku, keringatnya terasa mendidih dan air matanya rasa memberontak, ingin menyerbu keluar dari tubuhnya.
Hari ini Asiyah masuk kantor lebih awal. Pukul 06.30 pagi. Belum ada Maya di ruangannya. Dengan langkah kakinya yang santai, Asiyah langsung masuk ke ruangannya.
Membuka pintu. Duuarr.. seperti meledak rasanya boom di dalam darahnya.
Betapa terkejutnya Asiyah, melihat Pak Kani duduk di kursi kerjanya. Padahal di parkiran tadi belum ada satupun mobil yang terparkir. Apalagi mobIl Pak Kani. Asiyah terhenti seketika dari langkah kakinya.
Pak Kani tersenyum menatap Asiyah. Seperti sudah tahu persis siapa yang datang ini.
Asiyah gugup. Ketakutan. Mau apa lelaki ini di kursi kerjanya?
“Permisi Pak,” ucap Asiyah pelan. Tanpa berani menatap wajah Pak Kani, apalagi matanya. Asiyah hendak duduk di kursinya. Bersikap sangat hati-hati dalam gerak geriknya.
“Oh iya silahkan Asiyah,” ucap Pak Kani tersenyum lembut seraya berdiri dari kursi kerjanya Asiyah dan beranjak. Kini Pak Kani duduk di kursi di hadapan meja kerjanya Asiyah.
“Saya tahu dari awal Kamu sudah mengetahui maksud dan tujuan Saya mendekatimu Asiyah,” ucap Pak Kani tiba-tiba.
"Saya tahu Kamu bukanlah perempuan yang bodoh mengenai hal ini, Kamu adalah perempuan dewasa yang cerdas, Saya menyukai itu."
Duduk santai di hadapan Asiyah. Sambil tersenyum simpul menatap Asiyah. Tidak ada rasa segan sama sekali bagi Pak Kani berperilaku seperti itu pada Asiyah. Berbicara semaunya, tanpa ada basa-basi sebelumnya.
Asiyah diam. Sesekali melihat Pak Kani. Pura-pura sibuk dengan berkas yang ada di atas mejanya. Pura-pura sibuk membereskan meja kerjanya yang sebenarnya dari tadi sudah rapi.
Gubraakkk.. pena-pena yang dirapikannya tadi tersenggol oleh sikunya, jatuh berhamburan ke lantai. Asiyah membereskannya lagi, berulang kali. Tangan gemetar itu tak bisa dikendalikannya, Asiyah merasa ketakutan.
“Saya bisa memberikan semuanya pada Kamu jika Kamu bersedia menjadi istri ke dua Saya Asiyah. Mobil. Rumah. Harta. Saya bisa memberikan semuanya untukmu. Saya benar-benar jatuh cinta padamu Asiyah,” ucap Pak Kani.
Kali ini Pak Kani tidak terlihat santai lagi. Matanya menatap wajah Asiyah. Pasat. Kedua tangannya kini terkepal di atas meja.
Asiyah terdiam.
Berhenti gerak tangannya yang sok sibuk tadi. Wajahnya masih menunduk menatap berkas-berkasnya.
Cinta? Asiyah tidak salah dengar? Pak Kani bilang soal cinta padanya. Sementara Bu Nuri tersiksa karenanya.
Mungkin sudah saatnya Asiyah mengakhiri semua drama yang terjadi antara dirinya, Pak Kani dan Bu Nuri.
__ADS_1
Asiyah menghela nafasnya. Dalam. Memejamkan matanya sejenak.
“Sebelumnya Saya minta maaf, Saya tidak bisa membalas cinta Bapak, Saya tidak bisa menjadi istri ke dua Bapak, itu sudah prinsip Saya Pak, sekali lagi saya minta maaf,” ucap Asiyah dengan kelembutan.
Walau bagaimanapun Asiyah tetap tidak mau melukai perasaan Pak Kani dengan kata-kata kasar. Menurutnya, Pak Kani tetaplah seorang manusia yang perlu dijaga perasaannya. Asiyah juga tidak mau kalau nantinya malah tercipta dendam pada hati Pak Kani untuk dirinya. Asiyah tidak mau terjadi masalah untuk ke depannya.
Semuanya harus selesai hari ini juga.
Asiyah kemudian diam.
