
Korea Selatan.
Liburan di sini masih berjalan dengan penuh rasa syukur bagi Asiyah, atas suksesnya film yang Dia perankan tanpa harus melepas hijabnya. Dapat menjaga diri dengan segala kemerdekaannya sudah cukup dikatakan mendapatkan surga baginya.
Matahari masih terbit dengan terangnya. Di luar sana, bunga sakura masih bermekaran dengan indahnya. Bagai kelopak kebahagiaan yang lahir dengan kecantikannya. Ssssrrrrr.. suara hembusan semilir angin yang memetik mereka hingga berjatuhan ke bumi.
Sementara baju Caca yang baru saja dibelikan oleh Asiyah satu jam yang lalu, sudah kembali kotor dengan tumpahan kuah lauk pauk di restoran yang sama.
Subhanallah Caca. Asiyah dan yang lainnya tak habis pikir dengan kejadian siang ini.
Tak ada pilihan lain memang, selain menyelamatkan diri mereka dari rasa malu karena kecerobohan Caca. Sudah saatnya mereka kembali ke penginapan.
Sesampainya di penginapan, Caca, Cita dan Yuna yang berada dalam satu kamar, seketika sibuk dengan segala macam kerepotan mereka masing-masing.
"Duhh nggak enak banget ini pakai baju kotor selama perjalanan tadi, Mbak Asiyah nggak nawarin lagi buat beliin baju baru lagi," Caca ngedumel sembari melepaskan baju yang menempel di badannya, yang penuh dengan basahan tumpahan kuah lauk pauk.
Sementara Cita dan Yuna, sibuk berbenah dan merebahkan badan mereka di atas kasur. Lelah sekali rasanya setelah berjalan-jalan seharian. Apalagi setelah lepas dari tempat di mana rasa malu itu tak dapat disembunyikan akibat ulah Caca tadi.
Pura-pura sibuk lebih tepatnya. Cita dan Yuna sudah biasa melihat Caca ngedumel seperti itu. Seperti sudah seperangkat saja antara Caca, ceroboh, dan dumelannya. Hingga mereka menjadi terbiasa, yaa terbiasa untuk tak mendengarkan semua dumelannya. Seakan suara Caca hanya lewat saja di depan telinga mereka, tak berhasil masuk ke dalam lubang telinga mereka, apalagi untuk sampai berdendang pada gendang telinga mereka.
Segera mencuci baju lama dan baju barunya tadi, Caca mengucek bajunya sendiri hingga bersih. "Duuhh sayang sekali baju ini, mana dua baju lagi yang kotor," dumel Caca di kamar mandi hotel itu.
"Caca.. berisik banget iihh, kalo kotor yaa tinggal dicuci terus jemur, gitu aja repot," teriak Cita dari atas kasurnya sambil menekan-nekan remot TV.
Yuna sibuk dengan ponselnya.
Di kamar sebelah. Asiyah, Umi, Ali dan Aisyah juga sedang beristirahat.
"Umi, Asiyah kangen deh sama Abi," berdiri menatap keluar jendela kamarnya. Di pinggir jendela kaca itu, disingkapnya sedikit gorden panjang yang menjuntai tinggi dari dinding atas. Asiyah termenung, tiba-tiba saja Asiyah teringat akan sosok Abi yang telah lama meninggalkan mereka.
"Iya Nak, Umi juga, Umi selalu merindukan Abi," jawab Umi dari atas kasur hotel itu, sembari menemani Aisyah dan Ali sudah tertidur karena kelelahan berkeliling tadi.
__ADS_1
"Pulang liburan ini, kita ziarah ke kuburan Abi yokk Mi?" ajak Asiyah. Masih memandang ke arah luar jendela.
Asiyah tak ingin melihat ke arah Umi. Karena sedari tadi, sebetulnya air mata itu sudah menetes dari tiap sudut matanya, membasahi pipinya tanpa bisa Ia kendalikan. Asiyah tak ingin Umi mengetahui hatinya yang sedang gundah karena kerinduan ini.
Suasana sunyi hotel. Umi yang terbaring memeluk Aisyah dan Ali yang sedang tertidur pulas. Semua hal ini membuat Asiyah tak serta merta merasakan ketenangan. Entahlah tanpa sosok Abi dalam hidupnya, Asiyah merasa ada yang kurang di tengah kesuksesannya. Walau kekayaan sudah kembali namun tak ada artinya jika orang yang dicintai tak ikut merasakan kebahagiaan itu.
Umi melihat ke arah Asiyah, sejenak. Umi menyadari akan kesedihan dari kerinduan oleh seorang anak kepada sosok ayahnya yang telah tiada.
"Nak, sini duduk di sebelah Umi," Umi mencoba mengalihkan perhatian Asiyah akan kerinduan itu.
