
Pagi ini Ali dan Aisyah hendak pergi berangkat ke sekolah.
“Ali jangan lupa yaa, uangnya dihitung dulu nanti,” kata Umi berpesan pada Ali.
Biasanya selepas pulang sekolah Ali dan Aisyah mampir dulu ke kantin sekolah untuk mengambil uang hasil penjualan kue yang mereka titipkan.
Kata Umi biar bisa diputarkan lagi uangnya untuk membuat kue lagi, terus dijual lagi.
Sudah dua tahun ini Umi berjualan makanan. Makanan kecil seperti keripik, kerupuk dan aneka gorengan yang Umi buat sendiri. Kalau kerupuk dan keripik Umi hanya membeli mentahnya yang sudah jadi di pasar kemudian baru digorengnya di rumah dan dikemas dalam bungkus plastik kecil-kecil.
Sepulang sekolah Ali dan Aisyah membantu Umi membungkusnya ke dalam plastik kemasan bening seadanya. Setelah itu Umi dan Ali akan pergi menitipkan bungkusan keripik dan kerupuk di warung-warung dengan berjalan kaki saja, siang itu juga. Kadang juga sore sih, tergantung kapan selesainya. Tergantung cuaca di luar sana juga. Kalau hari terlalu panas atau sedang hujan, ditunda dulu mengantarnya.
Kalau gorengan dan kue akan dititipkan pagi-pagi sekali oleh Umi ke warung-warung.
Ali dan Aisyah juga membawa gorengan dan kue ke sekolah untuk dititipkan di kantin sekolah mereka. Umi sudah bilang sama Ibu kantinnya kalau setiap pagi Ali dan Aisyah lah yang akan membawakan kue-kuenya ke kantin dan pulang sekolah mereka jugalah yang akan mengambil sisa kue dan uang penjualannya kembali.
Sementara Kak Asiyah paginya berangkat kerja dan malamnya juga harus berkuliah.
Kalau Abi, kadang Aisyah lah yang menjaganya sendirian di rumah saat Umi dan Ali menitipkan kripik dan krupuk ke warung-warung.
Mereka berjuang bersama. Mencoba bangkit dalam beratnya kehidupan yang harus mereka jalani saat ini.
Ali sering sekali mengeluh. Kata Ali kenapa sih harus berjualan segala? Kan uang Abi banyak. Ali capek.
Sementara.. Umi masih saja sering menangis diam-diam. Umi sedih, tidak kuat melihat Ali dan Aisyah yang harus menanggung semuanya.
Ali belum juga bisa memahami semua yang terjadi. Menggerutu saja kerjaannya. Sementara Aisyah banyak diamnya.
Ali dan Aisyah memang berbeda karakter. Ali begitu cerewet, sedangkan Aisyah pendiam. Umi lebih mudah mengerti isi hati Ali karena Ali memang mudah sekali mengungkapkan isi hatinya. Kalau Aisyah, Umi harus lebih melakukan pendekatan agar Aisyah mau bicara untuk
menceritakan semua keluh kesahnya.
Kata Aisyah, kenapa Abi jadi seperti ini Umi? Kenapa Abi tidak bisa berjalan dan berbicara? Kenapa Kak Asiyah pulang pergi terus, Pergi pagi pulang malam, Asiyah kangen bermain dengan Kak Asiyah setiap hari. Umi hanya bisa menjelaskan seadanya. Karena Umi tahu, mereka juga tidak akan mengerti dengan semua keadaannya walaupun sampai berbuih mulut Umi menjelaskannya.
Kata Umi, Kak Asiyah paginya kerja, pulang kerja Kak Asiyah langsung pergi ke kampus, jadi Kak Asiyah tidak perlu balik kerumah lagi selepas ngantor untuk menghemat ongkos. Kalau Abi, sedang sakit, Aisyah harus bersabar, Aisyah berdo’a saja pada Allah, semoga.. Kak Asiyah sehat, Abi sehat, Umi sehat, Ali sehat dan Aisyah juga sehat, begitu kata Umi.
Seperti biasa, pagi itu Ali dan Aisyah masing-masing membawa keranjang berisi kue buatan Umi untuk dititipkan di kantin sekolah.
Tubuh gempal Ali menggendong keranjang kue itu di perutnya. Lemak di pipinya bergetar. Langkah kakinya terus berpacu.
Aisyah kurus yang berada di sebelahnya juga menggendong keranjang kue di perutnya. Terus berjalan.
Ada bola di hadapan Ali. Ditendangnya. Bola itu bergerak lurus di hadapannya. Ali mengejarnya. Kue itu masih digendongnya. Bergetar kue itu di atas perut Ali.
Aisyah berteriak melihat Ali yang berlari mengejar bola itu. “Aliiii tungguu.. sudah dong Ali, nanti kuenya jatuh."
Ali terus saja mengejar bola itu. Sambil tertawa Ali mengejar bola itu. Ali tampak senang sekali dengan permainannya.
Aisyah mengejarnya dari belakang. Sesekali berhenti karena kelelahan.
Ali sudah lebih dulu keluar dari lorong pertama rumah mereka. Kencang sekali Ali berlari mengejar bola itu.
Sesaat setelah tubuh Ali menghilang dari lorong rumah mereka, Aisyah diam. Berhenti dari gerak langkahnya. Aisyah tidak mendengar lagi suara berisik tertawa Ali. Kemana Ali? Aisyah berlari lagi.