Dilihatnya Pak Kani tampak kecewa. Berkaca-kaca bola mata Pak Kani. Mungkinkah Pak Kani benar-benar mencintainya? Ada rasa tidak tega pada diri Asiyah pada Pak Kani.
Tapi cinta seperti apa yang ditawarkan oleh Pak Kani pada dirinya. Cinta baru yang hanya akan menghancurkan cinta lamanya, cinta yang telah dibangunnya dalam balutan rumah tangga bersama Bu Nuri dan anak-anak mereka.
Asiyah menyambung ucapannya cepat.
“Bukan! Bukan karena terdapat kekurangan pada diri Bapak, Bapak adalah lelaki yang baik, hanya saja Saya tidak bisa menerima semua ini. Ada banyak alasan yang tidak bisa Saya sampaikan, salah satunya adalah persoalan prinsip Pak, Saya mohon maaf, Saya benar-benar tidak bisa Pak, maaf, Saya permisi.”
Asiyah kemudian pergi meninggalkan ruangan itu. Melangkah dengan gerakan yang agak cepat. Membawa ponselnya. Pergi ke toilet. Bersembunyi. Asiyah takut.
Pak Kani benar-benar kecewa. Nampak jelas kesedihan di wajahnya. Kedua tangannya terkepal di atas pahanya. Kepalanya sedikit tertunduk.
"Duhhhh.. Maya di mana?” ucap Asiyah pelan. Berdiri di dalam toilet. Sendirian.
Asiyah benar-benar takut.
Asiyah mengirimkan pesan WA pada Maya. “May.. Kamu di mana? Aku sudah di kantor nih, ada Pak Kani di ruangan kita, Aku takut, Aku sedang bersembunyi di dalam toilet, Kamu cepat datang yaa, Aku tunggu.”
Tujuh menit kemudian.
Tookkk.. toookk.. tookkk... suara ketukan pintu toilet.
Asiyah bersembunyi di dalamnya. Duhhh Asiyah cemas, siapa itu?
“Asiyah? Ini Aku Maya,” ucap Maya pelan dari depan pintu toilet.
Asiyah membuka pintunya. Keluar toilet.
__ADS_1
“Huuhhh.. Aku takut banget May, tadi pas Kamu masuk ke ruangan kita, Pak Kani masih ada?” tanya Asiyah. Wajahnya tegang sekali. Pucat.
“Nggak, nggak ada lagi kok, sudah pergi Dia, tadi dijemput sama sopirnya, Aku lihat kok tadi mobilnya keluar gerbang kantor,” jelas Maya.
“Alhamdulillah, syukurlah, ya sudah ayok ayok kita balik keruangan, nanti Aku ceritakan semuanya ke Kamu,” ucap Asiyah. Menarik tangan Maya untuk balik lagi ke ruangan kerja mereka sesegera mungkin.
Sepuluh menit berada di dalam ruangan.
Asiyah dan Maya sibuk berdiskusi. Berbisik-bisik.
Cerita Asiyah berakhir.
Diam. Selama sepuluh detik, maya dan Asiyah hanya diam.
Sontak Maya tertawa terbahak-bahak.
“Hahahaaa.. jadi ini yang Kamu takutkan? Sudahlah, tidak apa-apa, Pak Kani tidak mungkin menyakiti Kamu Asiyah, Aku yakin setelah hari ini Pak Kani tidak akan menggoda Kamu lagi, karena sudah jelas sekali penolakan yang Kamu katakan pagi ini padanya, Okeee.. tenang yaa.. Dia tidak mungkin ngapa-ngapain Kamu kok,” ucap Maya tertawa menggoda Asiyah. Menepuk-nepuk pundak Asiyah. Menenangkannya dengan candaan.
“Mudah-mudahan deh May, capek banget rasanya kalau harus kejar-kejaran kayak gini terus,” ucap Asiyah. Lesu.
Asiyah tampak pasrah dengan apa yang akan terjadi ke depan.
Benarlah ucapan Maya. Pak Kani tidak pernah lagi menggoda Asiyah.
Sejak kejadian pagi itu, Pak Kani hanya sesekali datang ke kantor. Kali ini benar-benar profesional tujuannya, hanya untuk pengerjaan proyek saja.
Satu pekan sudah berlalu, tampaknya aman-aman saja.
Dua pekan berlalu, juga masih aman.
Hingga kini sudah satu bulan berlalu.
Sepertinya semua benar-benar berakhir.
__ADS_1
Alhamdulillah. Asiyah lega.