Asiyah membalikkan badannya. Segera menghapus air matanya. Duduk di sebelah Umi.
Namun wajah sendu itu, tetap tak dapat membohongi Umi.
"Oo yaa Nak, bagaimana kabar Ashar sekarang? Apa Dia sudah menikah?" tanya Umi.
"Asiyah tidak tahu Umi, sejak Asiyah memutuskan untuk tidak melanjutkan ta'aruf itu, Asiyah juga seketika memutuskan segala pikiran tentang Dia," jawab Asiyah.
"In syaa Allah Umi," ucap Asiyah, tenang.
"Syukurlah kalau memang begitu Nak, kita memang tidak boleh berlarut-larut memikirkan seorang lelaki yang belum menjadi mahram kita, capek sendiri, lama-lama jadi dosa kan?"
"Terus, kira-kira sekarang, apa Asiyah sudah menemukan Ashar yang baru?" sambung Umi, bertanya dengan penuh kelembutannya.
"Hhmmm.. belum Umi, Asiyah pasrah saja untuk saat ini, biarkan semuanya mengalir apa adanya saja, Asiyah yakin Umi, Allah sudah menyiapkan jodoh terbaik yang bakalan menjadi suami dunia akhirat Asiyah kelak," jawab Asiyah.
"Nak, tapi jodoh itu kalau tidak diusahakan, tidak akan datang dengan sendirinya, tiba-tiba sudah menjadi suaminya Asiyah dalam sekejap mata, tentu ada prosesnya Nak, ta'aruf dulu, khitbah, lalu menikah," jelas Umi.
Umi menatap wajah Asiyah, yang duduk di sebelahnya. Merangkul anak sulungnya itu dengan tangan kanannya. Sementara tangan kirinya masih sibuk membelai tubuh Aisyah dan Ali, dua anak kembarnya yang masih kecil-kecil.
"Mmmm.. iya Umi," ucap Asiyah.
__ADS_1
"Umi, bagaimana kalau Asiyah tak memiliki jodoh di dunia ini Umi?" sambung Asiyah lagi, dengan tanyanya yang masih saja mengguratkan keputusasaan.
"Nak, jika Asiyah tidak diberikan jodoh oleh Allah di dunia ini, in syaa Allah di akhirat nanti, di dalam surga Allah, Asiyah akan mendapatkannya," jelas Umi dengan penuh kelembutan.
"Tapi apa Asiyah tidak kasihan sama Umi Nak? Umi kan pengen menggendong cucu? Jadi Asiyah jangan putus asa ya Nak, tetap usaha mencari walaupun nggak ada yang datang pada Asiyah langsung untuk mengajak ta'aruf," sambung Umi lagi, sedikit memohon agar anak sulungnya itu tak putus asa.
"Iya Umi," jawab Asiyah. lirih. Menundukkan wajahnya.
Ttookkk.. ttookkk.. ttookkk.. suara pintu kamar Asiyah berbunyi. Seperti ada yang mengedor dari luar.
Asiyah berjalan menuju pintu. Mengintipnya dari dalam. Dilihatnya Caca.
Dibukanya pintu kamar itu oleh Asiyah. Caca menunggunya di depan pintu. Sendirian.
"Assalamu'alaykum Mbak," ucap Caca seketika melihat wajah Asiyah keluar dari pintu kamarnya.
"Wa'alaykumussalam, iya, ada apa Ca?" tanya Asiyah.
"Caca mau ke mini market bawah Mbak, Caca mau membeli deterjen atau sabun, untuk mencuci baju Caca yang kotor tadi Mbak, susah sekali hilangnya dicuci pakai air saja, noda minyaknya menempel Mbak," jelas Caca.
"Mbak ada yang mau dititip? Biar sekalian Caca belikan?" tanya Caca dengan tatapan santainya.
"Nggak, nggak ada Ca, tapi ini Kamu yakin Ca mau pergi sendirian? Nggak sama Yuna saja? Biar nanti kalau ada apa-apa, Yuna bisa bantuin menjelaskan apa yang Kamu bicarakan," tanya Asiyah.
"Iya nggak apa-apa Mbak, Caca cuma mau belanja di mini market hotel kok, cuma beli deterjen aja, lagian juga mini marketnya sepi," jelas Caca.
"Ooh ya sudah kalau begitu hati-hati yaa Ca, lihat-lihat jalannya, jangan nabrak-nabrak lagi loh," ucap Asiyah dengan candanya, seraya tersenyum.
"Iya Mbak, heheee, assalamu'alaykum," ucap Caca, menyeringai.
"Wa'alaykumussalam," balas Asiyah, menutup pintu kamarnya.
__ADS_1