__ADS_1
Sesampainya di persimpangan lorong. Aisyah menoleh ke kiri. Dilihatnya Ali. Ali berdiri, diam, tanpa mengeluarkan suara sedikitpun, suara berisik tawanya tadi pun hilang.
Sepertinya Ali syok. Ali menahan tangisnya. Keranjangnya jatuh. Kuenya berserakan didalam genangan air becek disepanjang jalan.
Aisyah mendekati Ali.
“Ali, kan sudah Kakak bilang tadi, jangan berlarian, sekarang lihat kan kuenya jatuh semua, apa kata Umi nanti kalau tahu semua kejadian ini,” Aisyah memarahi Ali. Ali mulai menangis sekencang-kencangnya.
“Aaaaaaa.. aaaaaa..” Suara tangis Ali berisik sekali.
Aisyah mendekapkan telapak tangannya kemulut Ali.
“Aliiii, diam dong, malu dilihatin orang-orang,” Aisyah berbisik pada Ali. Tidak enak dilihat bapak-bapak dan ibu-ibu yang melihat mereka bertengkar di pinggir jalan.
Ali hanya menangis saja. Takut dimarahin Umi. Ali merasa bersalah.
“Sudah sudah ayokk bangun, kita sekolah dulu, nanti kita jujur saja sama Umi, Kakak yakin kok Umi nggak akan marah,” Aisyah menarik tangan Ali yang masih saja jongkok di atas jalanan itu.
Ali hanya diam. Membatu.
“Ayoolaahh Ali, nanti kita terlambat,” Aisyah masih memaksa.
Ali berdiri dengan wajah kesalnya.
Mereka kembali berjalan ke sekolah.
Untung waktu kuenya jatuh berserakan tadi, tubuh Ali tidak ikut terperosok, kalau tidak bagaimana Ali mau pergi ke sekolah, harus pulang lagi ke rumah untuk mengganti seragamnya.
Sesampainya dis sekolah, Aisyah langsung saja menitipkan keranjang kuenya pada Ibu kantin.
Ali hanya membawa keranjang kosong. Ali bersembunyi di belakang Aisyah. Takut ditanya Ibu kantin.
Ibu kantin hanya diam, karena memang ada juga beberapa kali mereka hanya menitipkan kue satu keranjang saja, jadi tidak ada yang aneh jika kali ini hanya Aisyah yang membawa keranjang kuenya.
Pulang sekolah terasa sangat menegangkan bagi Ali.
Di sepanjang perjalanan pulang tadi Ali hanya diam. Tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Tidak ada lari-larian lagi. Hanya melangkah lurus menatap jalan di depannya. Dilambat-lambatkannya langkah kakinya.
“Ayooo Ali cepat jalannya!” ucap Aisyah. Agak marah.
Ali diam. Tidak memperdulikan Aisyah.
__ADS_1
Aisyah sudah cukup jauh berjalan di depannya. Lama sekali perjalanan siang ini. Dari tadi hanya menunggu Ali saja.
Akhirnya setelah perjalanan yang sangat lama tadi, sampai juga mereka di depan rumah.
Aisyah langsung masuk ke dalam rumah. Bertemu Umi. Aisyah memberikan uang hasil penjualan kue di kantin.
Umi melihat ke belakang Aisyah. Tidak ada Ali. Ali ke mana? Di mana anak laki-laki gempalnya? Dihitungnya uang penjualan kue. Kenapa banyak sekali kurangnya? Tanya Umi pada Aisyah.
Barulah Aisyah bercerita tentang semua kejadian tadi pagi.
Kata Aisyah, sesampainya di depan pintu rumah gubuk mereka tadi, langkah kaki Ali terhenti, Ali bersembunyi di balik pintu depan. Kaku. Takut dimarahi Umi. Bahkan untuk mengeluarkan suarapun Ali tidak berani.
Umi tersenyum mendengar cerita Aisyah. Umi pergi keluar melihat Ali.
Ali hanya diam, tubuhnya berdiri mepet ke dinding.
Umi memeluk Ali. “Ada apa Nak? Ayo masuk,” bujuk Umi.
Ali tetap kaku. Tidak mau beranjak pergi.
“Umi kan tidak marah sama Ali, mana mungkin Umi marah, Ali kan tidak sengaja,” rayu Umi lembut pada Ali.
Ali masih saja diam.
“Umi masak enak tadi, makanan kesukaan Ali, ayam goreng asin, Ali mau makan? Nanti Umi suapin ya,” Umi tersenyum lagi. Menatap wajah Ali. Mengusap kepala Ali perlahan.
Ali tersenyum pada Umi. Luluh sikapnya mendengar Umi menyebut-nyebut ayam goreng asin. Ali mau sekali. Apalagi sebenarnya Ali sudah dari tadi menahan lapar.
“Iya Umi, Ali mau, yyeeayyy..” teriak Ali.
Seperti tidak terjadi apa-apa saja sebelumnya. Semuanya hilang ketika mendengar Umi menyebut ayam goreng asin kesukaannya.
Umi sangat menyayangi Ali. Mana mungkin Umi marah hanya karena hal ini. Ali masih kecil, tentu yang ada di pikirannya ketika melihat bola itu hanyalah ingin bermain saja. Lagi pula melihat anak-anaknya mau membantu Umi mencari uang saja, Umi sudah sangat bahagia.
Umi meneteskan air matanya lagi diam-diam saat menyuapi Ali makan. Segera mengusap matanya ketika berkaca-kaca. Jangan sampai ada yang melihat kesedihannya.
__ADS_1